Home » Sepocikopiana, Ulang Tahun

Keping Kristal

26 January 2012 184 views 4 Comments

Oleh: Z. Lang

Baru saja aku menempelkan satu keping kristal amorf pada sebuah bingkai yang menempel di dinding kamarku. Sekeping kristal yang tertinggal saat aku menyeruput habis satu cangkir rainmoccachiano. Satu persatu, kulengkapi bingkai itu dengan keping yang kutemukan di tiap lorong waktu. Aku ingin memiliki sebuah cermin jernih di kamarku yang kosong. Aku ingin bisa melihat jelas paras dan tubuhku.

Dulu, aku selalu mencari keping itu di celah pagi. Di antara bangunan putih yang kerap kukunjungi. Tak pernah mengira aku malah memperolehnya di sebuah kedai kopi. Tak terbersit sekalipun, kalau kopi yang kuteguk bisa meninggalkan ampas berbentuk kristal. Kukira hanya air embun, air hujan, air minum, susu dan air teh saja yang bisa. Ternyata aku salah.

Beratus kepingan kristal kutemukan di dasar cangkir coklat di kedai unik itu. Aku masih ingat ucap sang barista, katanya, “Kau beruntung jika bisa menemukan kristal di dasar cangkir.” Aku tersenyum kecil saat mendengarnya. Bukankah barista selalu begitu? Pandai berkata-kata pada para tetamu yang berkunjung ke tempatnya.

Beberapa kali dalam sepekan, aku duduk menyendiri di salah satu kursi di sudut kedai nan unik. Tidak seperti kafe lainnya, bangunan ini memiliki banyak pintu dan jendela. Dindingnya terbuat dari permen berwarna-warni, ditopang dengan tiang-tiang dark chocolate 80%. Atapnya terbuka, sehingga kita bisa menatap bintang saat malam. Dikelilingi pepohonan dengan dedaunan terbuat dari jelly. Di tengah kedai ada sebuah panggung terbuat dari wafer yang menopang belanga besar. Di sanalah para barista mencampur serbuk kopi dengan air dan bahan lainnya. Selapis tirai terbuat dari bubble gum penuh warna menjadi backdrop panggung. Meja bundar dan kursi terbuat dari karamel yang khusus disediakan untuk para pengunjung. Semua tertata rapi. Seakan ada jemari lentik yang tekun merawatnya.

Kedai dibuka setiap malam. Para pengunjung akan datang berbondong.Duduk memenuhi kursi. Menanti tak sabar aksi para barista idola saat meracik kopi sambil menari diiringi musik warna-warni. Mereka datang dari pelosok negeri. Rela menyusur hutan untuk hadir di sana.

Aku juga penyusur belantara. Dulu aku sempat terbirit ketakutan saat melihat wujud mereka. Namun baru kali, aku merasakan bulu kudukku meremang saat menemukan sebuah kedai kopi di tengah hutan Aku takut. Tiga hari aku demam tinggi. Perempuanku marah dan melarangku bermain-main lagi ke dalam hutan. Tetapi, rasa penasaran mengalahkan rasa takut yang mencekam, sehingga tanpa dia ketahui, aku mengendap keluar. Menyusur rimba kelam.

Bukanlah kedai dan hutannya yang membuatku penasaran, tetapi karena para penghuni dan pengunjungnya. Aku tak tertarik dengan topeng yang mereka kenakan, tetapi tertarik dengan pendar cahaya yang berfluorosens dari balik kostum tipis mereka. Terletak di dada dekat tulang iga hingga ke bagian abdomen. Mirip dengan fluorosens yang kupunya. Sel-sel fluorosens yang selalu ingin kumusnahkan dan kusembunyikan dari siapa pun, bahkan dari ibuku. Aku tak ingin dia bersedih, menyangka telah melahirkan alien di muka bumi.

Dua tahun sudah aku menemukan kedai itu. Dengan topeng yang kukenakan, aku menyatu di antara pengunjung. Awalnya hanya ingin mengetahui detak jantung dan raut paras mereka. Apakah seperti aku juga? Tetapi seiring waktu, bukan itu lagi yang kucari. Sejatinya aku mencari keping-keping kristal, tapi tak pungkiri kalau aku telah menjadi penikmat sajian para barista. Lidahku telah terbiasa menyeruput Lekspresso sambil diiringi musik slow rock. Atau menikmati musik orkestra dengan secangkir Laksdoppio yang ditaburi serbuk spicy. Pedas. Membuatku tak bisa terlelap seusai mengecapnya. Terkadang suguhan musik pop dalam denting-denting piano terdengar mengiring lenggok lembut sang barista ketika menyajikan secangkir hangat Ningmacchiato. Membuat pagi seakan terbelah indah. Aku tak mampu melupakan lezatnya rainmocchaciano. Begitu eksotis.

Semua itu yang kurasa, tetapi bukan berarti aku lupa untuk mengumpulkan kepingan kristal yang kubutuhkan. Kristal yang kudapat tak selalu bersih dan jernih. Bahkan seringkali kusam. Tak jarang masih tampak tetesan darah mengering di permukaannya. Tetapi aku punya cara agar kristal tersebut bisa menjadi bening kemilau sebelum kutempelkan pada bingkai.

Begini caranya. Aku akan meletakkannya terlebih dahulu dalam mangkuk kosong. Membiarkannya semalaman di atas rerumputan hijau di tepi telaga sunyi. Aku akan berpesan pada pepohonan agar berkenan meluruhkan embun di sana. Agar butirnya membebaskan kotoran yang masih melekat. Saat fajar tiba, biasanya aku akan menemukan kristal amorf telah cemerlang.

Telah beratus keping mengisi hampir setengah bingkai. Aku bisa melihat refleksi paras dan sebagian tubuhku di sana. Aku meraba setiap lekuknya. Menatap lama pada dadaku yang berfluorosens. Di cermin, ternyata pendar cahaya itu begitu indah. Aku tersenyum menatap langit dari balik jendela. Mengucap syukur atas semua karuniaNya.

Selamat Ulang tahun SepociKopi.Semoga selalu ada satu keping kristal untukku dan semua.

@Z. Lang, SepociKopi, 2012

Z. Lang

4 Comments »

  • aderain said:

    Suka…Banget.

  • legendre said:

    kerreeeennn… :D
    dibikin senyum2 bayangin “bentuk” kedainya,

  • mizu said:

    keren… aku jadi imajinasi sendiri, hehe
    nice article.. :)

  • Wil Twilite said:

    Assalamualaikum Kak Lang,

    Hmmm… seharusnya aku sudah drop komen disini sejak awal, but better late than never, I guess :)

    Aku sangat suka bahasa menulismu, halus dan santun. Semoga tulisan ini merupakan kontribusi awal bagi Kak Lang di SK. Menorehkan warna baru di jagad SK raya. Teruslah menulis, Kak. Menulis lagi, yaaa… ^^

    Hugs,
    Wil

Leave your response!

Ruang komentar adalah ruang yang memberikan perhormatan tinggi kepada kaum lesbian. Silakan gunakan kata "lesbian" atau "lesbi" dengan tepat, bukan dengan kata-kata lain yang melecehkan. Komentar dengan bahasa alay, singkatan, dll, tidak diperkenankan. Terima kasih.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.