Home » Humaniora, Telezkop

te.Lez.kop: Menua Bersama

16 February 2012 329 views 12 Comments

Oleh: Alex

Pernahkah kita membayangkan seperti apa kita 30 tahun dari sekarang? Atau 40, atau 50 tahun lagi? Saat itu kita sudah seumuran mama kita atau bahkan oma kita. Seperti apa kondisi kita saat itu? Secara fisik dan mental. Siapa yang menemani kita? Apakah kita masih hidup? Jika kita masih hidup, apakah kita sehat? Tidak, saya tidak bicara tentang kematian melainkan bicara tentang menjadi tua.

Mungkin pada saat kondisi kita prima di usia kita saat ini, hal-hal tentang keadaan pada saat kita tua nanti tak pernah kita bayangkan. Kita melihat nenek atau ibu kita, tapi tak pernah membayangkan jadi seperti mereka. Selain segala penyakit komplikasi yang mungkin timbul, penyakit yang umur terjadi adalah dementia atau kegelisahan. Dari sana biasanya orang tua jadi mudah stres dan terserang penyakit. Saya takkan menyuruh untuk menjaga kesehatan, berolahraga, dan lain-lain. Semua itu takkan mencegah kita menjadi tua.

Ibu saya sering memberi saran pada saya, “Kamu gak kepikir untuk punya anak. Biar nanti tua ada yang mengurus?” Tidak, dia tidak menyuruh saya punya anak sendiri. Anak adopsi pun boleh. Ibu saya bukan penganut paham kodrati bahwa semua perempuan sudah kodratnya menikah. Tapi dia sering takut jika saya sudah tua nanti tak ada yang mengurus saya. Menurutnya, anak adalah investasi yang bagus agar di mas depan nanti ada yang mengurus saya sebagaimana kini dalam usia 80 tahunnya, ibu diurus oleh anak-anaknya.

Tapi saya berpikir berbeda. Bukan apa, tapi menurut saya punya anak zaman sekarang sepertinya mahal. Harus memberi makan, pakaian, biaya sekolah, dan lain-lain. Mungkin akan lebih murah bagi saya menjanjikan warisan kepada para keponakan jika mereka mengurus saya dengan baik, nanti mereka akan saya catat dalam surat wasiat.

Jika saat ini kita berada dalam kondisi prima, sekaranglah saatnya menyiapkan rencana masa depan. Investasi, tabungan, dan tetek bengek macam itu. Namun saya selalu merasa investasi terbaik adalah keluarga. Mungkin keluarga kita bukan yang terbaik, bukan yang paling kaya, bukan yang paling sempurna, bukan yang paling mengerti kita, tapi bagaimanapun darah lebih kental daripada kopi apalagi bir. Teman-teman minum kopimu yang kamu anggap paling karib dan cool mungkin sudah mati duluan atau sibuk mengurus (atau diurus) keluarganya.

Bagaimanapun kita menghindarinya dengan segala macam krim atau vitamin, kita tak bisa menghindari masa tua. Tapi bagi lesbian, usia tua menjadi tanda tanya yang lebih besar. Tanpa ada keluarga. Hidup sendirian. Jangan bayangkan tinggal di rumah jompo di Indonesia yang makannya tak terurus. Apalagi buat lesbian yang di masa mudanya sudah dengan gagah perkasa lari dari rumah meninggalkan keluarga. Apakah pada usia 80 tahun nanti dia masih hang out sama teman-teman lesbian seperjuangannya atau hidup sendirian?

Keluarga belum tentu memiliki hubungan darah, demikian yang saya dengar dari para lesbian yang kabur dari rumah. Kau hanya mengharapkan keburuntungan menemukan orang lain yang mau menjaga dirimu sampai tua. Hitung saja, siapa pacar yang tahan dan setia bersamamu lebih dari lima belas tahun? Tidak usah muluk-muluk lima belas tahun, bagaimana kalau delapan tahun? Lima tahun? Tiga tahun? Anybody? Hidup masih panjang. Untuk mencapai usia 70 tahun, kita harus bersama pasangan minimal 40 tahun! Kalau bersama kekasih selama setahun saja tidak sanggup, bagaimana orang lain bisa kau harapkan sanggup menjadi “keluarga”-mu tanpa hubungan darah?

Pernahkah kita membayangkan ketika kita berusia 70 tahun, kita hidup sendirian tanpa ada kekasih kita saat ini? Dengan romantisme masa muda yang gegap gempita, kita membayangkan bagaimana indahnya kata-kata, “kita akan menua bersama.” sebagai kalimat sempurna di hari valentine. Tapi pernahkah kau membayangkan memiliki pasangan berusia renta dalam kondisi pikun dan sakit-sakitan dan kau harus merawatnya? Pernahkah kita membayangkan kondisi semacam itu? Tidak usah sombong menjawab pertanyaan tersebut dengan menepuk dada dan berkata “bisa” sebelum benar-benar direnungkan sepenuh pikiran dan perasaan.

@Alex, SepociKopi, 2012

12 Comments »

  • irli said:

    Great article to be notice :)

  • samudera said:

    Beberapa waktu belakangan ini saya juga lagi berpikir2 persis seperti tema tulisan ini, kak Alex
    Gara2nya waktu itu diajak ibu yang lagi nyebarin surat undangan nikahan kakak ke suatu rumah teman lama ibu dan ibu bilang dia belum nikah (usianya sekitar 60an) dan dia memiliki 2 ‘penjaga’ yang memiliki tugas berbeda. Hidupnya baik2 saja so far (I dunno about her sexual orientation)

    Saya setuju dgn kak Alex soal keluarga sbg investasi terbaik di hari tua, yang darahnya lebih kental dari kopi, ahay

    Mungkin alternatif lain yang bisa dipilih adalah menyewa semacam nurse untuk mengurusi kelak
    Atau bersama sahabat/partner/teman/siapapun yang setuju untuk menyewa (atau tinggal) bersama di sebuah rumah dan menghire nurse juga, ini sama seperti yang pertama hanya saja jatuhnya patungan dan lebih semarak keadaan rumahnya

    Alternatif terakhir itu saya baca dari sebuah artikel kompas tahun lalu, fyi itu artikel lagi ngomongin orang2 straight
    jadi disitu dibilang, di kota2 besar di indonesia, ada banyak pasangan muda yg punya karier cemerlang dan ga mau punya anak

    The yuppies ini punya lingkaran pertemanan yang satu aliran (no children) dan mereka udah punya kesepakatan bersama to spend the old days together dng nyewa maid, suster, dokter untuk ‘memelihara’ mereka
    Jadi semacam tinggal di panti jompo bintang lima pribadi bersama teman2
    Dan mereka berinvestasi untuk hari tua mereka yang tanpa anak itu dengan ga main2
    Mungkin bisa dijadiin pemikiran lain untuk tmn2.. :)

    Thanks kak Alex for this nice article
    So sorry jadi kepanjangan komen
    Have a nice day everyone!

  • broc said:

    What I m worried is, we are too old to be able to hold hands Watching sunset/sunrise together by then. Moments like that are precious. Unfortunately to say, pieces of that happy memories will likely keep us/one of us going. That is important to me.

  • na said:

    setiap malam, setiap berangkat tidur, aku n Re selalu mengucap “sampai tua sama2 terus yah, sedahsyat apapun masa depan kita, sekaya raya apapun kita, sesehat apapun kita, semakmur apapun kita, …”
    kami beruntung sudah ada anak2, ..
    tapi pada awalnya, kesamaan visi kami adalah bahwa tugas hidup kita tidaklah terhenti di umur kita sendiri, tapi ada kehidupan yg adalah karya kita, yang merupakan kelanjutan dari apa yg tadinya bernama Na dan Re.
    anak2 bukan sesederhana ‘pengurus’ masa tua buatku, tp anak2 adalah investasi dunia akherat. aku yakin n percaya benar dg “doa anak yg sholeh” adalah bekal matiku nanti.
    kami tau, kami pasti menua, hanya saja,…. dalam setiap keyakinan dan syukur kami, kami hanya membayangkan tua yg sehat, funky, asik, happy, makmur lahir batin. cz sadar atau tidak, you are what you think ..
    so,… yuk mari menua dg dahsyat!

    nice note Alex,… gud job,i like it…

  • marcell said:

    Article yg bener2 ngena bgt d hati,,,
    Duhhhh jd smkin galau nihh.kl mslh prselingkuhan dll c msh bsa d atasi tp kyny kl mslh ini agak berat btuh persiapan moril dan materil yg kuat dg partner

  • Ch ! said:

    hmmmm, slah satu hal yg aku takuti yaitu mjd tua dgn raga n pikiran yang lemah.. maka dr itu mmpung masih muda aku mau jaga n latih baik2 badan ini hehe
    knp smuanya brpikiran hrus ada yg mnjga kita di hari tua?? Apakah klo sudah tua brarti kita sudah tdk bisa mngurus diri sndiri?? krn aku blm prnah ngrasain, setidaknya kita bisa lihat dr cth orang2 tua yg masih ‘kuat’ di usia 80thn atau 100thn pula..
    klo yg 80thn, Kompas pernah bahas ttg 3 nenek yg smuanya udah 80thnan n mereka masih bisa beraktivitas (masak, OR, baca, isi TTS), sehat raga n pikiran, tdk ada penyakit2 kronis jg..
    klo yg 100thn, yg paling aku sering dgr sih dr Jepang.. pas aku ngelihat fotonya (kakek2)tmpak masih segar bugar..

    “You’re what you eat”, pastinya pd sering dgr kan, mnrut aku ini salah satu kunci utamanya :D

  • frey@ said:

    buat aku, memiliki seorang anak itu bukan cuma dilihat dari segi materinya. tapi banyak hal yang lebih menyenangkan yang bisa kita pelajari dari memilikinya. meskipun bukan dari darah daging sendiri, tapi kasih sayang tulus yang kita berikan untuk anak kita, pastilah berbuah manis di akhir hidup kita kelak.

  • diah said:

    good article :)

  • dewi said:

    onde mande….
    pusing kpla awak memikirkan nya,apalagi tomboy macam awak ne,ntah sapa yg ngurus klak.mti togang lah aq yg tak pnya persiapan ni yo.
    lantak lah.

  • a Lang said:

    Artikel yang menarik dan pas untuk direnungkan mereka yang memilih tdk menikah, termasuk saya. Hal ini sudah saya renungkan sejak saya kecil, saat saya menyadari siapa diri saya dan bagaimana tahapan hidup yang harus saya jalani step by step.
    Berdasarkan kehidupan yang saya arungi dan renungkan, sesungguhnya saya kurang setuju jika anak dianggap sebagai alat investasi. Bagi saya,keluarga dan anak ( kandung ataupun bukan), adalah tanggung jawab yang tak seharusnya saya berharap mereka membalas apa yang sudah saya lakukan. Tugas saya adalah memenuhi tanggung jawab saya dengan sebaik-baiknya. Kasih sayang saya terhadap mereka yang telah ada dan (mungkin akan ada) tak bisa diukur dalam takaran transaksional.
    Lalu bagaimana nanti saat tua??. Dulu, kerap hal ini sering mengganggu, tetapi kemudian saya memilih menyiapkan masa depan dengan cara menjalankan peran sebaik2nya, dilandasi rasa tanggung jawab dan kasih sayang terhadap keluarga dan juga sesama.

    Terdengar klise, tapi inilah yang saya dapat saat saya berkeliling ke berbagai tempat,menemui para lansia, membaca sejarah, mengamati dan merenungi kehidupan manusia di sekitar saya, sejak saya kecil hingga kini.

    Mau tau seperti apa kita tua nanti, bisa dilihat dengan apa yang kita lakukan dihari ini.

    Buat Alex dan SK, Bravo !!

  • javatown said:

    sudah beberapa bulan ini saya berpikir tentang apa yang ditulis oleh Alex. sy belum bisa membayangkan seperti apa ketika tua nanti namun dengan kesungguhan mempersiapkan masa tua dengan baik, semoga apa yang kita inginkan bisa dengan mudah tercapai. Yang penting…tetap sehat sampai tua :)

  • NasiPadi said:

    Trims untuk renungannya yang menghentak :)
    Saya sering memikirkan masa depan saya dan dia. Kami sama-sama cinta, sama-sama ingin menua bersama, tapi sampai sekarang belum ketemu jalannya. Dengan artikel ini, setidaknya saya tahu, kami tidak sendirian. Banyak yang punya masalah serupa, dan milik kami bukan yang terberat.

Leave your response!

Ruang komentar adalah ruang yang memberikan perhormatan tinggi kepada kaum lesbian. Silakan gunakan kata "lesbian" atau "lesbi" dengan tepat, bukan dengan kata-kata lain yang melecehkan. Komentar dengan bahasa alay, singkatan, dll, tidak diperkenankan. Terima kasih.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.