Home » Humaniora, Telezkop

Te.Lez.Kop: Inner Beauty. Seriously?

1 March 2012 279 views 6 Comments

Oleh: Alex

Max: My teacher tells me beauty is on the inside.
Fletcher: That’s just something ugly people say.

Dialog di atas adalah kutipan dari film tahun 1997 berjudul “Liar Liar” yang diperankan Jim Carrey sebagai Fletcher. Saya suka sekali dialog di atas hingga terkenang sampai sekarang. Saya merasa apa yang dikatakan oleh Fletcher ada benarnya.

Sering kali kita mendapati komentar, “aku sih nggak lihat fisiknya kalau naksir seseorang.” Atau “yang penting inner beauty.” Pokoknya komentar-komentar pemujaan terhadap kecantikan di dalam seakan kecantikan kulit luar itu nista. Tapi kalau kita mau jujur, seperti yang dialami Fletcher untuk terus berkata jujur, masa sih keindahan wajah dan fisik tidak memengaruhi penilaian kita sama sekali.

Saya juga percaya hanya orang buruk rupa yang berkata seperti itu. Mungkin tampilannya tak jelek tapi jauh di dalam dirinya, dia merasa buruk dan tidak memiliki rasa percaya diri, rasa bahwa dirinya tidak cukup bagus untuk memperoleh yang terbaik. Jadi untuk berjaga-jaga agar tidak memperoleh hasil yang tidak sesuai standar ISO-nya, dia menyatakan, “aku nggak lihat fisik kok kalau menyukai seseorang.” Banyak orang yang takut kecewa, sehingga memasang pelindung lebih penting “inner beauty” ini. Dan orang-orang tipe pemuja inner beauty ini biasanya bersikap “nrimo” siapa pun yang naksir dia asal asyik dan kelihatan baik hati dan… jangan lupa pintar.

Saya pribadi akan tersinggung jika ada orang yang mengaku naksir pada saya lalu mengatakan kalimat tersebut. Kemudian mengatakan bahwa dia menyukai saya karena saya pintar dan lucu, misalnya. Saya ingin menjadi yang tercakep di matanya. Kenapa? Karena menjadi yang tercantik di mata pasangan berarti menjadi yang terbaik. Biar kata ada Angelina Jolie atau serombongan gadis SNSD lewat di depan mata, yang tercakep tetaplah saya di mata pasangan.

“Beauty is on the eye of the beholder” mungkin terjemahan bahasa Indonesianya, ukuran kecantikan itu relatif. Ada yang menganggap gadis-gadis girl band Korea yang seksi dan kurus itu cantik tak terkira, tapi ada yang menganggap Adele memiliki kecantikan dan pesona yang berkilau. Itu benar. Ukuran cakep/cantik itu amat subjektif. Saya yakin, saya memiliki nilai kecantikan tersendiri di mata Lakhsmi. Di matanya saya amatlah menarik. Jika tidak ada ketertarikan fisik, bagaimana mungkin terjadi keintiman badaniah jika melihatnya saja sudah geli.

Kalau tanya saya, saya jelas nggak bisa pacaran sama orang jelek. Saya harus pacaran sama orang cakep. Karena itu menurut saya penting sebagai awalan. Jika tidak, mana mungkin saya akan menoleh memandangnya lebih lama 2 detik dan seakan tersambar petir. Selanjutnya, kita lihat apakah ada koneksi dalam obrolan.

Untuk lesbian yang pertama kali berkenalan lewat dunia maya untuk mencari pacar, saya sarankan untuk melihatnya dulu atau menggunakan webcam untuk menilai penampilan fisiknya. Jangan-jangan pendeknya hubungan lesbian dan rotasi putus-jadian lesbian yang singkat ini disebabkan lesbian tergila-gila pada pemujaan inner beauty sehingga melupakan faktor fisik. Sehingga setelah beberapa hari berlalu setelah “jadian”, kesadaran bahwa fisik pasangan tidak menarik hati dan membuat dirinya tak kepengin bersentuhan akhirnya menjadi faktor pemicu di alam bawah sadar untuk putus.

Mungkin kita generasi yang dididik untuk percaya bahwa The Beast kita akan berubah tampan jadi sang pangeran di akhir cerita. Mungkin saatnya kita menyadari bahwa si Beast takkan berubah jadi pangeran, tapi dia (di mata kita) tampak tampan dengan wajah monsternya.

@Alex, SepociKopi, 2012

6 Comments »

  • ilk said:

    Setuja dgn “beauty is in the eye of the beholder”. Memang luar biasa (aneh) ya hubungan yg dimiliki mata dgn hati. Makanya ada love is blind yg bikin orang2 diluar mereka yg saling jatuh cinta mikir “kok bisa ya?”. It’s all in the eye (and heart) of the beholder..

  • Ch ! said:

    setuju banget, memang ‘inner beauty’ jg pnting tp fisik yg paling menentukan ketertarikan pada ssorang.. tapi ya memang mgkin selera org beda2, klo bisa ada dua-duanya lebih bagus lagi hehe

    mmm klo mnurut aku, ketertarikan fisik gak cuma krn faktor cakep atau cantik aja tpi jg krn keren, karismatik, seksi dll yg gak perlu modal wajah cakep :)

  • Dusk said:

    Ah, couldn’t agree more.

  • anind said:

    Lex,,tulisanmu kena banget, dalam tapi asyik. Jujur pd diri sendiri memang sulit. Klo ada kalimat “cinta pd pandangan pertama”, bisa di pastikan fisiklah yg pertama kita lihat. Bkn begitu Lex,,,;-). Dan buat kalian berdua Lex & Laks, semoga langgeng,,,, salam sexy buat kalian berdua,,,,;-):-D

  • Monski said:

    Ehmmm,,, “cinta pd pandangan pertama” pasti dr fisik. Gw tidak setuju untuk yg satu ini.. :D

    Gw jatuh hati sama partner bukan karena fisik, kita saling kenal melalui dunia maya jadian pun tanpa bertemu dulu.. Dimata gw dy org tercantikkk *walau dy bilang klo dia itu manis bkan cantik :P *

    Sekali bertemu ga merubah pandangan gw ttg dy dan gw semakin cintaa sama dy..

    Semua berawal dari hati yang tentuny akan mempengaruhi mata kitaaa.. Itu yg gw alamin..

    Just follow your Heart. :D

  • f3bby said:

    Saya sendiri suka yang cantik…tapi untuk hubungan yg lebih jauh berarti butuh faktor lain yang mendukung..

    Oia..saya juga sepakat menjadi yang tercakep bagi partner. Agak aneh kalo saya dibilang cantik..lebih enakan “cakep” ato “caem” hehe.. :D

Leave your response!

Ruang komentar adalah ruang yang memberikan perhormatan tinggi kepada kaum lesbian. Silakan gunakan kata "lesbian" atau "lesbi" dengan tepat, bukan dengan kata-kata lain yang melecehkan. Komentar dengan bahasa alay, singkatan, dll, tidak diperkenankan. Terima kasih.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.