Home » Tajuk

Tajuk: Usia Kesadaran Seksualitas dan Kita

24 January 2012 369 views 10 Comments

Oleh: Nuha Guwa

Gue punya pacar cowok tapi sering berfantasi ciuman dengan cewek. Saya baru sadar saya lesbian setelah saya punya dua anak. Katanya kelesbianan bisa dicegah, tapi tak bisa diobati benar nggak sih? Ada yang punya pertanyaan yang sama dengan pernyataan teman lesbian yang masuk ke e-mail redaksi SepociKopi itu? Berapa usiamu ketika menyadari dirimu lesbian? Apakah usia mempunya faktor signifikan terhadap homoseksualitas?

Konon usia dalam stigma yang ada memiliki pengaruh luas terhadap berbagai aspek kehidupan. Umur juga merupakan salah satu indikator penting dalam mengukur tingkat pendidikan, kinerja di perusahaan, kesehatan, gaya kepempimpinan, dan lain-lain. Bagaimana dengan orientasi seksual?

Menurut banyak penelitian, orientasi seksual di Indonesia boleh dibilang lebih besar dipengaruhi lingkungan, meskipun setiap orang memiliki gen feminin dan maskulin dalam dirinya. Dengan kata lain, pengaruh lingkungan lebih hebat dari gen, termasuk mengenai kecenderungan orientasi seksual tadi. Meskipun terasa diri sebagai lesbian karena kepatuhan pada orangtua ia memilih menikah dan menutupi kelesbianan tersebut sehingga kelesbianannya terkungkung oleh adat istiadat dalam keluarga tadi.

Dari banyak penelitian ilmiah yang dilakukan oleh pakar seksual, orientasi seksual ternyata tidak hanya terbentuk pada masa pubertas. Meski sudah menikah dengan pria sekalipun, wanita heteroseks bisa menemukan bahwa dirinya ternyata lesbian, dan ini bisa terjadi di usia matang atau usia 30-an tahun ke atas. Contoh kasus yang populer adalah Cynthia Nixon (43), baru memulai hubungan dengan Marinoni pada 2004. Atau yang lain lagi aktris pemeran Ally McBeal, Portia de Rossi. Setelah bercerai dengan suami prianya di tahun 1999, Portia akhirnya menikah dengan komedian, Ellen DeGeneres 9 tahun kemudian.

Tidak perlu jauh-jauh, dalam keluarga pembaca dan penulis SepociKopi juga banyak perempuan yang menemukan dirinya lesbian setelah menikah. Bukti lain bahwa perubahan orientasi seksual pada wanita bisa terjadi di usia dewasa juga diungkap oleh Lisa Diamond, seorang peneliti dari Utah University. Selama hampir 10 tahun, ia mengamati 100 wanita yang pernah mengalami ketertarikan pada sesama jenis. Hampir semua pasangan lesbian ini dulunya pernah menjalani hubungan sebagai heteroseksual. Ketika usia mereka semakin matang, barulah mereka menyadari ada kecenderungan kuat dalam diri mereka untuk menjadi lesbian

Sebuah studi komprehensif mengenai seksualitas perempuan di pertemuan tahunan American Psychological Association menunjukkan pertumbuhan yang mengejutkan mengenai jumlah lesbian “yang baru sadar belakangan”, yaitu para perempuan yang mengubah seksualitas mereka ketika memasuki usia 30 tahunan. Sementara itu 2/3 perempuan pernah mengalami perubahan kesadaran orientasi seksual. Sebagian berubah dari biseksual menjadi lesbian sejati, sebagian yang lain berubah dari lesbian menjadi heteroseks.

Penelitian Christian Moran dari Northern Connecticut State University  menyebutkan, para lesbian yang  terlambat menyadari identitas dirinya cenderung segan coming out atau menyatakan diri sebagai lesbian. Dikhawatirkan, keluarga dan masyarakat akan memberi respons negatif terhadap pengakuan tersebut. Sebagian lesbian ini pada akhirnya berusaha menutupi kecenderungan tersebut demi mempertahankan keluarga khususnya anak-anak mereka. Sebagian yang lain tidak pernah punya keinginan untuk mengubah preferensi seksualnya sampai memasuki paro baya.

Christian Moran mengatakan dalam penelitiannya juga, ia menemukan banyak perempuan awalnya mengalami trauma psikologis ketika mencoba menyambung kesetiaan mereka pada keluarga, sementara mereka juga tertarik pada perempuan. Sementara beberapa perempuan lain mengakui menyadari sebagai lesbian itu, terasa melegakan.

Dalam contoh sample penelitian, kesaksian seorang perempuan berusia 53 tahun, Lynn Volante menyebutkan, ia terpaksa meninggalkan pernikahannya yang sudah berjalan 16 tahun demi meniti hubungan dengan seorang perempuan. Ia sadar bahwa ia sangat menyakiti keluarganya, tetapi, “Aku tak pernah berniat menyakiti siapa pun. Aku hanya ingin jujur dengan perasaanku sendiri,” ujarnya. Keluarga Volante pada akhirnya bisa menerima keputusan tersebut. Namun, ia mengerti bila ada di antara mereka yang tak bisa memaafkannya.

Menurut Dr Ceri Parsons dari Staffordshire University, Inggris, bahwa orientasi seksual perempuan bisa berubah. Pada saat tertentu perempuan bisa merasa heteroseksual, dan saat yang lain bisa mengidentifikasi dirinya sebagai lesbian. Psikolog yang lain mengatakan bahwa perempuan bisa saling tertarik satu sama lain karena adanya empati sosial dan kemampuan untuk saling mencurahkan perasaan. Perempuan cenderung memiliki hubungan yang dekat dengan perempuan daripada pria dengan pria lain, demikian hasil penelitian Profesor Marilyn Davidson, psikolog di Manchester Business School.

Kajian-kajian di atas memang menarik, kalau boleh disimpulkan secara sederhana ini berarti seksualitas perempuan cenderung lebih mudah mengarah ke homoseksual daripada pria. Dalam dunia homoseksualitas maya di Indonesia, terlihat bahwa beberapa perempuan telah menjalani pernikahan, tetapi kemudian gagal, sebelum akhirnya muncul kecenderungan lesbian dan biseksual pada awal usia paro baya mereka.  Satu hal unik lain, jika jumlah lesbian yang coming out  setelah menikah dan memiliki anak ditambah jumlah lesbian lajang bisa dibilang jumlah homoseksual perempuan angkanya superbombastis dong ya, ini berarti… si anu itu, ibu itu, si tante itu… mungkin saja lesbian….? Atau errr… mungkin juga tidak? But who knows?

@Nuha Guwa, SepociKopi, 2012

10 Comments »

  • carmen said:

    @Nuha Guwa, Ralat untuk paragraf ketiga: Belum ada satupun penelitian pun di Indonesia yang dilakukan untuk mengetahui kebenaran klaim bahwa orientasi seksual lebih banyak dipengaruhi lingkungan daripada gen –> ini cuma opini banyak experts. Jadi aku ga tahu info ini dapatnya darimana. Bahkan untuk kalimat ketiga (yang menurut opiniku memang banyak terjadi), belum ada studi kuantitatif sistematis yang menilik hal tersebut. Jadi sebaiknya pernyataan-pernyataan tersebut mungkin lebih dirujuk sebagai suatu “kemungkinan” daripada suatu “fakta”.

    Thanks ya, menarik banget topik kali ini untuk diskusi

  • a Lang said:

    Tajuk yang menarik untuk didiskusikan lebih lanjut. Tetapi mohon maaf sebelumnya@ Carmen, mungkin kata belum ada harus dibuktikan juga lewat penelusuran di berbagai perpustakaan di seluruh Indonesia. Jika yang dimaksud belum ada adalah karena belum ada jurnal yang dipublish lewat internet maka harus kita akui kalau peneliti kita masih tertinggal dengan peneliti di luar negeri. Kadang saya masih menemukan di perpustakaan beberapa Perguruan Tinggi, jurnal-jurnal, skripsi, tesis yang belum dipublish. Teronggok begitu saja padahal bagus-bagus.

    Lagipula terlepas itu hasil penelitian atau opini para ahli saya pikir saat beropinipun para ahli tetap memiliki acuan ilmiah. Selain itu studi tentang pengaruh lingkungan terhadap perilaku baik secara umum maupun spesifik terhadap orientasi seksual sudah dilakukan beberapa ahli. Khusus di Indonesia mmg hal ini perlu didalami lagi, mengingat belum terbukanya masyarakat Indonesia thd hal ini. Sehingga mungkin saja penelitian tsb dilakukan secara tertutup. Tidak dipublikasi.

    Selain itu tak perlu dipungkiri kalau lingkungan memang memiliki pengaruh terhadap perilaku seseorang.
    Dan yang menarik jika dikaji lebih mendalam lagi lewat berbagai ilmu (epigenetik, biomolekular dsb) sesungguhnya lingkunganpun telah memberikan pengaruh sejak gen itu dibentuk dan diturunkan.
    Pembahasan lebih mendalam lewat berbagai disiplin ilmu akan membuat hal ini semakin mantap didiskusikan !!

    Buat Nuha, Carmen, SK dan pembaca. Bravo semua!!

  • Ntan said:

    Kalau di kaji semakin membingungkan buat saya. Kadang saya juga berfikir mungkin aja suatu hari kecendrungan lesbian yg saya alami sekarang bisa berubah menjadi Hetero.

    Aarrgghh….
    Jadi untuk saat ini saya Jalani saja lah sesuai hati.

  • carmen said:

    @A Lang, Yup saya berani bilang bahwa BELUM ADA. Tentu ada alasan/rationale mengapa saya berani mengklaim hal ini (bahwa klaim “di Indonesia faktor lingkungan lebih besar dari gen” adalah ceroboh). Paling sedikit ada dua alasan:

    1. Contoh, penelitian yang berurusan tentang genetik (coba lihat di paragraf ketiga) khususnya, perlu biaya yang tinggi dan prosedur yang lama (contoh, studi yang melibatkan banyak populasi anak kembar (ini yang paling standar)). Jadi nyaris tidak mungkin studi seperti ini tidak dipublikasi. Dan, dari awal aja, siapa yang mau membiayai di Indonesia ini? Hehe.

    2. Selain itu, kalau dibilang untuk populasi “di indonesia lebih besar pengaruh lingkungan daripada genetik” ini juga hati-hati. Lagi-lagi, klaimku berdasarkan logika adalah, belum ada penelitian studi komparasi dengan populasi homoseksual dari negara lain. Kalaupun ada, sangat tidak logis kalau tidak dipublikasi, walau hasilnya hipotesis nolnya diterima.

    Jadi walaupun ada kemungkinan bahwa ada studi-studi tentang homoseksual teronggok begitu saja diperpustakaan universitas-universitas dalam negeri, nyaris mustahil penelitian-penelitian tersebut merambah ke studi tentang faktor penyebab homoseksual. Selain karena faktor biaya, dukungan pemerintah/dewan etika, sumber daya manusia tentang metodologi penelitian yang seperti ini juga sangat penting dalam kesuksesan penyelenggaraan penelitian.

    Tentang expert, hehe, untuk kasus ini, saya tidak yakin yang dikatakan oleh “expert” ini berdasarkan acuan ilmiah, terutama dalam soal nature vs nurture. Tidak dipungkiri penyebab homoseksual, dua faktor tersebut berpengaruh (nature and nurture), tapi dalam hal “teori lingkungan lebih besar daripada gen di Indonesia” adalah opini yang ceroboh. Hehe dalam hal ini saya tidak takut mengkritisi para ahli di Indonesia, maupun di manapun.

    Dalam hal ini pun, saya pikir akan baik bila penulis menyebutkan sumber klaim yang kontroversial ini. Lalu bisa dibahas bersama. Misalnya tentang metodologi, atau bahasan tentang integritas para ahli.

    Salam kenal yaaa A Lang… Dibales lagi yaaaa komenku :D

  • a Lang said:

    @ Carmen, salam kenal juga ya.
    Menarik sekali bisa saling berdiskusi tentang hal ini. Sehingga apa yang kita ketahui dan yakini bisa saling melengkapi. Bagi saya apa yang disampaikan oleh Carmen tidak salah, begitu juga apa yang ditulis oleh penulis. Dasarnya seperti ini:

    1.Di paragraf ketiga: Menurut banyak penelitian, orientasi seksual di Indonesia boleh dibilang……: Adanya Kata ‘boleh dibilang’ inilah yang menurut saya sah-sah saja penulis menuliskan hal ini. Ini adalah asumsi yang dijadikan titik tolak untuk berpikir dan pendapat tetapi asumsi yang bukan aksioma. Kata ‘boleh dibilang’ (menurut saya) sebuah asumsi yang harus dilanjutkan dengan penelitian berikutnya. Menurut ahli, Asumsi adalah salah satu ciri metode keilmuan yang bisa menjadi sarana proses penalaran yang miskin/kurang akan data. Dimana 3 Asumsi bisa menjadi suatu metodologi keilmuan yakni asumsi dengan obyek keserupaan,0byek nisbi dgn jangka waktu, obyek kausalitas

    2. Yang berikutnya, penelitian yang disebutkan disini kan tidak berarti suatu penelitian yang bersifat eksakta.Bisa penelitian sosial atau psikologi terapan. Penelitian bisa juga dilakukan melalui gejala yang terlihat.Apabila itu memenuhi kriteria metodologi penelitian / metode ilmiah kenapa tidak ?

    3.Kata klaim di Indonesia, bagi saya pun tidak menjadi masalah, konsep metode ilmiah menurut yang saya baca dan ketahui tidak harus melalui komparasi. Bisa melalui imajinasi, deduksi, investigasi. Walau idealnya ada suatu studi komparasi.Tetapi bukan berarti itu salah.

    Nah kalau penelitian yang dimaksud Carmen harus ideal. Bisa dibilang hampir tidak ada satupun peneliti di di muka bumi yang mampu menerapkan hal tersebut. Bahkan penelitian eksakta ketika harus bicara manusia, nyatanya banyak dikerjakan secara in vitro tidak in vivo atau seringkali lewat uji terhadap hewan.Bahkan untuk kuantitatifnya menggunakan statistika kan??
    Dan dengan hal ini bukan berarti kita meniadakan hasil-hasil penelitian para ahli tersebut. Disinilah ilmu dan pengetahuan berkembang. Disini pula menunjukkan ada keterbatasan manusia.
    Bahkan yang kita sebut fakta sekalipun, besok bisa saja berubah. Karena faktapun terkukung oleh ruang dan waktu.

    Bagi saya pendapat di atas tidaklah ceroboh, hanya menarik untuk didiskusikan lebih lanjut.
    Bahkan definisi Nurture pun masih byk dipertanyakan dan diperdebatkan.Bukankah memang seperti itu hakikatnya. Kebenaran ilmu pengetahuan bersifat relatif.

    Buat carmen salam kenal. You are great!!. Sebenarnya byk yang ingin diungkapkan tetapi gak enak sama Nuha, ruang komennya diisi dengan diskusi kita. Hahahaha.
    Pendapat saya diatas bersumber dari pendapat orang lain lewat pustaka yang saya baca tetapi saya gak tuliskan disini (krn bukan karya ilmiahkan?)dan saya sepakat dgn mereka untuk saat ini.

    Buat SK,Nuha, Carmen. Bravo!!!.

  • Lakhsmi said:

    Dear Carmen dan a Lang,
    Inilah ruang komen yang selalu aku rindu dan angan-angankan sejak SK masih bayi. Ruang komen yang diisi dengan perdebatan intelektual pro-kontra atau sekadar diskusi serius atas tulisan. Kalian memberikan contoh luar biasa! Seharusnya pembaca SK di luar sana bisa belajar dari kalian berdua bagaimana berdiskusi secara utuh dan intelektual tanpa harus sepakat satu sama lain, berjalan dengan cerdas, tidak dangkal, dan mempunyai perilaku juara untuk saling menghargai.

    Pada dasarnya, aku tidak butuh pembaca SK yg setuju dgn semua tulisan di sini, apalagi tulisanku. Debatlah tulisan-tulisan di sini kalau memang perlu didebat. Namun semua harus pandai berpendapat, berani menyatakan pemikirannya dengan tata cara yang elegan dan intelek. Mereka yang terintimidasi dan merasa diri kalah sebelum memulai sebaiknya belajar dari Carmen dan a Lang bagaimana berdiskusi sambil ttp bangga, yakin, percaya diri, dan menyingkirkan perasaan emosi yg mengacaukan pemikiran.

    Kritik bukan selalu penghakiman. Ketidaksetujuan bukan selalu penyerangan kepada sesama sista. Menjadi intelektual bukan selalu ruang pamer untuk penyombongan diri. Berpikir dan berpendapat bukan selalu kesalahan. Mengatakan tidak setuju kepada lesbian lain bukan selalu berarti memusuhi atau perpecahan, apalagi diskriminasi sesama lesbian. Lakukan dengan tutur bahasa yg baik, tertib, cerdas, dan ilmiah; maka kita semua akan belajar menjadi lesbian yang proud dan hebat!

    Jika komen bisa dilanjutkan, silakan dilanjutkan Carmen, a Lang, dan semua pembaca SK.

    *Lakhsmi

  • carmen said:

    Haloooo,

    Wah senangnya dibalas sama A Lang, kecup cium untukmu! haha. Aku juga jadi belajar nih. Thanks Lakhsmi untuk komennya yag super nice..!

    Iya aku yakin bu Nuha ga keberatan kita komen-komen sampai sepuasnya, a Lang, kan berkaitan dengan isi tulisan.

    Aku menambahkan, ya.

    1. Yup, asumsi sih boleh saja; namun yang kuanggap ceroboh adalah bukan asumsinya per se, tapi bahwa pernyataan tersebut ditulis seolah-olah merupakan “fakta” padahal kan itu cuma asumsi yang mengarah ke opini karena tidak ada data (bukan “kurang” data, ya; karena memang beneran belum ada data yang dikumpulkan secara sistematis di Indonesia).

    2. Penelitian sosial pun sifat sains-nya bisa tidak kalah dengan penelitian ilmu pasti lainnya; karena
    metodologinya memungkinkan untuk menjadi “eksak”. Jadi saya tidak yakin maksudnya “penelitian eksakta” versi a Lang ini yang mana. Tapi overall saya setuju bahwa penelitian juga dilakukan melalui gejala yang terlihat —> Informasi ini jadi relevan kalau dikaitkan dengan penelitian yang mencari “faktor penyebab homoseksualitas”. Yaitu, bahwa penelitian jenis ini biasanya dilakukan interdisipliner; kebanyakan gabungan antara penelitian biologi (biasanya genetik) DAN penelitian sosial sains (biasanya psikologi). Jadi kalau baca tentang penelitian yang ingin mengetahui faktor penyebab, biasanya penggabungan dua subyek ilmu tadi. Hal ini logis, karena yang ingin diketahui adalah komparasi antara pengaruh genetik (biologis) dan lingkungan (perilaku yang terlihat/medis misalnya hormon saat di janin ibu): yaitu mana yang lebih berpengaruh. Perhatikan deh asumsi yang dianggap fakta oleh penulis tentang “faktor penyebab homoseksualitas” di Indonesia.

    3. Kalau tidak ada komparasi untuk membandingkan dua hal tadi, investigasi lainnya seperti apa yang obyektif? Sampai sejauh mana “self-report” baik dari orangtua maupun individu bersangkutan bisa divalidasi kalau hanya dengan melihat satu sisi (lingkungan) saja? Dari sini jadi jelas bahwa yang saya permasalahkan adalah asumsi tentang “faktor penyebab homoseksualitas”; bukan hanya penelitian sembarang yang berkaitan dengan homo.

    4. Yup saya sangat sangat setuju sama a Lang bahwa tidak ada penelitian yang ideal. Bahkan saat
    membuat laporan penelitian pun, setiap (!!) penelitian pasti menyebutkan kelemahan mereka (biasanya di bagian diskusi; bagian akhir). Terlepas dari kelemahan penelitian, yang bisa dilihat adalah soal “trend penelitian” yang sejatinya berlangsung terus menerus, dari satu penelitian ke penelitian lainnya yang banyaknya ratusan, mungkin bahkan sekarang mencapai ribuan soal “faktor penyebab homoseksualitas”. Satu penelitan memvalidasi penelitian lain, memodifikasi, menutup kekurangannya. Dari “trend penelitian”, diharapkan ada secercah petunjuk soal kebenaran. Trend tersebut kesimpulannya yang kutangkap adalah, bahwa dua faktor (genetik dan lingkungan) sama-sama berpengaruh. Tidak ada faktor yang lebih hebat dari yang lain; hasilnya sama, lintas kultur (ya… kecuali data dari Indonesia belum ada).

    5. Tentang expert yang merujuk opininya yang ceroboh tadi (hahaha), mengapa saya
    sangat concern? Karena jika ada experts yang ditanyai sesuatu di bidang ilmunya, maka yang disampaikannya ke masyarakat bukanlah informasi “opini bapak A” tapi “rujukan bapak A sebagai informan ilmu”; jadi tidak bisa sembarangan kan? Integritasnya mana? Ceroboh sekali merujuk soal faktor penyebab homoseksualitas di Indonesia seolah-olah beda dengan populasi dari negara lain, padahal faktanya adalah tidak ada data.

    Akan senang sekali kalau ada yang mau mengarahkanku ke sumber data ajaib ini (a Lang, please?), karena aku kan nulis di SepociKopi, jadi musti up-to-date dong; biar bisa berbagi ke yang lain.

    Makasi yaaaa :D a Lang, dibalas lagi yaaa komenku hahahaha

  • a Lang said:

    hmmm, asyiknya berdiskusi kali ini, di pojok SK. Udah dapat sajian hangat secangkir kopi, dapat sajian pengetahuan plus dapat kecup cium pula. Aduuuh asyiknya..bikin saya bingung deh mau nulis apa(garuk-garuk kepala akh)…hahahaha.
    Sebelumnya, buat Lakshmi, terimakasih atas komennya ya.. Semoga komen tsb bisa menjadi sarana penyemangat kita untuk terus berpikir kritis dan produktif.

    Buat Carmen mau menambahkan sedikit saja ttg komen terbarunya. Kalau saya perhatikan semakin kita berdiskusi saya semakin melihat ada perbedaan titik pandang terhadap apa yang kita bahas.Terutama di dalam paragraf ke tiga yang dipermasalahkan oleh Carmen. Carmen lebih menitikberatkan kebenaran pernyataan itu yang harus dibuktikan dengan data sehingga bukan Fakta.
    Kalau saya menilai bahwa kalimat itu masih cukup informatif. Masih bisa memiliki nilai fakta.
    Kalaupun mengkritisi di paragraf tersebut saya hanya menggarisbawahi kata ‘hebat’pada kalimat “Dengan kata lain pengaruh lingkungan lebih hebat dari gen. Sedangkan kalimat yang lainnya saya menilai masih wajar dan layak dituliskan. Alasannya begini :

    1. Pada kalimat pertama, Penelitian yang dilakukan di sini bisa saja memang ada. Penelitian tersebut bisa saja dibuat dengan kerangka konsep berdasarkan teori atau penelitian atau pendapat para ahli mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi orientasi seksual. Yang di amati adalah gejala. Lalu kerangka konsep tersebut dibatasi dan dititikberatkan pada variabel tertentu. Misalnya pengaruh lingkungan. Lewat survey pertanyaan atau hal lainnya terhadap variabel2 yang ada dan dinilai memiliki validitas bisa mewakili untuk bisa mendapatkan informasi ttg hal tsb. Nah jika konsep ini dikembangkan dengan dasar penalaran deduksi. Premis-premisnya positif lalu kesimpulannya positif, maka hasilnya bisa dinilai valid.

    Singkatnya Boleh gak sih variabel2nya dibatasi lewat pertanyaan2. Bukan observasi.
    Setau saya metode penelitian tidak melulu harus observasi secara langsung. Jika boleh saya balik pertanyaan apakah penelitian yang tidak lewat observasi itu tidak ilmiah?, tidak memiliki validitas?, bukan fakta?. Nah disinilah proses penalaran kita diuji.

    Ketika saya membaca kalimat pertama di paragraf ketiga tersebut saya tidak langsung menilai bahwa hal itu bukan fakta berdasarkan pengetahuan saya ttg metode penelitian di atas dan berdasarkan teori dan penelitian yang memang telah saya ketahui tentang pengaruh lingkungan dan gen terhadap manusia dalam banyak hal. Logika di pikiran saya langsung bekerja secara deduktif terhadap informasi yg saya baca tersebut.
    Saya pun membandingkan dengan logika empiris saya saat merenungkan kejadian-kejadian alam dan disekitar saya. Lalu menghubungkan dengan teori tentang genetik yang saya ketahui. Dan juga tentang pengaruh lingkungan terhadap manusia dan mahluk hidup lainnya.
    So saya masih bisa mentolerir alinea tsb.

    2. Mengenai kata di Indonesia yang harus ada komparasi. Bagi saya kembali jika bicara tentang metodologi penelitian kata tempat tidak harus komparasi. Bisa saja investigasi.
    Contohnya jika ada judul penelitian spt ini(ini hanya contoh) : Analisis terhadap faktor-faktor penyebab perilaku menyimpang anak jalanan di kota A . APakah saya harus bandingkan juga dngan kota B? Bagi saya tidak harus walau idealnya ada.

    Disinilah mungkin titik pandang kita agak berbeda. Carmen lebih menitik beratkan pada kebenaran atau fakta berupa data di alinea ketiga. Tapi bagi saya bukan pada hal tsb. Saya masih bisa menerima kewajaran penulisan di paragraf ketiga, masih informati (kecuali kata’hebat’. Karena kata hebat menunjukkan signifikansi). masih bisa mentolerir karena ini sebagai sarana pengantar penulis pada pokok utama tajuk tersebut mengenai usia kesadaran seksualitas.

    Mengenai ada tidaknya penelitian,bagi saya munkin saja ada tetapi saat ini masih ditemui byk keterbatasan.

    Sesungguhnya ada beberapa hal yang menarik yang saya dapatkan dari tulisan tajuk di atas. mungkin lain waktu ingin disampaikan

    OK carmen makasih ya atas tanggapan dan kecup ciumnya. Dua-duanya terasa begitu luarbiasa…..hahahahaha.
    ..

    Buat Nuha, SK dan Carmen . Bravooo!!

  • nuhaguwa said:

    Terharu sekali, tulisan saya dibahas sedemikian ilmiah. Betul kata Mbak Lakhsmi, kita rindu debat-debat bermutu seperti ini. Sangat menambah wawasan saya. Terima kasih. Semua masukan akan jadi catatan di tulisan yang lain.

    Salam. Nuh.

  • Wil Twilite said:

    Aku suka sekali membaca tajuk Nuha ini. Sangat informatif. Ditambah adanya perbedaan pendapat yang didiskusikan secara smart oleh Carmen dan a Lang, semakin menambah khazanah pengetahuan yang lebih luas lagi berkenaan dengan tulisan inti. Serta menampilkan sisi intelektualitas kaum lesbian.

    Bahkan sampai ada pujian dari Lakhsmi. Luar biasa sekali. Berharap kelak akan “menjamur” komen-komen yang berkualitas seperti ini di tulisan-tulisan SK. Sehingga SK tidak hanya merupakan rumah yang nyaman bagi kaum lesbian semata, tetapi juga tempat sharing dan berbagi ilmu bagi semua pembacanya.

    Standing ovation for you all. Can’t wait to read another smart comment or discussion like this on SK ^^

    *) sorry telat komen buat tulisan ini

Leave your response!

Ruang komentar adalah ruang yang memberikan perhormatan tinggi kepada kaum lesbian. Silakan gunakan kata "lesbian" atau "lesbi" dengan tepat, bukan dengan kata-kata lain yang melecehkan. Komentar dengan bahasa alay, singkatan, dll, tidak diperkenankan. Terima kasih.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.