Puisi: Perayaan Sajak-sajak Cinta
Di bulan Februari, SepociKopi akan menampilkan deretan sajak cinta karya penyair terkenal manca negara. Untuk menghormati hari Senin sebagai hari seni, budaya, dan berita di situs SepociKopi, maka khusus di bulan istimewa ini, setiap hari Senin kita merayakan selebrasi cinta. Dengan kata-kata, roh, dan semangat yang dikandung oleh sepotong sajak, ia dapat setia menjaga dan menghidupkan api kemanusiaan. Hidup dalam sajak, berarti ikut sejiwa dengan kata.
Selamat menikmati!
***
Tak Pernah Kau Kucinta Sedalam Itu
Oleh: Bertolt Brecht
Tak pernah kucinta kau sedalam itu, adikku,
Seperti di malam aku meninggalkanmu,
Hutan dalam pun menelanku, hutan yang biru, adikku,
Dan bintang memutih di barat itu
Tak sedikit pun aku tertawa, adikku, tak sedikitpun
Di jalan iseng ke kelam nasibku
Sementara wajah-wajah di belakang itu
Berangsur memucat di hutan biru
Semua hal mengasyikkan di malam itu, adikku
Tak pernah sebelum dan sesudah itu –
Kuakui: hanya burung besar menemaniku,
Dengan pekik lapar di gelap itu
(Judul asli: Ich Habe Dich Nie Je So Geliebt/I Never Loved You More)
***
Bulan
Oleh: Joko Pinurbo
Bulan yang kedinginan
berbisik padamu:
“Bolehkah aku mandi sesaat saja
di hangat matamu?”
Malam sepenuhnya milikmu
ketika bulan tercebur
ke dingin matamu.
Bulan itu bulatan hatimu,
bertengger di dahan waktu.
(2010)
***
Sebentar
Oleh: Joko Pinurbo
Sebentar lagi aku akan sampai di rambutmu,
seperti embun hinggap di pucuk perdu.
Dua bentar lagi aku akan sampai di matamu.
Semoga semakin nikmat perihmu.
“Siapakah kamu yang rela berlinang di mataku?”
“Aku sebutir doa yang berasal dari tetes keringatmu.”
Tiga bentar lagi aku akan sampai di bibirmu.
Lenyapkan aku, habiskan aku dalam hausmu.
***
@SepociKopi, 2012














Aku ada referensi buku nich.. Judulnya “Dear You” yg nulis Moammar Emka. Lumayan buat Valentine. Kesengsem bgt sama buku ini. Andai aja ada cewek yang ngirimin aku puisi tiap malam. *Ngayal Mode:ON*
Leave your response!