Home » Humaniora, Noktah Merah

Noktah Merah: Depresi Lesbian, Sekarang dan Dulu

Submitted by on 04/11/2011 – 11:59 am3 Comments | 1,014 views

Oleh: Lakhsmi

Sebelumnya aku pernah menulis tiga artikel yang berkelanjutan tentang depresi dan hubungannya dengan merokok, alkohol, dan bunuh diri (silakan klik). Mengapa depresi? Seperti yang pernah kutulis, menurut Dr. Stephen Goldstone – yang berpraktek di New York khusus untuk kalangan gay mengatakan bahwa depresi adalah penyakit mental yang serius menimpa kaum LGBT. Riset yang dilakukan pada tahun 2000 oleh K-Y Brand Liquid mengatakan bahwa kesehatan jiwa adalah hal nomor satu yang berbahaya, setelah penyakit HIV/AIDS.

Menyadari betapa pentingnya kesehatan jiwa kaum lesbian, aku mulai melakukan pengamatan dengan serius, baik dari hubungan interpersonal-ku dengan teman-teman lesbian; interaksi/komunikasi pribadi sesama lesbian di forum, milis, maupun komen di blog, sampai dengan pernyataan dan pemikiran lesbian yang tertuang di catatan blog/twitter/facebook. Semuanya tentu saja adalah maya, karena dunia maya bagi banyak lesbian semacam tube atau pembuangan saluran kotoran/infeksi yang mengendap dalam hidup kaum lesbian. Selain itu, ternyata SepociKopi juga menjadi tempat bagi banyak sekali mahasiswa untuk melakukan riset/penelitiannya tentang lesbian dan kesehatan mentalnya.

Banyak yang mengira kesehatan mental seperti depresi adalah hal sepele, hal yang dapat diselesaikan hanya dengan mengobrol dengan sesama lesbian atau teman. Namun waspada! Depresi bisa seberbahaya penyakit kanker. Ada di dalam tubuh kita, menggerogoti, menghancurkan, dan membunuh. Depresi bisa memporakpandakan hubungan antar-teman atau antar-lesbian, bahkan menjadi luas sehingga mengganggu pekerjaan, pelajaran, tidur, makan, dan kesehatan umum, seperti diabetes atau penyakit jantung. Yang paling mengerikan: bunuh diri. Tingkat kaum LGBT bunuh diri dilaporkan tinggi dibandingkan dengan kaum heteroseksual.

Dari sejak zaman Romawi Kuno, depresi dianggap sebagai penyakit “tubuh” yang memerlukan penanganan medis, tak membedakannya dengan gangguan mental. Fakta ini tidak diteliti sampai dengan masa modern. Eropa pada abad 17 dan 18 menggunakan istilah “melankolia” untuk menjelaskan aneka spektrum gangguan psikis ini. Orang-orang dengan depresi terkadang terlewat begitu saja dari penanganan dokter. Pada zaman itu, orang-orang yang mengalami delusi, halusinasi, mania akan mengganggu kondisi di kota-kota Eropa yang miskin dan kotor, sehingga solusi satu-satunya adalah dengan “memenjarakan” (alias mengunci) mereka di ruang-ruang tertutup. Padahal, depresi – secara umum – adalah pembunuh yang bekerja dalam diam.

Pada abad itu, bahkan dokter yang melihat dengan jelas kondisi klinis pasiennya yang sangat depresi tidak bisa berbuat apa-apa. Diagnosanya biasanya sederhana, seperti semangkuk sup ayam atau berendam di air hangat. Kadang mereka menganjurkan agar para pasiennya berlibur di pedesaan agar bisa menikmati udara yang lebih segar. Pada abad 17, Rubort Burton menulis buku yakni, The Anatomy of Melancholy. Burton mengatakan melankonlia bisa disembuhkan dengan diet yang sehat, tidur nyenyak, mendengarkan musik, melakukan pekerjaan, dan cuhat kepada teman. Hal ini terus berlanjut sampai ke abad sembilan belas dan dua puluh. Tidak banyak perubahan pada abad itu dalam menyelidiki penyakit kejiwaan.

Setelah akhir perang dunia kedua, penelitian dalam bidang kesehatan mental semakin berkembang dengan cepat. Penemuan-penemuan canggih terus menerus berlanjut, dimulai dari tahun 1928 saintis Otto Loewi menemukan neurotransmitter pertama kali yang dipancarkan oleh otak, bernama acetylcholine. Masih membutuhkan 24 tahun kemudian bagi para peneliti untuk berhasil menemukan serotonin (yang membuat manusia merasakan “bahagia”) dan dopamin (banyak fungsi, salah satunya buat manusia memiliki “motivasi”) di dalam kepala manusia. Sampai pada tahun 1980, saintis sudah berhasil menemukan 40 neurotransmitter di dalam otak manusia.

Pada tahun 1960, obat-obatan herbal mulai menunjukkan keterkenalannya bagi para penderita mental klinis. Di bidang Cognitive Behavior, penderita diajak untuk menyadari bahwa segala tindak tanduk dan pemikiran negatif akan menghasilkan kehancuran, sementara kekuatan pemikiran positif akan membuat pasien menjadi lebih sehat secara psikis. Sampai tahun 2011 sekarang, ilmu kesehatan jiwa masih terus menerus berkembang dan semakin diperbaiki. Sebagai ilmu yang masih “muda”, ilmu ini menarik banyak minat. Para peneliti bergerak dengan cepat, sebab manusia mati bukan saja disebabkan oleh penyakit fisik, tapi juga psikis. Penelitian dan riset bagi kesehatan jiwa bagi kaum LGBT juga mulai menunjukkan titik cahaya.

Sebagai kaum lesbian, kita harus kembali melihat diri kita lagi. Pelajari apa itu depresi dan bagaimana efeknya bagi kita. Lesbian yang depresi akan memiliki pemikiran atau perasaan yang tak berharga (dirinya), merasa dikejar rasa bersalah terus menerus atau penyesalan yang tiada henti, merasa tak berdaya, tak punya harapan, dan membenci dirinya sendiri. Hati-hati, lesbian, jika kita sudah mulai menyimpan pemikiran atau perasaan yang seperti itu, sadarilah, bahwa itu adalah ujung ekor dari depresi. Depresi memiliki banyak spektrum, mulai dari yang paling ringan, sampai yang paling berat sehingga mengakibatkan picu untuk penyakit-penyakit kejiwaan yang lain.

Di bawah ini beberapa tanda-tanda depresi yang sudah mengendap dan menguasai seluruh kesehatan mental. Segeralah cari pertolongan profesional jika dirimu seperti di bawah ini.
1. Membenci diri sendiri, membenci lingkungan sekitarnya, membenci kaum LGBT
2. Merasa selayaknya mati atau dibunuh, karena menjadi lesbian adalah kekotoran/dosa yang tak bisa dihapus
3. Merasa terjebak dengan situasi, putus asa, dan merasa tak punya harapan untuk mengubah nasib
4. Kesepian, merasa tidak memiliki siapa-siapa, merasa tidak dicintai/mampu mencintai
5. Delusi (contohnya, merasa seluruh dunia memusuhi; merasa kaum LGBT adalah kaum jahat yang akan menghancurkan dirinya, bahkan peradaban manusia), halusinasi (tidak jelas antara real vs unreal)
6. Merasa tak memiliki kekuatan untuk menghargai diri sendiri, merasa terpinggirkan, tersingkirkan, ditolak oleh kaum lesbian/masyarakat

Sebagai lesbian, kita memiliki moral dan tanggung jawab untuk membantu lesbian lain yang mengalami depresi. Jika melihat atau mengetahui sahabat lesbian yang memiliki diagnosis seperti di atas tadi, segeralah mengingatkanya tentang bahaya penyakit kejiwaan. Bawalah dia ke situs SepociKopi untuk mendapatkan support group dari sesama lesbian dan menyadari bahwa dia tidak sendirian. Jika ada orang lain yang mem-bully dirinya, tariklah dia dari lingkungan negatif yang membuatnya semakin depresi.

Wahai lesbian, janganlah menganggap enteng depresi. Janganlah membiarkan depresi menjadi kronis. Give Hope Save Lives. Sadari jika tahu, berubahlah jika mengerti, sembuhlah jika sakit, berobatlah jika tak bisa dikendalkan lagi. Jadilah lesbian yang sehat jiwa raga; yang bahagia lahir batin; yang mencintai diri dengan penuh, yang mampu berkarya, bermimpi, bercita-cita, dan bersemangat. Ayo, lesbian, mari jadi manusia unggul yang berguna bagi diri sendiri dan sesama! Katakan ini: I am crazy about myself!

@Lakhsmi, SepociKopi, 2011

Keterangan gambar:

1. Foto Sigmund Freud, pemikir dan peletak dasar psychoanalysis
2. Buku The Anatomy of Melancholy
3. Mari menyelamatkan hidup

  

Tags: , ,

3 Comments »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.