Home » Humaniora, Tajuk

Tajuk: Buku dan Kita

Submitted by on 03/04/2012 – 10:48 pm2 Comments | 609 views

Oleh: Nuha Guwa

Cerita soal buku, saya punya pengalaman kecil yang sangat susah dihilangkan dari ingatan. Nenek saya adalah guru mengaji di sebuah lorong kecil di deretan perumahan yang cukup padat. Beliau yang tukang cerita ini mengatakan pada zaman ia kecil dulu ada beberapa menasah atau mesjid kecil yang ustadz-nya sangat rajin membuat cerita-cerita dalam aksara Arab Melayu. Cerita-cerita ini selalu ditulis di papan tulis dan ustadz mengharuskan semua murid madrasah menyalin cerita itu. Ia akan membacanya, dan murid-murid mengikutinya dengan serentak. Kisahnya pun unik tentang fabel, hewan-hewan khas kampung halamannya. Alhasil ia pun mahir membaca aksara Arab Melayu ini dengan lancar melebihi tulisan latin bahasa Indonesia.

Kecintaannya pada tulisan membuat ia haus akan bacaan-bacaan, namun seperti diketahui tidak ada satu pun sumber cerita yang dikeluarkan oleh penerbit mana pun ketika itu dalam aksara Arab Melayu. Jangankan cerita-cerita bertuliskan Arab Melayu, tulisan-tulisan dalam media massa yang notabene surat kabar saja masih terhitung dengan jari.

Di lain hari di satu masa, ibu saya mendapatkan seorang perempuan paruh baya yang dipekerjakan di rumah kami. Perawakannya yang bersahaja dan lembut membuat kami semua sangat menyayanginya. Lucunya, setiap saya mengerjakan pe-er dan ia menemani di samping kami sambil melihat buku-buku, ia selalu meminta apa yang saya lihat untuk dibacakan. Justru saya memang sedang menghafal, maka tulisan tersebut pun saya baca keras-keras. Saat kami pindah keluar kota ia juga ikut dengan keluarga kami, namun kemudian ketika  ibunya sakit-sakitan ia pun harus pulang ke kampung halamannya dengan naik pesawat udara. Masalah pun muncul karena ternyata beliau ini mengaku buta huruf, dan meminta agar seseorang dari kerabat ibuku harus ikut mengantarkannya pulang.

Ketika ia tidak ada, sayalah yang paling sering merasa kehilangan karena sebenarnya hampir setiap malam saya membaca buku-buku pelajaran ke telinganya, saya terbantu mengingat apa-apa yang penting dari pelajaran tersebut. Kami terkadang tertawa jika ada kalimat-kalimat yang kami anggap susah, dia tidak mengerti dan  saya pun tidak tahu. Terkadang kami iseng membaca buku ilmiah kedokteran yang ada di rak buku orangtua saya, dan ia menunjuk mana-mana saja halaman yang harus dibaca.

Berbahagialah kita yang bisa membaca. Berbahagialah kita yang tidak buta, tidak buta huruf sehingga bisa melihat dunia dengan membaca dunia hanya dari gabungan kata per kata, gabungan kalimat per kalimat, cerita ke cerita… betapa kasihannya orang-orang yang buta huruf, namun betapa malangnya orang yang mahir membaca namun hatinya buta untuk membaca. Saya jadi terkenang akan nenek saya yang hanya bisa membaca dan menulis aksara Arab Melayu, dan prihatin pada orang-orang yang tidak bisa membaca.

Kita hidup dalam era membaca, generasi yang memang harus membaca buku, karena akses terhadap tulisan dan buku-buku ini demikian mudah. Bayangkan sejarah masa lalu buku yang demikian suram, tidak adanya media yang pas membuat orang-orang terpaksa menuliskan kisah dan gambar di atas dinding batu, atau media-media apa adanya. Barangkali kita perlu berterima kasih kepada bangsa Mesir yang menemuka  papyrus, beberapa catatan mengatakan buku pertama kalinya lahir di Mesir pada tahun 2400-an SM setelah orang Mesir menciptakan kertas papyrus tersebut.

Mari kita berkaca pada sejarah ketika  papyrus yang berisi tulisan ini digulung dan gulungan tersebut merupakan bentuk buku pertama yang kemudian bisa dibaca orang-orang di masa itu, tentang masa tanam, masa panen, dan musim-musim yang akan diisi dengan upacara-upacara keagamaan.

Atau di zaman Sang Buddha yang menuliskan ajarannya di atas daun kemudian membacanya berulang-ulang di depan para pengikutnya. Atau  di Cina, ketika para cendekiawan menuliskan ilmu-ilmunya di bambu yang diikatkan menjadi satu. Sejarah itu sampai memengaruhi sistem penulisan di Cina di mana huruf-huruf Cina dituliskan secara vertikal yaitu dari atas ke bawah. Manusia yang haus bacaan semakin dipengaruhi dengan dashyat setelahnya.

Akses terhadap buku yang terbuat dari kertas mulai meluas ketika Tsai Lun asal Cina berhasil menciptakannya pada tahun 200-an SM dari bahan dasar bambu. Orang-orang Arab yang berprofesi sebagai pedagang yang umumnya muslim ini membawa teknologi penciptaan kertas dari Cina ke Eropa pada awal abad ke-11 Masehi. Di sinilah industri kertas bertambah maju. Apalagi  setelah Gutenberg menciptakan mesin cetak sehingga perkembangan dan penyebaran buku mengalami revolusi.

Berbahagialah kita di masa kini, buku-buku cetakan dan elektronik mengelilingi kehidupan kita beragam tulisan dan karya-karya bahkan mahakarya yang sangat banyak itu barangkali tidak sempat kita baca satu per satu, jika demikian, pilihlah salah satu yang bisa menginspirasi dan membuat kita melek baca. Memulai bacaan dari sesuatu yang disukai akan menarik kita pada dunia baca yang lebih hebat dan jauh.

Betapa kerdilnya lesbian jika tak memiliki keinginan untuk membaca, betapa miskinnya otak yang kecil itu jika hanya diisi dengan pengalaman-pengalaman umum yang sebenarnya bisa dipertajam dengan membaca. Kamar kita boleh sempit, namun minat baca itu harus bisa menjadikan menjadi tempat sempit tadi menjadi dunia yang luas, seluas-luasnya… dan bersiaplah mengarungi keluasan tersebut tanpa batas umur.

@NuhaGuwa, SepociKopi, 2012

Tags: , ,

2 Comments »

  • widy says:

    Setuju dengan Zovanovsky ; membaca dari buku terasa lebih bernyawa.
    . Membaca buku camilan 203040 rasanya sangat bernyawa..
    Buku dan ‘Kita’ itu seperti Memahami karakter jaqs di usia 20.. (Yang sedikit ‘penuh’ keberuntungan)
    Karakter RaRa 30 tahun yang cinta mati sama KaK eki..
    Dan paling sulit itu.. Karakter cenila ; mungkin karna usianya 40an ya ? ^_^.
    membiarkan imaginasi ini membentuk sosok yang diinginkan
    (Jaqs yang tampan : ‘berfikir ke arah shane di l word yang banyak di sukai cewe
    Pindah ke kak eki : cewek tirus,sipit,tinggi tapi tampan ? : mungkin mirip takekonya spider lilies.
    Cuma kelemahan widy engga bisa fokus di cerita 40an.apalagi ceritanya high class.
    Jadi ga kebentuk sosok rusia amerikanya ferro atau bahkan cenila nya sendiri.
    Buku dan Kita merupakan nyawa.. : harus menyatu menciptakan siluet gambar dalam fikiran.
    Lebih dari nonton film, kita bisa tertawa sendiri karena membaca
    Atau merasa sedihh ketika ceritanya menyentuh perasaan.
    Bahkan bisa Menjadi pintar karena pengetahuan.
    Buku memang jendela dunia..dan mungkin jendela hati kita.

  • Zovanovsky says:

    Setuju denga Nuha ^_^
    Aku perna menuliskan barisan kata untuk sebuah buku, seperti ini :

    Aku menatap indahnya langit malam
    Di berbagai belahan dunia
    Melalui barisan kata
    Di atas selembar kertas…
    Aku menyapa setiap lorong asing
    Melalui benda persegi
    Yang akan selalu meninggalkan bunyi kerinduan
    Ketika aku membalikannya satu persatu..

    Aku suka membaca,dan aku mencintai buku ^^
    Semakin kesini buku bisa didownload, bisa secara e-book, tapi ntah kenapa buatku membaca dari buku terasa lebih berbeda, bunyi kertas yg dibolak-balik itu terasa lebih memiliki nyawa ^^.

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.