Home » Community and Traveling, Gaya Hidup, Traveling

Community And Travelling: Kayu Aro, Secuil Tanah Surga

Submitted by on 18/01/2012 – 3:00 pm4 Comments | 651 views

Oleh : Stranger Annie

Setelah empat tahun memendam impian dapat berada di perkebunan teh dalam satu hamparan terluas di dunia, akhirnya terwujud juga impian itu pada bulan ini: Agrowisata Kayu Aro, Kab. Kerinci, Jambi. Wow! Happy berat deh pokoknya! Penyuka pelesir ke dataran tinggi, siap-siap packing barang-barang Anda!

Aku dan pacar mendarat di Bandara Internasional Minangkabau, Padang, kemudian bermalam di HW Hotel. Sambil menikmati dinner di lantai 5, kami sangat leluasa memandang ke laut lepas kala mentari terbenam di ufuk barat. Lokasi hotel ini memang dekat sekali dengan Pantai Padang.

Keesokan paginya, Kijang Innova dari perusahaan travel datang menjemput kami menuju Sungai Penuh, Kab. Kerinci, Jambi. Berbekal peta, rute dan waktu tempuh perjalanan yang telah kami pelajari sebelumnya, Sungai Penuh adalah persinggahan pertama. Perjalanan sejauh kira-kira 300 km ini ditempuh selama 6-7 jam melewati Taman Hutan Raya Dr. Muhammad Hatta – Alahan Panjang – Muara Labuh – Taman Nasional Kerinci-Seblat dan terakhir Kayu Aro (Kersik Tuo). Selepas maghrib kami baru tiba di tujuan dan menginap di hotel. Untuk kenyamanan rehat, Hotel Jaya adalah pilihan teratas. Jangan remehkan kota kecil ini. Di sini terdapat gedung megah milik sebuah akademi serta STM standar internasional. Hebat, kan?

Usai sarapan pagi kami meluncur ke Danau Kerinci yang memakan waktu 45 menit. Waduh! Ternyata luas juga Danau Kerinci ini (sekitar 5.000 meter persegi). Danau yang terletak di kaki Gunung Raja dikelilingi pula oleh Pegunungan Bukit Barisan. Udara siang hari itu terasa sejuk disertai hembusan angin sepoi-sepoi. Para remaja, anak-anak dan orang tua yang sedang piknik tampak asyik menikmati pemandangan. Jika merasa jenuh, kita bisa naik perahu yang sekedar berputar-putar di sekitar danau.

Tahukah anda di negara mana perkebunan teh terluas di dunia dalam satu hamparan? Jawabnya: Indonesia. Ya, di agrowisata perkebunan teh Kayu Aro, milik PTP Nusantara 6. Bayangkan, total luas seluruh lahannya mencapai 3.014 hektar *).

Pesona kebun tehnya sungguh menakjubkan. Sangat indah. Mata tak puas-puasnya meraup seluruh panorama dari segala arah. Hijaunya kebun seakan-akan tiada bertepi di bawah kemegahan kaki gunung Kerinci. Gunung berapi tertinggi di Indonesia yang masih aktif ini (3.805 Mdpl) memiliki puncak yang seolah menyentuh langit. Suhu pagi, sore dan malam hari berkisar 17~23 derajat (minimum 5 derajat). Curah hujannya 200 hari per tahun. Pantaslah jika awan mendung dan angin merayap saat kami di sana.

Home stay Family tempat kami bermalam (dibangun tahun 2010) terasa tak mampu mengenyahkan dinginnya hawa dari sore hari hingga subuh hari berikutnya. Padahal, tubuh kami telah terbalut jaket dan selimut tebal. Jendela dan pintu kamar telah tertutup rapat. Udara hanya bias menyusup dari celah bawah pintu. Airnya saja sedingin air kulkas! Ya iyalah, kebun teh ini terletak di ketinggian 1.400 ~ 1.700 Mdpl. Kalau Anda pernah ke kebun teh Malabar di Jawa Barat (1.550 Mdpl) tentunya sensasi di ketinggian 1.700 akan lebih dingin lagi. Oh ya, kalau Anda kuat melawan dinginnya udara, silahkan leyeh-leyeh di teras penginapan selama mungkin. Kami menyerah deh…

Danau Diateh atau Danau Diatas menjadi persinggahan terakhir. Pada pukul 11:30 kami bertolak dari Kayu Aro menuju Danau Diatas, Alahan Panjang, menggunakan Innova perusahaan travel selama empat jam. Diinformasikan, ruas jalan raya dari Muara Labuh ke Alahan Panjang dan sebaliknya berkelok-kelok serta berlubang. Perutku sampai terasa mual. Menjelang sore hari barulah kami tiba dan bermalam di tepi danau sebuah resort yang sangat luas milik sebuah kementerian.

Selain berhawa sejuk, pemandangannya pun sungguh memukau mata. Danau yang letaknya lebih tinggi dari Danau Kerinci ini juga dikelilingi deretan pegunungan Bukit Barisan. Di kejauhan riak gelombang airnya yang biru tampak tenang ditingkahi dua perahu nelayan yang sedang mencari ikan. Kalau Anda pernah mengunjungi danau Singkarak, Kintamani atau Maninjau, menurutku Danau Diatas adalah danau terindah kedua setelah Danau Toba.

Usai subuh, sang pacar menyuntikkan semangat agar bergegas bangun ke luar kamar untuk hunting foto lagi. Padahal di luar masih gelap, berangin, dan dingin! Untuk yang hobi memotret, shoot foto setelah matahari terbit adalah yang terbaik.

Liburan kali ini sukar untuk dilupakan. Obyek wisata di garis khatulistiwa Indonesia amat kaya dengan beragam pilihan. I love Indonesia! Buktinya, pacar sudah menyarankan liburan berikut ke Pink Beach di Pulau Komodo. Oh, tidak!

@Stranger Annie, SepociKopi, 2012

*) Data dari website PTPN 6

  

Tags: , ,

4 Comments »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.