Home » Humaniora, Telezkop

te.Lez.kop: Menjadi Lesbian itu Menyenangkan

29 September 2011 523 views 12 Comments

Oleh: Tya Andriani

Cukup sok berani dan sok gaya saya ini ketika saya mencoba menulis dua artikel back-to-back tentang dua hal yang bertolak belakang. Pengalaman hidup mengajarkan kepada saya bahwa menjadi lesbian banyak suka dukanya. Sukanya banyak, dukanya juga banyak. Seperti yang sudah saya jabarkan di artikel Menjadi Lesbian tidak Gampang, artinya tantangan menjadi lesbian itu gede. Kalau iseng ditanya sama seseorang, jika pada kehidupan selanjutnya saya dapat memilih bagaimana saya dilahirkan, apakah saya tetap memilih menjadi lesbian? Jawaban jujur: iya, saya tetap mau menjadi lesbian kok.

Menjadi lesbian menyenangkan. Ah masa sih? Waktu pertama kali saya tahu diri saya lesbian, jantung saya berdebar-debar gelisah, takut, dan, dan, dan, bercampur rasa senang. Artinya…. artinya…. saya adalah kaum minoritas! Menjadi kaum minoritas selalu menjadi kaum yang ‘berbeda’. Menjadi berbeda itu menarik, karena saya tidak sama seperti teman saya yang lain. Menarik, sebab saya bukan lagi wallpaper penghias tembok yang tak terlihat. Banyak manusia yang ingin terlihat berbeda dengan penuh usaha melakukan hal-hal menarik perhatian. Sementara saya? Saya cukup menjadi diri saya sendiri.

Banyak orang yang tidak suka menjadi minoritas dan berupaya menjadi sama seperti yang lain. Saya tidak terlalu sepakat. Sebenarnya menjadi berbeda sungguh mengasyikan. Coba bayangkan sekuntum bunga yang berwarna biru di tengah-tengah lautan rumput. Cantik bukan? Saya adalah pembeda itu. Terkadang saya membayangkan saat Tuhan sedang bosan menciptakan benda-benda yang sama dan mirip satu sama lain, lalu Dia menciptakan saya dari kreativitasNya yang tak terbayangkan. Jreng! Jreng! Jreng! Jadilah saya, si lesbian ini.

Menjadi minoritas artinya saya dilahirkan dengan satu set kacamata yang (lebih) sensitif dibandingkan mereka yang mayoritas. Artinya, saya bisa menjadi lebih obyektif dalam memandang kaum mayoritas, karena saya tidak “menjadi bagian” dari mereka. Kaum mayoritas, karena kesamaan dirinya dengan yang lain, akan sulit menjadi (lebih) obyektif. Obyektivitas berhubungan dengan sensitivitas dan kepekaan loh. Saya rasa, kaum minoritas di mana pun berada memiliki sikap toleransi yang jauh lebih dasyat daripada tetangganya yang mayoritas. Artinya apa? Artinya secara kualitas dan kuantitas, lesbian dilahirkan dengan perangkat sikap-sikap simpati dan empati yang lebih lengkap dan pastinya, lebih canggih.

Menjadi seorang minoritas di tengah mayoritas yang mayoritasnya jijik dengan kehadiran si minoritas, apalagi mayoritas yang ingin “mengubah” si minoritas menjadi mayoritas adalah tantangan hidup yang – jika mau dilihat dari sudut yang positif – seru dan menantang. Bagaimana tidak, seorang minoritas akan selalu terlatih untuk menjadi kreatif di tengah keterbatasan sehari-hari. Keterbatasan seringkali menjadi oase dan pemicu kreativitas. Artinya, setiap lesbian memiliki banyak celah yang unik dan pintu kesempatan untuk mengembangkan kreativitas cara bertahan hidup di tengah-tengah kaum mayoritas yang tak bersahabat.

Jadi, masihkah kita memikirkan segala negativitas dan duka menjadi lesbian? Bukannya lebih baik kita besyukur atas apa yang kita miliki dan memaksimalkan segala yang dianugrahkan pada kita? Kalau saya sih begitu. Bagaimana dengan kamu?

@Tya Andriani, SepociKopi, 2011

12 Comments »

  • Mizu said:

    nice article…
    Jadi lebih mencintai n ngehargai diri sendiri.. :)

  • Kaori said:

    haha bener banget

    lagian aku jg merasa cinta di antara lesbian lbh indah karena alasan yg sama

  • eng said:

    benar, jika sudah ada self acceptance, yang lainnya jadi lebih mudah untuk di handle

  • Frozen Shane said:

    Nice article

  • inay said:

    artikelnya membangun :)

  • echi said:

    mulai dari diri sendiri aja dulu menurutku
    kalau udh bisa menerima diri sendiri baru deh maju utk membuktikan ke semua org bahwa lesbian itu juga keren kok
    hehehe

  • enkey said:

    Kita tidak bs berharap org2 untuk bersikap openminded thdp lesbian,fikiran yg sempit dan merasa diri seorang hetero itu sempurna yg membuat kita terminoritaskan..mereka tidak akan mengerti apa yg kita lalui tidaklah mudah.dengan diskriminasi yg mereka bangun..buka mata mereka untuk melihat bahwa kita manusia yg sama baik bahkan lebih menyenangkan dari yg mereka fikir..cheers:)

  • Al said:

    Menerima, Mensyukuri dan Menikmati menjadi sesuatu yang beda,, ;)

  • she said:

    dl sebuah film/drama&sejenisnya,ada babak2.dunia nyata:awal,tengah&akhir (hayat),mampukah?misalkan hingga usia 65 thn,ingatlah apa yg tertulis.short term yg sinkron dg long term until destiny.

  • Sal said:

    kalo sepocikopi pasang “thumbs up” seperti social networking yang beken, pastinya gw mau pasang 4 thumbs up… maunya pasang 10, sayang punyanya cuma 4 itu :)

    good one, although I do agree, still I am afraid to come up and show my difference, like most of us…. Poor me… harus mengumpulkan sejuta kekuatan untuk menunjukkan kalo gw special…

    again, thumbs up…

  • herooz said:

    gue dah keluar dr “lemari” alias jujur ttg lesbian gue staon lalu, rasanya dada gue plooong bget tp ada nyeselnya jg knp gak dr dulu jujurnya..?!..dan skrg gue dah dpt byk teman seperjuangan disini..mantap deh..kalo dilahirkan kembali mo jd apa…?ya, tetep tomboy gan..buat tya pis 2 jari dech..

  • T.Y.A said:

    Adooh maaaaf.. saya lupa tulisan saya dimuat di SK. Terima kasih SK sudah memuat tulisan saya.

    @Mizu keren sis.. jadi L yang bermanfaat yuk!

    @Kaori toss!

    @eng pastinyaaaaa sis..

    @Frozen Shane Makasiiihhh

    @inay seneng deh dikomentarin (^__^)

    @echi betoool kita mulai dari diri sendiri.. hidp echi!

    @enkey cheers sis semoga makin sukses di masa depan..

    @she komennya sedapp

    @Sal duh jadi malu……… four thumbs juga untuk komennya (^______Y)

    @herooz empat jariiii…. makasih sis

Leave your response!

Ruang komentar adalah ruang yang memberikan perhormatan tinggi kepada kaum lesbian. Silakan gunakan kata "lesbian" atau "lesbi" dengan tepat, bukan dengan kata-kata lain yang melecehkan. Komentar dengan bahasa alay, singkatan, dll, tidak diperkenankan. Terima kasih.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.