Home » Renungan, Sepocikopiana

Jelangkung

Submitted by on 26/04/2012 – 11:29 am11 Comments | 1,383 views

Oleh: Ade Rain

Jemari itu membuka laptop, membuka jendela Twitter yang langsung terafiliasi ke status Facebooknya.

”Selamat sore menjelang malam. Hujan masih membabi buta. Hati-hati yang masih di jalan…”Ia menyapa follower. Meneguk kopi. Duduk diam sambil membaca linimasa tentang patah hati, bertemu pacar, pulang kampung, masturbasi, intimasi, pengkhianatan, desahan, rintihan, galau, hingga trik dan tips mencari pasangan. Ada juga perang antar-lesbi, cemburu, amarah, bullying, pornografi, kutukan pada keluarga. Ah, sontoloyo, gumamnya resah.

Berhari-hari ia berpikir bagaimana menghapus tulisan di akun-akun Twitter lesbian yang berkesan tak bermartabat. Hujan, petir sambung menyambung, gelegar menakutkan di langit memberinya ide. Jalangkung! Tidak ada salahnya memanfaatkan Jalangkung. Tapi, tiba-tiba nyalinya terasa kecil. Bagaimana jika ia tidak bisa mengambalikan roh yang muncul? Ia menarik napas, menyeruput segelas kopi ragu-ragu.

Di tempat Praktek Kerja Lapangannya dulu, jelangkung dimainkan dengan menggunakan orang-orangan sawah. Dilakukan pada saat musim panen padi di bawah terang bulan. Sang Dalang menjadi juru tulis, menggunakan kapur dan papan tulis sambil menceritakan perkataan, pertanyaan, serta jawaban arwah-arwah yang dipanggil. Ki Dalang juga memiliki kemampuan memulangkan roh itu dengan mudah, karena sudah terbiasa. Sementara ia…

Keragu-raguan merebak. Ia terdiam di bawah bohlam bersinar redup, suara hujan menampar-nampar atap rumah. Bulu kuduknya berdiri. Ia mengusap lembut seluruh monitor, keyboard, lalu mouse. Ia mengelap dengan kain putih seperti dalang menyiapkan papan tulis dan kapur dengan menyembur-nyemburkan air pandan. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu membaca mantera dengan gemetar.

Jelangkung, jelangsat, di sini ada pesta kecil-kecilan; jelangkung, jelangsat, datang tak diundang pergi tidak diantar…

Usai membaca mantera, roh datang sangat cepat. Ia melihat jendela komputernya penuh kata-kata menakutkan. Terdengar suara tawa yang menyeramkan. Mirip raungan jelek dari lembah pengap dan gelap. Layar komputer menghitam sejenak lalu kelap kelip seperti akan crash. Sambungan Wifi seketika mati. Aduh bagaimana ini? Segera dibacanya mantera pemulangan.

Jelangkung, jelangsat, di sini ada pesta kecil-kecilan; jelangkung, jelangsat, datang tak diundang pulang tidak diantar…

Layar pun tenang. Ia menarik napas. Tangannya masih bergetar. Ia memeriksa seluruh data di komputer. Syukurlah, utuh. Yang tertinggal di layar adalah perkataan-perkataan tidak wajar dan bahasa-bahasa tak dimengerti. Ia diam sebentar, menyeruput kopi, lalu perlahan mengetikkan mantra.

Jelangkung, jelangsat, di sini ada pesta kecil-kecilan; jelangkung, jelangsat, datang tak diundang pergi tidak di antar… datangi dan luruskan akun @les_sang_terang_sang.

Komputer mengetikkan kalimat-kalimat aneh, “Orang ini baru putus dari pacarnya yang selingkuh. Ia tak sekolah tinggi. Hidupnya penuh kekerasan. Dari kecil diperkosa ayah tiri. Ia juga membenci setiap orang di dalam keluarganya. Satu-satunya tempat ia bisa berekspresi hanyalah akun twitter @les_sang_terang_sang. Apa kau masih menginginkanku mengubahnya menjadi lebih beretika?”

“Ya,” jawabnya gemetar.

Belum sempat ia membuka linimasa akun tersebut, akun ini mulai melakukan twit-twit inspiratif. Sungguh sebuah perubahan yang luar biasa! Akun itu langsung bertukar nama menjadi @dutabesaretika. Foto yang terpajang pun berubah menjadi rumah peristirahatan dengan taman yang asri. Twit-twitnya hebat. Ia lupa akan ketakutannya tadi, mulai berdecak kagum, membaca satu per satu linimasa tanpa berkedip.

Jelangkung, jelangsat, di sini ada pesta kecil-kecilan; jelangkung, jelangsat, datang tak diundang pergi tidak di antar…datangi dan luruskan akun @mesumlesbiangmalam.

Akun tadi langsung berubah menjadi @doasiangmalam. Semua makian alat kelamin dan nama-nama hewan yang seakan lahir terlaknat berubah menjadi idiom-idiom indah. Twit-twit metafor cerdas, membuatnya tersihir pada linimasanya. Ia mulai ketagihan memilah akun lain.

Jelangkung, jelangsat, di sini ada pesta kecil-kecilan; jelangkung, jelangsat, datang tak diundang pergi tidak di antar…datangi dan luruskasn akun @dengkillez.

Wus! Seketika akun ini berubah menjadi @bahagialez. Linimasanya berubah menjadi akun motivasi, pemberi solusi bisnis, mengatur keuangan, dan bagaimana hidup berkeluarga dalam bahagia. Gagasan ini tampak memuaskan. Ia mulai melihat linimasa yang sehat dan bermutu. Dalam sekejap, sesama lesbian saling menyapa dan menyuarakan kebaikan. Follower-nya seperti mesin waktu, cepat kian bertambah, terus dan terus.

Namun sesuatu tak terpikirkan olehnya. Roh yang datang tadi tidak serta merta meninggalkan media komputer yang dirasuki. Dasar iblis! Ia mulai iri melihat linimasa yang menganjurkan kebaikan, perdamaian, sikap sopan santun, saling menguatkan, tiada dengki atau kelicikan, iri hati, atau cemburu. Sejak penciptaan mahluk hidup oleh Tuhan, persengkongkolan antara manusia dan setan bukanlah kolaborasi yang baik. Keduanya nyata-nyata diciptakan berbeda. Kecemburuan memicu roh jahat yang tadi menukar akun-akun yang awalnya positif. Maka terjadilah kebaliknya lagi. Roh jahat mulai mengadu domba, mengisi twit-twit dengan sampah, sumpah, dan kutukan. Akun-akun seketika menyebarkan permusuhan, mengajarkan seribu cara tolol menghasut follower.

Ranah lesbian dibuat riuh. Pacarnya direbut teman, temannya teman berpacaran dengan pacar temannya. Panas api cinta membuat lesbian semakin beringas dan mengerikan. Pemilik akun-akun ini dimotivasi mengganggu siapa saja, masuk ke akun-akun lain. Merebut follower akun lain secara brutal untuk mendapatkan follower baru dan menyebarkan akun-akun iblis.

Ia berjuang membuat sesajen untuk mengambalikan roh tersebut keluar dari komputernya. Perlawanan terjadi, iblis malah membacakan mantra untuknya.

Jelangkung, jelangsat, di sini ada pesta kecil-kecilan; jelangkung, jelangsat, lesbian datang tak diundang pergi tidak di antar… hebohkan akun @lesbiansportif.

Dengan tubuh dingin dan kulit merinding, ia mulai membaca linimasanya sendiri yang sontak penuh siratan tipu muslihat, menghebohkan dengan cepat, diikuti ratusan bahkan ribuan follower, bahkan seluruh pengikut setan alam gaib ikut-ikutan memenuhi linimasanya.

Akun @kuntilanak, @pocong, @setanngesot, dan banyak lagi mengajaknya berkolaborasi. Nyaris seluruh follower perempuan tergila-gila padanya, menyatakan cinta, menginginkan dirinya, DM dipenuhi dengan lamaran-lamaran ingin menjadi kekasih, mencari teman kencan, kesepian, butuh seks, serta pencari nasehat apa saja. Ia mulai tidak punya waktu untuk kehidupan nyatanya dan menjadi begitu sibuk, sesibuk-sibuknya.

Jelangkung, jelangsat, di sini ada pesta kecil-kecilan;jelangkung, jelangsat, lesbian datang tak diundang, pergi tidak diantar… sibukkan siapa saja yang membaca tulisan ini, sehingga tak lagi reseh dengan kehidupan mahluk lain di dunia maya, dunia nyata, serta dunia alam gaib.

Seketika listrik padam.

@Ade Rain, SepociKopi, 2012

  

Tags: , , , , , ,

11 Comments »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.