Home » Have Your Say, Sepocikopiana

Have Your Say: Menentang Ibu

24 February 2012 503 views 14 Comments

Kita tidak pernah meminta dilahirkan di dunia oleh Ibu, tapi bukankah akhirnya kita kerasan di bumi ini? Begitulah cinta seorang Ibu sepanjang zaman. Ribut-ribut dengan orangtua gara-gara urusan orientasi seksual selayaknya direnungkan dengan baik-baik sebelum nasi menjadi bubur. Bagaimana kalau penyesalan datang terlambat? Dengarkan kisah sahabat lesbian kita, Fridya, yang rindu ingin kembali ke masa lalu.

Hubunganku dengan Ibu tidak pernah baik. Ibu orangnya otoriter dan tegas. Sejak aku kecil, aku selalu diatur oleh Ibu, mulai dari cara berpakaian, potongan rambut, cara berbicara, sekolah, dan jadwal tidur. Aku anak pertama dari tiga bersaudara. Dua adik lelakiku adalah tipe yang tidak keberatan diatur-atur Ibu. Ayahku juga tipe pendiam yang membiarkan Ibu menjadi kapten rumah tangga. Yang paling sering menentang Ibu tentu saja aku.

Waktu aku kecil, aku dekat dengan Ibu. Sebagai anak perempuan satu-satunya, Ibu sangat sayang padaku. Tapi sifat Ibu yang independen dan tahu apa yang dia mau membuatku kesulitan. Ibu menginginkan anak perempuannya berperilaku seperti dirinya: kuat dan tegas. Sementara aku bukan tipe yang suka diatur dan dilarang. Ketika aku berumur 13 tahun, aku mulai berani memberontak terhadap perlakuan Ibu. Lama-lama pemberontakan itu semakin keras. Puncaknya adalah ketika aku kelas tiga SMP, saat aku jatuh cinta dengan adik kelasku yang perempuan.

Sebenarnya aku tidak suka menjadi feminim. Dulu aku lumayan tomboy. Penampilan wajahku memang agak sedikit maskulin. Namun Ibu membuatku memanjangkan rambut, mengenakan rok, dan mengajarkanku berbagai pandangan tentang cara menghormati, menjaga, dan melayani suami. Waktu aku jatuh cinta dengan adik kelas, aku kaget setengah mati dengan diriku. Aku saking cintanya sampai mabuk kepayang. Sebagai Ibu yang jeli dan otoriter, Ibu langsung mencium gelagatku yang tidak enak. Aku rasa Ibu tahu bahwa aku naksir dengan sesama perempuan.

Waktu aku SMA kelas tiga, aku mulai berani berpacaran dengan cewek. Di sinilah Ibu benar-benar memperketat sikap protektifnya padaku. Aku semakin dilarang ini-itu tanpa persetujuannya. Jika aku melanggarnya untuk alasan apa pun, aku pasti mendapat hukuman. Hukuman Ibu yang paling membuatnya berkuasa adalah, Ibu tidak memberikanku uang jajan.

Aku berasal dari keluarga menengah ke atas, sehingga aku mendapat fasilitas yang kunikmati lumayan bagus. Supir antar jemput. Kartu ATM dan kartu kredit suplemen. Liburan bersama keluarga ke luar negeri. Ketika aku kelas 2 SMA, semua fasilitas dapat aku nikmati, namun sejak aku berpacaran, Ibu memotong seluruh pendapatanku. Dia juga menarik kartu kredit, ATM, dan uang jajan. Aku yang terbiasa hidup dengan nyaman menjadi tak berkutik dengan semua ini.

Gara-gara Ibu, aku dan pacarku putus. Bagaimana bisa pacaran kalau kesempatan bertemu saja susah setengah mati. Harus backstreet dan diam-diam. Keteganganku dengan Ibu semakin menjadi-jadi. Ketika aku kuliah, aku pernah kabur selama beberapa hari dengan pacar ke Puncak. Ibu ngamuk sejadi-jadinya, namun tidak membuatku jera. Aku memotong rambutku sampai pendek, nyaris kubotaki sebagai bukti bahwa aku menentang semua perkataan Ibu. Ajaibnya, di tengah kericuhan kami berdua yang tidak ada habis-habisnya, Ibu selalu menuduhku lesbian, yang selalu aku katakan tidak.

Setelah delapan tahun kuliah, akhirnya aku mendapatkan gelar S1-ku dengan nilai pas-pasan. Kedua adik lelakiku bersekolah di luar negeri, hanya aku yang bersekolah di dalam negeri. Aku sudah pindah kuliah dua kali. Aku senang bisa lulus kuliah, aku sudah bebas merdeka. Aku mengambil pekerjaan di luar kota. Walaupun gajinya pas-pasan dan tidak cukup dengan gaya hidupku yang selalu ditopang oleh Ibu, aku tetap bertekad untuk hidup berjauhan dari Ibu.

Ibu masih mengirimkan uang ke rekeningku secara rutin setiap bulan walau kami tidak pernah saling berbicara lagi. Aku jarang menelpon dan Ibu juga tidak menelpon. Aku pulang setahun sekali tapi rumah sudah terasa tidak nyaman. Kulihat Ibu penuh dengan gengsi dan tidak mau berbicara lagi denganku. Kadang Ibu pergi ke luar negeri mengunjungi adik-adikku sampai berbulan-bulan. Selama itu, Ibu tidak pernah lupa mengirimkanku uang yang setiap tahun selalu ditambah.

Suatu hari Ibu menelpon dan bilang dia terkena kanker. Aku saking kagetnya cuma bisa terpana dan nggak bisa berbicara apa-apa. Ibu menutup telpon tanpa aku sempat berbicara panjang lebar. Beberapa hari kemudian aku pulang ke rumah, dan Ibu hanya ngomong singkat bahwa dia mau berjuang dan pergi ke Cina untuk berobat. Aku kembali ke kotaku dan sibuk dengan kehidupanku. Delapan bulan kemudian, Ibu sekarat dan meninggal tanpa meninggalkan pesan apa-apa untuk aku. Aku terlambat datang pada hari kematiannya. Pesawatku delay dan ketika aku tiba di rumah sakit, Ibu sudah meninggal satu jam yang lalu.

Aku baru tau sebulan kemudian, bahwa Ibu memiliki beberapa apartemen, tanah, dan ruko yang beberapa di antaranya diwariskan padaku. Begitu aku tahu hal itu, aku tersungkur dan menangis. Aku tidak menyangka bahwa sampai wafat sekali pun, Ibu tidak pernah lupa menyiapkan segala sesuatu agar anak perempuan pertamanya dapat hidup dengan nyaman dan financially secured walaupun tanpa suami dan pernikahan. Padahal Ibu adalah tipe perempuan yang percaya bahwa perempuan yang berbahagia seharusnya menikah dan bersahabat baik dengan suaminya.

Apa yang bisa kulakukan sekarang saat Ibu telah pergi? Penyesalan tidak bisa membayar apapun. Yang kulakukan adalah berdoa, agar seluruh doa-doa yang kupanjatkan kepada Ibu di alam sana membuatnya tenang dan bahagia, menyadari bahwa anak perempuan satu-satunya yang tidak pernah minta dilahirkan dan tak pernah minta hidup sebagai lesbian juga selalu berbahagia.

@Fridya, SepociKopi, 2012

14 Comments »

  • @Lgebe said:

    Sorry 2 know that….
    Semoga beliau tenang disisi Sang Pencipta…

    Keep smile ya, beliau akan lebih suka liyat kamu tetep semangat n happy…

  • Ababil said:

    sedih banget bacanya
    penyesalan emang slalu dtng belakangan,

    buat fridya yg sabar iah,
    smua itu pasti ada hikmahnya,

  • kafka said:

    Begitulah kasih ibu bagai sang surya menyinari dunia.
    Sebagai lesbian dan kuputuskan menikah adalah karna
    Tidak ingin melukai hati ibu dan keluarga walaupun harus
    merelakan Cinta matiku pergi.

    Berpikirlah beribu kali lebih dulu sebelum melakukan
    Tindakan yang akan melukai hati ibu.

  • andan said:

    sedih banget bacanya…
    aqu juga takut kalo suatu hari aqu bakal bener2 berpisah dr my gf..
    aqu sayang banget sama dia, tapi aqu juga sayang banget sama mamh..
    emang, kedua hal ini kadang memaksa kita untuk memilih..
    semoga kita kan selalu dapat memilih hal yang terbaik..

  • Ch ! said:

    aku langsung tersentak loh pas baca tiba2 ibumu kena kanker, lanjut lagi kamu gak sempat di samping dia saat dia meninggal, dan terakhir dia kasih warisan yg gak sedikit buat kamu huhuhu, benar-benar sedih n miris banget, gmn klo aku jadi kamu.. pengalaman hidup memang terkadang menyakitkan, tapi aku yakin kamu dapat pelajaran dari itu semua..

  • Niex_K said:

    Ibuku sdh tw orientasi seksku, aku yg mengakuinya secara jujur krn ada suatu masalah yg mendorongku tuk jujur padanya, syukur dia tdk marah tapi tetap memaksaku untuk menikah scr normal. Yang ingin kulakukan skrg adl membuatnya bahagia, krn keadaan ekonomi kami yg pas2an. Aku mencoba untuk menahan perasaanQ sbg Lesbian, sampai nanti setelah aku bs berbuat banyak untuk ibuku shg dia bs lebih memahamiku.

  • dewi said:

    doa ank yg sholeh.
    y….hnya itu yg hrus qm lkuin agr bs mmbhagiakn ibu Ud alam sna

  • Jaz Morse said:

    i’m sorry to know that…
    Sabar ya, manfaat kesempatan selanjutnya.
    Walaupun memang berat, saya sependapat dengan kafka & Niex_K

  • drewly said:

    cerita menyentuh yang bisa dijadikan pelajaran untuk yang orangtuanya masih hidup terutama Ibu. Bagaimanapun sikap seorang anak,seorang Ibu adalah tetap Ibu untuk kita….yuk kita bahagiain orang tua kita yang masih ada semampu kita sebagai anak. biarpun orientasi beda,tapi kasih sayang untuk orang tua kita terutama Ibu ga boleh beda donk :)

    Nice article thoug

  • a said:

    hi fridya, thanks a lot for writing this story. this past few days i have been fighting with my mom as i told her that i am going to change my major in uni. similar like you, i rarely meet her as i am currently studying overseas. after reading your personal experience, i think i will change my mind and continue studying the major that my mom wants me to do. thanks a lot.

  • Reiteradamente said:

    Sorry to hear about your mom, hope she’s rest in peace up there.
    on the other side, glad to know that eventho’ your mom act super dictator in front of you, but she still loves you inside.
    not like mine. But, thanks for share your story, hope that i can be more understand and accept my mom no matter how painful her words or her attitude toward me for all this times, coz i don’t want to have regret at the end. Tho’ i’m trying hard to do that…

  • teko aladin said:

    never ever hurt your family, esp your dad and your mom. no matter how they hated you.
    but in the same time, never let them took away your happiness, your life and your right to be with the one you love.

    xoxo.
    anteos.

  • jean romanza said:

    Membahagiakan ibu atau orang tua kita bukan berarti kita hrs menjadi spt apa yg mereka mau. Kita punya hak atas diri kita sendiri, mereka tidak bisa memaksa. Kalau emang benar mereka sayang mereka akan membiarkan apa yg kita yakini atau kiti pilih. Karena kita yg menjalani bukan mereka.

  • Fridya said:

    dear all makasih semua komen-komennya. Akhirnya tulisan ku di muat jugaaaa. Makasih buat semuanya ya

Leave your response!

Ruang komentar adalah ruang yang memberikan perhormatan tinggi kepada kaum lesbian. Silakan gunakan kata "lesbian" atau "lesbi" dengan tepat, bukan dengan kata-kata lain yang melecehkan. Komentar dengan bahasa alay, singkatan, dll, tidak diperkenankan. Terima kasih.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.