Home » FabuLezlyCool, Humaniora

FabuLezlyCool: Sensitif Gender

22 February 2012 354 views 6 Comments

Oleh: Lo

Pernah mendengar dua kata di atas? Sensitif gender. Arti gampangnya adalah suatu sikap, baik dalam bentuk perkataan maupun perbuatan yang mendukung kesetaraan gender, sangat menghindari diskriminasi atas gender tertentu. Singkatnya, sensitif gender berarti tidak memperolok kaum LGBTIQ deh.

Mengapa bisa muncul gerakan sensitif gender ini? Banyak sekali faktor yang mempengaruhi pembentukan hirarki dalam gender. Hirarki itu yang kemudian menjadi akar munculnya sikap sentimentil antar-gender, budaya patriarki itulah salah satu bentukannya. Dalam hal ini kaum LGBTIQ sebagai minoritas tak jarang menjadi korbannya. Media massa contohnya, berperan sangat besar dalam pembentukan stereotype dimasyarakat. Apesnya, bukan sekali dua kali kita mendengar atau membaca berita negatif yang kemudian dihubung-hubungkan dengan gender maupun orientasi seksual tertentu oleh jurnalis tak bertanggungjawab itu.

Kalau masih ingat kasus Ryan Jombang, nah itu salah satu contoh betapa jurnalis edan harus ditatar kembali karena tidak sensitif gender. Bagaimana tidak, di koran dan berita televisi, masyarakat diprovokasi dengan orientasi seksual Ryan yang ternyata homoseksual. Padahal bahkan belum ada bukti kuat yang menunjukkan hubungan naluri psikopat dengan orientasi seksual seseorang. Muncullah stereotype bahwa kaum homoseksual itu adalah psikopat, pendendam, dan segala hal negatif lainnya, yang disebabkan oleh media massa.

Selain media massa, nilai dan norma yang berlaku di masyarakat juga berandil besar dalam membentuk bias gender. Kalau beberapa dasawarsa yang lalu, penindasan secara massal terjadi pada populasi kulit hitam, oleh para kaum berkulit putih. Saat ini, tak bisa dipungkiri bahwa “penindasan” tak kasat mata tersebut terjadi pada kaum LGBTIQ karena adanya heteronormatif yang berlaku di masyarakat.

Karena kasus-kasus seperti di atas itulah, maka gerakan sensitif gender harus digalakkan di masyarakat, terutama lagi pada awak media. Kita para lesbian, seharusnya justru menjadi garda depan yang mendukung aksi sensitif gender ini. Gerakan sensitif gender ini cukup sering digaungkan, terutama di ranah akademis yang berhubungan dengan media dan ilmu sosial. Sensitif gender ini sudah ditunjukkan dalam berbagai hal, mulai dari yang kecil, misalnya sikap menghargai dengan tidak lagi menggunakan kata “banci” melainkan “transeksual”, atau kata “ngondek” diganti “transgender”, juga kata “lesbong” yang diganti dengan bahasa benernya yaitu “lesbian”. Aksi besar pun juga bisa dilakukan, seperti sosialisasi yang bertujuan untuk meruntuhkan pandangan–pandangan negatif masyarakat mengenai kaum LGBTIQ.

Tidak sedikit lho, warga SepociKopi yang masih menggunakan inisial “L” untuk mengganti kata “Lesbian”, dengan alasan malu, tabu, dan semacamnya. Yah, walaupun kelihatannya sepele, namun sebenarnya cukup penting. Kenapa harus takut untuk sekedar mengetik kata “Lesbian”? Menjadi lesbian tidak berarti hina dan memalukan, kan? Nah kalau kita saja malu untuk mengakui orientasi seksual kita, bagaimana orang lain bisa menghargai lesbian?

Memang, sensitif gender idealnya bukan lagi ditataran tulisan dan perkataan, melainkan sikap yang berjiwa besar dalam menerima perbedaan orientasi seksual tersebut. Apalah artinya kita mengaku sensitif gender, tapi saat mengetahui bahwa anggota keluarga kita ternyata lesbian atau waria, kita lalu serta merta menghakiminya?

Rasa pesimis itu tentu ada di benak kita. Mungkin banyak yang pasrah dan berpikiran bahwa selamanya kaum homoseksual itu adalah minoritas, salah, dan tidak akan mendapat hak–hak yang sama dengan heteroseksual. Justru itulah tugas besar kita. Bukan tidak mungkin, kalau kita memulainya dengan hal–hal kecil seperti sadar dengan isu sensitif gender ini. Lagi-lagi dimulai dengan menghargai diri dan kaum kita sendiri, lalu perlahan kita juga akan dihargai di masyarakat. Kalau pengkastaan berdasarkan warna kulit kini sudah berhasil dihapuskan, maka suatu saat diskriminasi berdasarkan orientasi seksual pasti juga bisa dihapuskan.

@Lo, SepociKopi, 2012

6 Comments »

  • diaz said:

    Benar, penyudutan-penyudutan memang selalu ada di masyarakat, sesekali di dunia akademis juga. Yang penting kita bersikap sebaik mungkin, berprestas dan mencoba memberi manfaat. Soal kata ‘L’, saya pikir tergantung konteks yah, klo lagi curhat di area umum mending pake kata ‘L’ deh. Klo bahasan2 resmi, harus jelas Lesbian atau Lesbi gitu.

  • laras said:

    yooosshhh maju terus pantang mundur girls

  • kiora said:

    Artikel yg bagus. Setuju dg pemikiran dan pendapat Lo.

  • Luce said:

    Aq seorang straight yg mempunyai sahabat seorang lesbian, dan aq sangat menyayangi dia. Menurutku LBGTIQ itu sama aj dg straight, sama2 manusia, sama2 makan nasi, sama2 perempuan atw laki2… bedany d selera kan?
    Masalah nge-judge atw menghakimi… well, memangny qt semua ini sapa se? Tuhan? Bukan kan? Hmmm… terkadang manusia slalu mrasa paling benar n menghakimi org lain, padahal untungny bagi dia jg g ad toh.
    Mengenai anti-LGBTIQ itu yaaahhh… menurutku pikiran masyarakat masih terkotak2, sehingga kl melihat lesbian pikiranny negatif aj. Atw kl lihat transseksual mikirny rendah aj. Ditambah dg pemberitaan mengenai kasus gay yg terbaru skarang, wew… smakin menjadi2 deh burukny nama LGBTIQ. Aq yg dgr komen2 org d sekitarku cm sedih aj, sahabatku sendiri baik2 aj kok… malah luar biasa. Berbeda dg gay yg d berita itu.
    Pembaca SK jg menurutku baik2 aj, kl g baik g mungkin kan isi SK sekeren ini. *sbg info, aq pembaca rutin SK lho! Even I’m a straight!*
    Menurutku gitu se, smua manusia itu sama… hny Tuhan yg tau perbedaanny.

  • Lo said:

    ngomong – ngomong, lupa mencantumkan kepanjangan LGBTIQ. kepanjangannya adalah Lesbian Gay Biseksual Transeksual Interseks dan Queer.

  • shelby said:

    betul banged….
    tp diskriminasi perbedaan warna kulit, tidak bisa disamakan dgn diskriminasi perbedaan orientasi seksual….

    dlm diskriminasi kaum LGBTIQ tidak hanya kehidupan sosial masyarakat yg menjadi tembok besar dalam persetaraan, melainkan jg dalam pandangan religi yang memang harus kita anut…
    jd bisa dibilang, persetaraan dlm diskriminasi ini mempunyai tembok yg lebih komplek,..
    memang ini tugas yg sangat sulit, butuh usaha yg saaaaangat keras untuk bisa membuat hal ini jadi apa yg kita inginkan,..

    tp bagaimanapun juga sulitnya, saya sangat mendukung LO..
    great article.. :)

Leave your response!

Ruang komentar adalah ruang yang memberikan perhormatan tinggi kepada kaum lesbian. Silakan gunakan kata "lesbian" atau "lesbi" dengan tepat, bukan dengan kata-kata lain yang melecehkan. Komentar dengan bahasa alay, singkatan, dll, tidak diperkenankan. Terima kasih.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.