Home » Humaniora, Opini

Trilogi Cinta: I Love Me! (1)

6 December 2011 449 views 6 Comments

Oleh: Carmen dan Lakhsmi

Siapa yang cinta sama pacarnya? Pasti banyak tangan yang mengacung. Siapa yang mengagumi seseorang dari jauh? Banyak juga ya, yang mengacung. Nah, kalau dari skala 1 sampai 10 (1 = tidak cinta; 10 = sangat cinta sekali), berapa level cintamu pada kekasih (atau calon kekasihmu) itu?

Cinta adalah emosi yang melibatkan afeksi dan kelekatan hubungan. Ada berbagai jenis cinta, seperti cinta kepada negara, cinta kepada sesama; tapi cinta yang dimaksud dengan mencintai kekasih adalah mencintai orang lain dengan intim, berkomitmen, dan penuh gairah. Dalam buku “The Art of Loving” disebut bahwa cinta bukan hanya perasaan, tapi juga aksi atau aktivitas.

Eh, untuk pertanyaan di atas, apakah ada yang menjawab dengan angka 9 atau 10? Ini biasanya lesbian yang suka mengatakan pada kekasihnya, “Aku mencintaimu sedalam lautan” atau “Seindah langit biru” atau “Selama-lamanya.” Coba saja membaca blog, Facebook, dan Twitter kepunyaan lesbian yang memiliki pacar. Taruhan, pasti ada rayuan cinta seperti yang tertulis itu!

Sejujurnya, setelah menghabiskan waktu membaca atas nama riset untuk tulisan ini (yah, padahal sebenarnya hanya blog walking atau iseng mengecek linikala Twitter), kami meyakini bahwa cinta lesbian tidak sebesar itu. No way. No, no, no. Tidak mungkin lesbian bisa mencintai kekasihnya sebesar dan sedalam itu! Tidak mungkin. Tidak, tidak, tidak! Loh, kenapa? Karena di antara rayuan maut dan pernyataan cinta yang ngejreng di mana-mana itu, kami menemukan juga banyak teman-teman lesbian yang tidak merasa dirinya sebagai pribadi yang utuh dan berharga.

Sebagai perempuan yang bangga memiliki kapasitas luar biasa hebat dalam hal mencinta (Yeah, we are women, we are potentially great lovers, lesbians), kenyataan di sekeliling kita malah jauh dari itu. Asumsi yang dibanggakan ternyata sifatnya semu. Logikanya, kalau tidak merasa diri sebagai manusia (baca: lesbian) yang berharga, mana bisa menghargai hubungan percintaannya dengan kekasih? Bagaimana bisa mencintai partner sepenuh hati dan dengan penuh rasa syukur kalau tidak pernah mampu mensyukuri keberadaan diri sendiri sebagai lesbian? Mana bisa? Absurd. Cinta lesbian banyak yang setengah-setengah. Cupu. Payah. Garing.

Mau ilustrasi? Kami punya beberapa ilustrasi keren untuk masalah ini. Perhatikan ilustrasi pertama ini….

Irene merasa hidupnya tidak ada bagus-bagusnya. Yang paling membuat hidupnya merasa sengsara adalah waktu dia menyadari bahwa dia menyukai perempuan. Sepertinya semua beban hidup mulai bertumpuk pada saat dia sekolah dan naksir kakak kelas cewek yang cakep banget. Oh
man, alangkah cakep, pinter, keren kakak itu! Tidak ada hari kosong di mana Irene melupakan si kakak. Dia memikirkannya pagi, siang, sore, malam. Semua perasaan campur aduk. Kata yang tepat bagi Irene: Apes! Kalau bagi orang lain, perasaan jatuh cinta memiliki rasa senang, rindu, dan penuh harapan, Irene memiliki campuran emosi negatif, seperti takut ketahuan, melankolis (itu lho, yang suka nangis), tekanan rasa bersalah yang tak bisa dijelaskan, dan merasa diri sebagai orang paling sengsara sedunia. Bagaimana tidak, mana mungkin si kakak kelas mau sama dia! Dia kan cewek gitu lho! Apa kata dunia?!

Sejak saat itu, Irene cenderung jadi susah berkonsentrasi pada apa saja yang dia lakukan. Semua yang dikerjakan menjadi tidak maksimal. Karena perasaan marah atas ketidakadilan di dunia ini pada kandasnya cinta pertama, kedua, dan eh… ternyata masih berlanjut, ketiga, keempat, kelimat, Irene menjadi pendiam, uring-uringan tak menentu, cemburu pada mereka yang asyik bercinta. Mengapa cintanya tidak pernah semulus, sesukses, dan semesra kaum heteroseksual lain? Boro-boro berlanjut, mulai aja belum pernah. Kecian deh Irene.

Suram ya penggambaran tentang hidup dan percintaan Irene? Dimulai dari ketidakmampuan menghargai perasaannya sendiri kepada perempuan lain, akhirnya percintaan Irene selalu memiliki ujung yang gelap gulita. Akhirnyanya, Irene selalu mengambil kesimpulan yang salah ketika mulai naksir perempuan. Akhirnya, Irene meyakini bahwa hubungannya pasti takkan memungkinkan dan bakal berhasil.

Waduh, ini nasty sekali. Irene sendirilah yang memutuskan untuk menjadi tidak menarik di depan calon kekasihnya. Sulit sekali kan kalau tertarik sama orang yang belum apa-apa sudah kelihatan tidak pede, mukanya kusut, jarang bersyukur, merasa ketakutan seperti habis menjadi maling di rumah orang, merasa galau dari ujung ke ujung, dan tidak punya harapan? Si calon pasangan secara intuitif tahu bahwa dia tidak mungkin dipercaya untuk membalas cinta Irene, karena… ya tepat sekali, lesbian! Itu karena Irene sendiri tidak mencintai dirinya sendiri. Cinta Irene setengah-setengah, baik pada si calon kekasih maupun kepada diri sendiri.

Penelitian ini sudah dibuktikan ilmiah dalam ilmu pengetahuan psikologi. Namanya, initial attraction dan ini kaitannya dengan perasaan keamanan diri, kelekatan dengan sesama, dan pengenalan identitas. Aduh, ruweeet! Membingungkan! Mending kita lupakan teori-teori, langsung ke urusan aplikasi kehidupan aja. Begini, kami jelaskan. Karena keyakinan Irene bahwa dia adalah orang paling sengsara sedunia, membingungkan, dan tidak berharga, maka untuk apa dia bekerja keras dan mengejar apa yang dia inginkan? “Nggak ada gunanya, kan! Realistis dan logis saja! Tidak usah bermimpi muluk-muluk! Toh tidak mungkin berhasil!” demikian pikir Irene. Padahal, kalau membaca ribuan artikel di situs SepociKopi dan hasil riset ilmu kejiwaan, pasti Irene tahu bahwa tidak ada alasan bagi seorang lesbian untuk tidak menjalani kehidupan seperti manusia lainnya, bahkan lebih.

Irene sebenarnya mewakili lesbian yang memiliki kegalauan dan kegelisahan yang sama. Banyak lesbian akhirnya menyalahkan dunia atas ketidakadilan yang membuat kita menjadi “korban”, padahal yang mampu menyelamatkan diri sendiri adalah kita loh, bukan orang lain. Terus menerus merasa buruk karena perlakukan dunia akhirnya membuat lesbian tidak sanggup menyayangi diri sendiri dengan sepenuh hati. Jangan salah, akibat “tidak mencintai diri sendiri” tidak bisa dianggap enteng! Bisa merembet ke kualitas individu dan kehidupan personal lesbian. Bisa berpengaruh pada caranya menjalani hidup, hingga ke perlakuan negatif pada orang-orang sekelilingnya. Bisa menghancurkan masa depannya pula. Hiiih, kacau.

Tulisan ini adalah tulisan pertama dari tiga tulisan Trilogi Cinta: I Love Me yang akan kami persembahkan dalam rangka perayaan mencintai diri sendiri sebagai lesbian, yang akan dipublikasikan pada hari Selasa, Rabu, dan Kamis. Sebelum tulisan ini berakhir, yuk kita mulai melihat di depan cermin dan menyayangi sosok yang terpantul di depannya. Kalau bukan kamu yang menghormati diri sendiri, siapa yang bisa menghormatimu? Ingat, Eleanor Roosevelt pernah berkata, “Nobody can make you feel inferior without your consent.”

(bersambung ke bagian 2)

@Carmen, Lakhsmi, SepociKopi, 2011

6 Comments »

  • Jr Pol said:

    So true. I love me; saya cinta diri saya sendiri, sebagaimana saya menjadi dan bersifat. Jika saya tidak mencintai diri saya sendiri, bagaimana bisa saya mencintai orang lain, dan orang lain mencintai saya.

    Ditunggu sambungan tulisannya, cheers. :)

  • Jeje said:

    Artikelnya menginspirasi sekali. Seperti kutipan dalai lama berikut, “If you dont love yourself, you cannot love other. You will not be able to love others. If you have no compassion for yourself then you’re not able of developing compassion for others.”
    Sy akui memang berat ketika disatu sisi kita dihadapkan pada begitu banyaknya hal negatif ttg lesbian tapi kita juga harus menjujung tinggi hal positif yg ada dalam diri, walaupun hanya ada 1 hal baik ttg diri kita, yg mana menurut sy itu tdklah benar krn kita semua unik. Dan bagi sy semua orang adalah peran utama dalam hidupnya, so be happy with yourself. “I love me”. Thanks @carmen @lakhsmi, great article.

  • Jeje said:

    Tidak sabar menunggu I Love Me part 2.. ^^

  • noy said:

    luv carmen n lax
    for this article..
    inspiring!!! :)

  • zul said:

    mulai deh.. menarik banget tulisannya… bikin betah lama2 di SK.

  • ch ! said:

    haha betul banget tuh..dlm kasus irene itu, gmn org atau para lesbian mau suka klo si irene sendiri gak melakukan sesuatu supaya org bisa suka n deketin dy..manusia perlu dirangsang spya ada inisiatif haha *just kidding
    sebenarnya ada kesamaan kaum hetero dan homo dlm menjalin hub. dan klo d’bilang hub. lesbian stgah2, saya gak setuju krn itu trgantung indvidunya jg..

Leave your response!

Ruang komentar adalah ruang yang memberikan perhormatan tinggi kepada kaum lesbian. Silakan gunakan kata "lesbian" atau "lesbi" dengan tepat, bukan dengan kata-kata lain yang melecehkan. Komentar dengan bahasa alay, singkatan, dll, tidak diperkenankan. Terima kasih.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.