Keping Kristal
Baru saja aku menempelkan satu keping kristal amorf pada sebuah bingkai yang menempel di dinding kamarku. Sekeping kristal yang tertinggal saat aku menyeruput habis satu cangkir rainmoccachiano. Satu persatu, kulengkapi bingkai itu dengan keping yang kutemukan di tiap lorong waktu. Aku ingin memiliki sebuah cermin jernih di kamarku yang kosong. Aku ingin bisa melihat jelas paras dan tubuhku.
Dulu, aku selalu mencari keping itu di celah pagi. Di antara bangunan putih yang kerap kukunjungi. Tak pernah mengira aku malah memperolehnya di sebuah kedai kopi. Tak terbersit sekalipun, kalau kopi yang kuteguk bisa meninggalkan ampas berbentuk kristal. Kukira hanya air embun, air hujan, air minum, susu dan air teh saja yang bisa. Ternyata aku salah.
Beratus kepingan kristal kutemukan di dasar cangkir coklat di kedai unik itu. Aku masih ingat ucap sang barista, katanya, “Kau beruntung jika bisa menemukan kristal di dasar cangkir.” Aku tersenyum kecil saat mendengarnya. Bukankah barista selalu begitu? Pandai berkata-kata pada para tetamu yang berkunjung ke tempatnya.
Beberapa kali dalam sepekan, aku duduk menyendiri di salah satu kursi di sudut kedai nan unik. Tidak seperti kafe lainnya, bangunan ini memiliki banyak pintu dan jendela. Dindingnya terbuat dari permen berwarna-warni, ditopang dengan tiang-tiang dark chocolate 80%. Atapnya terbuka, sehingga kita bisa menatap bintang saat malam. Dikelilingi pepohonan dengan dedaunan terbuat dari jelly. Di tengah kedai ada sebuah panggung terbuat dari wafer yang menopang belanga besar. Di sanalah para barista mencampur serbuk kopi dengan air dan bahan lainnya. Selapis tirai terbuat dari bubble gum penuh warna menjadi backdrop panggung. Meja bundar dan kursi terbuat dari karamel yang khusus disediakan untuk para pengunjung. Semua tertata rapi. Seakan ada jemari lentik yang tekun merawatnya.
Kedai dibuka setiap malam. Para pengunjung akan datang berbondong.Duduk memenuhi kursi. Menanti tak sabar aksi para barista idola saat meracik kopi sambil menari diiringi musik warna-warni. Mereka datang dari pelosok negeri. Rela menyusur hutan untuk hadir di sana.
Aku juga penyusur belantara. Dulu aku sempat terbirit ketakutan saat melihat wujud mereka. Namun baru kali, aku merasakan bulu kudukku meremang saat menemukan sebuah kedai kopi di tengah hutan Aku takut. Tiga hari aku demam tinggi. Perempuanku marah dan melarangku bermain-main lagi ke dalam hutan. Tetapi, rasa penasaran mengalahkan rasa takut yang mencekam, sehingga tanpa dia ketahui, aku mengendap keluar. Menyusur rimba kelam.
Bukanlah kedai dan hutannya yang membuatku penasaran, tetapi karena para penghuni dan pengunjungnya. Aku tak tertarik dengan topeng yang mereka kenakan, tetapi tertarik dengan pendar cahaya yang berfluorosens dari balik kostum tipis mereka. Terletak di dada dekat tulang iga hingga ke bagian abdomen. Mirip dengan fluorosens yang kupunya. Sel-sel fluorosens yang selalu ingin kumusnahkan dan kusembunyikan dari siapa pun, bahkan dari ibuku. Aku tak ingin dia bersedih, menyangka telah melahirkan alien di muka bumi.
Dua tahun sudah aku menemukan kedai itu. Dengan topeng yang kukenakan, aku menyatu di antara pengunjung. Awalnya hanya ingin mengetahui detak jantung dan raut paras mereka. Apakah seperti aku juga? Tetapi seiring waktu, bukan itu lagi yang kucari. Sejatinya aku mencari keping-keping kristal, tapi tak pungkiri kalau aku telah menjadi penikmat sajian para barista. Lidahku telah terbiasa menyeruput Lekspresso sambil diiringi musik slow rock. Atau menikmati musik orkestra dengan secangkir Laksdoppio yang ditaburi serbuk spicy. Pedas. Membuatku tak bisa terlelap seusai mengecapnya. Terkadang suguhan musik pop dalam denting-denting piano terdengar mengiring lenggok lembut sang barista ketika menyajikan secangkir hangat Ningmacchiato. Membuat pagi seakan terbelah indah. Aku tak mampu melupakan lezatnya rainmocchaciano. Begitu eksotis.
Semua itu yang kurasa, tetapi bukan berarti aku lupa untuk mengumpulkan kepingan kristal yang kubutuhkan. Kristal yang kudapat tak selalu bersih dan jernih. Bahkan seringkali kusam. Tak jarang masih tampak tetesan darah mengering di permukaannya. Tetapi aku punya cara agar kristal tersebut bisa menjadi bening kemilau sebelum kutempelkan pada bingkai.
Begini caranya. Aku akan meletakkannya terlebih dahulu dalam mangkuk kosong. Membiarkannya semalaman di atas rerumputan hijau di tepi telaga sunyi. Aku akan berpesan pada pepohonan agar berkenan meluruhkan embun di sana. Agar butirnya membebaskan kotoran yang masih melekat. Saat fajar tiba, biasanya aku akan menemukan kristal amorf telah cemerlang.
Telah beratus keping mengisi hampir setengah bingkai. Aku bisa melihat refleksi paras dan sebagian tubuhku di sana. Aku meraba setiap lekuknya. Menatap lama pada dadaku yang berfluorosens. Di cermin, ternyata pendar cahaya itu begitu indah. Aku tersenyum menatap langit dari balik jendela. Mengucap syukur atas semua karuniaNya.
Selamat Ulang tahun SepociKopi.Semoga selalu ada satu keping kristal untukku dan semua.
@Z. Lang, SepociKopi, 2012
Z. Lang










Suka…Banget.
kerreeeennn…
dibikin senyum2 bayangin “bentuk” kedainya,
keren… aku jadi imajinasi sendiri, hehe
nice article..
Assalamualaikum Kak Lang,
Hmmm… seharusnya aku sudah drop komen disini sejak awal, but better late than never, I guess
Aku sangat suka bahasa menulismu, halus dan santun. Semoga tulisan ini merupakan kontribusi awal bagi Kak Lang di SK. Menorehkan warna baru di jagad SK raya. Teruslah menulis, Kak. Menulis lagi, yaaa… ^^
Hugs,
Wil
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Mei ini adalah bulan yang sarat dengan perenungan atas hari besar perayaan Pendidikan Nasional dan Kebangkitan Nasional. Bertanyalah pada diri masing-masing: apa arti pendidikan? Apa arti kebangkitan? Dua elemen ini jika digabung, maka akan menjadi dua kata yang dasyat sekali: kebangkitan pendidikan. Jika pendidikan adalah hal yang sangat esensial untuk masa depan, maka apa fungsinya bagi kebangkitan lesbian?
Lesbian, era sekarang adalah era digital. Perubahan sistem pembelajaran dan pendidikan bergeser mengikuti teknologi yang terus bergerak. Demikian juga kesadaran akan penerimaan diri bagi kaum lesbian. Dulu, tubuh lemas dan tak memiliki kekuatan, kini tubuh perlahan-lahan mendapat asupan gizi sehingga menjadi kuat dan sanggup berdiri.
Lesbian, mari bangkitkan diri. Mari hilangkan rasa ketakutan, kesedihan, inferioritas, ketakberdayaan, dan seluruh perilaku negatif yang ujung-ujungnya akan menyeret lesbian menuju kehancuran masa depan. Tidak ada yang tidak mungkin bagi kaum lesbian untuk berdamai dan berbahagia. Kuatkan hati, raih mimpi, teruskan perjuangan. Peluk cium untuk segenap pembaca setia SepociKopi.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments
Switch to our mobile site
Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect. Powered by WordPress | Arthemia theme by Michael Hutagalung 63 queries. 0.529 seconds.