Home » Gaya Hidup, Mix n' Match

Mix n’ Match: Pintu Dunia Sains Interdisipliner

17 April 2011 848 views 16 Comments

Oleh: Carmen

Oh, Tuhan! Dari judulnya saja, terbayang betapa membosankannya artikel ini. Tapi ladies, izinkan aku meyakinimu bahwa topik kali ini adalah topik yang seksi. Uh, yeah. Err..

Semua ini berawal dari kegalauanku tentang banyaknya pilihan hidup yang musti kita ambil sebagai lesbian. Pilihan ini bisa dibilang cukup spesifik plus tingginya tingkat kerumitan bagi lesbian dibanding kelompok lainnya. Misalnya, memilih menyukai si femme cantik atau butch ganteng; memilih pasrah pada ajakan cinta atau mati-matian denial; memilih pacaran atau tidak; lanjut pacaran atau stop; coming out atau tidak pada orangtua, teman sekantor, keluarga besar, teman-teman dekat atau teman-teman jauh (masalah coming out masing-masing ada level kerumitannya sendiri-sendiri); tentang pengaturan finansial; tentang menanggapi stigma macam-macam; tentang menikah atau tidak, dan lain-lain kalau di-list mungkin bisa ada ratusan (tarik napas panjang).

Beberapa lesbian cukup beruntung punya waktu berpikir. Tentu jangan sia-siakan untuk mencari informasi sebanyak-banyaknya. Misalnya, dengan tanya sana-sini, minta pendapat dari figur yang dihormati, teman, hingga mungkin dukun. Nah, aku mau menawarkan satu sumber lagi untuk pengambilan keputusan, yang selama beberapa dekade terakhir cukup progresif mengulas populasi lesbian. Sungguh sayang bila sumber ini terlewatkan oleh kita.

Sumber itu adalah bacaan dari hasil-hasil penelitian sains, interdisipliner.

Secara spesifik, tawaranku adalah: Bergaul akrab dengan dunia sains bisa menjadi salah satu alternatif gaya hidup lesbian. Ya, gaya hidup. Karena banyaknya proses pengambilan keputusan yang harus dilalui, maka adalah logis bagi lesbian untuk bekerja “ekstra” keras dalam mendapatkan informasi yang berkualitas. Berkualitas di sini sangat penting, bisa dirujuk sebagai sumber baik dalam pengambilan keputusan. Kenapa? Karena hasil penelitian cenderung (lebih) obyektif dibanding opini dan selalu merujuk pada fakta. Penelitian juga pasti melewati pengujian-pengujian yang hasilnya bisa diulang/replikasi.

Ya, tujuan utama ilmu pengetahuan sebenarnya adalah membuat dunia lebih mudah dimengerti kan?

Secara singkat, yang ditawarkan oleh sains adalah mendeskripsikan, menjelaskan, dan yang paling bikin deg-degan adalah kemampuannya untuk  memprediksi suatu fenomena. Bayangkan kekuatannya! Contoh pertama, tentu topik yang kita semua minimal pernah mengalaminya, yaitu depresi. Penelitian-penelitian yang jumlahnya banyak mendeskripsikan kerentanan lesbian terhadap kondisi depresi (contoh, lihat artikel SepociKopi tentang On Depression and Smoking, On Depression And Alcoholism, On Depression and Suicide). Bagaimana dengan fenomena depresi lainnya dengan faktor-faktor lain yang berperan, seperti victimization1 dan bullying2 ? (lihat artikel SepociKopi Tajuk: Bullying dan Kita) . Informasi ini memudahkanku dalam rangka mengambil keputusan untuk pencegahan, atau mewaspadai.

Bagaimana tentang masalah coming out? Penelitian-penelitian mendeskripsikan proses coming out bagi individu lesbian3 dan menjelaskan bagaimana suksesnya proses itu dipengaruhi berbagai macam faktor situasional dan sosial4, 5. Di beberapa kultur lain seperti Asia, banyak faktor yang perlu diperhatikan dalam proses coming out6. Beberapa penelitian bahkan memprediksi bahwa membangun identitas positif bisa diraih tanpa harus coming out7.

Dari membaca hasil-hasil penelitian, aku juga bisa membangun identitas yang positif, karena beberapa informasinya sangat konstruktif bagi kita yang sudah memutuskan menjalani hidup sebagai lesbian. Misalnya tentang deskripsi kualitas hubungan lesbian, yang ditemukan unggul dalam hal kedekatan intim psikologis dibandingkan dengan populasi pasangan lainnya8. Penelitian juga menjelaskan bahwa komunikasi adalah faktor utama dalam keberhasilan pasangan lesbian dibandingkan populasi pasangan lain9, 10. Hasil-hasil penelitian juga memprediksi faktor-faktor kepuasan hidup dan kesehatan mental pasangan lesbian yang hubungannya langgeng, hingga lebih dari 30 tahun11, 12. Wow, kan?

Jika iseng kepingin tahu tentang etiologi atau sejarah kemunculan mengapa menjadi lesbian atau bagaimana langkah-langkah tidak menjadi lesbian lagi, bisa dilihat penelitian-penelitian behavioral genetics13 (lihat juga artikel SepociKopi tentang Genome). Memang kebanyakan penelitian tentang LGBT dilakukan di negara-negara tertentu, seperti di negara-negara Eropa, Amerika, Australia, Israel, dan Kanada. Namun di beberapa tahun terakhir, juga banyak peningkatan jumlah penelitian LGBT dari negara-negara di Asia, seperti India, Jepang, dan Cina; atau populasi orang Asia di negara-negara maju.

Bidang pekerjaanku bukanlah berkutat tentang homoseksual. Bahkan jauh sekali dari topik itu. Maka buatku pun, membaca laporan penelitian-penelitian tersebut pertamanya memang sulit, tapi lama-lama terbiasa dan malah keterusan. Ada baiknya bila komunitas lesbian yang mumpuni lebih fokus membaca hasil-hasil penelitian (dibandingkan fokus kepada saran yang sifatnya propaganda, misalnya propaganda coming out), sehingga saran-saran yang diberikan kepada kaum remaja lesbian, adalah saran-saran yang matang; dan tidak merugikan teman-teman yang butuh bantuan tersebut.

Jadi, bagaimana cara membuka pintu dunia yang menakjubkan itu, dunia sains interdisipliner? Jawabanku adalah, kuncinya ada di masing-masing kita, lesbian pencinta kehidupan: dengan tidak keder duluan membaca yang terlihat sulit, tidak ragu membaca topik baru, banyak diskusi dengan experts, bersikap terbuka terhadap ide-ide dan bukti baru dunia pengetahuan, dan tentu saja, berani mengaplikasikan pengetahuan tersebut di kehidupan kita masing-masing. Bagi kolega-kolega lesbian yang pintar, khususnya yang berkutat di bidang sains homoseksualitas, silakan sharing ilmunya di sini.

Sekarang, apakah aku berhasil meyakinimu bahwa sains = seksi?

@Carmen, SepociKopi, 2011

1Balsam, K. F., Beauchaine, T. ., & Rothblum, E. D. (2005). Victimization over the life span: A comparison of lesbian, gay, bisexual, and heterosexual siblings. Journal of Consulting and Clinical Psychology, 73, 477-487

2Rivers, I. (2004). Recollections of bullying at scholl and long-term implications for lesbians, gay men, and bisexuals. Crisis, 25, 169-175

3Harry, J. (1993). Being out: A general model. Journal of Homosexuality, 26, 25-39

4Boon, S., & Miller, R. J. (1999). Exploring the links between interpersonal trust and the reasons underlying gay and bisexual males’ disclosure of their sexual orientation to their mothers. Journal of Homosexuality, 30, 89-112

5Schope, R. D. (2002). The decision to tell: Factors influencing the disclosure of sexual orientation by gay men. Journal of Gay and Lesbian Social Services, 14, 1-21

6Chan, C. S. (1989). Issues of identity development among Asian-American lesbians and gay men. Journal of Counselling and Development, 68, 16-21

7Herek, G. M. (2003). Why tell if you’re not asked? Self-disclosure, intergroup contact, and heterosexuals’ attitudes toward lesbians and gay men. In L. D. Garnets & D. C.  Kimmel (Eds.), Psychological Perspectives on lesbian, gay, and bisexual experiences (2nd ed., pp.270-298). New York: Columbia University Press

8Kurdek, L. A. (2005). What do we know about gay and lesbian couples? Current Directions in Psychological Science, 14, 251-254

9Mackey, R. A., O’Brien, B. A., & Mackey, E. F. (1997). Gay male and lesbian couples: Voices from lasting relationship. Westport, CT: Praeger

10Roisman, G. I., Clausell, E., Holland, A., Fortuna, K., & Elieff, K. (2008). Adult romantic relationships as contexts of human development: A multimethod comparison of  same-sex couples with opposite-sex dating, engaged, and married couples. Developmental Psychology, 44, 91-101

11Connolly, C. M. (2005). A qualitative exhttp://sepocikopi.com/wp-admin/post-new.phpploration of resilience in long-term lesbian couples. The Family Journal, 13, 266-280

12Mackey, R. A., Diemer, M. A., & O’Brien, B. A. (2000). Relational factors in understanding satisfaction in the lasting relationships of same-sex and heterosexual couples. Journal of Homosexuality, 47, 111-136

13Clark, W. R., & Gurnstein, M. (2000). Are We Hardwired? The Role of Genes in Human Behavior. Oxford: Oxford University Press

16 Comments »

  • strangerinthenight said:

    Yes! Science = Sexy. Dari dulu aku memang cinta science.. semakin rumit semakin sexy :-) Bacaanku yang terberat waktu masih SMP adalah tentang Teori Relativitas Albert Einstein. Ya ampunnnn..

  • yasmine said:

    yeah,, i really like sciene,, aku mahasiswi fkip smester 6 b.ingg,,,, aku suka baca titk balik peradaban by fritjop chaptra,, dan lebih senang lagi membaca sejarah,, dan hal- hal yang bersifat plural,, mengkaji negara iran adalah hobyku, karna dianalah menurutq pusat ilmu-ilmu yang bisa menjawab semua tantangan science modern hari ini, dari karya mulla shadra, imam baqir as sadr, murtada mutahari,,, wuah,, semuanya luar biasa.. knp aq suka baca sejarah,,? karna kata sartonokatarjo siapa yang menguasai sejarah maka bisa merubah masa depan.

  • pooh said:

    hahahaha, yakin! science = sexy.

  • T.Y.A said:

    Yang terpenting kalau mencari jawaban dari sains ada siap membuka pikiran dan wawasan. Sebab pada dasarnya sains memiliki batasan2 pengetahuan yang dibelum diketahui kan.. Apalagi pencarian sains dilakukan oleh manusia yang jelas pnya banyak keterbatasan.. Untuk segala hal,, yang terpenting adalah membuka pikiran, ngak sempit pikiran,, atau ngak mau membaca hal-hal alternatif.. L yang merasa dirinya udah pintar juga berbahaya,, jebakan merasa lebih hebat dan pintar membuat dirinya ngak bakal maju-maju.. ^^

    Kalau mikirin ginian, mending jadi L yang pinter dan bodoh secara bersamaan.. Jyaaah bikin Carmen bingung deh (^;^)

  • nachahunny said:

    Bacaan science tntng lesbian,jd inget masa awal ak sadar suka dng partnerku.Karena bingung dan takt,ak cr b’bagai mcm bacaan.Dr internet seperti wikipedia dan bk psikologi pny tmen.
    Pada dasarny pengetahuan ini sangat bsar manfaatny dlm membntu seseorang dlm ngejalanin hdpnya.Dan jng salah science disini jg tdk IPA aj,tp pengetahuan sosial jg.Bgaimana kt menyatukan pengetahuan it untk hdp yg lbh baik.amin hehe makash kak @carmen buat nice article ny

  • cherry said:

    Seberapapun tidak menariknya suatu artikel atau bacaan tapi kalau kita pengen tahu menganai hal tersebut, tetep aja seru. Jadi kembangkan rasa ingin tahu terhadap ilmu pengetahuan in order to be a good learner. No matter u r lesbian or not, be smart. Smart=sexy :) )

  • Cumi said:

    Duuh..
    Puyeng nie pala abiz bca artikel’a (kgak ngrti)
    Tp q pgn tw mksd’a ap?
    Mklum laa mgkn krn q rada bele kli y?hehe;)
    Tmn” ad g’ yg mo ng’jelasin’a plizz..:-|

  • Jona said:

    Masih susah membiasakan membaca jurnal atau buku pendukung dalam masyarakat kita. Artikel propaganda jauh lebih menarik.

    Beda dengan bangsa barat yang rata-rata menjawab fenomena dengan penelitian atau mengeluarkan teori dengan dukungan riset.

    Jadi sepertinya science = (masih) ruwet.

  • noy said:

    artikel hebat
    sangat inspiratif
    klo maw jadi lesbian
    jadilah lesbian yg hebat
    dalam hal2 yg positif, tentunya
    salute!!

  • carmen said:

    All, thanks apresiasinya :)

    @strangerinthenight haha rumit masa seksi say? ttg teori relativitas, samar2 kayanya pernah dibahas Lakhsmi di SK, pake ilustrasi kapal selam.
    @yasmine kita semangat ya, berkegiatan baca apa aja :) iya kebudayaan persia mungkin ya, sebelum ada negara iran. sejarah menakjubkan memang.
    @pooh & cherry &noy: Uh yeah!!
    @T.Y.A: HAHAHAHA pakai ilmu padi ya
    @Cumi: inti artikelnya, pengen nawarin bahwa haus akan ilmu pengetahuan itu bisa baik buat lesbian (yang nyaris semua punya bnyk masalah, spt saya), dan ilmu itu bisa dicari dari sumber apa saja, khususnya dari hasil penelitian. Jadi banyak baca dan banyak bertanya, seperti yang dilakukan Cumi barusan!! (jempol ke atas). Saling semangat ya!
    @nachacunny: Betul sekali! Spot on!
    @Jona: Yup, akan terus ruwet kalau tidak dimulai-mulai *wink

  • Cumi said:

    @Carmen
    Ooh..gtu y
    Ok dee..
    Mksh y ats pnjlsan’a..
    Slm knal..
    ChayoO:-)

  • keke said:

    @ Carmen : I eventually found my new idol on sepocikopi. it’s you! :)

  • okta said:

    yup, science is so prodigious.

  • dee said:

    Brava! sangat setuju dengan Carmen. Sains selain memperluas wawasan kita, menjadi bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan juga menjadi daya tarik tersendiri bagi kepribadian lesbian. Seriously who can’t stand smart-sexy ladies? selain itu sains juga dapat menjadi alat untuk “berjuang dan bertahan” terutama dalam menghadapi dunia yang terhegemoni oleh heteronormativitas.

    Saya pribadi mencintai dan bahkan menjadikan sains homoseksualitas sebagai bahan skripsi saya sewaktu kuliah dulu. Dengan tantangan yang besar terutama karena kuliah saya di bidang politik, tetapi akhirnya saya dapat membuktikan bahwa homosexual-sains really is interdisipliner. Hingga saat ini saya masih menyimpan keinginan yang besar untuk menjadi pakar di bidang homosexualitas-study mengingat belum banyak yang menggeluti bidang sains tsbt terutama dari Indonesia.

    So I believe sains a.k.a smart is the new sexy!

  • hipokrates said:

    my god!

    aku emang journal hunter. buat tugas2 kuliah saja. dari lancet, bmj, nejm, dll aku gk pernah ketemuan sama journal of homosexuality. hebat! nice research bu dosen sexy!

  • Jeje said:

    Again, awesome article.
    “Human behavior flows from three main sources: desire, emotion, and knowledge” – Plato. Thanks @carmen this article really boost my knowledge. Keep on good work.
    Hm, setuju bgt klo science harus ambil bagian besar dalam kehidupan kita. Smart is sexy.

Leave your response!

Ruang komentar adalah ruang yang memberikan perhormatan tinggi kepada kaum lesbian. Silakan gunakan kata "lesbian" atau "lesbi" dengan tepat, bukan dengan kata-kata lain yang melecehkan. Komentar dengan bahasa alay, singkatan, dll, tidak diperkenankan. Terima kasih.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.