Home » Opini, Sepocikopiana

Bebas Gila dengan Menulis

Submitted by on 13/07/2011 – 10:20 am11 Comments | 804 views

Oleh: Afida Husniya

Saya lahir dari keluarga yang banyak aturan. Jujur, saya mengakuinya. Apa saya bosan? Hampir setiap hari ‘iya’. Sejak saya masih SMP, saya sadar bahwa ada sesuatu yang harus saya keluarkan dari otak saya. Sesuatu yang akan jadi masalah kalau terus-terusan mengendap di kepala saya. Sesuatu yang berkobar-kobar dan tidak wajar. Sesuatu itu sifatnya ‘tidak masuk akal’ dan kadang-kadang ‘dilarang orang-orang’, seperti: naik helikopter pribadi, mendaki gunung Kilimanjaro, tersesat di India, pacaran dengan orang Korea, dan lain-lain.

Maka, menulis adalah pembebasan. Menulis adalah salah satu aktifitas yang tidak melanggar peraturan rumah saya. Karena menulis sifatnya sangat privasi, tidak bisa dipantau, dan tidak mencurigakan atau berefek buruk pada prestasi akademik saya.

Mewujudkan ide-ide gila tentu saja ditentang sepenuh hati oleh keluarga saya jika saya lakukan di dunia nyata. Sya menuliskannya. Di kertas, di komputer, dan di semua media yang bisa saya tulis. Walau belum pernah benar-benar menang dalam sebuah kompetisi menulis, tulisan saya banyak mendapat respon positif dari saya sendiri dan dari teman-teman yang dengan setia membaca tulisan saya. Sejak saya kuliah, kegilaan yang saya sadari itu kini punya nama.

Di samping itu, saya adalah orang yang tidak rasional dan tidak sistematis. Jalan pikiran saya melompat-lompat. Saya tidak ahli dalam urusan ‘fokus’. Pikiran saya mudah sekali berganti angle dalam hitungan detik. Mungkin itu sebabnya, walaupun daya tangkap saya cukup tinggi, saya belum pernah menguasai suatu bidang tertentu hingga menjadi benar-benar hebat. Saya sering berhenti di titik ‘lumayan bisa’ dan kemudian dengan drastisnya berubah menjadi bosan.

Dengan menulis, saya ingin mengabadikan kegilaan saya menjadi sesuatu yang bisa dilihat dan ditunjukkan. Saya ingin mengenang bahwa saya pernah mengagumi ‘ini’ dan ‘itu’. Bagi saya itu sangat menarik. Saat membaca tulisan saya dulu, saya sering tertawa, menyadari betapa konyol dan memalukannya saya. Saya hobi membeli majalah, walaupun tidak sering karena takut ketahuan ibu saya yang terang-terangan mengharamkan benda-benda begini masuk kamar saya. Saya juga sering membeli tempat pensil, buku gambar, pensil, boneka kecil, dan banyak benda aneh lain. Keluarga saya berpikir bahwa saya hiperbolik, mendekati tidak normal. Saya menjadi kuatir bahwa saya tidak normal dan keterlaluan. Maka saya menyibukkan diri dengan menulis. Dengan menulis, saya bebas jadi orang gila tanpa diprotes orang.

Menulis kembali menjadi solusi saat saya ingin berkuasa, sementara di dunia nyata, saya bukan siapa-siapa dan tidak punya apa-apa. Saya suka menulis karena saya menguasai ending suatu peristiwa. Saat saya mengarang cerita, saya bebas berubah kelamin menjadi laki-laki. Ketidakmungkinan dunia nyata bisa saya atasi melalui menulis. Saya menjadi pribadi yang baru, punya keluarga dan bahkan pacar baru. Dengan menulis, saya bisa membunuh dan melahirkan seenaknya.

Menulis dan mengirimkan tulisan ini ke media adalah mimpi saya. Saya ingin remaja-remaja lesbian seperti saya bisa bernafas dan berteriak dengan lega bahwa kegilaan yang kita alami itu normal, tidak buruk, dan sangat mungkin menghasilkan sesuatu. Jumlah pengidapnya juga tak terhitung. Yang perlu dilakukan dengan kegilaan ini adalah mengabadikannya secara positif. Saya memilih menulis sebagai tindak lanjut. Bagaimana denganmu? Ada yang berminat melakukan seperti yang saya lakukan?

@Afida Husniya, SepociKopi, 2011

Tentang Afida Husniya:
Silakan kirim biodata ke redaksi

Tags: , , , ,

11 Comments »

  • Afida says:

    Hmm.. terimakasih semua, gak nyangka artikel saya ada yang koment, hehe, ayok sharing tulisan bareng!, saya punya blog tapi isinya agak kacau, hehehe

  • noy says:

    fida,
    teknik menulis dan
    gaya bahasamu udah bagus, kok..

    stau gw, susah fokus itu d sebabkan banyk hal
    trutama, bersumber dr pikiran
    u fokus, kamu harus bisa mengontrol pikiranmu
    dan itu perlu latihan yang lama
    tapi harus dicoba
    karena, klo gk fokus…u hal2 yg penting
    biasanya efeknya merugikan u jangka panjang :)

  • ADUH JADI KANGEN PACAR NI…UPS SALAH JADI KANGEN NULIS NIH UDAH LAMA GAK CORET-CORET…MMMMM CARI INSPIRASI DULU AH……NICE ARTIKEL….

  • Mizu says:

    kebetulan dari kecil saya juga suka menulis, dan menulis telah menjadi media saya untuk menciptakan dunia sendiri, mau segila apapun nggak ada yang protes… Nice article. :)

  • Ayha Cacing VC says:

    Wow.. Same2 bok. Hehehee, menulis itu memang sgd mengasyikan krn qta bs jd apaa adja yg qta mao. Asyik.. Wlupun hnya diduniaa maya. Stdkny bebas dr dunia nyata yg pnuh tuntutan..

  • pi says:

    Kalo menumpahkan isi hati dalam sebentuk rangkaian kata dengan tarian tangan yang g beraturan di sebut gila, berati aku udah masuk RSJ dari dulu…
    Kita sama Afida. Menyadari semua ketika masuk SMP. Lewat mana bisa ditumpahin semua. Berlari ke buku berwarna putih yang isinya cuma garis-garis lurus berwarna abu-abu. Aku nggak cuma menulis, tapi melukis dengan kata-kata. Menggambarkan apa yang ada di hati ku dengan kemampuan tata bahasa anak baru gede… Hehehe…
    Dan kita juga sama. Keluarga ku punya banyak aturan. Lebih tepatnya mungkin sedikit tabrakan budaya. Orang Makasar yang keras bercampur kultur Jawa yang penuh unggah-ungguh. Tapi Hidup nggak akan seru kalau nggak penuh dengan warna. Dinikmati aja. Makin banyak warna, makin rame lukisan ku. Tetep semangat nulis yah…

  • Cumi says:

    Yup..
    Stuja ma @shane utk kutipan yg no.1 krn q jg gtu..
    Gmpg bsn,tp kl mslh hati sih g’ikutan..

  • PueJa says:

    Penulis memang Bener” orang gila yg tdk stress.
    Lol

    writing is Beautiful.

    @shane: agree !
    ^.^

    @louisa: can i know your fb/blog?
    Lol ;)

  • LOUISA says:

    wow. sy jg sama seperti km, sk menuliz. dan membaca tulisan km tentang bgmana menuliz membantumu melewati hr mu sama seperti tulisan yg pnah dl sy buat dulu. km pny blog? yuk sharing.

  • Shane says:

    Kita hampir sama, kamu tidak gila sendirian kawan…
    Kita gila bareng aja

    Gw suka kalimat ini neh karena gw juga gitu…

    1. “Saya sering berhenti dititik lumayan bisa dan kemudian dengan drastisnya berubah menjadi bosan”
    2. “Dengan menulis, saya bebas jadi orang gila tanpa diprotes orang”

    Keep on writing gal !! :-)

  • superman says:

    yang gila bukan anda lagi….
    Yup, menulis itu sgt menyenangkan….saya sendiri suka menulis lagu….

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.