Home » Telezkop

te.Lez.kop: What’s In a Name?

7 July 2011 490 views 6 Comments

Oleh: Shinigami

Berapa banyak di antara kalian yang biasa-biasa saja dibilang belok? Berapa yang lebih suka dengan sebutan L? Siapa yang lebih merasa nyaman dengan dyke? Atau malah yang universal saja, gay? Siapa yang mengernyit mendengar kata homo /homoseks/ homoseksual? Dan berapa yang merasa risi dengan kata lesbi?

Itu cuma sebagian sebutan bagi kita, lesbian (tuh, lesbian juga satu sebutan lagi.) Tetapi entah bagaimana banyak yang memiliki preferensi sebutan tertentu. Itu sih menurut saya masih wajar. Yang lebih membuat saya heran adalah orang-orang yang merasa jengah atau bahkan sampai jijik dan risih atas beberapa sebutan. Saya bahkan pernah tahu beberapa orang yang mati-matian menghindari kata ‘lesbi,’ seakan kata tersebut akan membuat mereka tiba-tiba terbakar seperti vampir kena matahari atau mengubah mereka menjadi batu laksana mereka yang memandang kepala Medusa.

Saya tidak tahu pasti mengapa kata ‘lesbi’—dan mungkin beberapa kata lain—bisa memberikan efek sebegiturupa. Mungkinkah karena kata tersebut sering digunakan dalam kata-kata hinaan atau cemoohan semacam “Dasar lesbi!” atau “Jangan dekat-dekat dia ya, nanti kamu ketularan lesbi!” sehingga mendengar kata lesbi itu rasanya begitu menyakitkan? Yahhhh… bisa jadi sih.

Tetapi, teman-teman, kalau memang itu alasannya, saya rasa tidak perlu sesensitif itu lah. Begini, coba kita pikir, apa sih yang membuat suatu kata itu menjadi hinaan? Apakah kata itu sendiri? Bukan. Yang menjadikan suatu kata itu celaan yang sungguh menyakitkan adalah makna yang dilekatkan padanya oleh si pengucap.

Tidak percaya? Mari kita ambil contoh gampang: kata anjing. Kita semua tahu anjing itu apa dan bagaimana bentuknya. Kamus Besar Bahasa Indonesia pada definisi pertamanya menjelaskan anjing sebagai (kt. benda) binatang menyusui yang biasa dipelihara untuk menjaga rumah, berburu, dsb. Sesederhana itu. Dan bila kita memakainya dalam kalimat biasa, katakanlah lagu anak-anak itu, “Aku punya anjing kecil, kuberi nama Heli,” kata tersebut juga biasa-biasa dan simpel kan? Tetapi, bila kita menggunakannya dalam kalimat yang memang dimaksudkan untuk memuat dan mengungkapkan rasa marah atau benci kita terhadap orang tersebut, misalnya “Dasar anjing!” maka ceritanya akan sangat lain. Tetapi awas, sekali lagi, hinaan itu terletak pada makna yang mau disampaikan, bukan kalimat itu sendiri. Bayangkan kalau sekelompok orang sedang bercanda dan salah satu dari mereka tiba-tiba berkata, “Dasar anjing!” sambil tertawa-tawa dan mengacak rambut teman yang dimaksudnya. Nah, tentu akan berbeda pula kan rasa dan maksud yang disampaikan oleh kalimat itu?

Karena itulah, menurut saya, kita tidak perlu gusar atau risih kalau orang menyebut kita lesbi (atau kata lain yang kalian anggap merendahkan itu.) Itu cuma sebutan, cuma kata-kata. Bahkan, kalau memang niatnya menghina, orang bisa menggunakan kata-kata selain lesbi untuk menghina kita. Orang itu bisa mengganti kata lesbi dengan nyaris apa pun dan kita akan tetap merasa terhina kalau ia memang berniat menghina. Dia bisa menggantinya dengan… topi, misalnya, atau kertas, atau semut. Atau bahkan dengan kata-kata yang tak bisa diasosiasikan dengan hal nyata apa pun semacam huh-hih. Tidak paham kan huh-hih apa? Tapi kalau si huh-hih itu diucapkan dengan nada menghina bermuatan benci kepada kita, kita bisa juga jadi tersinggung. Apa lantas kita merasa risih kalau dengar kata huh-hih? Konyol dong.

Jadi, menurut saya, biar saja orang mau panggil kita apa dan tidak perlu antipati dengan sebutan-sebutan tertentu karena toh itu hanya kata-kata. Yang lebih penting adalah apa maksud orang tersebut memakai kata-kata itu. Dan apa pun sebutannya—mau gay, dyke, L, belok, lesbi, lesbian, … (boleh ditambahi)—minumnya… eh salah, kalau artinya  perempuan yang orientasi seksualnya tertarik pada perempuan, that’s us.  Tak perlu meributkan hal-hal kecil tak berguna macam itu. Sebaliknya, berkarya saja. Jadilah seseorang. Dengan begitu, suatu hari akan lumrah bagi orang untuk bilang “Lesbi tuh!” atau “Lesbian lho!” dengan nada bangga.

@Shinigami, SepociKopi, 2011

6 Comments »

  • Lax said:

    Untuk menambahkan artikel yg keren ini, dalam linguistik ada istilah “eufemisme”. Aku pernah membahasnya dari sudut ilmu pengetahuan linguistik, menjelaskan mengapa lesbian “takut” dengan kata “lesbi” dan mencari banyak kata pengganti utk “lesbi”. Lebih jelasnya silakan baca: http://sepocikopi.com/2009/05/14/bengkel-menulis-eufemisme-dan-pembunuhan-kata-dalam-lesbian/

    *Lakhsmi

  • keke said:

    betul, sebuah kata akan bermakna lebih bila diletakkan dalam konteks kalimat. aku pribadi kurang suka dgn istilah belok atau homo, lesbian/gay/homosexual is way more ellegant. tapi apalah arti sebuah nama. a lesbian by any other name would smell as sweet.

  • broc said:

    “Insecurity” caused that.

  • frey said:

    Jd inget sama santana waktu ntn glee. Dia blg dgn lantang, I won’t let anyone put any labels on me! Gay, lesbian, or whatever. Itu semua bagiku cuma label. Yg terpenting adalah apa yg ada didalam sini ( hati), bukan orientasi seksual kita.

  • z(y) said:

    mgkn dari nada pengucapanya lebih terkesan Proud atau ke arah mencemooh/mengejek?? smg dg berjalannya waktu, masyarakat yg plural bs semakin menerima. dibuktikan dg banyaknya L yg semakin exist dengan berbagai prestasi. otomatis masy akan menanggap “L” things menjadi lumrah n not a big problem maybe. klu skrg kn masy msh anggap L itu jenis barang yg wow mengezutkan n sensasional.. hehehe, yg ptg mah skrg sibukkan diri qt mnjadi persona yg smart, amazing, n elegant.. :p

  • dettolbaby said:

    I like it to be “GAY”, not lesbong, lesbi, belok, bengkok dan sebagainya, sound too kiddish and kampungan.

Leave your response!

Ruang komentar adalah ruang yang memberikan perhormatan tinggi kepada kaum lesbian. Silakan gunakan kata "lesbian" atau "lesbi" dengan tepat, bukan dengan kata-kata lain yang melecehkan. Komentar dengan bahasa alay, singkatan, dll, tidak diperkenankan. Terima kasih.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.