Home » Humaniora, Opini

Cantiknya Lesbian, Luar Dalam

29 February 2012 469 views 11 Comments

Oleh: Carmen

“Pantas kita bangga menjadi lesbian. Bukan karena kita memilih menjadi lesbian, tapi karena kita memilih menyingsingkan lengan baju untuk bekerja keras.” (Lakhsmi, awal tahun 2012)

Kalau dibaca kutipan teman kita yang baik hati itu, jadi jelas bahwa artikel ini bukan untuk mengajak narsis, tapi untuk mengapresiasi lesbian-lesbian di sekitar kita, dari dulu hingga masa kini. Bukan karena kelesbianannya per se, tapi karena kerja keras dan sifat pantang menyerah yang ditunjukkan — saat ada label lesbian tercetak menjadi bagian dari diri. Aku secara pribadi menolak ajakan agar menjadi lesbian yang “biasa-biasa” saja. “Santai dong”, katanya, “Sederhana saja”. Hohoho, santai? Sederhana? No way! Tidak, aku menolak ajakan “santai” dan “sederhana” mentah-mentah.

Jadi bagaimana, dong? Masa lebay sama kelesbianan diri? Oh, harus itu! Kalau bisa super duper mega ultra lebay. Itu sangat bagus menurutku. Yaitu, bangga menjadi lesbian, dengan cara menjadi pekerja keras yang super lebay juga. Masalahnya begini, ke-lebay-an itu perlu banget untuk lesbian, karena kita berhadapan dengan super banyak stigma yang super negatif. Bayangkan saja, belum apa-apa, sudah dapat stigma perempuan belum menikah (yang artinya, tidak laku, jelek, tidak patuh pada nasehat orangtua). Belum lagi stigma lesbian yang aneh bikin geleng-geleng kepala (yang artinya, trauma-benci laki-laki, egois, tidak sayang orangtua, sadis, serem, suka nular). Tidak heran juga susah sekali di antara kita lesbian untuk mencintai diri sendiri, karena kita percaya sama stigma yang keliru tersebut.

Susah amat ya, jadi lesbian. Kok tidak adil ya, keadaan buat kita? Ya, memang. Terus mau apa? Diam doang? Teriak-teriak sampai serak? Meratap? Mengeluh dari ujung ke ujung? Cari perhatian? Membenci masyarakat?

Aku punya satu cara untuk tidak tenggelam di kehidupan perikemanusiaan yang menyatakan bahwa kelompok yang ditekan menjadi lemah maka musnah. Ingat namanya? The survival of the fittest. Hal ini ditekankan sama ayahku sendiri kira-kira seminggu setelah aku coming out. Kata ayahku, untuk mengatasi stigma yang jueleeeek itu, tunjukkan pembuktian berkali-kali bahwa stigma-stigma itu salah besar. Bukan ke siapa-siapa kok, minimal ke diri sendiri!

Aih, kok terdengar suara-suara pesimis? Apa bisa dilakukan? Apa kita punya kemampuan, katamu? Hmm… Sini deh, kubisikin, serius, deh. Kita punya potensi kemampuan sangat banyak untuk itu. Kita memiliki energi besar untuk mencinta makhluk terindah perempuan di dalam lubuk hati. Karena cinta yang sangat besar itu, enerji untuk bekerja keras selalu ada. Apalagi aku percaya, Tuhan tidak pernah kasih cobaan yang lebih berat dari yang bisa kita tanggung. Plus, Dia selalu mengangkatku di saat-saat terberat dalam hidup.

Inilah beberapa stigma tentang homoseksual yang sudah banyak dipatahkan:

Homoseksual adalah pemalas dan sampah masyarakat

Sejarah membuktikan, homoseksual selalu sukses menapakkan kakinya di sejarah dunia. Kelompok homoseksual mempunyai andil besar pada penciptaan di tengah peradaban manusia. Lihat berbagai artikel di kolom Noktah Merah SepociKopi.

Homoseksual merusak generasi depan

Selama ini, sudah banyak penelitian tentang pasangan orangtua lesbian dan anak-anaknya. Anak-anak yang diasuh oleh pasangan lesbian, tampak lebih unggul di bidang tertentu, misalnya toleransi dan pemahaman soal keberagaman. Anak-anak tersebut tidak kalah dengan anak-anak yang diasuh oleh kelompok heteroseksual, dari soal prestasi hingga kesehatan jiwa. Majalah lesbian SepociKopi juga tak bosan selama lima tahun mendidik untuk menciptakan generasi baru lesbian yang memiliki intelektual, pengetahuan, dan kesadaran diri secara spiritual dengan lebih baik. Kebalikan dari stigma, homoseksual malah berpotensi membangun generasi depan yang lebih baik.

Homoseksual tidak bisa bahagia

Relasi lesbian terkadang dijadikan percontohan untuk kelompok lain, karena tingkat kepuasannya sangat tinggi, relasi komunikasinya paling menonjol, dan bisa bertahan hingga bertahun-tahun lamanya. Pernikahan lesbian secara nyata telah terwujud di belahan dunia lain. Menurut riset, lesbian yang menerima kelesbianannya sangat bahagia. Patah deh stigma bahwa lesbian tidak bisa bahagia.

Kalau contoh dari Indonesia, bagaimana? Begini deh, bagaimana kalau memulainya dari diri sendiri? Aku bisa memberikan kesaksianku sendiri. Mimpi yang sudah kucapai dengan bekerja keras banyak, dengan jati diri lesbian. Aku bersekolah, bekerja, dan menjadi masyarakat kelas dunia berawal dari mimpi-mimpiku. Aku yakin masih banyak lesbian yang juga sepertiku, menerima kelesbianannya dengan baik dan terjun di kehidupan bermasyarakat.

Untuk mencapai cita-cita, jalan memang tidak mudah, bahkan sulit dan terjal. Yang menjadi masalah, kalau belum apa-apa kita sudah menjadi manusia yang putus asa, tidak bisa melihat harapan, mengasihani diri sendiri, dan mengeluh tanpa selesai. Bangun, bangun, bangun, yuk, sama-sama bangun! Hap hap hap. Tidak usah mendengar mereka yang pesimis, yang memperolok-olok kualitas kerja keras, yang merasa menjadi orang paling malang sedunia, atau yang sinis akan harapan keberhasilan. Sebagai lesbian, jangan pernah berhenti melakukan hal-hal positif dalam hidup, apalagi melupakan kesempatan untuk berbahagia. Yap, lesbian, let’s live life to the most.

@Carmen, SepociKopi, 2012

11 Comments »

  • hera said:

    sangat memberi semangat. Energinya tersalurkan. Tx.

  • lemon said:

    ya….betul….jgn cuma nganggur n bolos2 sekolah….

  • deyforblue said:

    Jarang” ni Lesbian punya pola pikir kayak gini..
    Seandainya paradigma Lesbian bisa sedikit berubah atau terarahkan seperti itu, udah pasti stigma di masyarakat pun amblas..

    Setuju deh sama ka Carmen :”)

  • jellpen said:

    Anda sangat betuuuul…. *jadi tambah semangat besok ngantor :-) *

  • Blue said:

    Wah Carmen, saya selalu menanti tulisanmu yang penuh semangat seperti ini. keren keren keren..

  • Ch ! said:

    klo mnurut aku sih, stigma2 itu pastinya dibuat atau terbentuk pada pikiran kaum hetero so buat apa terlalu ditanggapi, toh mereka kan tidak tahu seperti apa kita aslinya, mgkin juga yg mereka kenal hanya lesbian yg buruk yg dgn mudah tercium sebagai lesbian.. juga kbykan dari mereka sudah dari awal men-cap lesbian sbgai sesuatu yg buruk krn mereka tdk suka, yah biasa lah ini, apalagi kbiasaan org sini yg suka ngegosipin n kaitin org2/kaum yg mereka gak suka dgn hal2 buruk walaupun yg melakukan itu cuma sgelintir dari kita..

  • mizu said:

    Nice article.. Motivasi bgt :D

  • ndutz said:

    that’s right ! tapi terkadang para lesbian sekarang , mereka msih belum bsa u/menghargai diri mereka sndiri sebagai lesbian . hmmm… mka qta jga perlu menjunjung , membimbing dan mendampingi mereka u/bsa meraih cita” mereka . para kaum lesbian skarang yg sering sya ‘ lihat ‘ mereka terlalu putus asa , kalau putus dengan pasangannya , kehidupan dya sendiri pun akhirnya di no 2 kan akhirnya .

  • lulu said:

    makasi buat artikel ini..sangat memompa semangat..
    aku sangat suka dengan kalimat terakhirnya.. “jangan pernah berhenti melakukan hal-hal positif dalam hidup, apalagi melupakan kesempatan untuk berbahagia”

    sekali lagi, makasi ya…that sentence really means a lot for me, dear…

  • Mlehoy_ said:

    . makasihh buat artikelnya
    , jadi semangatt
    :) )

  • f3bby said:

    HAH..!! Say “shoo..shoo..GO AWAY for laziness..!

Leave your response!

Ruang komentar adalah ruang yang memberikan perhormatan tinggi kepada kaum lesbian. Silakan gunakan kata "lesbian" atau "lesbi" dengan tepat, bukan dengan kata-kata lain yang melecehkan. Komentar dengan bahasa alay, singkatan, dll, tidak diperkenankan. Terima kasih.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.