Home » Film, Seni Budaya

Film: Yes Or No – Cinta Bersemi di Asrama

Submitted by on 11/07/2011 – 8:32 pm153 Comments | 49,323 views

Oleh: Alex

Dua tahun terakhir ini selain dikenal dengan pemasok film horor Asia, Thailand juga dikenal dengan film komedi romantisnya, biasanya mereka menampilkan pemeran pria yang ganteng manis dan perempuan yang manis cantik. Yes Or No juga menampilkan pemeran utama perempuan yang manis cantik dan lawan main yang ganteng manis tapi…. sama-sama perempuan.

Film lesbian komedi romantis yang enak ditonton ini dirilis bulan Desember 2010, berkisah tentang sepasang mahasiswi Thailand, Pie (Sucharat Manaying) yang manis dan Kim (Supanart Jittaleela) yang tomboi namun takut gelap. Pie adalah tipe gadis cantik yang manja dari keluarga berada, sementara Kim adalah si tomboi anak petani yang mandiri. Keduanya merupakan mahasiswa baru yang harus tinggal sekamar di asrama.

Awalnya Pie tidak nyaman dengan “kelelakian” Kim dan bersikap judes pada Kim. Namun karena tidak bisa bertukar kamar asrama, Pie pun terpaksa harus belajar beradaptasi dengan Kim. Walaupun dijudesi, Kim tetap bersikap ramah bahkan memberi Pie masakan buatannya. Lambat laun Kim dan Pie pun makin dekat dan akrab. Keakraban Kim dan Pie dicemburui Jane, femme satu sekolah yang naksir pada Kim dan Van, lelaki tampan yang dianggap kakak oleh Pie. Sesungguhnya dua tokoh ini nggak penting banget deh karena Kim dan Pie sudah jelas saling mencintai.

Secara cerita, alur film ini terlihat seperti fragmen-fragmen yang terpisah, seakan sang sutradara hanya merekam potongan-potongan bagian yang bagus ditampilkan di layar. Akan tetapi, untungnya, kedua peran utama dalam film ini Supanart Jittaleela dan Sucharat Manaying bermain dengan sangat baik. Sehingga bagian ketika Pie dan Kim sama-sama jatuh cinta bisa membuat penonton (apalagi penonton lesbian) ikut deg-degan.

Pujian terbesar dari saya jatuh pada Sucharat Manaying yang berperan sebagai Pie. Pada awal film, dia sukses menampilkan karakter Pie, yang datang sebagai gadis manja keras kepala yang menyebalkan dan menjadi dewasa pada akhir film. Dan saya yakin Supanart Jittaaleela akan membuat banyak lesbian naksir hanya senyumnya. Chemistry di antara mereka juga luar biasa bagus, apalagi pas adegan sehabis mereka kehujanan dan Pie mengelap kepala Kim dengan handuk. (Hayoooo, siapa yang mengulang nonton adegan manis itu?). Semua itu membuat saya bisa memaafkan jalan cerita standar yang biasa-biasa saja.

Yes or No disutradarai oleh sutradara perempuan Sarasawadee Wongsompetch yang kabarnya menunggu sampai dua tahun hingga ada produser yang mau membiayai film kontroversial ini. Sepanjang ingatan saya, film atau seri TV Thailand pernah beberapa kali menampilan “Tom” istilah untuk butch lesbian, tapi baru kali ini seorang “Tom” jadi karakter utama dalam film yang jelas-jelas film lesbian.

Secara keseluruhan, Yes or No adalah film yang menyenangkan. Film yang membuat kita senyum-senyum sendiri menontonnya. Film yang membuat kita teringat pada perasaan awal kita jatuh cinta… awww. Untuk penyuka film ringan dan komedi romantis, Yes Or No jelas film yang harus dicari. Untuk level film Asia, Yes or No merupakan film lesbian yang amat apik dan menampilkan sosok-sosok lesbian yang sehat.

Sebagai penutup, saya berikan kutipan favorit saya dalam film ini, dalam dialog yang diucapkan Pie kepada Kim, “I’m scared, afraid my mom will get mad, scared of friend’s teases, scared of stares. But I now know, if I’m scared, I will lose you.” Romantis abis deh!

@Alex, SepociKopi, 2011

Tags: , ,

153 Comments »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.