Home » Partnership, Relationship, Sepocikopiana

Commitment Phobia

19 January 2012 260 views 9 Comments

Oleh: Cleo Andromeda

Apakah Anda mempunyai fobia terhadap sesuatu? Pasti setiap orang mempunyai ketakutannya masing-masing, entah pada serangga, ruangan gelap, atau mungkin pada makanan tertentu. Secara umum, fobia adalah rasa ketakutan yang kuat (berlebihan) terhadap suatu benda, situasi, atau kejadian, yang ditandai dengan keinginan untuk menjauhi sesuatu yang ditakuti itu. Orang menjadi fobia terhadap sesuatu karena merasa sesuatu ini akan menyakitinya atau memiliki trauma tersendiri terhadap sesuatu ini.

Bagaimana dengan fobia terhadap komitmen? Pernahkah punya pengalaman berurusan dengan orang seperti ini? Atau mungkin Anda sendiri adalah orang dengan fobia terhadap komitmen?

Menurut Cambridge Advanced Learner’s Dictionary, Anda disebut berkomitmen jika “Ketika kita mau memberikan waktu dan energi untuk sesuatu yang kita yakini, atau sebuah janji, atau sebuah keputusan bulat untuk melakukan sesuatu.” Semua orang mempunyai keterbatasan waktu dan energi, tetapi dengan berkomitmen yang baik, waktu dapat “dibuat” dan energi dapat “dikumpulkan”. Berkomitmen—entah dalam hal pekerjaan, pendidikan atau dalam sebuah hubungan—bukanlah hal yang mudah, tapi setiap orang harus belajar untuk itu.

Ketika komitmen dianggap sebagai sebuah pengikat, mungkin inilah yang membuat orang menjadi takut akan sebuah komitmen. Membayangkan sebuah ikatan yang akan dihadapi di depan ketika membuat komitmen itu rasanya seperti membayangkan berada di sebuah ruangan sempit dan gelap. Fiuh, nasib mengidap claustrophobia.

Suatu waktu, aku pernah berdiskusi hebat dengan teman-teman di kampus soal hubungan, soal bagaimana aku tidak mau diikat dan diatur oleh pasanganku nanti, soal bagaimana nantinya aku dan pasanganku akan mendiskusikan dan membuat standar sendiri mengenai seluruh hubungan kami. Bayangkan, aku ingin memiliki hubungan tapi tidak ingin memiliki ikatan. Tiba-tiba saja setelah diskusi itu, seorang sahabat mengajakku berbicara empat mata dan langsing menembakku “Diskusimu kemarin terdengar seperti lesbian. Takut dengan komitmen.”

Deggg! Tahukah kawan, bagaimana rasanya ditembak seperti itu? Dengan gelagapan aku mencoba untuk bertanya dan memperjelas maksud pernyataannya itu. Well, jadi menurutnya, salah satu alasan seseorang menjadi lesbian adalah karena mereka tidak mau berkomitmen dengan laki-laki, karena laki-laki itu brengsek, karena laki-laki itu kasar dan lain sebagainya. Wahai kawan, tahukah kau bahwa perempuan pun banyak yang brengsek? Menjadi homoseksual atau heteroseksual adalah masalah hati, kenyamanan dan pengakuan, terlepas dari urusan seseorang itu fobia terhadap komitmen atau tidak.

Memutuskan untuk membuat komitmen adalah keputusan yang berat dan bukanlah hal yang main-main. Buatku, ketika berani berkomitmen berarti berani menghadapi resiko ke depannya, tetap setia, dan bertanggungjawab. Jika tidak suka dengan standar serius yang umum diikuti orang, maka buatlah standar serius dalam berkomitmenmu sendiri dengan pasangan. Memang susah menemukan pasangan yang bisa diajak serius berkomitmen, apalagi mengikuti komitmen seperti apa yang kamu mau. Ujung-ujungnya, karena begitu inginnya memiliki pasangan dan sedikitnya jumlah kaum lesbian, akhirnya ada yang melepas standarnya demi mendapat pasangan .Lebih baik menunggu kan daripada repot di tengah jalan karena ternyata pengertian terhadap komitmen dalam berhubungan itu berbeda?

Untuk menghadapi orang-orang dengan fobia terhadap komitmen ini sebenarnya gampang. Jangan pernah ‘mengikat’ mereka. Jika dari awal memulai hubungan, tidak perlulah langsung membicarakan masa depan. Sebenarnya ini salah satu hal yang paling ditakuti mereka. Bicarakan saja tentang hal-hal seru yang bisa dilakukan bersama untuk menghabiskan waktu, misalnya menghabiskan sore bersama untuk hunting matahari terbenam. Atau jangan pernah menuntutnya untuk selalu ada 24 jam sehari buat kita, selalu terhubung dengan SMS atau telepon karena dia juga pasti memiliki banyak kegiatan di luar sana. Berikan perhatian secukupnya jangan sampai membuatnya risih.

Selamat menaklukkan manusia yang fobia dengan komitmen!

@Cleo Andromeda, SepociKopi, 2012

9 Comments »

  • Blue said:

    halo Cleo..
    4 – 5 tahun lalu, saat aku baru mulai berani mencari tau tentang dunia Lesbian, seringkali aku mengkatakan kalimat ini pada teman, “Akan ada waktunya aku berhenti menjadi lesbian kemudian kembali hidup normal.” temanku mendengar perkataanku sebagai sesuatu yang bijaksana (maklum sama 2x masih hijau dan bodoh). Seorang temanku lainnya yang sudah mature kemudian pernah bertanya, “Terus kamu mau menikah dengan pria dan berkeluarga?” Tersentak c dengan pertanyaan itu karena jawaban jujur ku adalah, “Duh mending gw hidup selibat deh dari pada merit sama cowo!” Tapi itu dulu dan sekarang aku mengubur kalimat itu dalam peti daftar top ten kalimat terkonyol dalam hidup, ga akan aku ulangi. Kenyataannya saat itu aku hanyalah remaja kurang ilmu dan takut dengan komitmen. Tapi bersyukur lah semakin dewasa banyak hal yang berubah tapi kali ini disertai keyakinan untuk sebuah keputusan hidup yang aku pilih. Sedikit curhat. hehe. Thanx Cleo tulisannya.
    GBU

  • Dejiro said:

    hayy cleo… humpp mungkin aku tipe cewe yang phobia sama yang namanya komitment… pernah ngalamin hal yg bikin phobia … baru kenal, ehh dia malah ngomongin tentang living together-komitmen nd sgala macem, aga risih jugaa siii… ngerii.. baru kenal udah ngomongin gituan.. behhh phobia banget deh gw!!

  • Ross said:

    Yang mungkin juga harus disiapkan adalah stok kesabaran, karena pasti akan dibutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk menaklukkan hatinya.

  • cleoandromeda said:

    @blue: sama2 blue, terimakasih sdh membaca dan membagi cerita :)
    @dejiro: hehe aku jg prnh merasa begitu loh, tp kalo sdh ketemu orng yg tepat yg bisa diajak berkomitmen psti bisa hilang deh phobia komitmen itum krn tiap hari umur semakin bertambah kan, apa gunanya nanti punya hubungan kalo tdk mau berkomitmen :)
    @ross: benar sekali kak, sekalian berlatih kesabaran juga. tp orng yg phobia komitmen ini sebenarnya orng yg sangat bertanggung jawab dan berfikir panjang, krn mereka gk tergesa2 dalam memutuskan utk berkomitmen atau mrk blm menemukan orng yg bisa meluluhkan hatinya saja :)

  • lo said:

    wah, ada juga ya orang yang phobia komitmen, kirain cuma phobia ketinggian, kegelapan, dan semacamnya ;)

  • Ch ! said:

    Banyak alasan buat org yg phobia komitmen, bisa jadi memang belum ketemu org yg benar-benar mmbuat mereka serius untk brsama selamanya atau mungkin jg ada alasan lain..jujur klo aku sih pasti usahain dr awal nanya dl k’dpannya mau gmn, klo dy gak serius mau hidup jd pasangan L..lebih baik pisah dari awal drpd rasa cinta makin mnjadi..

  • defit said:

    Ehm..ada ya ternyata?
    Kebanyakan nemu yang sebaliknya.. :)

  • Wil Twilite said:

    Dear Cleo, tulisanmu menarik sekali. Aku jadi ingin ikutan berpendapat deh.

    Tentang komitmen. Ada banyak faktor yang membuat seseorang enggan, belum mau, atau bahkan tidak ingin membuat komitmen dengan seseorang yang sedang dekat dengannya.

    Menurutku, jika istilah “komitmen” itu terdengar atau terasa begitu berat dan seriusnya, dengan berbagai konsekuensi serta resiko yang menyertainya, mungkin kita bisa menggantinya dengan istilah “aturan main”.

    Begini. Fine, jika dia menyatakan belum siap atau apapun alasannya untuk berkomitmen, tapi kita berdua sudah menjalani hubungan yang eksklusif, dalam arti sudah melakukan semua yang selayaknya dilakukan oleh orang yang berkomitmen atau berpacaran, dan masing2 tidak menjalin hubungan dengan perempuan diluar satu sama lain.

    Namun bagaimanapun, seperti apapun bentuk hubungan itu, namanya juga sesama wanita, tentu saja tetap membutuhkan “kejelasan” bukan…? Jika tidak ingin itu disebut komitmen, tetap perlu ada aturan mainnya. Dibicarakan dari hati ke hati, memastikan bahwa dasar hubungan ini adalah perasaan saling membutuhkan, misalnya. Aturan main disini sebenarnya demi untuk menjaga apa yang telah terbina, ketika komitmen dianggap merupakan suatu tahapan yang lebih tinggi dan serius.

    Hmmm… pernahkah kita berpikir…? Dalam banyak kisah percintaan lesbian, di dunia timur maupun barat, dalam berbagai usia, tak peduli mereka itu masih ABG yang mencari jati diri, perempuan2 usia 20 tahunan, 30 tahunan, bahkan hingga yang mature (40 tahunan) pun, yang memiliki hubungan berlandaskan komitmen yang sedemikian kuatnya (versi masing2 yaa), yang sudah bertahun2 menjalin hubungan bahkan udah tinggal bareng, adopsi anak bareng, dll, toh masih bisa kandas ditengah jalan juga.

    So, mengapa harus begitu takutnya dengan komitmen…? Takut mengikat, terikat dan diikat…? Apakah komitmen itu akan mengikat hubungan percintaan sampai mati…? Tak usah bicarakan dunia lesbian kita secara spesifik. Komitmen dalam pernikahan hetero aja, yang notabene sudah ‘dilandasi’ dan ‘dilindungi’ oleh aturan2 tertulis dengan dasar hukum segala, masih bisa cerai.

    Mari kita sama-sama renungkan lebih mendalam hakikat komitmen itu, lebih secara personal kepada diri kita masing-masing. Sejauhmana hubungan kita dengan ‘someone special’ memerlukan yang namanya komitmen…?

    Jabat erat,
    Wil

  • lvroulike said:

    sepertinya saya jg termasuk dgn phobia ini deh.
    dengar kata komitmen, kayaknya berat bgt. diikat. kesannya ga bebas. ngeri. *mngkn masih ababil kali yah* haha

Leave your response!

Ruang komentar adalah ruang yang memberikan perhormatan tinggi kepada kaum lesbian. Silakan gunakan kata "lesbian" atau "lesbi" dengan tepat, bukan dengan kata-kata lain yang melecehkan. Komentar dengan bahasa alay, singkatan, dll, tidak diperkenankan. Terima kasih.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.