Trilogi Cinta: I Love Me! (1)
Siapa yang cinta sama pacarnya? Pasti banyak tangan yang mengacung. Siapa yang mengagumi seseorang dari jauh? Banyak juga ya, yang mengacung. Nah, kalau dari skala 1 sampai 10 (1 = tidak cinta; 10 = sangat cinta sekali), berapa level cintamu pada kekasih (atau calon kekasihmu) itu?
Cinta adalah emosi yang melibatkan afeksi dan kelekatan hubungan. Ada berbagai jenis cinta, seperti cinta kepada negara, cinta kepada sesama; tapi cinta yang dimaksud dengan mencintai kekasih adalah mencintai orang lain dengan intim, berkomitmen, dan penuh gairah. Dalam buku “The Art of Loving” disebut bahwa cinta bukan hanya perasaan, tapi juga aksi atau aktivitas.
Eh, untuk pertanyaan di atas, apakah ada yang menjawab dengan angka 9 atau 10? Ini biasanya lesbian yang suka mengatakan pada kekasihnya, “Aku mencintaimu sedalam lautan” atau “Seindah langit biru” atau “Selama-lamanya.” Coba saja membaca blog, Facebook, dan Twitter kepunyaan lesbian yang memiliki pacar. Taruhan, pasti ada rayuan cinta seperti yang tertulis itu!
Sejujurnya, setelah menghabiskan waktu membaca atas nama riset untuk tulisan ini (yah, padahal sebenarnya hanya blog walking atau iseng mengecek linikala Twitter), kami meyakini bahwa cinta lesbian tidak sebesar itu. No way. No, no, no. Tidak mungkin lesbian bisa mencintai kekasihnya sebesar dan sedalam itu! Tidak mungkin. Tidak, tidak, tidak! Loh, kenapa? Karena di antara rayuan maut dan pernyataan cinta yang ngejreng di mana-mana itu, kami menemukan juga banyak teman-teman lesbian yang tidak merasa dirinya sebagai pribadi yang utuh dan berharga.
Sebagai perempuan yang bangga memiliki kapasitas luar biasa hebat dalam hal mencinta (Yeah, we are women, we are potentially great lovers, lesbians), kenyataan di sekeliling kita malah jauh dari itu. Asumsi yang dibanggakan ternyata sifatnya semu. Logikanya, kalau tidak merasa diri sebagai manusia (baca: lesbian) yang berharga, mana bisa menghargai hubungan percintaannya dengan kekasih? Bagaimana bisa mencintai partner sepenuh hati dan dengan penuh rasa syukur kalau tidak pernah mampu mensyukuri keberadaan diri sendiri sebagai lesbian? Mana bisa? Absurd. Cinta lesbian banyak yang setengah-setengah. Cupu. Payah. Garing.
Mau ilustrasi? Kami punya beberapa ilustrasi keren untuk masalah ini. Perhatikan ilustrasi pertama ini….
Irene merasa hidupnya tidak ada bagus-bagusnya. Yang paling membuat hidupnya merasa sengsara adalah waktu dia menyadari bahwa dia menyukai perempuan. Sepertinya semua beban hidup mulai bertumpuk pada saat dia sekolah dan naksir kakak kelas cewek yang cakep banget. Oh man, alangkah cakep, pinter, keren kakak itu! Tidak ada hari kosong di mana Irene melupakan si kakak. Dia memikirkannya pagi, siang, sore, malam. Semua perasaan campur aduk. Kata yang tepat bagi Irene: Apes! Kalau bagi orang lain, perasaan jatuh cinta memiliki rasa senang, rindu, dan penuh harapan, Irene memiliki campuran emosi negatif, seperti takut ketahuan, melankolis (itu lho, yang suka nangis), tekanan rasa bersalah yang tak bisa dijelaskan, dan merasa diri sebagai orang paling sengsara sedunia. Bagaimana tidak, mana mungkin si kakak kelas mau sama dia! Dia kan cewek gitu lho! Apa kata dunia?!
Sejak saat itu, Irene cenderung jadi susah berkonsentrasi pada apa saja yang dia lakukan. Semua yang dikerjakan menjadi tidak maksimal. Karena perasaan marah atas ketidakadilan di dunia ini pada kandasnya cinta pertama, kedua, dan eh… ternyata masih berlanjut, ketiga, keempat, kelimat, Irene menjadi pendiam, uring-uringan tak menentu, cemburu pada mereka yang asyik bercinta. Mengapa cintanya tidak pernah semulus, sesukses, dan semesra kaum heteroseksual lain? Boro-boro berlanjut, mulai aja belum pernah. Kecian deh Irene.
Suram ya penggambaran tentang hidup dan percintaan Irene? Dimulai dari ketidakmampuan menghargai perasaannya sendiri kepada perempuan lain, akhirnya percintaan Irene selalu memiliki ujung yang gelap gulita. Akhirnyanya, Irene selalu mengambil kesimpulan yang salah ketika mulai naksir perempuan. Akhirnya, Irene meyakini bahwa hubungannya pasti takkan memungkinkan dan bakal berhasil.
Waduh, ini nasty sekali. Irene sendirilah yang memutuskan untuk menjadi tidak menarik di depan calon kekasihnya. Sulit sekali kan kalau tertarik sama orang yang belum apa-apa sudah kelihatan tidak pede, mukanya kusut, jarang bersyukur, merasa ketakutan seperti habis menjadi maling di rumah orang, merasa galau dari ujung ke ujung, dan tidak punya harapan? Si calon pasangan secara intuitif tahu bahwa dia tidak mungkin dipercaya untuk membalas cinta Irene, karena… ya tepat sekali, lesbian! Itu karena Irene sendiri tidak mencintai dirinya sendiri. Cinta Irene setengah-setengah, baik pada si calon kekasih maupun kepada diri sendiri.
Penelitian ini sudah dibuktikan ilmiah dalam ilmu pengetahuan psikologi. Namanya, initial attraction dan ini kaitannya dengan perasaan keamanan diri, kelekatan dengan sesama, dan pengenalan identitas. Aduh, ruweeet! Membingungkan! Mending kita lupakan teori-teori, langsung ke urusan aplikasi kehidupan aja. Begini, kami jelaskan. Karena keyakinan Irene bahwa dia adalah orang paling sengsara sedunia, membingungkan, dan tidak berharga, maka untuk apa dia bekerja keras dan mengejar apa yang dia inginkan? “Nggak ada gunanya, kan! Realistis dan logis saja! Tidak usah bermimpi muluk-muluk! Toh tidak mungkin berhasil!” demikian pikir Irene. Padahal, kalau membaca ribuan artikel di situs SepociKopi dan hasil riset ilmu kejiwaan, pasti Irene tahu bahwa tidak ada alasan bagi seorang lesbian untuk tidak menjalani kehidupan seperti manusia lainnya, bahkan lebih.
Irene sebenarnya mewakili lesbian yang memiliki kegalauan dan kegelisahan yang sama. Banyak lesbian akhirnya menyalahkan dunia atas ketidakadilan yang membuat kita menjadi “korban”, padahal yang mampu menyelamatkan diri sendiri adalah kita loh, bukan orang lain. Terus menerus merasa buruk karena perlakukan dunia akhirnya membuat lesbian tidak sanggup menyayangi diri sendiri dengan sepenuh hati. Jangan salah, akibat “tidak mencintai diri sendiri” tidak bisa dianggap enteng! Bisa merembet ke kualitas individu dan kehidupan personal lesbian. Bisa berpengaruh pada caranya menjalani hidup, hingga ke perlakuan negatif pada orang-orang sekelilingnya. Bisa menghancurkan masa depannya pula. Hiiih, kacau.
Tulisan ini adalah tulisan pertama dari tiga tulisan Trilogi Cinta: I Love Me yang akan kami persembahkan dalam rangka perayaan mencintai diri sendiri sebagai lesbian, yang akan dipublikasikan pada hari Selasa, Rabu, dan Kamis. Sebelum tulisan ini berakhir, yuk kita mulai melihat di depan cermin dan menyayangi sosok yang terpantul di depannya. Kalau bukan kamu yang menghormati diri sendiri, siapa yang bisa menghormatimu? Ingat, Eleanor Roosevelt pernah berkata, “Nobody can make you feel inferior without your consent.”
(bersambung ke bagian 2)
@Carmen, Lakhsmi, SepociKopi, 2011










So true. I love me; saya cinta diri saya sendiri, sebagaimana saya menjadi dan bersifat. Jika saya tidak mencintai diri saya sendiri, bagaimana bisa saya mencintai orang lain, dan orang lain mencintai saya.
Ditunggu sambungan tulisannya, cheers.
Artikelnya menginspirasi sekali. Seperti kutipan dalai lama berikut, “If you dont love yourself, you cannot love other. You will not be able to love others. If you have no compassion for yourself then you’re not able of developing compassion for others.”
Sy akui memang berat ketika disatu sisi kita dihadapkan pada begitu banyaknya hal negatif ttg lesbian tapi kita juga harus menjujung tinggi hal positif yg ada dalam diri, walaupun hanya ada 1 hal baik ttg diri kita, yg mana menurut sy itu tdklah benar krn kita semua unik. Dan bagi sy semua orang adalah peran utama dalam hidupnya, so be happy with yourself. “I love me”. Thanks @carmen @lakhsmi, great article.
Tidak sabar menunggu I Love Me part 2.. ^^
luv carmen n lax
for this article..
inspiring!!!
mulai deh.. menarik banget tulisannya… bikin betah lama2 di SK.
haha betul banget tuh..dlm kasus irene itu, gmn org atau para lesbian mau suka klo si irene sendiri gak melakukan sesuatu supaya org bisa suka n deketin dy..manusia perlu dirangsang spya ada inisiatif haha *just kidding
sebenarnya ada kesamaan kaum hetero dan homo dlm menjalin hub. dan klo d’bilang hub. lesbian stgah2, saya gak setuju krn itu trgantung indvidunya jg..
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Mei ini adalah bulan yang sarat dengan perenungan atas hari besar perayaan Pendidikan Nasional dan Kebangkitan Nasional. Bertanyalah pada diri masing-masing: apa arti pendidikan? Apa arti kebangkitan? Dua elemen ini jika digabung, maka akan menjadi dua kata yang dasyat sekali: kebangkitan pendidikan. Jika pendidikan adalah hal yang sangat esensial untuk masa depan, maka apa fungsinya bagi kebangkitan lesbian?
Lesbian, era sekarang adalah era digital. Perubahan sistem pembelajaran dan pendidikan bergeser mengikuti teknologi yang terus bergerak. Demikian juga kesadaran akan penerimaan diri bagi kaum lesbian. Dulu, tubuh lemas dan tak memiliki kekuatan, kini tubuh perlahan-lahan mendapat asupan gizi sehingga menjadi kuat dan sanggup berdiri.
Lesbian, mari bangkitkan diri. Mari hilangkan rasa ketakutan, kesedihan, inferioritas, ketakberdayaan, dan seluruh perilaku negatif yang ujung-ujungnya akan menyeret lesbian menuju kehancuran masa depan. Tidak ada yang tidak mungkin bagi kaum lesbian untuk berdamai dan berbahagia. Kuatkan hati, raih mimpi, teruskan perjuangan. Peluk cium untuk segenap pembaca setia SepociKopi.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments
Switch to our mobile site
Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect. Powered by WordPress | Arthemia theme by Michael Hutagalung 63 queries. 1.581 seconds.