Home » Humaniora, Keluarga

Sebelum Pemakaman

25 February 2012 434 views 8 Comments

Oleh: Bening

“Ini, Ning,” kata tuakim, mengansurkan kemeja batik Pa. “Gulung yang rapi, jangan kena air mata lagi ya.” Aku mengangguk, menahan air mata agar tidak terjatuh lagi, meski tetap merembes di sudut mata. Kemeja Pa yang telah kugulung rapi kuselipkan di pinggir peti, di dekat kakinya, kaki yang sempat kupeluk dan kucium begitu pertama kali tiba di rumah duka saat jasadnya belum dipindahkan ke peti. Aku, sayang Pa…

Usai menata pakaian secukupnya, aku kembali mundur, berdiri agak ke belakang. Hingga lenganku ditarik lagi dan disodorkan sebotol minyak harum. “Sana, tuangkan ke pakaian Pa…” Aku mengangguk. Kali ini isakku kembali pecah, seperti keluarga yang lain juga. Kutuangkan minyak harum itu di pinggir peti, mewangikan semua pakaian yang akan menemaninya pulang. Sambil menuangkan, kupuas-puaskan memandangi wajahnya yang teduh dan tenang. Wajah itu masih seperti wajah yang kuingat saat menungguinya tertidur setelah meminum obat beberapa hari sebelumnya.

***

Kata orang, meski sudah merupakan kepastian, kematian selalu mengejutkan. Meski seumur hidup kita diminta bersiap untuk kehilangan sebagai resiko memiliki, tetap saja rasanya tidak pernah siap bila harus kehilangan orang yang disayangi, seseorang yang berarti.

Dan aku menyayangi lelaki itu. Tapi bukan hanya aku, ada puluhan bahkan ratusan orang yang tidak berhenti datang sekadar mengungkapkan belasungkawa dan rasa kehilangan. Setiap kedatangan selalu diiringi cerita tentang bagaimana mereka memandang lelaki itu atau bagaimana lelaki itu menyentuh hidup mereka.

“Bapak itu baik sekali. Tidak pernah beda-bedain orang. Saya kalau lagi susah selalu nemuin Bapak, dan Bapak selalu berusaha membantu,” kata seorang ibu yang mengaku sebagai penjual jajanan kecil di sudut pasar.

Lalu datang lagi sepasang suami-istri yang mengaku dulu pernah membantu-bantu usaha lelaki itu. “Bapak itu tidak pelit ilmu. Saya orang yang nggak sekolah, tapi Bapak mau ngajarin sampai saya mandiri, buka usaha sendiri.”

“Bapak orangnya nggak pernah marah-marah.  Kalau bicara selalu bikin hati adem.”

“Bapak itu ulet, gigih, selalu bersemangat. Jarang mengeluh.”

“Pada dasarnya hidup hanya menanti kematian. Tetapi bagaimana kita menjalani hidup akan menentukan bagaimana orang mengingat kita,” kata sang pendeta yang memimpin kebaktian penghiburan. “Dan Bapak, adalah orang yang kami ingat sebagai seorang lelaki yang mengisi hidupnya dengan kebaikan, karya dan kepedulian pada sesama.”

Seperti kehilangan mengajari kita bagaimana memiliki, maka kematian juga mengajarkan tentang kehidupan. Aku tercenung di sudut rumah duka, bertanya-tanya tentang bagaimana orang akan mengingatku. Apakah yang akan mereka ingat tentang kelesbiananku?

***

Acara kebaktian tutup peti usai, isak tangis yang mengiringi tatapan terakhir sudah reda, disusul acara foto keluarga bersama. Diawali foto keluarga inti, Ma beserta seluruh anak-anaknya. Lalu disusul foto bersama anak-menantu beserta cucu-cucu yang duduk rapi di depan peti. Semua dalam pakaian yang sama, putih-putih.

“Ayo, ikut foto bersama…” Kali ini ie-ie yang kuketahui sebagai saudara sepupu Ma mendorongku maju. Aku cepat-cepat menggeleng sambil tersenyum, sambil menunjuk kotak yang tidak boleh kutinggalkan. Aku mengerti mengapa ie-ie itu menyuruhku maju. Pakaian yang kukenakan sama seperti pakaian keluarga yang lain, putih-putih,  tapi aku tahu, aku tidak punya tempat dalam foto bersama itu, meskipun aku sangat menginginkannya.

Air mataku kembali merembes, kusembunyikan sambil menunduk membenahi amplop-amplop ucapan terima kasih. Aku tidak tahu mengapa aku harus menangis. Yang aku  tahu, aku hanya sangat menghormati dan menyayangi lelaki itu. Juga putrinya. Bila ada hal yang ingin aku ungkapkan, aku ingin menyampaikan terima kasih telah menghadirkan perempuan yang kucintai ke dunia ini. Terima kasih telah mendidik perempuan itu hingga begitu dekat dan mirip dengan sosoknya yang kukagumi. Dan terima kasih, telah mengijinkanku mencintai dan menyayangi putrinya.

***

Keesokan harinya…

Hari itu rencananya pemakaman akan dilangsungkan. Pagi-pagi, usai subuh aku tidak sanggup memejamkan mata lagi setelah menangis dan menangis lagi bersama partner, masih sama-sama berusaha berdamai dengan kenyataan ini. Kuputuskan mengajak partner segera bersiap dan berangkat ke rumah duka lebih awa,l sementara yang lain masih bersiap-siap. Pasti masih banyak yang harus dibenahi sebelum pemberangkatan.

Rumah duka masih sepi, hanya ada dua orang petugas kebersihan yang menata kursi dan mengepel lantai. Aku membenahi foto Pa di dekat bunga salib yang posisinya agak miring. Tiba-tiba aku teringat sesuatu… Setengah terlonjak aku menghampiri partner.

“Say, boleh kita foto berdua?” tanyaku. Dia mengangguk mantap. Aku menghampiri salah seorang petugas kebersihan, lalu meminta tolong menjepretkan kamera ponsel. Aku nyaris menangis lagi menatap foto di kameraku. Tidak percaya secepat ini Tuhan mengabulkan keinginanku. Hanya sebatas malam ke pagi, pula dengan momen sesyahdu ini. Waktu, tempat dan Pa… hanya milik kami, berdua.

Sekali lagi kutarik tangan partner, berdiri di depan foto Pa yang kini dalam posisi rapi di atas meja di depan peti. Dia agak kebingungan, tapi aku mengerjap memintanya tidak banyak bertanya. Kugenggam tangannya erah di depan Pa, mengungkapkan semua yang ingin kuucapkan tadi malam. Tanpa suara.

@Bening, SepociKopi, 2012

8 Comments »

  • Chunkrinkz said:

    like this :)

  • kris said:

    Deep condolence for Kak Ning and Aa, May God save Pa the best place in Heaven.. Kematian mengingatkan kita untuk meluangkan waktu diantara putaran kehidupan yang saling berlomba, berhenti sejenak dan membagi apa yang ada kita miliki untuk orang – orang yang kita cintai dan orang – orang disekitar kita so we will live beyond our time, just like Pa, whether we lesbian or not.

  • Arya said:

    Saya pernah mengalami hal nyaris sama seperti ini..

  • adhitia said:

    sedih :’)
    tetap semangat yah :)

  • Stranger Annie said:

    Turut berduka cita ya Ning.. Semoga kedamaian selalu bersama kalian.

  • Wil Twilite said:

    Turut berduka cinta Kak Ning… Segenap perasaan Kak Ning benar-benar teruang kedalam tulisan nan sederhana namun indah… Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan… Dan nilai-nilai kehidupan yang diajarkan oleh mendiang Pa masih akan terus hidup bersama kita… Amiiinn..

  • Nitz Red said:

    Ning, semoga amal ibadah beliau diterima olehNya dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan, ketabahan dan kesabaran.

    *HUGS*

  • Adette said:

    Turut berduka cita sedalam-dalamnya, Ning..
    Maaf, terlambat mengetahui.

Leave your response!

Ruang komentar adalah ruang yang memberikan perhormatan tinggi kepada kaum lesbian. Silakan gunakan kata "lesbian" atau "lesbi" dengan tepat, bukan dengan kata-kata lain yang melecehkan. Komentar dengan bahasa alay, singkatan, dll, tidak diperkenankan. Terima kasih.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.