te.Lez.kop: Lesbian Songong
Seberapa sering Anda mendengar orang menuduh orang lain dengan ucapan “sombong lu!” atau “mentang-mentang kaya, songong deh!” atau “udah terkenal, dia sombong!” atau “Cantik dan songong.” Lesbian tidak rentan dengan tuduhan-tuduhan sombong seperti ini. Bahkan, seberapa sering Anda menuduh orang lain dengan ucapan sombong? Sudah lama saya terusik kalau mendengar teman-teman saya menuduh orang lain sombong.
Sejujurnya, saya juga pernah mencerca teman dengan ucapan sombong. Kalau ada lesbian yang menolak pergi bersama saya, maka saya menuduhnya sombong. Dulu salah satu teman kuliah saya berwajah sangat cantik dan memiliki nilai-nilai akademis yang paling tinggi seangkatan saya. Entah bagaimana, saya dan teman saya menganggapnya sombong, sampai suatu hari saya berkenalan dengannya secara pribadi. Ternyata orangnya sangat menyenangkan. Bukan itu saja, beberapa tahun sesudahnya, saya berpacaran dengannya. Walaupun sudah tidak bersama dengannya sekarang, saya tetap mengingatnya sebagai perempuan yang periang dan tidak sombong.
Jadi apa sih definisi sombong? Butuh waktu bertahun-tahun bagi saya untuk meneliti dan mengamati fenomena istilah “sombong” ini. Ternyata, “sombong” dalam definisi saya berbeda dengan definisi “sombong” yang saya miliki sepuluh tahun lalu. Menurut saya, sombong adalah sosok manusia yang menganggap dirinya sangat istimewa, hebat, sempurna; sehingga saking hebatnya, dia merasa seluruh dunia berutang budi kepadanya. Saking istimewanya, dia merasa dirinya layak mendapatkan seluruh perhatian yang layak dia dapatkan. Saking sempurnanya, kalau dia tidak mendapatkan seluruh kehebatannya, maka dia akan mengeluh, menuntut, putus asa, tidak bersemangat, tidak punya gairah, dan negatif.
Pernah melihat manusia seperti ini? Yang hidupnya terus menerus mengeluh? Apa pun yang dikatakannya, pasti berhubungan dengan hal-hal yang pahit yang dunia berikan. Saya sering melihat lesbian mengeluh di mana-mana, Facebook, Twitter, forum, dan lain-lain. Lesbian akan bertanya dan menggugat, mengapa saya terlahir seperti ini? Mengapa cintaku begitu menyedihkan? Mengapa kekasihku meninggalkanku? Mengapa dia berselingkuh setelah begitu besar cinta yang kuberikan padanya? Keluhan-keluhan itu tak lain dan tak bukan adalah pernyataan betapa kejam dan tak adilnya dunia pada diri lesbian yang seharusnya mendapatkan pengistimewaan alias kebahagiaan selama-lamanya.
Hidup bukan secawan mangkuk dan sendok perak yang disuapkan ke dalam mulut kita. Hidup adalah perjuangan. Hidup kadang pahit, tapi juga kadang manis. Setiap manusia yang lahir memiliki takdir yang berbeda-beda, tapi yang namanya perjuangan untuk terus hidup tetap berada di takaran timbangan yang sama. Manusia yang suka mengeluh dan negatif adalah manusia sombong, yang menganggap hidup seharusnya memberikan kemudahan-kemudahan bagi dirinya.
Kebalikannya, manusia rendah hati adalah manusia yang menerima segala kepahitan yang hidup berikan, tidak putus asa, memiliki pengharapan dan keyakinan, berani bermimpi dengan takaran yang wajar, bersyukur saat berada di puncak kebahagiaan. Manusia rendah hati bisa datang dari berbagai kalangan dan situasi: yang pandai atau yang kaya raya; yang terkenal atau yang bermultitalenta, yang cantik atau yang gagah, yang berkualitas pemimpin atau yang rajin, yang pelaku bisnis atau yang pekerja malam. Bagi saya, rendah hati tidak harus s dianggap sebagai sikap yang harus menyembunyikan keberhasilan yang dia raih.
Apakah lesbian termasuk manusia-manusia sombong yang tidak pernah mau bersyukur atas kebaikan dan melihat keindahan yang hidup berikan? Apakah lesbian adalah manusia-manusia sombong yang senang mengeluh dan terus-menerus mengeluh, penuh negativitas, dan menganggap dunia tidak adil? Apakah lesbian adalah manusia-manusia sombong yang suka marah dengan orang lain karena ketidakbahagiaan dirinya?
Itulah kesombongan! Manusia sombong akan kehilangan gairah jika dia gagal. Manusia sombong akan putus asa jika dia tidak berhasil. Manusia sombong akan mengumpat jika dia terinjak-injak. Manusia sombong akan meratap jika dia tak menjadi juara.
Kita memang kaum minoritas. Kita memang sering mendapat pelecehan. Kita memang sering mendapat tudingan miring yang tidak benar. Kita memang harus selalu berjuang untuk mencintai. Namun, di luar kesulitan-kesulitan itu, mari buka mata yang lebih besar. Kita pasti memiliki talenta lain yang hidup titipkan pada kita. Kita pasti memiliki kekuatan yang berbeda. Kita pasti punya daya juang yang lebih besar daripada kaum mayoritas.Kita pasti unik, menarik, dan menonjol. Kita pasti selalu punya kesempatan untuk berbahagia.
Mari jadi lesbian yang rendah hati dan tidak sombong. Masih banyak manusia lain yang lebih menderita daripada kita; mereka yang cacat, hidup di tengah peperangan, kekurangan sandang pangan papan, tidak mengecap pendidikan, sakit keras, dan lain-lain. Tidak perlu kita mengeluh dan tidak semangat menghadapi hari-hari di masa depan. Hidup tidak berputar pada diri kita terus-menerus. Terimalah fakta itu dengan hati dan pikiran yang gembira, ikhlas, dan legowo.
@Tya Andriani, SepociKopi, 2012










Definisi baru kata “sombong” yang luas dan dalam
Nice article
*pukpuk* Mba Tya… Weleh-weleh, kesannya ini nulisnya koq meledak-ledak gitu, ya…? Sing sabar, Mba’e… Biarin aja lah mereka yang mau sombong, silakeun… Toh dah pada dewasa ini… Hehehe…
Ummm… Bukannya mau nyombong nih Mba, tapi sombong itu nda ada di kamusku… Aku tuh baik hati, periang, welas asih, cinta damai, dan gemar menabung lho, Mba…
Lho… Lho… Koq malah nyombong gini yaa… Piss akh… Nanti dipelototin Mba Tya deh… :p
Canggih euy Mba, ajarin dong caranya nulis sampe emosinya ‘terasa’ gituuu… d(^^)b
haduh, mending kalo cantik sombong. atau dia ada sesuatu kehebatan yang pantas untuk buat seseorang itu bangga maka dia sombong.
banyak yg udah ga ada kemampuan apapun, cantik nggak, langsing nggak, sombongnya aduhai. malesin deh, mending kalo ga cantik tapi baik, jadi ada nilai plusnya dikit. ini nggak.
paling maless sama cewe2 lesbian yg sombongnya amit2.
suka skali dng artikel2 cerdas yg mngangkt martabat diri mnjdi lebih baik sprti ini trus ada..
Walaupun semangat positif milik Tya adalah baik, saya kurang setuju kalau sifat mengeluh atau negatif selalu dikaitkan dengan sombong.
Kalau sudah jatuh, ketimpa tangga, digigit anjing, masih ketawa2 juga kok rasanya gak normal ya. Menjadi negatif perlu, karena memunculkan rasa ketidakpuasan yang melecut diri untuk lebih maju. Juga menumbuhkan sensitifitas. Kalau positif terus, merasa hebat, tak kenal rasa sakit, puas diri berlebih, apa bukan sombong juga namanya?
Menurut saya sombong itu malah dekat dengan kemapanan, dengan kata lain resistensi untuk berubah. Yang miskin (dalam dimensi apapun), merasa terlalu ajeg dengan miskinnya, bangga jadi miskin, teriak2 miskin, mengumpat yang kaya, gak mau berusaha. Ya sombong. Si kaya juga begitu. Sombong kalau merasa kuat hebat tangguh tak terkalahkan sehingga menolak berubah.
Bergerak adalah hakikat dari hidup. Mau maju, mundur, ke atas, ke bawah, ke kiri, ke kanan, adalah baik. Sebaik-baiknya diam adalah berdoa.
@Sharr Makasssiiih Sharr! ^^
@Will Twilite Waduh Kak Will saya tipe suabaaar loh. Toss Kak Will dulu.. Belajar nulis sama saya? Waduuuuhhhh.. makin ngak pede nih ^^
@kuku kakiku kaku kaku ih namanya cute banged sih.. .gemees deh.. saya juga ngak suka lesbian sombong.. sama dongg.. ^^
@mell Makasiiiih mell!!!! ^^
@robyn wawah wawahh kak.. saya ngak mengaitkan semua keluhan dengn sombong loh.. cobaaa dilihat lagi dilihat lagi,, apa ada tulisan saya yang seperti itu. Kalau mengeluh berlebihan yang memang lebay,, tapi kalau dalam konteks yang dimaksud kak robyn,, saya setuju.. kalau sudah jatuh boleh dong mengeluh ?? tapi kalau mengeluh keterusan ya ngak kuku ^^ piiisss yooo
Dik Tya yang baik, silahkan dibaca baik-baik tulisanmu paragraf ke-3, yang merupakan ide utama artikel ini. Kamu gak pake kata selalu sih, tapi seluruh. Hilangkan kedua kata itu, idemu tetap sama. Orang sombong merasa sempurna, tidak kuat terima hal-hal negatif dalam hidup. Kalau kamu teliti membaca masukan saya, saya sebetulnya agak setuju dengan kamu. Cuma saya menambahkan, sikap negatif itu wajar dan bukan berarti sombong. Buat saya, sombong berarti anti-kritik. Idenya menggelitik. Terima kasih ya sudah berbagi.
daripada berkutat dengan “kesombongan”,kalimat negatif…gimana kalo bikin sesuatu hal yang positif buat komunitas ini
.jujur, saya dulu adalah “penganut” pola pikiran negatif,apa-apa saya bikin jadi negatif tapi lama kelamaan kok ya cape sendiri tho ya…hahahah…akirnya setelah mentertawakan diri sendiri, sekarang apapun yang berbau negatif saya ubah jadi pemikiran yang positif dan hal itu bikin hidup saya lebih berarti buat orang lain juga diri saya sendiri. apa yang dulu saya liat sebagai sesuatu yang ga pantas, ga seharusnya….sekarang semua saya liat sama, sama-sama ciptaan Tuhan….jadi, yuk ah berpikiran positif aja
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, setiap dari kita adalah satu di antara tujuh milyar manusia di planet bumi tercinta ini. Bumi bukan saja diimpit oleh angka yang sangat mencengangkan dari makhluk homo sapiens, tapi juga dikepung oleh banyaknya permasalahan. Sebut saja, kemiskinan, sanitasi, kelaparan, penyakit, kesehatan, ketidakadilan, kebodohan, dan lain-lain. Apa distribusi kita untuk planet biru ini?
Lesbian, kita bisa saja menjadi manusia yang antipati, yang tidak peduli. Kita bisa saja menjadi manusia yang menyepelekan situasi. Kita bisa saja menjadi manusia yang tidak ingin melakukan aksi atau gerakan apa-apa. Itu adalah pilihan. Tapi sebagai makhluk sosial dan melihat kondisi manusia sekeliling yang membutuhkan kita, masihkan kita menutup mata dan hati?
Lesbian, kita tercipta pasti untuk sebuah alasan dari Yang MahaKuasa. Jadilah agen perubahan untuk sesama. Satu perbuatan mikro adalah langkah kecil, yang kelak akan menjadi aksi yang lebih besar, lebih luas. Satu perbuatan baik akan membangun aspirasi positif di masa depan. SepociKopi mengajak kita semua untuk bangun, tidak meratap lagi. Mari kita berbagi dan peduli. Let's share and care for the world. Peluk cium untuk segenap pembaca SepociKopi tersayang.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments
Switch to our mobile site
Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect. Powered by WordPress | Arthemia theme by Michael Hutagalung 59 queries. 0.549 seconds.