L’Amour: Cinta Dari Perut Naik Ke Hati
Sore yang menyisakan semangat hari ini terkikis lebih awal. Langit memuntahkan hujan deras ketika aku bersiap mengantarkan dua keranjang kue ke pasar sore di daerah pecinan. Aku terpaku di depan pintu untuk sesaat, cipratan hujan mengikis bedak yang telah kupoles rapi di wajah.
Tidak, bukan karena kecewa akibat cuaca yang tak bersahabat ini…, tapi aku suka bau hujan, bau tanah basah yang mengusir panas gerah setelah seharian bermandi peluh. Jadi aku selalu akan berhenti dan menikmati momen yang sesaat ini.
Tiba-tiba aku melihat Kris berlari dan menghambur ke pintu tempatku berdiri, mengagetkanku dari lamunan. Dia sudah terlanjur basah oleh hujan yang merajam tubuhnya yang kurus tinggi.
“Lho kamu ngapain, mau ke mana sampe kehujanan gini?”tanyaku, sambil lekas berlalu untuk mengambilkannya handuk dan baju ganti.
“Ya mau ke sini jalan kaki, eh taunya keburu hujan di tengah jalan. Eh, kasih bajunya yang gedean ya, jangan kasih pake sarung!”serunya.
Kris sudah seperti adik bagiku karena dia jauh lebih muda. Berpostur agak kelakian meskipun rambutnya berkuncir dan selalu penuh semangat. Kami sering nongkrong bareng dan terutama menemukan berbagai makanan enak di pinggir jalan. Rasanya hanya itu kesamaan kami selama dua tahun bersahabat, dan aku tidak pernah sekali pun mendengar adikku ini curhat tentang kisah cintanya. Jadi hubungan kami terbatas pada masalah perut beserta penghubinya yang suka berontak minta makan.
Setelah kurang lebih setengah jam hujan pun tampak reda. Aku bergegas berangkat ke pasar bersama Kris dengan menaiki skuter. Sayup-sayup musik oriental mulai terdengar dari kejauhan, dari para pedagang DVD bajakan di lapak kaki lima yang menjamur di pasar. Semangat kami dipicu pula oleh rasa lapar, apalagi cuaca dingin sehabis hujan.
Jajanan pasar menggoda penuh gairah. Tak menunggu lama, kami menyantap siomai, sate kerang, dim sum goreng sampai es krim buah. Dan berakhir dengan jagung rebus yang kami nikmati di jembatan menuju pulang.
Mungkin karena kekenyangan menikmati jajan pasar, kami hanya duduk menikmati jagung dan tenggelam dalam galau masing-masing. Tiba-tiba sebuah topik melesat keluar dari bibir Kris.
“Beberapa bulan lagi aku akan pindah, kita nggak bisa barengan lagi lho!”
Begitulah Kris, dia tidak akan pernah secara langsung menyatakan sesuatu yang dirasakannya, kebahagiaan atau pun kesedihannya. Kadang aku berpikir, aku dan dia hanyalah penghubung kisah kasih para cacing kelaparan di perut, tanpa kami benar-benar mengenal perasaan masing-masing.
Sebenarnya aku tidak punya komentar atas ucapan yang barusan dilontarkan Kris. Aku tidak tahu pasti arah pembicaraannya, apa sebenarnya yang ingin ia sampaikan, dan apa pula yang sebenarnya aku rasakan atas kedekatan hubungan kami. Karena setiap wujud perasaan dariku selalu kubiarkan menguap tanpa perlu memberi bentuk sebuah ikatan. Jadi aku hanya menikmati suasana saja tanpa menjawab.
Lalu Kris menarik wajahku, menatapku dengan tatapan yang sangat menginginkan… menginginkan…. sate padang! Ya. Hanya sebatas itu yang kukenal dari segala bahasa tubuhnya! Hanya tentang makanan! Sepolos keinginannya, sepositif yang dapat kuartikan.
Cepat-cepat aku merogoh tas. Yup! Masih ada satu bolu kukus! Segera aku sodorkan ke tangan Kris, sebelum dia menerkamku. Sebenarnya sengaja mengelak dari suasana yang aku sendiri sulit mengatasinya, sekaligus cuma itu yang aku tahu: Kris lapar! Tapi kali ini, pertama kalinya dia menolak makanan, dan membalikkan badan pertanda acara ngambeknya dimulai!
Untuk menggenapi kekonyolan yang membuat Kris ngambek, aku kembali menatap bolu kukus itu dan menghadap Kris, menyodorkannya kembali , layaknya setangkai bunga mawar sambil berdehem pelan. Rahang Kris yang mengeras segi delapan mulai melunak. Senyum jahil pun mulai menyeruak karena aku sudah menyucukkan sebatang lidi pada bolu tadi.
“Kris… lihat bolu ini, dia merekah seperti tersenyum dan memperlihatkan bagian dalamnya. Aku ingin hubungan kita seterbuka bolu ini. Aku ingin tahu apa pun yang kamu rasakan dan aku akan menyukainya, karena aku sayang sama Kris.” ujarku.
Senyum jahil di wajah Kris langsung pudar dan sorot matanya melunak. Lalu dengan hangat ia melingkarkan lengannya pada lenganku. Matanya berbinar bahagia layaknya akan menyantap selusin durian, dia berkata, “Tentu kita akan terus barengan. Tak peduli sejauh apa pun kita terpisah nantinya. Kan, ada jembatan penghubung!”
Perasaan hati memang unik. Perasaan kami hadir diantarkan oleh rasa lapar akan sate padang, bolu kukus, kolak, ayam goreng, jagung bakar, bakso dan semua itu yang membentuk reaksi kimia dalam hati kami. Tanpa benar-benar ingin kami utarakan—aku utarakan—tepatnya! Karena aku mencintai cinta yang tidak mengikat dan memberi kebebasan hati untuk memilih dan mengungkapkannya.
Setiap perjalanan hidup menawarkan ketidakpastian. Begitu pula yang akan terjadi pada kami. Segala perasaan semakin jelas wujudnya namun tidak jelas akan bermuara ke mana. Aku menyayangi Kris, namun tidak tahu hubungan itu akan berubah jadi seperti apa. Bagai membebaskan layang-layang, membiarkannya terbang mengangkasa tanpa tahu pasti apakah dia akan kembali atau tidak.
Tapi bukankah hidup juga menjanjikan harapan? Setidaknya bisa berharap pada kebaikan angin atau sebentuk keajaiban, barangkali? Ah… apa pun itu, aku dan Kris akan menikmati waktu yang tersisa beberapa bulan lagi. Hm, lagi pula masih banyak jajanan yang belum sempat kami cicipi.
@Melzna, SepociKopi, 2011










Lucu ya
Tulisannya juga bagus…
Hihihi… Kadang ajaib juga ya, betapa makanan bisa mengalirkan energi positif dan melumerkan ketegangan?
(curcol) kalau saya sedang bad mood, si dia selalu punya cara membuat saya kembali bersemangat dalam waktu singkat. Membicarakan makanan! hohoho..
Cerita yg sederhana tp dikemas dg bahasa yg enak, saya suka ceritamu Melzna…semoga kalian bisa memanfaatkan waktu bbrp bulan itu dg baik.
Jadi apa nih jajanan yg direkomendasikan;)
Emg kris m pindah ke mana? *mulai gk nyambung*
Suka dg kata-kata yg digunakan
seru jg ceritanya
Nice story..
Simple but sweet..:)
wah, semangat ya buat hubungan jarak jauhnya.. semoga sukses
sepakat dengan flota;)
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, kita kerap mendengar bahwa hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Pepatah bijak itu bahkan tegas mengatakan merugilah orang yang kualitas hari kemarinnya sama saja dengan hari ini dan celaka jika hari ini lebih buruk dari kemarin. Pernahkan kita bertemu teman lama yang rasanya dari zaman mIRC sampai era Whatsapp masih berkutat dengan masalah itu-itu saja? Atau justru orang tersebut adalah diri sendiri?
Lesbian, kehidupan yang berkualitas seharusnya ibarat meniti tangga, terus bergerak dan melangkah lebih tinggi. Pada posisi yang lebih tinggi seharusnyalah kita berhadapan dengan masalah yang lebih menantang. Itu sebabnya SepociKopi menganggat tema ini, untuk mengingatkan kita semua untuk terus meningkatkan kualitas diri dalam bidang apa pun yang kita tekuni.
Lesbian, bulan ini juga kita memperingati hari Pendidikan Nasional. Pendidikan berarti proses pengubahan sikap dan tata laku untuk mendewasakan manusia. Tidak ada cara lain untuk meraih kehidupan yang lebih baik selain terus dan terus mendidik diri. Selamat menikmati didikan SepociKopi untuk seluruh pembaca setia. Peluk dan cium buat semuanya.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments
Switch to our mobile site
Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect. Powered by WordPress | Arthemia theme by Michael Hutagalung 59 queries. 0.666 seconds.