Home » FabuLezlyCool, Humaniora

FabuLezlyCool: Disayang Seumur Hidup

Submitted by on 09/11/2011 – 1:49 pm5 Comments | 494 views

Oleh: Akapela Violinist

Pernah nggak sih kesel sama orang tua dan pengin kabur dari rumah? Pernahkah berpikir kalau hidup jauh dari orang tua pasti bakal lebih enak daripada hidup bersama mereka? Kalau jawabannya pernah, berarti kita sehati nih.

Orang tuaku baik banget. Yah, susah mencari orangtua yang jahat. Kalau pun acap kali mereka melakukan sesuatu yang kurang menyenangkan kepada anak-anaknya, itu semua semata-mata untuk kebaikan biasanya. Sayangnya, orang tuaku over protective. Ke sana-sini dilarang. Mau ini-itu dibatasi. Sedangkan aku masih tergolong remaja. Remaja kan tingkahnya macem-macem? Suka neko-neko. Nggak heran, hampir setiap minggu aku melihat urat-urat di sekitar leher mereka menonjol dan menegang.

Akhirnya kuputuskan untuk tinggal berjauhan dari mereka. Aku melanjutkan pendidikanku di luar kota. Wuih, mulanya bahagia! Tidak ada cuap-cuap apabila aku telat telat bangun pagi karena bergadang, telat makan, telat beribadah. Tidak ada yang melarangku pulang larut malam. Tidak ada yang merecokiku ketika aku sedang santai dan tak ingin diganggu. Dan, aku bisa mengunjungi kekasih perempuanku nan jauh di sana sesuka hati waktu.

Aku bahagia pada awalnya.

Lambat laun aku merasakan hidup berjauhan dari orang tua tidak semudah dan seenak seperti yang dibayangkan. Hidupku jadi tidak beraturan. Aku memakai seluruh waktu sesuka hati, melakukan kegiatan seenaknya. Aku mencurahkan perhatianku hanya untuk kekasihku. Aku menjadikannya sebagai prioritas numero uno. Sekolah pun terbengkalai. Padahal orangtua sudah susah-susah bekerja mencari nafkah untuk membiayai uang semesteran.

Setengah tahun kemudian, aku mendapat cobaan berat. Aku putus dengan kekasihku. Sekolahku semakin tidak beres, bahkan tak lagi aku pedulikan. Yang ada di pikiranku saat itu hanya si mantan. Aku menghabiskan setengah tahun lagi untuk mengemis kesempatan agar bisa balikan dengan mantan. Persetan dengan sekolah.

Ada satu hal aku selalu ingat. Entah ketika aku senang atau sedih, orangtua akan selalu ada untukku. Saat itu hatiku sedang tidak karuan. Akhirnya, aku mencoba menelepon ibu.

“Halo? Adek?” Aku mendengar suara ibu riang di sana. “Tumben telepon. Lagi di mana nih? Udah makan belom? Kuliahnya gimana?”

Kali ini air mataku menetes.

Orangtua akan selalu ada. Selalu menerima kita, seburuk apa pun kondisinya.

“Semester depan kurangi main-mainnya ya, biar nilainya bagus,” ucap ayah lembut begitu melihat transkrip nilaiku yang hancur. Beliau tidak marah, walau bisa kubaca guratan kecewa di wajahnya. Bagiku, di dunia ini hal yang paling menyakitkan adalah melihat orangtua kecewa.

Orangtua akan selalu mendoakanku di mana pun aku berada. Aku dan mereka berjarak ratusan kilometer, namun aku yakin mereka selalu mendoakanku. Aku masih sehat sekarang. Aku masih baik-baik saja di sini. Kuliahku juga semakin lancar. Semua itu tak lepas dari doa mereka.

Aku bukan tipe anak yang bisa terang-terangan ngomong sayang sama orang tua, tapi bukan berarti aku tidak sayang sama mereka. Sebutlah aku gengsian. Aku hanya mengucapkan sebaris kalimat selamat ulang tahun ketika aku memiliki ribuan doa dan harapan untuk mereka. Aku hanya diam tanpa mengucap maaf ketika aku sangat bersalah, menyesal, dan terluka karena telah menyakiti mereka. Aku bilang masakan ibu biasa saja ketika tak henti-hentinya aku bersyukur karena masih bisa menyantap makanan lezat ala ibu.

Aku kangen orangtuaku. Ingin rasanya bertemu mereka setiap hari seperti dulu sebelum aku pindah ke luar kota. Tapi tentu saja aku harus menyelesaikan dulu studiku di sini. Aku tidaak mau main-main lagi. Aku harus membuat mereka bangga. Kata ayah, “Yang bisa dibanggakan oleh orangtua itu cuma anak, bukan harta!”

Dan sahabatku berpesan, “Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, selagi mereka masih ada.”

Mom, Dad, I will make you proud! I promise you!

@Akapela Violinist, SepociKopi, 2011

  

Tags: , , , ,

5 Comments »

  • Faa Ppuccino says:

    knapa yah kenapaaa.. *icon air mata bercucuran*

  • Archangela says:

    Menginspirasi banget deh.. kebetulan lagi berantem” sama kedua orangtua..
    Thanks ya udah mau share cerita ini. :)

    I do love my dad & mom. <3

  • krishna says:

    semangat vio, you can do it..
    @ avantissimo: be good, be strong and be brave… make it happen bcoz you deserve to be happy though it’s by your own.. :)

  • Avantissimo says:

    Beruntunglah kamu punya ortu yg sebaik itu….
    Dan memang mereka layak kamu bahagiakan, dah seharusnya kamu bahagiakan apapun alasannya….
    Di saat2 tersulit, ingat saja… tdk semua org punya orang tua sepertimu…
    Bersukurlah ayahmu tdk berkata “Selama kamu masih menerima uangku n tinggal di rumahku maka kamu harus tunduk pada perintahku”
    Bersukurlah beliau tdk pernah melecehkanmu dgn kata2 bahwa kamu tdk berguna…
    Bersukurlah kamu tidak pernah harus tinggal di negeri 4 musim yg asing sendirian dengan hanya bermodal nekad dan bbrp helai baju selama sepuluh tahun dengan hati miris dan tanpa bantuan siapapun, walau apapun yg terjadi, sebelum kesuksesan di tangan, pulang adalah kata yang tabu….
    Been there, done that… I am glad you don’t have to go through that…

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.