Home » Humaniora, Noktah Merah

Noktah Merah: Gerwani, Hikayat Para Perempuan Perkasa

Submitted by on 30/09/2011 – 7:42 pm10 Comments | 2,983 views

Oleh: Lakhsmi

Dari Tanah Air, sejarah kekuatan feminisme dan lesbian sebenarnya sudah dapat dirinci dan dibaca lewat jejak-jejak langkahnya. Negeri Nusantara sangatlah luas dan memiliki sosial budaya yang sangat beragam, tentu kehidupan homoseksual juga memiliki posisinya yang unik sepanjang masa. Sayangnya, penelitian sejarah homoseksual di negara Indonesia masih sedikit dan lemah, kalau boleh dibilang nyaris tenggelam dan hilang di antara hiruk pikuk penelitian-penelitian lainnya. Literatur, esai, dan catatan tentang kehadiran sepak terjang kaum lesbian di Indonesia tidak memiliki kuantitas dan kualitas yang bersaing dengan sejarah homoseksual di negara-negara lainnya.

Menjelang perayaan 1 Oktober, ingatlah akan sejarah berdarah Republik Indonesia, empat puluh enam tahun silam. Tentang Gerakan 30 September 1965. Tentang Partai Komunis Indonesia. Tentang suatu kekuatan kolektif perempuan yang membuat penguasa terancam. Pernahkan kita mengingat nama ‘Gerwani’ tanpa merinding di zaman Orde Baru ketika di mana pun kita berada kita selalu disuntik doktrin seram “Awas, bahaya laten komunisme!” ?

Ya, Gerwani. Gerwani adalah kuda hitam dalam percaturan arus naik dan turun Indonesia. Gerwani singkatan dari Gerakan Wanita Indonesia, adalah organisasi komunis perempuan di Indonesia yang tumbuh dan hidup dari tahun 1950 sampai tahun 1966. Pada tahun-tahun yang penuh dengan gejolak itu, Gerwani memiliki anggota yang sangat mencengangkan, 650,000 pada tahun 1957. Atas nama Gerwani, penguasa menuduh dan mengidentifikasikan organisasi ini sebagai bagian dan dalang perusuh pertumpahan darah besar pada tanggal 30 September 1965.

Gerwani sering diidentifikasikan dengan Partai Komunis Indonesia, tapi sebenarnya Gerwani adalah sebuah organisasi independen yang merupakan campuran dari gerakan dan pemikiran sosialis dan feminis. Yang diperjuangkan termasuk isu perkawinan, hak-hak buruh, dan gelombang kekuatan nasionalisme. Singkat cerita, setelah gerakan coup d’etat terhadap Presiden Soekarno pada tahun 1965, organisasi Gerwani dihancurkan dan banyak anggota aktifnya dibunuh. Di bawah kekuasaan Orde Baru, organisasi ini distempel sebagai kelompok radikal perempuan yang tidak bermoral bagi keamanan bangsa. Gerwani dituduh sebagai sayap kiri yang melakukan penyelewengan (misalnya melakukan pesta seks liar, memotong kemaluan para jendral, menari telanjang pada malam G30S) dan kontra-revolusi. Sejarah ini ditulis ulang selama berpuluh-puluh tahun, masuk ke dalam seluruh sendi-sendi masyarakat saat penguasa Orde Baru berkuasa.

Kini, marilah kita kembali menilik Gerwani. Bagaimana geliat para perempuan di zaman itu; perempuan-perempuan dengan kekuatan dasyat dalam mengusung kesetaraan feminisme, termasuk kebebasan orientasi seksual? Pertengahan tahun 1950, enam organisasi massa perempuan melebur dalam satu wadah yang disebut sebagai Gerakan Wanita Indonesia Sedar (Gerwis) di Semarang. Program utama Gerwis tentu saja adalah mempertanyakan UU Perkawinan, menggelorakan hak-hak perempuan, dan mengangkat harkat kaum buruh/tani. Di Jakarta, pada bulan Desember 1951, Gerwis mengadakan kongres pertamanya, dan mengubah nama menjadi Gerwani.

Gerwani menentang poligami dan memberikan pendidikan bagi perempuan. Menurut Gerwani, Indonesia harus memiliki Undang-undang Perkawinan yang prinsipnya harus monogami, salah satu program yang diperjuangkan dari sejak organisasi ini terbentuk. Gerwani juga memiliki kelonggaran bagi anggotanya yang memiliki orientasi seksual berbeda. Mereka tidak melarang jika ada anggotanya yang lesbian, namun hanya diperingatkan. Sebab pada tahun 1965, homoseksual masih dianggap penyakit jiwa.

Tris Metty, adalah ketua pertama Gerwis yang diganti ketika diadakan kongres pertama Gerwis Di Yogyakarta. Tris pernah menjadi ketua Rukun Putri Indonesia, salah satu organisasi perempuan dari enam organisasi yang bergabung ke dalam Gerwis. Tris terkenal sebagai lesbian karena dia sangat berterus terang tentang orientasi seksual dirinya. Ada dugaan, dia disingkirkan dari ketua karena dianggap terlalu “lantang”. Sampai sekarang, masih saja ada perdebatan tentang sikap Gerwani terhadap keberagaman seksualitasnya, namun konon disebutkan bahwa ada tiga tokoh perempuan di dalam tubuh organisasi Gerwani yang berorientasi lesbian.

Gerwani memulai organisasinya dari kekuatan 500 ribu menjadi 1,5 juta dan memiliki cabang hampir di semua daerah. Sampai kini, Gerwani tetap menjadi satu-satunya organisasi perempuan terbesar di Indonesia. Belum ada lagi organisasi perempuan modern yang mampu menyaingin anggota Gerwani. Gerwani juga bergabung dengan World Women Democratic Federation, yaitu gerakan perempuan dunia yang demokratis. Tujuannya untuk menciptakan perdamaian.

Gerwani membuka sekolah-sekolah untuk memberantas buta huruf di Indonesia. Seluruh kegiatan Gerwani bertujuan untuk mendidik anggotanya menjadi perempuan yang sadar politik. Perempuan-perempuan ini kemudian didorong untuk merawat dan mendidik rakyat. Pendidikan ini antara lain adalah ceramah dan pertemuan-pertemuan rutin, seperti rapat dan arisan; kursus-kursus keterampilan dan kursus pemberantasan buta huruf maupun pendirian TK Melati. Dalam situasi negara yang baru saja keluar dari perang di tahun 1950, Gerwani mengklaim telah mendirikan 1.478 TK Melati di berbagai wilayah di Indonesia.

Kekuatan organisasi perempuan Gerwani akhirnya menjadi menakutkan bagi peta percaturan politik Indonesia. Pertumpahan darah tak lagi terelakkan. Orde Baru lahir dengan pembunuhan dan ditutup dengan kerusuhan yang menumpahkan darah juga. Orde Baru lahir dengan penyiksaan kepada kaum perempuan dan ditutup dengan perkosaan kepada kaum perempuan juga. Gerwani dibungkam sampai pada detik ini. Bukan cuma mendapat pembredelan, Gerwani juga dicoreng dengan keburukan fitnah. Orde Baru melukiskan Gerwani sebagai perempuan yang gila seks, lesbian, keji, dan liar; perempuan yang tak bermoral dan tak mau tunduk pada lelaki.

Sejak Orde Baru jatuh dan reformasi terus menerus digaungkan, sejarah yang sesungguhnya perlahan-lahan terkuak. Yang dulu hanya dibicarakan dalam bisik-bisik penuh ketakutan, kini sudah bisa didiskusikan dengan lebih lantang. Banyak peneliti, aktivis, dan politis perempuan membantu para perempuan Indonesia menoleh ke belakang dengan cermin yang lebih jernih. Diskusi intelektual, seminar, pembuatan film, pembelajaran akademik tentang latar belakang politik PKI, seksualitas dan feminisme pada tubuh Gerwani terus menerus mendapat tempat, memberikan sejarah baru untuk kaum muda di masa depan. Inilah kenyataannya, kebenaran yang disembunyikan dan dibunuh oleh penguasa Orde Baru!

Bagaimana dengan kita, kaum lesbian? Masihkah kita buta dan tuli akan masa lalu yang terjadi di tanah air ini? Masa lalu selalu faktual. Masa lalu selalu ada di masa sekarang. Masa lalu berdenyut pada cita-cita dan semangat. Sebagai lesbian, sudah selayaknya kita berutang pada masa lalu – termasuk Gerwani, untuk meneruskan cahaya yang tak pernah padam dalam diri setiap perempuan Indonesia yang ingin merdeka.

@Lakhsmi, SepociKopi, 2011

Reference:

1. Brenner, S.A. (1998) The Domestication of Desire: Women, Wealth, and Modernity in Java, NY: Princeton University Press

2. Oetomo, D (2009) Is There a Place for Us Across the Golden Bridge? Center for Minority, Gender, and Human Rights, 13 Agustus 2009
Available at: http://centerforminoritygenderandhumanrights.org/archives/2009/08/13/is-there-a-place-for-us-across-the-golden-bridge/

3. Purwanti, F. (2011) Pembuka Jalan Gerakan Perempuan, majalah-historia.com [internet], 14 Maret 2011. Available at: http://www.majalah-historia.com/berita-436-pembuka-jalan-gerakan-perempuan.html

4. Wieringa, S. (1999) Reformasi, Sexuality, Communism In Indonesia, First Conference on Sexuality and Human Rights, for panel Living Genders/Sexualities in Southeast Asia. Manchester: Institute of Social Studies.

5. Wieringa, S. (2000) Culture, Health, And Sexuality. Vol. 2 no. 4, Taylor & Francis.

6. Wieringa, S. (2002) Sexual Politic In Indonesia, hardcover. Palgrave Macmillan.

7. Wieringa, S. (2010) Penghancuran Gerakan Perempuan: Politik Seksual di Indonesia Pasca Kejatuhan PKI, Yogyakarta: Galang Press.

Keterangan gambar:
1. Para perempuan anggota Gerwani
2. Peluncuran Buku Penghancuran Gerakan Perempuan: Politik Seksual di Indonesia karya Saskia Wieringa
3. Poster untuk pameran grafis, lukis, foto, dan film tentang Gerwani
4. Penulis Saskia Wieringa bersama para tokoh pimpinan Gerwani

Tags: , , , , ,

10 Comments »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.