FabuLezlyCool: Petantang-Petenteng
Adakah yang setuju bahwa hari gini makin banyak aja manusia yang menjadikan lesbian sebagai gaya hidup alias status untuk menunjukkan kalau dirinya “berbeda” dari mayoritas? Kebetulan, pada waktu aku kuliah, situasi seperti ini pernah dideskripsikan oleh para pakar cultural studies. Cultural studies itu adalah salah satu bagian dari ilmu sosial yang mempelajari budaya. Tapi budaya yang dimaksud di sini bukanlah kebudayaan seperti wayang atau tarian daerah, melainkan budaya dalam arti “suatu tindakan atau makna yang dilakukan secara terus menerus oleh sekelompok manusia”.
Dengan kata lain, kebiasaan ngerumpinya ibu–ibu rumah tangga di Indonesia bisa saja dibahas di cultural studies atas nama budaya. Kalau ditransformasikan ke dalam bahasa akademis, begini kronologisnya. Kehidupan sosial manusia pasti bergerak pada suatu budaya tertentu yang mendominasi dan dianut oleh mayoritas orang. Ketika ada orang–orang yang merasa tidak sepaham dengan mayoritas, budaya dominan tersebut akan dilawan dengan tindakan yang disebut ressistant. Nah, kalau perlawanan itu dilakukan secara massal, maka akan terjadi banalisasi (pendangkalan) makna, di mana yang tadinya adalah bentuk perlawanan, oleh pihak-pihak tertentu dijadikan budaya atau tren baru.
Dalam kasus kita, budaya dominan adalah heteroseksual, tapi ada orang-orang yang merasa orientasi seksualnya adalah homoseksual, berbeda dari mayoritas. Maka lahirlah gerakan LGBTIQ sebagai bentuk dari gerakan ressistant itu. Lama kelamaan, makin banyak kaum LGBTIQ yang muncul ke permukaan bumi, eksistensinya semakin diakui baik di ranah akademis maupun di ranah sosial. Nah, di sini muncul oknum-oknum menyebalkan yang berbondong-bondong ikutan menjadi LGBTIQ untuk maksud tertentu. Bukan, mereka bukan homoseksual, namun sekadar iseng dan pengin terlihat ‘berbeda’ daripada yang lain.
Di kampusku sendiri yang meneliti bidang sosial, kaum homoseksual cukup diterima, bahkan dihormati. Tapi mentang-mentang seperti itu, akhirnya banyak orang yang membusungkan dada dengan mengaku-aku diri sebagai homoseksual, supaya dianggap telah khatam materi gender dan seksualitas. Lucu nggak sih, zaman sekarang orang tak hanya berpura-pura jujur atau berpura-pura baik, tapi status “lesbian” juga bisa dipermainkan sebagai permainan pura-pura. Plis deh, Nona Manis.
Selain itu, ternyata banyak juga homoseksual yang baru menerima dirinya sebagai lesbian, lalu petantang-petenteng ke sana-kemari memamerkan sisi kelesbianannya. Entah kenapa ya, saya sering mendengar dan mengalami langsung situasi seperti ini. Di kampus, di dunia maya, atau di mana-mana deh. Perasaan sih selalu adaaa saja yang sibuk menunjukkan bahwa “Ini aku lho, sang lesbian.” Namun sayangnya, dia tidak memiliki tanda–tanda nilai plus lainnya, baik dalam karakter maupun prestasi akademis/pekerjaannya. Nah, lho?
Ini sempat menjadi topik panas saat mengobrol dengan beberapa teman lesbian. Kami pernah mengandaikan seseorang yang tiba tiba membuka pintu kelas ketika kuliah sedang berjalan, lalu berteriak sekeras-kerasnya, “Aku adalah lesbian! Siapa yang tidak terima, maju sini hadapi aku!” Lalu kami tertawa terbahak-bahak. Tentu, pengandaian itu terdengar berlebihan.
Mungkin, mungkin nih memang ada gejala psikologis tertentu yang dapat menjelaskan bahwa seseorang yang baru bisa menerima dirinya sendiri akan cenderung membanggakan pada semua orang. Oke, mungkin koar-koar itu merupakan bentuk ekspresi kebebasan setelah sebelumnya merasa galau dan tertekan atas “perbedaan” ini. Tapi menurutku, nggak harus sampai segitu jugalah ya. Masa iya, setelah menerima diri sendiri, lalu semua orang dipaksa untuk menerima dirinya sebagai lesbian? Semua butuh proses, kan?
Lagipula, orientasi seksual adalah substansi diri yang pasif. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan tingkat kepedulian sosial, tingkat kecerdasan, dan semacamnya. Orientasi seksual sebagai lesbian bukan untuk dibanggakan dan (harusnya) juga bukan untuk dilecehkan. Toh, lesbian tidak lebih buruk maupun lebih baik daripada heteroseksual. Tidak usah terlalu berlebihan bangga apalagi minder sebagai lesbian. Mending bangga kalau kita sudah menjadi lesbian yang cerdas dan berguna.
Seberapa tinggi nilai diri kita sebenarnya tergantung bagaimana kita mengembangkannya. Dan plis sekali lagi, semua itu sama sekali nggak ada hubungannya dengan orientasi seksual. Jadi, jangan marah kalau seseorang benar-benar ada yang mendobrak pintu kelas dan dengan hidung berasap berteriak “Woy, aku adalah lesbian, siapa berani lawan?”, akan ramai-ramai ditimpuk dengan boardmarker, dijewer telinganya sampai ke warnet, dan disuruh membaca situs SepociKopi.
@Lo, SepociKopi, 2012










Omg, like this pisan lah. Couldn’t agree more.
sekedar bertanya ;
kalau saya punya kasus contoh seperti : ada seorang lesbian yang mungkin bukan bermaksud “petentang-petenteng” menunjukan sisi kelesbianannya tapi lebih bisa dibilang “refleks.. and can’t be help”. dan slalu refleks menunjukan kemesraan di depan umum itu gimana? masih kah dianggap sesuatu yang menjatuhkan kaum homoseksual lainnya?
very inspiring
Setuju banget!! Jadi lesbian yg cerdas dan berguna #aseeek
Bener banget!
Terkadang penerimaan terhadap diri sendiri lebih penting daripada penerimaan orang lain terhadap diri kita
Hahaha… Ngakak deh bacanya… Ada ya, yang kaya begitu…? Hmmm, lesbian jadi trend buat keren-kerenan…? Ya memang sih zaman sekarang sudah banyak terjadi pergeseran nilai dalam masyarakat kita. Bahkan tak jarang lesbianisme dijadikan alat semata oleh para perempuan (bukan lesbian) di luar sana, untuk mendekati lesbian dengan karakteristik tertentu (contohnya lesbian mapan, lesbian well educated, etc) dengan motif dan tujuan tertentu, misalnya mencari keuntungan dalam suatu hal (ngga mau ngasih contoh ah, dah banyak kasus, hehehe).
Memang adanya media macam SK bisa mengingatkan kita akan banyak persoalan-persoalan di dunia perlesbianan yang kadang luput dari pengamatan kita, sekaligus bisa menjadi pe-warning kita untuk thinking out of the box. Great writing, Lo. Salam kenal.
iya lah….yg penting jd diri sendiri aja yg bisa berguna bwt Tuhan n sesama…..no drama2an lah….
Aku setuju banget sama garis besar artikel ini, tapi aku agak bingung dengan kalimat orientasi seksual adalah substansi diri yang pasif dan tidak berhubungan dengan keperdulian sosial. Bukannya awal dijelaskan kemunculan gerakan LGBTIQ sebagai bentuk tidakan ressistant dari pemahaman mayoritas yaitu heteroseksual? Lalu kaitan dengan keperdulian sosial, aku pribadi berpikir itu sangat berhubungan dan penting, karena cita – cita kaum homoseksual untuk diterima dengan baik oleh masyarakat mayoritas masih belum sepenuhnya tercapai hingga saat ini.
Selebihnya nice artikel, aku suka banget.
Trims ya penulis
wil : emang beneran begitu adanya wil, mungkin suatu hari kamu akan mendapati langsung ya kasus dimana lesbian cuma dijadiin trend. salam kenal juga
.
blue : maksudnya, kelesbianan seseorang benar – benar tidak mempengaruhi substansi lain (terlepas dari hal yang berkaitan dengan orientasi seksual) pada dirinya. jadi kalau ada lesbian yang cerdas, itu ya karena dia memang cerdas. kalau ada lesbian yang suka mabuk mabukan, ya itu karena memang dari sananya juga begitu. bukan karena dia lesbian maka dia begitu. intinya? kalau kita mau diakui dan dihargai sebagai lesbian, ya buktikan saja kalau kita memang sosok yang punya value tinggi, yang juga bisa berprestasi seperti mereka yang “normal”.
tenshi : wah kebetulan diatas hanya dibahas tentang lesbian dan masyarakat, belum sampai ke lesbian dan partner dan masyarakat
. coba deh baca tulisan kak Tya Andriani tentang PDA, mungkin bisa memberi pandangan tentang kasus itu:).
All : makasih, senang bisa menginspirasi.
to tenshi : maaf bukan tulisan kak Tya Andriani, tapi Kak Nuha Guwa, judulnya Kemesraan di Tempat Umum dan Kita.
lucu ya disaat yg lain ketakutan klo ketahuan tp ada yg dgn bangga memamerkan n yg plg parah yg memanfaatkan status L ini…ckckck
pikiran manusia memang sulit ditebak..
very inspiring,,,:)
Hahaha… Kalau memang benar ada yang “Woiii, aku adalah lesbian! Siapa yang berani lawan?”, aku akan tepuk tangan sambil senyum2 XD
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Mei ini adalah bulan yang sarat dengan perenungan atas hari besar perayaan Pendidikan Nasional dan Kebangkitan Nasional. Bertanyalah pada diri masing-masing: apa arti pendidikan? Apa arti kebangkitan? Dua elemen ini jika digabung, maka akan menjadi dua kata yang dasyat sekali: kebangkitan pendidikan. Jika pendidikan adalah hal yang sangat esensial untuk masa depan, maka apa fungsinya bagi kebangkitan lesbian?
Lesbian, era sekarang adalah era digital. Perubahan sistem pembelajaran dan pendidikan bergeser mengikuti teknologi yang terus bergerak. Demikian juga kesadaran akan penerimaan diri bagi kaum lesbian. Dulu, tubuh lemas dan tak memiliki kekuatan, kini tubuh perlahan-lahan mendapat asupan gizi sehingga menjadi kuat dan sanggup berdiri.
Lesbian, mari bangkitkan diri. Mari hilangkan rasa ketakutan, kesedihan, inferioritas, ketakberdayaan, dan seluruh perilaku negatif yang ujung-ujungnya akan menyeret lesbian menuju kehancuran masa depan. Tidak ada yang tidak mungkin bagi kaum lesbian untuk berdamai dan berbahagia. Kuatkan hati, raih mimpi, teruskan perjuangan. Peluk cium untuk segenap pembaca setia SepociKopi.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments
Switch to our mobile site
Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect. Powered by WordPress | Arthemia theme by Michael Hutagalung 63 queries. 1.300 seconds.