Home » Humaniora, Renungan

Di Sini, Manusia Tetap Setia

Submitted by on 03/05/2011 – 2:27 pm8 Comments | 1,127 views

Oleh: Lakhsmi

Izinkan aku membuka tulisan ini dengan sejengkal puisi karya Goenawan Mohammad: (*)

Tahun pun turun membuka sayapnya
Ke luas jauh benua-benua
Laut membias: warna biru langit tua
Zaman menderas: manusia tetap setia

Kata ‘setia’ mengelitiki telingaku dalam beberapa hari ini. Bukan, aku tidak mau berbicara tentang setia yang konteksnya berhubungan dengan urusan hubungan percintaan. Setia yang aku maksud di sini adalah sikap-sikap loyal, bakti, keteguhan jiwa, solidaritas pertemanan.

Kata setia dimulai dari seorang teman yang mempertanyakan tentang kesetiaan para penulis di sini. Apakah para penulis di sini saling mengenal dan saling memiliki komitmen atau ikatan pertemanan yang abadi? Aku menjelaskan bahwa tidak semua penulis SepociKopi saling mengenal satu sama lain. Ada yang bersahabat, tapi ada pula yang tidak.

Kata setia selanjutnya ketika aku menerima email dari salah satu penulis. Tentu saja, komunikasi terbaik yang terjadi antara aku dan teman-teman penulis di sini adalah lewat email, tidak ada yang lain lagi. Sesekali kami menyapa apa kabar lewat email, diakhir dengan pengingat lembut bahwa saatnya untuk mengumpulkan tulisan.

Setiap penulis memiliki gaya penulisan masing-masing, selera, dan tentu saja, pendekatan yang berbeda terhadap subyek-subyek tertentu . Ada yang humanis, ada yang pengalaman pribadi, ada yang filosofis, dan lain-lain. Nah, temanku yang satu ini menyukai menulis dengan menggunakan data empiris dan akal sehat dibandingkan menulis berdasarkan pengalaman atau bersifat opini.

“Tentu kamu tahu, tulisan-tulisan semacam itu tidak akan mendapat klik yang banyak, kan?” kataku mengingatkan. “Tulisan yang disukai di SepociKopi adalah tulisan dengan gaya sharing.”

Dengan tegas teman penulisku menjawab, “Lax, aku menulis bukan untuk mencari popularitas. Aku mengimani agar para lesbian mendapat pilihan menu yang semakin luas di situs SepociKopi.”

Ini adalah sebuah pernyataan yang humble, pernyataan kesetiaan dan kesetiakawanan yang luar biasa. Ini pernyataan yang sejajar dengan ideologi meletakkan manusia-manusia lain di atas dirinya, melewati sifat-sifat egoistik dan narsistik, obsesi menjadi lebih hebat dibanding dengan yang lain, atau gila dengan pujian, pemujaan, dan kehormatan. Penulis yang berjiwa ingin berbagi, mengubur seluruh ke-aku-annya dan menumbuhkan ke-kami-an, adalah penulis yang bertahan lama di SepociKopi.

Ada puluhan penulis yang setia menulis. Ada yang dari awal sejak SepociKopi didirikan bersama-sama, ada yang mulai dari tengah, ada pula yang baru-baru ini saja. Begitu banyak penulis yang berlalu lalang untuk SepociKopi dengan sejuta tujuan yang digenggam ketika menuliskan karyanya. Ada yang tulus ingin berbagi, ada yang mengisi waktu lowong, ada yang iseng, namun mungkin juga ada yang mengandung alasan-alasan lain yang bersifat negatif.

Kesetiaan menjadi berarti ketika dia langsung dikejawantahkan, bukan sekadar menjadi motto usang yang sering diangkat dalam sifat-sifat persaudarian lesbian. Kesetiaan adalah keping yang mengagumkan, sungguh menginspirasi. Kesetiaan adalah bagian paling primitif yang dimiliki manusia. Kita semua pasti tahu cerita tentang kesetiaan seekor anjing yang menunggu tuannya pulang. Kita juga tahu cerita tentang kesetiaan seorang ibu yang mencari anaknya yang hilang. Kita pasti pernah dengar tentang kesetiaan  seorang manusia terbuang yang selalu rindu pulang ke tanah kelahirannya. Adakah yang pernah mengalami kesetiaan seperti ini?

Menjadi setia tidak memiliki harga. Bukan karena terlalu murah, tapi karena terlalu mahal. Sahabat yang setia adalah sahabat yang sangat berharga. Kesetiaan tidak pernah meminta bagiannya, menuntut kebutuhan, apalagi menusukkan duri di dalam daging. Loyalitas kepada perusahaan tempat bekerja, bakti kepada negara. Berbahagialah manusia yang memiliki sahabat-sahabat yang setia.

Pada tahun 1908, filsuf Josiah Royce mengeluarkan buku berjudul Filsafat Kesetiaan yang membagi konsep besar tentang arti kesetiaan. Kata Josiah, kesetiaan adalah hal-hal baik dan benar, tepatnya hal-hal terbaik dan terbenar. Jantung dari segala kebaikan, sumber tanggung jawab utama dari seluruh tanggung jawab manusia. Dalam konsepnya, Josiah berkata bahwa kesetiaan adalah kesanggupan dan sikap-sikap praktis manusia untuk mencapai satu tujuan. Jadi, kesetiaan bukan hanya tentang diri sendiri, tapi melibatkan hal-hal luar atau orang lain. Kesetiaan adalah keberadaan sosial, di mana seseorang menyerahkan segenap ke-aku-annya dan melebur menjadi bersama-sama dengan yang lain.

Saking yakinnya aku, izinkan aku menutup tulisan ini dengan sebuah bayangan yang absurd (adakah yang tidak absurd dari kesetiaan itu sendiri?). Semoga dalam seratus tahun lagi, kesetiaan akan membawa para penulis SeociKopi ke sebuah danau, tempat hujan dan kenangan berimpitan, sambil menyalakan lagi sumbu cinta, yang datang dengan sederhana.

Di sini kita ngungun berdiri, membangun abad ini
“Adakah sorga akan kemari?”
Lampu-lampu padam dan malam buta
Tapi manusia setia
(*)

@Lakhsmi, SepociKopi, 2011

(*) Tahun pun Turun Membuka Sayapnya, dari kumpulan puisi Goenawan Mohammad Sajak-sajak Lengkap 1961-2001

Tags: , , , ,

8 Comments »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.