Puisi: Perayaan Sajak-sajak Cinta 4
Pada Senin terakhir di bulan Februari, inilah tiga penyair mancanegara yang mempersembahkan segenap cintanya di bait-bait sajak. Pada mulanya memang cinta, biarlah berakhir dengan cinta pula. Marilah bersama-sama membaca tiga puisi karya tiga penyair dunia E. E. Cunnings, Oscar Wilde, dan Elizabeth Barrett Browning. Selamat menikmati!
Aku Bawa Hatimu Bersamaku
Oleh: E. E. Cunnings
Aku bawa hatimu bersamaku (kubawa kau
di hatiku) Aku tak pernah tak bersama hatiku (ke mana
pun aku pergi, kau pun pergi, kekasihku; dan segala-gala yang telah kuselesaikan
hanya untukmu, kekasihku).
Aku tak pernah takut pada
takdir (sebab kau adalah takdirku, kekasihku). Aku tak mau
dunia (sebab keindahan dunia adalah dirimu, kekasihku)
dan hanyalah dirimu atas semua perumpamaan tentang rembulan
dan semua nyanyian atas nama matahari yang didendangkan.
Inilah rahasia terdalam yang tak ada seorang pun tahu
(inilah akar segala akar dan kuntum segala kuntum;
dan langit segala langit yang menaungi pohon kehidupan; yang tumbuh
lebih tinggi daripada jiwa yang berharap atau pikiran yang disembunyikan)
dan inilah keindahan yang membuat bintang-bintang di langit tetap berserak.
Aku bawa hatiku bersamaku (kubawa kau di hatiku)
(Judul asli I Carry Your Heart With Me)
***
Untuk Istriku – Bersama Potongan Puisiku
Oleh: Oscar Wilde
Aku bisa menuliskan puisi yang tak menentu
sebagai awal dari permulaan ini
Dari seorang penyair kepada puisi
Begitulah yang akan kukatakan padamu
Jikalau semuanya ini hanyalah helai-helai bunga
satu saja, cukuplah untukmu
Cinta akan berbinar sampai helai itu menata
rambutmu
Dan ketika angin dan musim dingin menggigilkan
membentang di tanah-tanah ratapan tanpa cinta
Ia berbisik tentang kebun musim semi
Kau akan mengerti kata-katanya.
(Judul asli: For My Wife – With the Copy of My Poems)
***
Sonnet 43: Bagaimana Aku Mencintaimu? Biarlah Kuhitung Caranya
Oleh: Elizabeth Barrett Browning
Bagaimana aku mencintaimu? Biarlah kuhitung caranya
Aku mencintaimu sampai kedalaman, keluasan, dan ketinggian
jiwaku dapat menyentuh, saat kerinduan tak lagi terlihat
sebagai bagian dari kemanusiaan dan kesempurnaan
Aku mencintaimu setiap hari.
Saat hening, bersama matahari dan cahaya lilin
Aku mencintaimu dengan bebas, seperti manusia menuntut kebebasan hak
Aku mencintaimu dengan murni, seperti manusia membutuhkan puji-puji
Aku mencintaimu dengan gairah yang kukenang
di masa tuaku, dan di masa kecilku
Aku mencintaimu dengan cinta yang kutakutkan akan lenyap
Aku mencintaimu dengan napasku,
senyum, air mata, seluruh hidupku! Dan jikalau Tuhan mengizinkan,
aku akan terus mencintaimu sampai sesudah kehidupan ini.
(Judul asli: Sonnet 43: How Do I Love Thee? Let Me Counts the Ways)
***
@SepociKopi, 2012














glek! jikalau Tuhan mengizinkan, aku akan terus mencintaimu sampai sesudah kehidupan ini.. gosh, keren benarrr
Leave your response!