When Tom Meets Dee
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan saat saya tiba di meeting room sebuah hotel berbintang, tempat berlangsungnya training dan seminar. Terburu-buru saya dan bos memasuki ruangan, mendaftarkan diri di meja registrasi lalu diantarkan ke tempat duduk di jajaran depan. Ah sial, tadinya saya berharap bisa duduk di barisan belakang saja berhubung mata saya rasanya berat dan nyaris tidak bisa diajak kompromi. Semalam saya bergadang gila-gilaan menyelesaikan paper dan mesti berangkat ke bandara pukul empat pagi mengejar pesawat yang terbang ke kota tempat berlangsungnya seminar.
Pukul sembilan acara sedianya dimulai, namun berhubung masih banyak peserta yang mengantri di meja registrasi, acara pembukaan ditunda. Ugh, khas Indonesia deh, jam karet! Saya memanfaatkan penundaan ini untuk menelepon partner dan pergi ke toilet sebelum terkantuk-kantuk di ruangan yang dingin.
Saat keluar dari bilik toilet, saya melihat seorang perempuan. Saya tidak bisa menebak usianya dengan pasti. Hmmm… kelihatan sih akhir tiga puluhan. Pakaiannya trendi dan keren, bahkan berkesan maskulin. Hanya saja rambutnya agak panjang. Kakinya dibalut sepatu kets. Saat kami berpapasan, pandangan matanya yang menyelidik membuat saya agak ngeri. Jangan-jangan beliau pikir saya salah masuk toilet. Maklum saja, penampilan saya terlalu maskulin untuk ukuran perempuan.
Sesi pertama seminar dimulai. Astaga, perempuan yang berpapasan di toilet tadi ternyata duduk berseberangan dengan saya. Nah loh! Lebih mengagetkan lagi, ternyata pembicara sesi pertama memperkenalkan Ibu M – dirinya – sebagai pembicara selanjutnya dan akan menjadi pembimbing kami sampai acara berakhir.
Duh, kalau radar saya tidak sedang korslet atau over predicted, sepanjang sesi pertama tadi, beliau mengamati saya deh. Eng, ing, eeengg! Benar saja, sepanjang training yang dibimbing oleh beliau, sering kali beliau “mampir” di meja saya. Please deh, Bu, Anda bikin saya nggak bisa merem barang sejenak. Apa sih yang diinginkan beliau ini?
Tanda tanya di benak saya semakin besar selama asistensi dan saat kuis berlangsung. Beliau mampir ke meja saya dan dengan seenaknya ngegemesin saya. Emang saya mi gemes apa, Bu? Pipi saya dicubit dan bahu dipeluk dari belakang. Duh, bikin jengah saja nih si Ibu, rutuk saya dalam hati. Bukannya apa-apa, saya agak khawatir saja karena bos yang saya dampingi terhitung orang yang peka terhadap isu gay dan pernah mengungkapkan hal tersebut kepada saya. Aduh, seram deh kalau sampai ketahuan!
Sesi siang sampai sore terlewati dengan baik. Setidaknya saya tidak melakukan hal-hal konyol sehubungan dengan keberadaan Ibu M, meskipun sepanjang waktu saya sibuk berperang batin antara logika dan gaydar saya. Gaydar saya bersikeras bahwa Ibu M seperti saya, lesbian atau biseksual. Sedangkan logika membantah karena menurut penuturan bos saya, suami Ibu M ini ganteng pisan. Tebak-tebak buah manggis deh. Siap-siap saja pasang taruhan!
Sesi malam diisi dengan tugas membuat penilaian (assessing) divisi tempat kami bertugas sesuai materi yang telah dijelaskan pada sesi sebelumnya. Berhubung kami (saya dan si bos) masih agak bingung dengan metode penilaian yang harus dikerjakan, kami mendahului masuk ruangan dan menghampiri Bu M. Sembari menjawab pertanyaan, beliau mengajak kami ngobrol santai. Sampai suatu saat dengan manisnya Bu M berkata, “Kalau melihat Krishna, saya jadi teringat waktu masih muda. Dulu rambut saya cepak dengan potongan 3-2-1 ala militer dan selalu pake celana panjang. Mana mau saya pakai rok.” Beliau mencolek bahu saya.
Saya cuma cengengesan, lalu pura-pura sibuk mencari colokan charger laptop di bawah meja. Tapi nyaris saya terjerembab di bawah kolong meja saat Ibu M melanjutkan ucapannya.
“Kamu nggak pernah dikejar-kejar cewek, kan? Soalnya saya dulu sempat dikejar cewek, disangkanya saya lesbian.”
Dugg! Aduuuuh… kepala saya terbentur kolong meja. Sambil meringis, saya muncul dari balik meja dan menjawab dengan gaya lebay, “Nggak Bu, saya cuma dikejar mbah-mbah karena ketahuan nyolong mangga!”
Keesokan harinya, giliran saya mempresentasikan hasil pekerjaan saya di depan semua peserta. Sebelum saya beranjak maju, Ibu M yang duduk di sebelah saya berbisik lirih, “Good luck, Tom,” katanya. Padahal dia tau lho nama saya sebenarnya. Kenapa menyebut saya “Tom”? Apa mau ngasih kode nih, Bu? Oke, elo jual, gue beli dah!
“I will, Dee,” jawab saya singkat sambil mengedipkan mata, balik meledeknya ala film Yes Or No. “Tom and Dee” adalah istilah orang Thailand untuk pasangan butch dan femme. Kapok deh!
Hasilnya, saya dibantai sepanjang presentasi. Hahaha….
@Krishna, SepociKopi, 2012










Jangan jangan tu ibuibu sukak lage ama elo
Satu lagi tulisan di sepocikopi yang bikin aku terhibur dan cengar cengir membacanya. @krishna jangan-jangan si Ibu M mau jadiin kamu selingkuhannya, genit dan menggoda kamu terus.Wakakakakakak…..Selamet ya fren.Coba neh cerita bersambung.Menarik.Bravo Sepocikopi
Ceritanya k’ khrisna lucu =)
Kak krisss…. Kalo u/ andro apa donk istilah orang thailand ???
verrrryyyy interesting
Nggak ngira ada camilan seperti. Makasih. Ceritanya asiik.
Kirain tom n jerry tnyata tom n dee hheehhhee
setuju ama andrea.. ada crita berseri nya gak yyah ? he.he
wah . . wah . .
trus si ibu M tu lesbian bukan??
beuhhhh….lanjutkan ceritanya penasaran..hihihi
hahahaha.. jujur yah, selama aku baca tulisan kak krishna ni aku jarang banget bisa ketawa ngakak sampe nangis dan sakit perut.. tapi kalo yang ini, sumpah aku bisa sampe gulung-gulung gara-gara ketawa.
)
lucu juga yah kalo ketemu dengan orang lain yang notabene dia pembimbing, trus kalo dia lesbian juga kayak kita.. hehehehe.. apalagi kalo pertemuannya kayak kak krishna.. hehe
penasaran nih sama kelanjutan ceritanya.. hehehe
.awesome
. lucu
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Mei ini adalah bulan yang sarat dengan perenungan atas hari besar perayaan Pendidikan Nasional dan Kebangkitan Nasional. Bertanyalah pada diri masing-masing: apa arti pendidikan? Apa arti kebangkitan? Dua elemen ini jika digabung, maka akan menjadi dua kata yang dasyat sekali: kebangkitan pendidikan. Jika pendidikan adalah hal yang sangat esensial untuk masa depan, maka apa fungsinya bagi kebangkitan lesbian?
Lesbian, era sekarang adalah era digital. Perubahan sistem pembelajaran dan pendidikan bergeser mengikuti teknologi yang terus bergerak. Demikian juga kesadaran akan penerimaan diri bagi kaum lesbian. Dulu, tubuh lemas dan tak memiliki kekuatan, kini tubuh perlahan-lahan mendapat asupan gizi sehingga menjadi kuat dan sanggup berdiri.
Lesbian, mari bangkitkan diri. Mari hilangkan rasa ketakutan, kesedihan, inferioritas, ketakberdayaan, dan seluruh perilaku negatif yang ujung-ujungnya akan menyeret lesbian menuju kehancuran masa depan. Tidak ada yang tidak mungkin bagi kaum lesbian untuk berdamai dan berbahagia. Kuatkan hati, raih mimpi, teruskan perjuangan. Peluk cium untuk segenap pembaca setia SepociKopi.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments
Switch to our mobile site
Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect. Powered by WordPress | Arthemia theme by Michael Hutagalung 63 queries. 0.623 seconds.