Home » L'Amour, Sepocikopiana

L’Amour: Aromamu

26 February 2012 540 views 16 Comments

Oleh: Ran

Kumasuki masjid itu. Masjid berdesain Arab-modern yang memberikan kenyamanan tersendiri bagi setiap yang datang. Hamparan sajadah terlihat berjejer rapi di hadapan para jemaah. Beberapa ukiran kaligrafi menghiasi dinding ruangan. Pilar-pilar berwarna hijau terlihat berkilauan menopang masjid tersebut.

Aku memilih untuk duduk di samping seorang cewek yang berada tak jauh dari jendela. Tak lama kemudian, alunan adzan berkumandang dan tak lama disusul iqamah. Mukena putih di dalam tas langsung saja kuambil dan kukenakan. Jiwa dan raga berupaya penuh agar dapat khusyuk mengikuti ibadah shalat ini. Perlahan kedua tangan kuangkat. Allahuakbar… Takbir rakaat pertama kulantunkan. Allahuakbar… Takbir rakaat kedua juga berhasil kulantunkan. Allahua…aakkAroma apa ini? Pertanyaan-pertanyaan aneh mendadak bermunculan di benakku. Hidungku terus mencari sumber aroma itu di sela usaha mencapai kekhusyukan. Shalatku goyah. Peluh membanjiri kening seketika. Hati berkata bahwa aroma ini pernah kukenal sebelumnya. Aroma seseorang. Aroma yang pernah memasuki rongga hatiku dulu. Aroma yang pernah meciptakan kabut tersendiri di pikiranku. Aroma yang sangat, sangat, sangat… Ah, aroma yang benar-benar kukenal.

Kupejamkan mata sejenak. Konsentrasi Ran… Konsentrasi…! Kucoba untuk tetap fokus, namun gagal. Bacaan shalatku kacau. Dengan bersusah payah kuselesaikan rakaat terakhir. Kutoleh ke kanan untuk mengucapkan salam. Hanya ada perempuan berbalut mukena sama sepertiku. Kutoleh lagi ke kiri. Waaw… Seakan melihat sebuah penampakan, rasanya aku tak yakin dengan yang kulihat. Cewek cantik bow! Aroma yang sempat mengusik kekhusyukanku kembali menyembul saat ia menatapku ramah. Hmm, aroma ini… Apakah ini aroma tubuhnya? Jantungku terasa seperti sedang mencoba mendobrak dada dan berharap dapat keluar dari rongganya.

“Hai, kok kamu melongo?”

“Oh, nggak kok. Hehehe…”

“Hahaha, terpesona ya sama aku?”

Aku diam saja tanpa mengiyakan. Kulihat ia dengan pandangan lain.

“Kenalkan, namaku Lilis.”

Namanya Lilis? Oh, tentu saja aku belum pernah bertemu dengannya. Tapi kurasa aromanya pernah kukenal. Ia menjabat tanganku lembut. Mukaku memerah. “Kkk… kenalkan juga, namaku Ranee…”

“Sekolah di mana?”

“Aku di sekolah anu. Kamu?”

“Wah, berarti kamu anak tehnik dong? Keren banget! Kalau aku di sekolah itu.”

Gubrak! Sekolah apa katanya!? Sontak aku panik. Aku panik bukan karena takut dia memanggil teman-temannya mengeroyokku gara-gara aku siswi sekolah terkenal yang pernah menyerang sekolahnya. Aku panik karena ternyata ia satu sekolahan dengan Risty, teman baikku. Aku takut kalau Lilis kenal dengannya dan menceritakan pertemuan kami, apalagi sampai menyebutkan ciri-ciri fisikku. Dan pada malam harinya akan masuk sebuah SMS dari Risty seperti ini, “Ran, jangan kejar-kejar temenku ya. Dia straight. Awas! *ngelempar meja mode on*.” Oh God!

Aaah, seandainya aku nggak coming out sama Risty pasti aku nggak bakalan panik gini deh. Buatku, dimarahin cewek straight plus homophobia kayak Risty adalah hal yang sangat, sangat mengerikan! Parahnya aku pernah naksir Risty lagi. Untungnya, dia belum sampai tahu tentang itu, kalau iya bisa gawat dah! Duhduhduh…

“Hey! Kamu kenapa sih, ngelamun mulu?” katanya membuyarkan lamunanku.

“Oh, hehehe.. Bawaan dari lahir…” jawabku asal. “Hm, ngomong-ngomong parfum kamu enak juga, mirip parfum temenku deh. Beli di mana?”

“Aku nggak beli kok. Aku pakai parfum temenku.”

“Oya? Kalau boleh tahu, namanya siapa?”

“Risty…”

Petir menyambar. Pohon-pohon bertumbangan. Tsunami menghantam. Dunia kiamat. Amal perbuatan manusia ditimbang (oalah…). Kok bisa kebetulan gini, sih? Ternyata ia memang temannya Risty! Udah satu sekolahan, sama-sama cantik pula. Pantesan aja dari tadi hidung ini terus ngotot mengendus, nyari tahu tentang aroma ini, eh tahunyaa… Sepertinya Tuhan sedang mengujiku dengan men-setting situasi ini.

Dari kejauhan terlihat guruku memberi isyarat untuk diam. Bukannya diam, kami justru malah asyik mengobrol ngalor-ngidul tanpa memperdulikan ceramah sang ustadz kondang di atas mimbar. Di sela obrolan tak jarang ia memberikan tatapan dan sentuhan yang kuinginkan. Wuiih, sungguh mendebarkan dan excited berada di sampingnya. Saking asyiknya mengobrol tak terasa waktu doa penutupan pun tiba. Kutundukkan kepala. Kuungkapkan rasa syukurku atas umur, kepintaran, kesehatan, kesempatan dan kelesbiananku kepada sang Ilahi. Ketika berdoa tanpa sengaja kupergoki Lilis tengah menatapku dengan tatapan lain. Apakah ia juga lesbian sepertiku? Jangan-jangan dia naksir aku nih… Haduh, apaan sih?? Khusyuk dong, Ran! Lagi-lagi kekhusyukanku goyah karena Lilis. Dia cuma tersenyum meledek melihatku salah tingkah begitu.

Usai berdoa, semua pengunjung masjid megah tersebut beranjak pulang. Di antara gerombolan orang yang saling berebut keluar, tiba-tiba ada tangan yang menggandeng tanganku. Kukira itu tangan seorang bidadari surga, eh ternyata Lilis… Ia mencoba menolongku untuk keluar dari masjid dan menemaniku berjalan ke parkiran mobil. Sesampainya di parkiran mobil, ia memelukku erat. Aroma tadi kembali menggoda hidungku dengan manja. Nyaman sekali. Sebelum pergi ia memberikan nomor handphone-nya dan mengedipkan mata indahnya. Aku hanya mengangguk pelan tanda mengerti. Kumasuki mobil wisata yang sudah menunggu dari tadi. Aku duduk di samping temanku yang terlihat suntuk. Ia melihat mukaku dengan tatapan aneh. Kubalas tatapannya dengan senyuman. Kemudian mobil pun menderu dengan kencangnya hingga menerbangkan aroma-aroma indah tadi di jalanan.

@Ran, SepociKopi, 2012

16 Comments »

  • Ababil said:

    Wow…!!
    Excited beud gue bacanya!
    Bagus bagus, lanjutkan

    yg gue heranin dlm rangka apa tu sih lilis pake meluk* ran segala? Jgan* dia lagi ngegunain gaydar nya lgih

  • Angel said:

    Penasaran akan kisah selanjutnya…
    Aku juga paling suka tuh nyium aroma parfumx patner ,bkin adem…
    Hehehe

  • em said:

    it’s nice reading a story like this. can you post the 2nd part?
    I wanna know what happen then.

  • Ciel said:

    Tulisan yg bagus ran,berdebar” dech bacanya:D.bikin lanjutannya donk..penasaran nich ttg kisah mu ama lilis selanjutnya;)

  • aD said:

    bisa lanjutin eng lis?heheh

  • red hyuuga said:

    asik dong :D
    tinggal gimana minta izin sama risti kalau kamu mau pacaran sama temennya hehehe

  • Sharr said:

    Waahh3… Ceritanya seru yah? Kok bisa kebetulan gitu sii? Kyknya sii Ran ini calon penerusnya kak Ade Rain deh, yang kemana2 bisa ketemu lesbian :D

  • samudera said:

    cerita menarik ran! lanjutkan lah kisah dikau ini :)
    pasti banyak yang penasaran apa kata risty kalo ketauan lilis ketemuan sama ran, ahay!

    btw, sepakat sama Ababil, kenapa lilis mesti peluk lo ya? haha, padahal baru ketemu pertama dan kenalan secara random, nekat abis tu anak, haha
    :D

  • cool said:

    Aku curiga, jgn2 risty pernah cerita sma lilis kalo dia punya tmen lesbian dan nyebutin ciri2 kamu :D , dan bs jadi lilis juga udah c0ming out sama risty.. :D jadi tanpa ragu lagi itu lilis meluk kamu. .

  • ranee, said:

    Wah, gak nyangka banget tulisanku diterima ama SK !
    Padahal udh skitar 2 bulan lalu kukirim (ampe hopeless sndiri) eh taunyaa :D

    Makasih yah buat semua komennya (jadi terharu deh gue) ;D
    @samudera iya deh entar gue lanjutin yah critanya (msih bnyak crita yg pgn gue bagi neh, xixixi :)

  • Oli said:

    aaah pengen donk di peluk lilis *minta ditoyorin penulisnya* :P

    keren ceritanya.. hahaha penasaran juga ama si lilisnya.. dia kok begitu senang banget sama kamu..

    lanjutkan lah.. hehehe nunggu episode selanjutnya.. :D

  • Jaz Morse said:

    Ya Tuhan, nahan napas gue baca ini!
    impatiently waiting for the next episode…
    :-D

  • ranee, said:

    @oli: sini-sini, aku aja yg peluk kamu *hug* :P

  • Kimi said:

    Sama seperti tmn2 yg lain..
    Eagerly waiting for upcoming stories about you & Lilis, Ran :)

  • Oli said:

    @ranee: wedeh.. Beda donk aromanya. Ga jadi deh *berlalu dan pergi* :p

  • ranee said:

    @oli: tp kan aroma dia udh nempel di badanku :D

Leave your response!

Ruang komentar adalah ruang yang memberikan perhormatan tinggi kepada kaum lesbian. Silakan gunakan kata "lesbian" atau "lesbi" dengan tepat, bukan dengan kata-kata lain yang melecehkan. Komentar dengan bahasa alay, singkatan, dll, tidak diperkenankan. Terima kasih.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.