Home » Humaniora, Telezkop

te.Lez.kop: Living Solo

Submitted by on 12/04/2012 – 10:01 pm12 Comments | 1,225 views

Oleh: Alex

Jean Paul Sartre pernah bilang, L’enfer c’est les autres, yang biasanya diterjemahkan sebagai “neraka adalah manusia lain.“ Seberapa banyak dari kita yang menganggapnya benar? Saya salah satu orang yang menganggap manusia lain itu lebih banyak mengganggu. Untuk banyak orang terutama yang sudah mencapai aktualisasi diri, keberadaan manusia lain sering kali lebih membuat naik darah dibanding memberi ketenangan.

Dalam buku terbitan Februari 2012, Going Solo, The Extraordinary Rise and Surprising Appeal of Living Alone karya Eric Klinenberg—pakar Sosiologi dari New York University—menunjukkan suatu fenomena mengejutkan tentang peningkatan drastis jumlah  orang yang tinggal sendirian selama lima puluh tahun terakhir. Saat ini satu dari tujuh orang Amerika Serikat tinggal sendirian, bahkan di kota-kota besar metropolitan jumlahnya lebih dari 50%. Sekitar 18 jutanya adalah perempuan dan 14 jutanya adalah laki-laki. Dari jumlah itu, 16 juta berusia 35 sampai 64 tahun, alias berusia mapan.

Seiring dengan bertambahnya hunian berbentuk rumah susun atau apartemen di kota-kota besar di Indonesia, diperkirakan jumlah manusia yang tinggal sendirian semakin meningkat. Tinggal sendirian di sini tidak sama artinya dengan sendirian atau bahkan kesepian. Tinggal sendirian berarti mengambil keputusan untuk hidup dan memiliki tempat tinggal sendiri dan hidup sendirian di sana tanpa ditemani manusia lain.

Belakangan kemajuan teknologi membuat hidup kita makin riuh, kita terkoneksi dengan entah berapa media sosial, interaksi dengan ponsel, beragam jenis messenger, plus e-mail. Belum lagi keriuhan televisi dengan ratusan channel, hingga membuat hal sederhana seperti membaca buku pun kita jadi tidak punya waktu lagi. Hidup sendiri memberi kita waktu untuk mengisi kembali diri dan terkoneksi dengan diri kita sendiri di antara keriuhan dan hiruk-pikuk kehidupan yang bising.

Sebagai lesbian, tinggal sendirian memiliki keuntungan sendiri. Tidak adanya campur tangan keluarga atau sahabat yang mengganggu dengan pertanyaan, “Kapan kawin?” Tinggal sendirian juga menunjukkan kemampuan kita untuk hidup mandiri. Juga memberi kita kebebasan penuh untuk menjadi diri kita apa adanya. Katanya, bahagia itu sederhana, dan pastinya kita tidak butuh manusia lain untuk bisa bahagia.

Di sini hidup sendirian tidak berarti dalam konteks lesbian tinggal bersama kekasihnya, walaupun misalnya dia punya kekasih. Tapi dia benar-benar memilih tinggal sendiri/solo/tunggal. Tinggal sendirian tidak berarti dunia kiamat. Bahkan hidup dengan pasangan yang salah bisa membuat kita lebih merana daripada hidup sendiri lho. Jika harus melajang pun, tinggal sendirian juga menjadi pilihan yang menyenangkan dibanding harus meratap dan merana mengais-ngais cinta yang tak kesampaian. Hidup sendirian berarti kita punya waktu lebih banyak untuk fokus pada karier, berbagi pada sesama manusia, dan aktualisasi diri.

Untuk urusan “living solo” ini tentu kita membutuhkan kemandirian finansial. Hidup sendirian jelas lebih mahal dibanding kita bisa patungan atau bahkan tinggal bersama orangtua yang memberi kita gratis rumah seumur hidup dengan bayaran kepatuhan seumur hidup juga. Coba baca cara-cara investasi tulisan Seez Lim untuk mencapai kemandirian itu. Yah, tidak mungkin dong hidup sendiri tapi masih minta sama orangtua? Atau amit-amit, hasil korupsi? Atau jual diri? Idih… nggak banget.

Saya, walau terlihat ramah dan sanguinis, tidak merasa memerlukan manusia lain untuk bisa membuat saya terisi. Saya tidak memerlukan sahabat-sahabat lesbian untuk membuat saya diterima. Saya tidak merasa perlu hang out atau ngobrol/chatting setiap hari dengan teman-teman saya. Saya tipe orang yang menurut klasifikasi Eric Klinenberg sebagai manusia yang cocok untuk hidup sendirian. Saya senang berpikir bisa keluar kamar mandi dalam keadaan telanjang—tidak berarti saya melakukannya lho. Duduk menikmati wine sambil menonton DVD. Atau tidak perlu mengepel lantai selama seminggu hanya karena saya bisa… dan rasanya merdeka. Dan ya, memang benar, bahagia itu sederhana.

@Alex, SepociKopi, 2012

Tags: ,

12 Comments »

  • gila_penuh says:

    Wah, beberapa waktu yang lalu saya baru baca artikel di NY Times ttg the freedom and perils of living alone (ini artikelnya bagi yang tertarik membaca http://www.nytimes.com/2012/02/23/garden/the-freedom-and-perils-of-living-alone.html?pagewanted=all). While I agree ama beberapa poin diatas, living alone may (and most likely) enhance our quirkiness.

    Saya sendiri pernah living alone (tapi udah ga lagi karena terlalu mahal), dan setuju bisa walk around naked, bisa ga bersih2. If it’s messy, it was my own. Demikian pula halnya kalo bersih.

  • Adette says:

    Yah, hidup selalu tentang pilihan, bukan? :)

    Yang terpenting adalah konsisten dengan pilihannya serta bersiap untuk tidak akan mengucap penyesalan :)

  • adette says:

    Yah, hidup adalah pilihan. Dimana masing-masing pilihan itu pasti membawa sisi positif dan negatifnya. Yang terpenting, konsisten dengan pilihannya serta bersiap untuk tidak akan mengucap penyesalan.. :)

  • Blue says:

    Halo..
    Wah aku sudah memulai hidup seperti ini waktu SMA, tidak pernah memilih kos yang ada teman2x satu sekolah, beranjak kuliah lagi-lagi aku ga tau siapa penghuni-penghuni lainnya. Sekarang sudah bekerja dan memilih tinggal sendiri wlpn orang tua menasehati supaya aku tinggal di rumah saja. Hmm nikmat banget rasanya. Tapi aku pribadi ga bisa menyangkal interaksi dengan manusia lainnya itu penting walapun sempat tidak percaya istilah “Manusia adalah mahkluk sosial.”
    Akhirnya aku berpikir di tengah saja, aku adalah mahkluk sosial dengan kebutuhan menyendiri yang tinggi. Haha apa coba? Tapi itulah aku.
    Artikel yang bagus banget Kak Alex.
    Salam damai

  • bon says:

    setuju. im gonna be like that. yes, i will someday. merdeka! :)

  • bE says:

    Lex, meski emang sih sesekali rasanya mualleeeessss kalo bareng orang lain dan pengen menyendiri, tapi yang namanya barang ‘mewah’ emang muahal. Terlebih sehari2 aku emang dituntut utk berhubungan terus dengan orang lain.

    Harga mahalnya kesendirian tuh kadang aku ‘bayar’ saat lagi sendirian di rumah idle, saat jalan ngalor ngidul sendirian di mall atau sekedar nongkrong di ‘perpus pribadi yg namanya Gramedia’ seharian. ;) Tapi lebih hepi rasanya kalo hasil pertapaan itu bisa dibagi ke sekeliling :).

    Jadi yah aku juga suka menyendiri, sebagai sarana penenangan diri. Tapi tetap butuh orang juga. Jadi hobi menyendiri gak boleh bikin aku jd anti-sosial. Kesunyian yg mendamaikan jiwa itu hanya state of mind. Kita tetap bisa menikmatinya dimana pun. Gituh ajah :)

  • Yin D says:

    Agree with this article.. Living solo memang memerdekakan.. Tidak ada gangguan, fokus dalam melakukan sesuatu dan bebas melakukan apapun..:-D Namun tetap membutuhkan teman-teman Lesbian..

  • siskaaa says:

    Ternyata aku tidak sendiri sebagai manusia yang cocok untuk hidup sendirian :)

  • Yasmin says:

    nice article, Lex. Sepertinya gue banget nih. berarti aku nggak aneh-aneh amat yak? hihihi. :)

  • sugarr says:

    :) agreed and love it

  • seez says:

    Bahagia itu sederhana, sesederhana kita bs berbagi dan memberi =)

  • Ines says:

    Nggak sepenuhnya aku sependapat.

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.