Home » Humaniora, Renungan

Tarian di Mont Blank

21 February 2012 285 views 11 Comments

Oleh: Ade Rain

Jalanan disirami deretan lampu sorot pendaki. Berbentuk proyeksi segitiga melebar ke depan. Lapisan es di ketinggian berkilau setiap kali tersenggol kilas sinar. Selain itu, tak ada satu benda terlihat oleh mata kecuali yang tersorot senter bercahaya diletakkan di kening. Sesekali muncul rambu-rambu unik tanda bahwa ‘Anda sudah di ketinggian sekian-sekian’, ‘prasasti di sini, pernah wafat pendaki ini’, ‘hati-hati sering terjadi longsoran salju’, ‘’beberapa meter lagi shelter’.

Hanya kami bertujuh pendaki malam itu. Taburan bintang berkerumun di atas permadani hitam. Bintik-bintik sinar seolah percikan susu. Bles, bles, bles… Suara tongkat yang dipegang dua tangan menusuk es, menopang tulang badan sehingga tidak terlalu lelah.

Suhu di jam tangan menunjukkan lima derajat Celcius. Sesekali pengukur digital itu sampai minus di angka tujuh ketika angin berembus kencang. Nyaris tak seinci kulit yang tak terbungkus. Mata ditutupi kaca lengkung. Dengan pakaian berlapis seperti itu, aku seolah batang kayu yang dibungkus parasut bekas, siap dilempar ke dalam air.

Aku berjalan paling belakang, menyandang ransel ukuran sedang dilengkapi botol minuman dan sedikit makanan siap saji khas pendaki secukupnya. Kami merangkak perlahan. Dua jam berlalu. “Dua jam lagi kita akan tiba di atas,” hibur guide kami. Namun aku skeptis bisa mencapai puncak dengan waktu yang sudah ditentukan. Jalanku keong. Sudah kuingatkan penuntun kami itu bahwa aku tidak rutin berolahraga. Namun dia bersabar menunggu tiap kali aku tertinggal beberapa langkah di belakang.

Ini kali pertama aku ikut mendaki gunung tertinggi di Eropa malam hari. Itu pun kuputuskan setelah membaca review-nya di internet, setelah patah hati. PATAH HATI. Memang ngeri efek sakit karena cinta. Sampai ada manusia yang berniat mati. Aku mencari cara mati yang tak kentara sebagai bunuh diri, hipotermia di puncak gunung es atau terjatuh ke jurang dalam. Jadi tidak ada satu pun keluargaku yang malu. Aku akan mati terhormat.

Sebuah tekad bodoh. Pemikiran cetek yang memalukan. Mati di Mont Blanc malam hari setidaknya akan membesarkan namaku, nama negaraku. Aku mati sebagai pahlawan. Manusia yang menyakitiku akan menyesal menyakiti seorang yang namanya terukir di daftar pendaki mati syahid.

Begitulah versi bunuh diri yang paling gemilang dan indah. Bukan karena kebut-kebutan di jalan sampai membunuh sembilan nyawa. Atau over dosis bubuk warna warni. Bukan meregang nyawa akibat memotong urat nadi dengan pisau berkarat yang pada akhirnya membuat tetanus alias sekarat. Atau menelan segenggam Panadol sampai keluarga kelabakan membawa ke rumah sakit. Tahu-tahu nggak jadi mati, apalagi seluruh organ pencernaan perlu setahun untuk pulih kembali dari racun brengsek itu.

Kesakitan akibat cinta memang bisa membuat manusia bodoh terlihat (lebih) bodoh. Aku adalah salah satunya. Lesbian usia produktif yang tenaga mudanya bisa dimanfaatkan mengajar warga buta huruf di desa-desa terpencil bertekad mati di puncak es sambil membawa bendera merah putih. Sayang, aku belum bergabung di SepociKopi ketika itu.

Sehari sebelum perjalan kami dimulai. Teman-teman satu tim saling memperkenalkan diri. Sammy dan Joanne, dua mahasiswi Rumania. Raul asal Yunani, pekerja di Suisse Credit. Jack, pengacara asal Australia. Satu pria Perancis, aku lupa karena namanya benar-benar susah dilafazkan. Dan Joseph, guide kami.

Seperti namanya, Joseph adalah pria yang indah. Otot-ototnya kokoh seperti besi ulir. Lengannya terpasang serasi di badan itu. Dia tampan. Dagu persegi empat yang terlihat seperti tokoh Shaggy dalam kartun Scoby Doo begitu menarik perhatian setiap kali ia berbicara. Matanya… mata tokoh Aladin di Seribu Satu Malam. Dia terlalu ganteng untuk menjadi penuntun para pendaki. Gaya memanggul ranselnya mirip tokoh James Bond. Kurasa seperti namanya, dia titisan nabi Yusuf.

Sejak hari pertama briefing, aku lupa memikirkan bagaimana aku akan mati di atas sana. Joseph membuatku susah memikirkan hal itu, bahkan untuk memindahkan pandangan darinya. Jika lesbian seperti aku saja tertarik saat dia berbicara, apalagi perempuan seperti Sammy dan Joanne. Kurasa, mereka sering hanya berpura-pura bertanya, padahal apa yang ditanyakan sudah ada di buku penuntun kami. Atau jangan-jangan Jack gay. Dia selalu ingin berada di belakang Joseph.

Joseph memang pelipur lara. Sejam pertama saat kami berjalan dengan medan yang tak begitu sulit, dia mengajarkan kami nyanyian para pendaki yang dalam sekejap mudah dihapal. Di jam pertama, dia tidak begitu susah untuk diajak berbicara. Namun di jam berikutnya, kami mulai mengunci diri, berkosentrasi mengatasi medan yang mulai curam serta suhu yang dinginan. Ia bersiul serta beryanyi sendirian. Sementara itu, pelan-pelan tujuh tubuh mengikuti cahaya senter yang dikelilingi kegelapan malam.

Memang ajaib lampu di kepalaku. Nyaris empat jam menyala terus tanpa terganti baterai cadangan. Rasa haru menyelinap. Sejauh ini, tantangan kesulitan berhasil dihadapi. Tiba-tiba saja aku mulai memikirkan hal lain. Perusahaan mana yang menciptakan lampu sehemat energi itu? Hebat sekali penemunya. Sepatu boot yang menutup hingga betis, tahan terhadap air. Sepatu ini memberi rasa hangat yang tidak bisa terbayar di sana. Jika di atas ada manusia yang ingin menukar sepatuku dengan seribu pulau indah, takkan kuberikan. Baju tebal buatan Swiss yang kukenakan sama sekali tidak membuatku kedinginan. Sarung tangan kulit seharga dua gram emas seolah mengelus-elus tapak tangan agar hangat sepanjang perjalanan. Betapa nyaman tubuhku dengan semua benda yang melekat di badan dan pikiran. Tiba-tiba aku merasakan damai yang sempat hilang berbulan-bulan.

Aku bilang apa barusan? Bukankah aku ingin mati terhormat di atas sana? Bukankah aku ingin mayatku dibungkus bendera Merah Putih seukuran badan yang kubawa di dalam ransel? Tiba-tiba aku merasa malu dengan diriku sendiri. Malu atas apa yang sudah berlaku.

Bias kemerahan akhirnya mengintip di tepi cakrawala. Cahaya muncul sekitar pukul tiga pagi di musim panas. Begitu kami sampai di puncak, di sekitar kami mulai terlihat ukiran indah tekstur puncak gunung terbungkus es. Bentuknya spektakuler, diukir angin. Jack dan aku berdiri bersebelahan. Kami terdiam, mematung, memandang ke matahari. Tiba-tiba tangannya mengambil tanganku. Kami mengangkat lengan itu tinggi-tinggi, seolah ingin meraih langit di atas kami. Kasih sayang Tuhan terasa menjalar di dalam darah.

Beberapa menit kemudian, matahari betul-betul keluar meski kabut pekat mengaburkannya. Joanne dan Sammy menari-nari sambil menarik tangan Joseph, Mereka mengelilingi tempat berdiri kami, menularkan kebahagiaan yang tak bisa ditakar dengan apa pun. Ketika aku ikut menari bersama mereka, kurasa saat itulah aku merasa sembuh dari sakit cinta. Sejak itu, tak pernah kurasakan patah hati begitu parah jika seseorang menyakitiku dengan cintanya lagi. Jika cinta gagal, setidaknya sekarang aku sudah tahu harus ke mana aku pergi.

@Ade Rain, SepociKopi, 2012

11 Comments »

  • diSA said:

    Pengen kepantai ketika cinta di ikat tak bertali,ketika masa depan terlihat suram..

  • kiora said:

    :-) for u, Ade Rain..

  • Frozen Shane said:

    Ngiri hikz :-( kapan aku kesana ?

    Sering banget kalo ada masalah mau larinya menyepi di gunung biar damai, pengin nangis di puncak, teriak nglepasin semua beban hidup, tapi eh….sesampainya disana…jangankan nangis karena sakit cinta, aku sudah lupa semua masalah yang ada hehehe yang ada damai, dan rasa syukur, karena telah diberi kehidupan yang begitu indah dan berwarna.

  • dean said:

    pengeeen.. indah banget.
    dan mendaki gunung akan aku masukan dalam salah satu obsesiku

  • tie wie said:

    sekarang ini, hari ini, sangat sangat ingin kepuncak bromo lagi seperti 4 thn lalu. memang bener sekali kak Rain, dari puncak sana semesta alam selayaknya lukisan, berukir, terbentang luar biasa, serasa berada dinegeri atas awan. jangankan apa itu galau, rasa sakit hati, karena apapun. sirna, lenyap. hilang bersama angin.

    :( kalau aja pintu ajaibnya dora emon bisa dipinjam. malam ini juga mau ada disana lagi. damai bersama alam.

    trims kakak Rain, trims sangat sangat, tulisannya hari ini sungguh2 menginspirasiku harus pergi kemana.

  • trias said:

    seperti mendaki gunung, beginilah kehidupan. dlm mendaki hidup, sepocikopi bisa saja berperan sbg boots, jaket, lampu, ataw sarung tangan bg kita para pembaca.

  • edward said:

    Kalo bole kk rain minta no telp resortnya donk pengen bawa honey ke sana…hehehehe biayanya berapaan ya… Jadi nanya travelll ;p

  • arindy said:

    Patah hati memang menyesakan. Menimbulkan pikiran konyol untuk mengakhiri hidup. Tapi saat patah hati bisa memikirkan mati dengan cara terhormat. Itu lumayan keren (Keren bgt sbnernya).
    Meskipun awalnya ingin mengakhiri hidup. Tapi toh akhirnya menyadari bahwa hidup itu memang sangat berharga utk dilewatkan begitu saja.
    Tulisannya sunggung2 menginspirasi. Dan saya berterima kasih utk itu. Mudah2 sja kelak ktika saya patah hati saya tdk berfikiran utk mengakhiri hidup. Dan seenggknya kalaupun nanti saya ingin mengakhiri hiduppun. Saya tahu cara yg lebih baik, yaitu mati dengan terhormat. Hehehe

  • diaz said:

    Keren sekali tulisanya dan tawaran pemandangannya. Bener,sepakat dengan cinta yg sakitnya sesaat, harus disikapi ga berlebihan. sekali lg tulisanya keren!!

  • a Lang said:

    Wah, tulisan AR ni bikin kaki gatal-gatal pingin segera lari ke gunung. Asyiiknya.
    Bagi saya suasana di puncak gunung memang luarbiasa apalagi ketika matahari mulai melepas cahayanya yang pertama waduuh tiada tara indahnya.
    Di puncak gunung saya merasa bahwa saya bukanlah apa-apa di jagad raya dibandingkan kekuasaanNya. Membuat hati dan jiwa takluk.
    Ketika gelap mencengkram lalu cahaya matahariNya muncul perlahan disitulah semangat kembali hadir, bahwa matahari selalu ada tuk menemani dalam kehidupan. Selalu ada DIA yang menemani lewat kekuasaanNya sehingga saya tak selayaknya merasa sendiri.
    Mendaki gunung, menyusur lereng menuju puncak mengejar matahari menjadi salah satu kegiatan yang saya agendakan khusus. Mengapa demikian, karena saat perjalanan hingga kepuncaknya banyak hal bijak yang saya dapat. Dari ketinggian saya bisa melihat alam bebas.Bagaimana alam terkoneksi satu sama lain. Seperti itu pula cara saya melihat dan melakukan problem solving baik untuk diri maupun dalam pekerjaan.Saya bisa melihat hubungan satu masalah dengan yg lain. Termasuk penyebab masalah terbesar dan utama. Pikiran lebih jernih saat mencari solusi.

    Akh pokoknya tidak bisa diuraikan dengan banyak kata. Banyak simbol dan metafora kehidupan ketika kita naik gunung.
    Tulisan AR kali ini sedikit banyak memberikan gambaran tentang hal tsb.

    Buat AR dan SK, mantabbs!!

  • dara said:

    obat patah hatinya mahal mbaaaak. hahaha
    walau selalu di rombongan paling belakang kalo naik gunung, tapi aku nggak bisa menyangkal kalo duduk di puncak gunung dan memandang awan di bawah kita itu memang obat paling ampuh buat segala sedih, galau, kesal, atau apapun.

Leave your response!

Ruang komentar adalah ruang yang memberikan perhormatan tinggi kepada kaum lesbian. Silakan gunakan kata "lesbian" atau "lesbi" dengan tepat, bukan dengan kata-kata lain yang melecehkan. Komentar dengan bahasa alay, singkatan, dll, tidak diperkenankan. Terima kasih.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.