Tajuk: Memaafkan Diri Sendiri dan Kita
Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih kata orang. Pameo itu tentu saja sangat ramah di telinga. Jika diresapi baik-baik maka terartikan bahwa sesuatu yang terjadi itu memang tak bisa dihindarkan. Bagaimana jika hal itu berupa kesalahan yang sangat fatal? Tak sengaja menghilangkan nyawa orang ketika mengemudi? Memaki orangtua sendiri? Aborsi? Merugikan perusahaan begitu besar? Mengkhianati sahabat? Kekasih? Atau tertakdir sebagai lesbian?
Rasanya mau mati saja, seolah rasa bersalah menghilangkan harapan kita terhadap apa pun, sehingga sulit memaafkan diri sendiri. Penyesalan mendera setiap waktu, dan sepertinya akan membelenggu seumur hidup. Tentu saja hal ini menjadi masalah serius untuk meneruskan apa yang sudah dijalani, pelik melanjutkan sisa umur saat menyadari bahwa ternyata kita tidak memaafkan diri sendiri.
Terlepas dari terlahir sebagai lesbian, manusia memang sering kali berbuat salah, hal tersebut memang lumrah. Bahkan moyang kita pun pernah melakukannya. Namun permasalahannya adalah ketika kesalahan tersebut terasa begitu besar sehingga seolah sulit memaafkan diri sendiri. Penyesalan itu menjadi sulit untuk dihapuskan sepanjang usia, walah!
Memang memaafkan diri sendiri menjadi persoalan banyak orang, lesbian khususnya. Bahkan ada yang merasa menjadi lesbian sebagai sesuatu kesalahan, sehingga ia menghukum dirinya sendiri, membatasi diri tidak bergaul di masyarakat karena malu berfisik seperti laki-laki. Oh no!
Marilah mengenali apa yang sedang terjadi pada diri sendiri. Menerima diri sendiri sebagai sebuah proses pendewasaan. Menerima apa yang sudah diberikanNya pada kita menjadi bagian penting di mana kita memang harus berkaca, menilai diri dengan jujur dan tanpa kebohongan. Benar hal ini tidak mudah, sudah pasti ada semacam perlawanan dari bagian diri untuk bisa menerima keadaan bahwa kita agak berbeda dengan kebanyakan orang sehingga kita merasa perlu ada solusi untuk memperbaiki yang rasanya salah ini.
Jangankan persoalan orientasi seksual yang belum sepenuhnya diterima dengan baik. Selain malang yang tak dapat ditolak tadi ternyata kita juga melakukan hal-hal konyol lain. Ternyata hidup masih juga penuh makian, perkelahian dengan patner, melakukan penipuan, mencuri, menjahati orang lain, dengki dan cemburu. Kita merasa telah gagal memperjuangkan mimpi sendiri, cita-cita dan harapan kekasih dan orangtua, kemudian semakin putus asa setelah membandingkan diri dengan orang lain, melihat ke atas, merasa kemampuan buruk dan tidak menghasilkan apa-apa yang berarti.
Kita gerah pada ketidakmampuan diri untuk mengatur kehidupan, mengatur waktu, mengatur diri, mengatur emosi. Kita pun menumpuk banyak penyesalan. Rasanya hidup masih sangat berantakan, bertindak seperti anak-anak. Kecewa dengan diri yang tidak berhenti melakukan banyak hal tadi, sehingga rasanya tidak ada niat untuk memperbaiki kehidupan, tidak ada motivasi untuk hidup lebih baik. Aduh, wake up please!
Benar, memaafkan diri lebih sulit dibandingkan dengan memaafkan orang lain. Terkadang malah tidak disadari bahwa selama ini kita sudah cukup kejam dengan diri sendiri dengan melakukan hal-hal yang tidak semestinya. Percayalah proses kehidupan appaun bahkan untuk memaafkan buat orang lain harus bermula dari memaafkan diri sendiri dulu. Kita harus dapat berdamai dengan masa lalu, dengan tidak lagi menyangkal atas kesalahan yang pernah dilakukan. Coba menerima kejadian yang tidak menyenangkan tersebut sebagai bagiansejarah yang memang tidak dapat di pisahkan dari kita, sesuatu yang telah membentuk diri kita sekarang. Kita tidak dapat mengubah sesuatu yang sudah terjadi, namun dapat menentukan masa depan agar jauh lebih baik dari saat ini ataupun masa lalu itu.
Jika terus terusan meyakini lesbian sebagai sesuatu yang salah bisa-bisa kita tidak produktif, menjadi beban orangtua, sehingga kita pun menjalani hidup dengan cara yang salah. Lesbian adalah suatu hal yang sangat manusiawi, namun ketika kita melakukan menjalaninya dengan ikhlas maka kita akan mendapat kesempatan lagi untuk belajar lebih banyak tentang hidup dan kebenaran itu sendiri. Lalu bagaimana jika ternyata kita memang lesbian dan kemudian diembel-embeli dengan perbuatan salah yang bertubi-tubi tadi?
Berdamailah dengan perasaan bersalah, sadari bahwa perasaan bersalah adalah suatu hal yang normal dan alamiah, namun sadari juga bahwa pengampunan selalu ada bagi setiap orang yang menginginkannya melalui keyakinan. Hanya jika telah mampu memaafkan diri sendiri, maka kita baru dapat meneruskan hidup dengan penuh suka cita. Yakinlah bahwa kita sanggup melepas keterpurukan emosi yang mengganggu selama ini. Karena ketika memaafkan diri Anda sendiri maka keterikatan emosi buruk dengan masa lalu tidak dapat lagi memengaruhi langkah ke depannya. Kita akan jauh merasa lebih lega dan lebih percaya diri untuk membuat keputusan penting dalam hidup ini
Tuhan mencintai kita dan karena kecintaanNya pulalah harapan akan pengampunan menjadi obat yang paling manjur untuk terus menjalani hidup dengan rasa optimis. Ketahuilah bahwa menyalahkan diri sendiri tidak ada gunanya. Waktunya memaafkan diri sendiri, mengambil hikmah dan melangkah ke depan.
@NuhaGuwa, SepociKopi, 2011










gud..inspirasi yg luar biasa untk sesuatu yg baru ak lalui,memaafkan kslhan diri sgt berat krn d barengi oleh rasa penyesalan yg mendalam.
gud..inspirasi yg luar bias untk sesuatu yg baru sj ak alami.
hmmm… aku baru berusaha merealisasikan tips2 diatas utk mncoba memaafkan diri sendiri, menyesal.. sesuatu yg tdk prnah kita harapkan bkal terjadi, buat lives has to move on, right buddy?? wish me luck yah..:)
nice article,
)
Nuha
Artikel Anda keren dan sangat mengobati dikala sangat terpuruk dengan kesalahan masa lalu.
Thank you very much
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Mei ini adalah bulan yang sarat dengan perenungan atas hari besar perayaan Pendidikan Nasional dan Kebangkitan Nasional. Bertanyalah pada diri masing-masing: apa arti pendidikan? Apa arti kebangkitan? Dua elemen ini jika digabung, maka akan menjadi dua kata yang dasyat sekali: kebangkitan pendidikan. Jika pendidikan adalah hal yang sangat esensial untuk masa depan, maka apa fungsinya bagi kebangkitan lesbian?
Lesbian, era sekarang adalah era digital. Perubahan sistem pembelajaran dan pendidikan bergeser mengikuti teknologi yang terus bergerak. Demikian juga kesadaran akan penerimaan diri bagi kaum lesbian. Dulu, tubuh lemas dan tak memiliki kekuatan, kini tubuh perlahan-lahan mendapat asupan gizi sehingga menjadi kuat dan sanggup berdiri.
Lesbian, mari bangkitkan diri. Mari hilangkan rasa ketakutan, kesedihan, inferioritas, ketakberdayaan, dan seluruh perilaku negatif yang ujung-ujungnya akan menyeret lesbian menuju kehancuran masa depan. Tidak ada yang tidak mungkin bagi kaum lesbian untuk berdamai dan berbahagia. Kuatkan hati, raih mimpi, teruskan perjuangan. Peluk cium untuk segenap pembaca setia SepociKopi.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments
Switch to our mobile site
Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect. Powered by WordPress | Arthemia theme by Michael Hutagalung 63 queries. 0.534 seconds.