Home » Humaniora, Ibu, Tentang Cinta

Anakku Sayang

Submitted by on 02/07/2011 – 11:58 pm19 Comments | 1,886 views

Oleh: Deni Melisa

Anakku, sejujurnya aku ingin sekali mengatakan ini, aku ngantuk berat. Tiap dua jam kamu bangun dari tidurmu, kemudian menangis hanya untuk mencari puting susu ibumu. Jujur kamu gembul anakku, meskipun kamu belum kenal pecel lele, sate ayam dan soto, tapi bisa kukatakan begitu, karena tiap kali menyusu, kamu tidak mengenal kata kenyang. Mungkin karena dalam dirimu mengalir gen-gen rakusku.

Tapi, jangan sedih anakku, sebab meskipun mata ini kau buat berat, kepala ini kau buat pusing, dan otak ini kau buat berkarat, namun aku tetap tersenyum mendengar jerit tangismu di malam buta, aku tetap gembira saat kau bangunkan meski waktu itu aku sedang bermimpi dikelilingi dayang-dayang cantik yang membawa bermacam-macam makanan. Kamu tahu kenapa? Karena kamu adalah anakku. Hanya kepadamu anakku, mengganti popokmu yang bau pesing menjadi kebahagiaan, membersihkan kotoranmu adalah kebangaan. Hanya kepadamu, hanya untukmu.

Dari benih yang baik engkau lahir. Dari rahim ibumu, perempuan yang sangat aku cintai dan kagumi, lihatlah, wajah mungilmu memancarkan parasnya, cantik, lembut, bersahaja. Tiap melihatmu tersenyum, aku seolah melihat ibumu yang sedang memadangku bahagia, tiap melihatmu mengedipkan mata, aku seolah melihat mata indah ibumu di sana. Tubuhmu, rupamu, adalah mujizat. Setidaknya Tuhan menjawab doaku, hidung jambuku tak menular padamu.

Sekarang ibumu sedang berbaring lemah, telah berhari-hari ia tak puas tidur demi memuasakan perutmu. Sssttt…, jangan ganggu ibumu, biarkan dayang-dayang mimpi membelainya di negeri berwarna merah jambu. Tetaplah tersenyum di sini bersamaku sayang, sebab dua jam lalu, ibumu telah memeras susu dari payudaranya untukmu. Biar aku yang menjalankan tugasnya, menggendongmu, dan mengalirkan susu segar itu dari botol ke mulut mungilmu. Bagaimana? Nikmat bukan? Jelas, susu yang kuberi ini adalah susu asli dari dada ibumu. Kujamin rasanya tetap sama, karena aku sudah mencicipinya duluan, ups!

Kau masih lelap saat  matahari mulai membagikan sinarnya. Pagi ini, ibumu menang, ia bangun lebih dulu sebelum kau membangunkannya dengan jerit tangismu seperti hari-hari sebelumnya. Tapi, tak ada hari nyengnyong bagi ibumu sejak kau keluar dari rahimnya. Lihatlah, saat kau sedang asik bermimpi berlarian digumpalan awan putih, ibumu sudah sibuk dengan tumpukan popok-popok ompolmu. Ibumu berjingkat, melompat, berlari, pontang-panting agar tepat jam enam pagi ia telah selesai berurusan dengan popokmu, dan tepat jam enam pagi sepiring nasi goreng dan segelas susu hangat telah tersaji hangat untukku di meja makan. Tapi anakku, saat aku menikmati sarapan pagi, ibumu kembali kau sibukkan lewat tangis manjamu. Meski lelah, tapi sama sepertiku, ibumu tak pernah mau menggerutu. Kamu tahu kenapa anakku? Karena kami telah menantimu sejak lama. Untuk jutaan tahun, kami telah menanti momen ini, dimana rumah mungil kita dihiasi tawa, tangis dan teriakanmu. Maka hadirmu di duniaku dan dunia ibumu adalah anugerah terindah.

Pagi ini, adalah pagiku, pagi dimana aku tersenyum saat memandangi anakku tertawa dalam pangkuan ibunya…

***

Katakanlah kepadaku kemana hilangnya? Semua tetap sama, asap yang mengepul di dapur, sepiring nasi goreng, segelas susu hangat. Semua tetap sama saat aku membuka mata. Tapi kemana dia? Bocah itu? Kemana pecah tangisnya? Kemana tumpukan ompolnya? Kemana botol susunya?

“Kamu cari apa?” Kekasihku cemas melihatku sibuk mencari-cari sesuatu.

“Anak itu, kemana dia?”

“Anak? Anak siapa?”

“Anak kita, sayang. Anak yang lahir dari benihku, anak yang kamu kandung, anak yang kamu lahirkan. Bagaimana kamu bisa lupa?”

Wajah kekasihku berubah muram, ia menghampiriku dengan pelukan, “Sayang, kita nggak punya anak. Karena kamu…”

“Karena aku kenapa?”

“Ah sudahlah, aku selalu cinta kamu,  sayang.” Ciuman kekasih yang  melumat lembut bibirku tak mampu mengusir gundah ini, hanya pikiranku yang menerawang, jauh. Ternyata bahagia itu, anak itu, hanya mimpi, hanya mimpi.

Pagi ini, adalah pagiku, pagi dimana aku menangis saat memandangi tubuhku, aku perempuan, tak berpenis, tak bersperma, tak bisa membuahi rahim kekasihku. Jutaan harapan memiliki anak bersama kekasihku menggantung di langit.

Bisakah suatu saat aku memetiknya?

@Deni Melisa, SepociKopi, 2011

Tags: , , , , , ,

19 Comments »

  • Mizu says:

    sabar ya, semua pasti indah pada waktunya.. :)

  • wind says:

    Wow Den, banyak amat koleksi mimpinya. Bagi donk sama yg disini, mulai dari mimpi punya partner, mimpi punya anaknya ntar aza kalo dah sering mimpi punya partner hahahaha.

  • amie says:

    anak titipan,mau itu dr rahim sndri ato bkan..kl yg Diatas sudah percayakan,akan datang kok dr manapun..yg pasti dgn cara yg baik

  • abee says:

    merinding bacanya den, karena apa yg kita rasakan sama

  • kiora says:

    DeNi…, how a touching article!

  • Shifu says:

    Kadang2 aku menghayal punya s’orang anak dari rahim patner ku.dan itu kami yang buat.hee.. Sering aq ngbrol ringan sama patner pengen punya baby.tp muka patner kaya gak mungkin gitu.pengen ngapdopsi baby,tp patner belum kasih jawaban pasti.. Aq pengen ad suara tangisan baby d’keluarga kecil kami.hikz….

  • De Ni says:

    @All, Thanks buat dukungan semangatnya. Thanks banget!!!

    @Noy, kami tersentuh oleh kisahmu. Thanks sis…

  • Cumi says:

    Hmm..
    So touching..:’(
    But, still keep spirit y den-mel..:-)

  • ken she says:

    Den,,tulisan yang aku tunggu2 akhirnya keluar jg.
    lama kunanti kelanjutan kisah2 mu kawan.
    trakhir baca kisah kisah cinta di Blognya Deni yg sejarah cinta dah buat Ken ketagihan buat baca daN baca lagi karyamu Den.
    sebab apa yg Deni tulis dalam setiap artikel membuat ken merasa terharu dan kadang nangis,kadang senyum2 sendiri bahkan kadang ampe ngakak. Tau kenapa krn smua kisah itu mirip dg kisah Ken Dulu. memiliki seorang anak pasti jg impian kita semua. memiliki suatu keluarga yg bahagia layaknya keluarga hetero. but kita musti trima kenyataan Den,,inilah kenyataan,,bahwa kita gak bakal pernah bisa menciptakan sel sperma dari tubuh kita sendiri. hanya sel telur yg mungkin tercipta.dan gak usah putus asa toh masih bs adopsi kan my brooooo

  • noy says:

    deni melisa
    gw hetero..n mnikah
    krn penyakit 17 th lalu
    saat ini saya sulit skali u punya anak
    tp sejak awal pacaran ma swami
    ia sudah saya britahukan sikon tsb
    dan bisa mnerima

    kami sudah 7 th mmnikah
    pada tahun kedua ktika masih hangat2nya
    mencoba u punya anak..saya d benturkan pada kenyataan
    bahwa itu nyaris tak mungkin, demikian kata dokter

    saya menangis d toilet klinik
    dan swami memeluk saya sangat erat
    “aku mnikahimu bukan karena ingin mimiliki anak,
    tapi hanya karena ingin bersamamu selamanya..
    siapapun bisa menjadi anak kita..adopsi aja”

    well, then..bgitulah..
    makna ‘ibu’bagiku bukan dari fisik
    tapi dari peran dan sikap yang kita berikan
    kepada mereka…anak-anak kita :D

  • joy says:

    mimpi yang sama yang selalu ada disetiap malam di tidurku

  • lovetolove says:

    bermimpi punya lingkungan seperti di film ”Kids are allright” someday…

  • Tenshi says:

    Aq juga berharap bisa punya baby lagi dari partnerku… Inseminasi memang sebuah solusi tapi solusi yang sangat butuh pertimbangan. Masalahnya apalagi kalau bukan biaya yang selangit dan status si anak setelah lahir nanti..

  • p.s. says:

    ikut terharu, mpe bolak-balik baca ny… hikss, berasa ad dlam cerita cos sama ayank ku jg ber hidug jambu hehe …
    semangat .

  • febby says:

    Hmm..touching..

    Pernah kepikiran inseminasi??

  • fella says:

    Love it,may Lord heard what u really want it ‘a baby’… “Sometimes We can’t get what we want but we can give abig love to our lover no matter what..” :)

  • abhi says:

    :’)
    rasanya benar2 seperti ingin tersenyum sambil menangis, ini impian yang manis tapi tragis
    Walt Disney di suatu masa pernah berkata, ‘If you can dream it, then you can do it’. Itu quote favorit yang saya sebut2 saat merasa apa yang saya atau teman saya mimpikan terlihat terlalu tinggi, tapi untuk konteks di dalam tulisan ini.. *sigh*
    Bagaimanapun, dear Deni Melisa, jangan biarkan pemikiran itu membuat awan mendung di hari2mu. Kamu dan kekasihmu harus tetap tersenyum menatap dunia!
    Ah, aku ingin menepuk2 pundakmu sekarang :’)

    p.s. thanks for sharing that with us here

  • Alifah says:

    Mimpi yang tak pernah terwujud Den,,
    tapi masih ada cara lainkan, untuk tetap menjaga hubungan kamu tetap harmonis,,

    SemangatTT… Buat Deni melisa

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.