Home » Humaniora, Noktah Merah

Noktah Merah: Pernikahan Lesbian di Cina Pada Abad 17-20

2 March 2012 484 views 6 Comments

Oleh: Lakhsmi

Ratusan tahun lalu, di seluruh daratan dan tanah Cina, kekuasaan dalam keluarga dan masyarakat dipegang oleh kaum lelaki. Lelaki mewarisi semua obyek benda dan properti. Dengan power seperti itu, tentu saja lelaki dianggap sebagai kaum superior alias kaum kuat. Lelaki juga berhak memiliki istri lebih dari satu. Perempuan hanyalah dianggap sebagai benda yang bisa diambil dan disimpan.

Pada abad 19, perempuan juga tidak bisa memilih suami. Pernikahan akan diatur dan ditentukan oleh ayah dan lelaki lain. Bahkan perempuan tidak bisa melihat siapakah yang menjadi suaminya sampai pada hari pernikahannya.


Sekitar tahun 1800-an, di daerah Guangdong, di pesisir Cina, tumbuhlah perekonomian dan keberhasilan sutra yang pesat dan sukses. Pabrik sutra bermunculan, sehingga pabrik membutuhkan tenaga kerja yang handal. Kesempatan ini digunakan oleh perempuan untuk bekerja sehingga bisa membantu keuangan keluarga dan diri sendiri. Bukan itu saja, banyaknya perempuan yang bekerja di pabrik memunculkan lapangan pekerjaan lain, seperti menjadi pengasuh bayi, penjaga kanak-kanak, dan pembantu rumah tangga. Para perempuan berkumpul dan menciptakan hubungan yang erat satu sama lain.

Inilah salah satu faktor pemicu dan pendorong yang kemudian melahirkan komunitas atau masyarakat perempuan yang terkenal bernama Golden Orchid Society. Kelompok ini menganggap pernikahan adalah tekanan dan kekang bagi kebebasan perempuan, juga melihat pengaturan dalam pernikahan membuat perempuan tidak bisa bebas memilih dengan siapa mereka akan menghabiskan masa tua mereka.

Selain kemajuan ekonomi, faktor pendorong kelahiran Golden Orchid Society adalah pemujaan dewi yang sama. Para perempuan ini menghormati dan memberikan persembahan kepada Dewi Guan Yin (atau disebut juga sebagai dewi Kwan Yin, Sang Dewi Perempuan. Dalam bahasa Sansekerta, dewi ini dikenal dengan nama Dewi Padma Pani, atau dewi yang lahir dari bunga teratai. Dewi Guan Yin adalah dewa intranseksual atau androgini (dua alat kelamin/dua gender) atau juga sering dianggap tidak memiliki alat kelamin sama sekali walaupun disebut sebagai “Dewi”, bentuk feminim dari makna ketuhanan. Legenda mengatakan bahwa Dewi Guan Yin adalah dewi yang menolak pernikahan dengan lelaki dan membaktikan diri pada kehidupan spiritual.

Kelompok Golden Orchid Society yang sudah memiliki jodoh lelaki akan menolak pernikahan. Yang sudah dipersiapkan menikah, akan menolak berhubungan seksual dengan suaminya dan kemudian pulang kembali ke rumah orangtuanya. Perempuan-perempuan yang seperti ini dianggap “belum menikah” dan menjadi bagian dari Golden Orchid Sociaty.

Walaupun disebutkan bahwa Golden Orchid Society tumbuh di abad 19, para sejarahwan ada yang mengatakan bahwa sebenarnya masyarakat perempuan ini mulai terbentuk di tahun 1644 pada zaman dinasti Qing. Para perempuan memberontak ketika dipaksa menikah dan harus tunduk pada aturan lelaki.

Masyarakat Golden Orchid Society bersumpah setia satu sama lain. Mereka memutuskan tidak berhubungan seksual dengan lelaki atau jika dipaksa, mereka akan bunuh diri. Kelompok ini juga memiliki istilah lain, seperti persahabatan sehati, kesetiaan persahabatan, asosiasi penghormatan kepada perempuan, partner kerja, dan lain-lain.

Di dalam masyarakat Golden Orchid Society, beberapa perempuan memutuskan menikah di antara mereka sendiri. Pernikahan dilakukan secara formal dan mengikuti upacara adat. Perlengkapan yang dibutuhkan saat melamar antara lain, permen kacang, madu, dan teh. Jika dua keluarga sudah saling menyetujui, maka pernikahan akan direncanakan dan kontrak dibuat untuk dua perempuan itu.

Pada hari pernikahan, dua perempuan yang akan menikah sama-sama mengenakan baju tradisional Cina yang berwarna merah. Rambut mereka harus dikepang dan dibuat sanggul yang menyatakan bahwa mereka bukanlah perempuan lajang lagi, melainkan sudah menikah. Kedua pengantin perempuan akan diarak dengan menggunakan tandu khusus yang berwarna merah, sebagai lambang keberuntungan. Mereka harus bersumpah setia satu sama lain (disebut terikat shuang chieh pai) dan jika terjadi perselingkuhan atau salah seorang berkhianat, maka dia harus menghadapi hukuman, seperti dipukul dan dipermalukan. Sumpah pernikahan Golden Orchid Society tidak main-main dan tidak boleh dianggap sepele.

Setelah menikah secara formal, maka dua perempuan tersebut hidup dalam satu rumah tangga, yang saling berbagi keuangan dan bersama-sama dalam sakit dan senang. Mereka juga dianggap sebagai pasangan istri yang sah dan dapat mengadopsi anak.

Anak-anak mereka diadopsi berasal dari anak-anak yatim piatu, anak-anak jalanan, anak-anak yang tidak diinginkan oleh pasangan heteroseksual. Kedua pasang perempuan akan membesarkan anak-anak tersebut bersama-sama, didukung oleh keluarga masing-masing dan seluruh komunitas Golden Orchid Society. Pasangan same-sex married ini bahkan boleh mengadopsi anak perempuan dan mendoakan arwah si anak perempuan jika meninggal. Kedua ibu ini juga memiliki hak yang sama pada saat pemberian warisan.

Pada masyarakat ini, mereka memiliki dua kelompok yang hidup secara berdampingan tapi berbeda. Yang pertama kelompok Vegetarian Hall, yaitu kelompok perempuan yang hidup tanpa menyantap daging, tidak bertemu/berbicara/berhubungan dengan lelaki, dan mereka hidup dalam kehidupan spiritual yang ketat. Kelompok lainnya bernama kelompok Spinster Hall, yaitu kelompok yang lebih bebas, hanya pelarangan terhadap pernikahan heteroseksual.

Pada abad 21 ini, masyarakat Golden Orchid Society tidak lagi ada. Anggota terakhir mereka sekarang berusia 80-90 tahun dan beberapa masih hidup bersama pasangan perempuan mereka di Malaysia, Singapura, Hongkong, dan Taiwan. Pada tahun 1949, mereka melarikan diri dari Goangdong ketika mereka dicurigai sebagai kelompok yang ingin menggulingkan kekuasaan Manchu dan menjayakan dinasti Ming. Ada pandangan masyarakat Cina yang menyatakan bahwa kelompok Golden Orchid Society tidak dianggap sebagai komunitas lesbian, melainkan komunitas perempuan, saudari, dan gabungan kekuatan para ibu yang bersatu.

Pada kepercayaan Buddha, disebut bahwa penyatuan hati dua perempuan bisa terjadi karena di masa lalu seorang lelaki yang menjadi pasangan perempuan itu lahir kembali (reinkernasi) menjadi perempuan. Maka pernikahan antara dua perempuan pun tak terelakkan.

Nah, lesbian, sempatkan pergi ke Cina pada sepanjang usia hidupmu. Jangan lupa mampir di provinsi Guangdong (kota-kota Nanxiong, Shaguan, Mexian, Guangzhou, Maoming) tempat di mana para perempuan menikah satu sama lain ratusan tahun sebelum kita lahir.

@Lakhsmi, SepociKopi, 2012

Terima kasih kepada Canly yang memberikan referensi sebagai salah satu referensi untuk penulisan artikel ini.

Keterangan gambar:
1. Pasangan istri-istri dan rumah tangga yang aman tentram bahagia
2. Dewi Guan Yin
3. Industri sutra yang dikerjakan oleh perempuan
4. Foto perempuan menikah, seperti ini baju pengantin yang dikenakan dua perempuan Golden Orchid Society ketika menikah
5. Iklan perempuan di abad 19-20

6 Comments »

  • Broc said:

    As it happened, I was in meixian last Dec. The city has transformed tremendously. I hardly recognized it with the last time I was there. I noticed in the thrice I was there was women did/do all the work while men (or I should say old men) chit chatting and do nothing. The place was once very poor and there was nothing there so most men went to other provinces or went to south east asia countries and other parts of world to earn living. Leaving women tend to old folks and children and do all the men’s jobs (like go to
    rice/vegie fields). Nowadays they become the so called famous “hakka women”. Descrimination against women is very much noticed every where
    there.

  • june lee said:

    ini, bnr2 history yg indah, keren n menakjubkan. Ak ga pernah melihat yg sekeren ini, history tentang perempuan. Selama ini cm history soal, pahlawan yg kebanyakan lelaki, ato politik n intrik di dalamnya. Ini membuatku merasa wow ternyata dulu ad sejarah seperti ini. Selama ini cm tau rumornya aja ><

  • dewi said:

    LAKHSMI……
    indah,keren,menakjubkan.

  • jellpen said:

    Artikel yg bagus :-)

  • canly said:

    Yes! Kaum kita memang sudah eksis dari zaman dulu. Masih banyak history yang mungkin perlu kita gali lebih dalam lagi di berbagai belahan dunia. Tidak mungkin tidak, kaum lesbian sudah ada dan terbuka secara lokalisasi di beberapa tempat yang dikucilkan oleh masyarakat umum yang menutupinya dengan alasan tersendiri.

    Thanks to Lakshmi sudah dipublikasikan. Kita jadi lebih banyak belajar dan memperoleh informasi yang sangat berharga.

  • ndutz said:

    keren nih cerita :) q jg percaya lesbian itu ada sejak dari jaman dlu , jaman dmana qta tidak tahu tentang masa itu .

Leave your response!

Ruang komentar adalah ruang yang memberikan perhormatan tinggi kepada kaum lesbian. Silakan gunakan kata "lesbian" atau "lesbi" dengan tepat, bukan dengan kata-kata lain yang melecehkan. Komentar dengan bahasa alay, singkatan, dll, tidak diperkenankan. Terima kasih.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.