Home » Sepocikopiana, Tentang Cinta

Have Your Say: My First Kiss

Submitted by on 18/03/2011 – 6:28 pm28 Comments | 4,318 views

Setiap lebian pasti ingat akan ciuman pertamanya. Apakah kamu juga mengingatnya? Bagaimana rasanya? Pastinya tidak melulu manis, pastinya ada rasa-rasa aneh dan bingung yang campur baur. Dengarkan kisah sahabat lesbian kita, DeeDee yang bercerita tentang cinta dan ciuman pertamanya.

Waktu berumur sepuluh tahun, aku suka dengan seorang teman sekelas bernama Janie. Sejauh yang aku ingat sampai sekarang, Janie bukan anak yang populer di kelas. Dia malah cenderung pendiam. Aku senang memperhatikan dirinya. Pernah aku diatur oleh Ibu Guru duduk di sebelahnya. Selama 4 bulan, aku senang sekali! Pertemananku dengan Janie harus berakhir ketika ayah dipindahtugaskan ke Malang.

Dua bulan pertama di Malang, aku jatuh sakit. Mungkin karena aku kangen sekali dengan Janie. Kami bersurat-suratan dengan rajin. Saat Janie mengirimkan surat, aku dalam keadaan sakit, tak mampu membalas. Akhirnya Janie mengirim surat lagi, mungkin merasa heran karena aku tidak membalas. Surat Janie yang kedua tidak aku balas juga, karena aku masih sakit. Membacanya saja tidak mungkin, apalagi membalas. Aku sakit berat selama 3 minggu dan Janie mengirimkan lima surat yang semuanya tidak aku balas. Setelah surat kelima, Janie tidak mengirimkan apa-apa lagi. Sepulang dari rumah sakit, aku buru-buru membalas surat Janie, tapi suratku yang itu tidak dibalas sama dia sama sekali.

Aku mengirim surat kedua, memohon maaf atas ketidakmungkinan aku membalas suratnya. Akhirnya datang juga balasan Janie. Dia kaget ternyata aku sakit, dia mengira aku sudah melupakannya karena bertemu dengan teman-teman lain. Mana mungkin aku melupakan Janie! Di usia 10 tahun, darah muda pra-remajaku mulai bergejolak. Aku ingin mengatakan aku sayang dia, tapi aku tidak memiliki keberanian apa-apa.

Hubunganku dengan Janie kuanggap sedikit keanehan dalam jiwaku. Aku menyimpannya diam-diam, tidak mau memikirkannya menjadi urusan besar. Teman-temanku ada yang mulai saling menjodoh-jodohkan, tapi aku tidak tertarik sama lawan jenis sama sekali. Tanteku juga ada yang sering menggodaku dengan lelaki lain, tapi tidak aku anggap. Di usia 11 tahun, aku mendapat menstruasi yang pertama kali. Karena jarak, lama-lama surat-menyurat dengan Janie menghilang. Rasa sayang dan cintaku mulai teralihkan dengan teman sekelas lain, yang berkelamin perempuan. Namanya Rin.

Rin senang mengajakku pergi ke kantin berdua, menghabiskan waktu istirahat bersama-sama sambil menikmati tahu goreng atau siomay. Di kelas, Rin dan aku selalu bersaing untuk mendapatkan juara pertama. Kami belajar untuk menghadapi ujian dan mendapatkan nilai terbaik di kelas enam, sehingga bisa mendaftar di kelas SMP unggulan. Tiga bulan sebelum ujian, aku mendapat surat terakhir dari Janie. Dia bilang dia akan pindah sekolah ke Sydney Australia karena ayahnya mendapat beasiswa untuk melanjutkan S2 dan S3-nya di negeri kangguru itu. Sedih hatiku. Aku akan kehilangan Janie selama-lamanya.

Akhirnya kami berdua lulus dan diterima di SMP unggulan. Aku dan Rin berbeda kelas, tapi kedekatan kami tetap tak terpisahkan. Selama 3 tahun SMP, aku seperti tidak mengenal teman-teman lain. Mataku hanya tertuju pada Rin. Aku sering mencuri-curi waktu untuk mampir di rumahnya, ngobrol di kamarnya, hanya sekadar memiliki waktu pribadi dengan Rin, berdua saja di ruangan tertutup. Waktu Rin ulangtahun 14 tahun, aku nekad mencium pipinya. Sebenarnya aku sudah kepengin menciumnya, tapi tidak berani. Ulang tahun adalah saat yang tepat untuk melakukannya.

Aku mulai merasakan keanehan ketika umurku 15 tahun. Keinginan untuk menggandeng tangan Rin, membelai wajahnya, mencium pipinya, mengusap rambutnya semakin tak tertahankan. Aku sering mencuri-curi mencium pipinya, tapi tetap tidak berani sering-sering, apalagi di depan orang-orang. Menggandeng selalu kulakukan jika kami bepergian. Mengusap rambut juga kerap kulakukan kalau aku sayang padanya. Tanda-tanda sukaku kepada Rin rupanya diendus oleh guru BP sekolah. Aku dipanggil.

Aku tahu aku dicurigai. Guru BP bertanya kepadaku dengan sopan, supaya tidak menuduh. Tapi dari pertayaan-pertanyaan itu, aku tahu beliau sedang mengukur rasa sukaku kepada perempuan. Akhirnya setelah aku mengelak semua pertanyaan-pertanyaan ‘menjurus’ dari guru BP, guru BP menutup ‘bincang-bincang’ siang itu dengan nasehat agar aku menjauh dari Rin. Alasannya, masih banyak teman lain yang bisa dijadikan sahabat.

Panggilan dari guru BP membuatku semakin erat dengan Rin. Aku semakin tidak bisa melepaskan Rin. Masa bodoh kalau seluruh dunia tahu. Aku sering cemburu kalau Rin digoda lelaki, dijodoh-jodohkan dengan orang lain, dan ada teman yang tertarik berdekat-dekatan dengan Rin. Aku semakin posesif sama Rin, tanpa mengerti kenapa aku nekad melakukan hal ini. Aku melakukannya karena aku benar-benar sayang Rin.

Akhirnya kami lulus SMP, dan ternyata Rin mendaftar di SMa yang berbeda denganku. Bukan itu saja, Rin bilang dia akan pindah ke SMA di Surabaya. Aku marah kepada Rin, kenapa dia mendaftar di SMA itu. Kenapa tidak sama-sama aku saja? Rin yang seorang Kristiani disuruh bundanya untuk bersekolah di sekolah Kristen ternama di Surabaya. Uring-uringan, aku tidak bisa mengubah keputusan bundanya, sehingga aku menjadi nekad habis-habisan. Aku memohon kepada orangtua agar aku dibolehkan mendaftar SMA di Surabaya!

Mulanya orangtuaku tidak setuju. Tapi karena aku sudah berniat bulat untuk sekolah di Surabaya, akhirnya orangtuaku mengizinkan, asal aku masuk ke SMA negeri unggulan, tidak boleh masuk ke sekolah swasta. Akhirnya aku diterima di salah satu SMA negeri yang terkenal di Surabaya, sementara Rin juga melanjutkan SMA-nya di SMA Kristen yang terkenal se-Jawa Timur. Aku senang sekali. Biarpun agak sedikit jauh dari sekolah, aku memilih kos-kosan yang dekat dengan rumah tante Rin, di mana Rin tinggal di sana. Lucunya, setiap hari Jumat, SMA negeriku mewajibkan murid-murid perempuannya mengenakan jilbab, sementara setiap hari Jumat, sepulang sekolah, aku pasti menjemput Rin di sekolahnya. Pemandangan yang aneh, di antara lautan siswa-siswa Kristen, ada aku yang berjilbab dengan seragamku, menunggu Rin-ku.

Cinta membuatku mabuk kepayang. Aku tidak mengenal lelaki sama sekali. Tidak ada lelaki yang bisa menyentuh jiwaku. Fokus dan perhatianku hanya Rin. Kelas 2 SMA, terjadilah kejadian itu. Waktu itu, aku dan Rin di kamar kosku, mengobrol ngalor ngidul tentang isi yang ada di majalah remaja kesayangan kami. Kami duduk berdua di lantai, dengan majalah terbuka di atas kaki kami. Begitu dekat dirinya, membuatku tak tahan. Aku memulainya dengan mencium pipinya, lama-lama menjalar ke hidung, dagu, mata, dahi, dan akhirnya kami berciuman di bibir. Sehabis berciuman seperti itu, kami tidak berkata apa-apa. Kami juga tidak membahas ciuman itu. Tak lama Rin pulang.

Sepeninggal Rin, aku terpekur. Kaget. Shock. Nggak menyangka aku sanggup melakukanya. Saking kagetnya, aku nggak mengirim SMS apa-apa ke Rin sampai malam dan aku jatuh tertidur. Biasanya setiap malam, kami pasti ber-SMS dan sebelum tidur, aku kerap menelponnya sebentar sekadar untuk mengucapkan selamat tidur. Tapi untuk pertama kalinya, aku tidak berani melakukannya. Subuh, aku terbangun, teringat ciuman kemarin malam membuatku bahagia tapi sedih pada saat yang bersamaan. Aku tidak mengerti perasaanku. Di kamar mandi, aku malah menangis.

Selanjutnya, aku memberanikan diri mengirim SMS ke Rin, berpura-pura mengucapkan selamat pagi dan memberikan semangat agar dia bersekolah dengan rajin. Tidak ada balasan SMS apa-apa. Sepanjang sekolah, aku berkeringat dingin, deg-degan, dan tidak berselera apa-apa. Yang kulakukan hanyalah mengecek hape-ku berkali-kali, menunggu balasan Rin. Ketika bel sekolah berakhir, aku malah pergi ke kantin, membeli nasi uduk dan teh hangat, duduk menekuri nasib.

Tahu-tahu aku kaget, karena Rin muncul begitu saja di depanku. Tatapannya pucat. Dia langsung memberondongku dengan pertanyaan aku ke mana aja. Kenapa tidak memberi kabar apa-apa. Kenapa diam saja. Kenapa nggak membalas SMS-nya. Aku menjadi kaget. Aku bilang justru aku yang menunggu SMS-nya. Setelah kami saling mengkonfrontasi, ternyata dua SMS yang dikirim Rin ke aku tidak sampai dan satu SMS yang kukirim ke Rin tadi pagi juga tidak sampai. Entah kenapa operator telpon genggam sengaja melakukan konspirasi yang kacau di antara kami berdua. Rin bilang dia kira aku nggak mengirim SMS karena aku marah padanya, sementara aku juga berpikir yang sama.

Saat itu, aku ingin memeluk dia, mengatakan bahwa mana mungkin aku bisa marah padanya. Sudah 5 tahun aku menyayanginya, bagaimana mungkin aku tega mendiamkan Rin? Cepat-cepat kuhabiskan nasi udukku, kuajak Rin ke kosku, lalu untuk pertama kalinya (sekali lagi) kami berciuman di kamar kosku, tanpa kecelakaan, dengan penuh kesadaran, lama, dan indah. Rin adalah cewek pertamaku yang aku sayangi sampai sekarang. Biarpun hubungan kami telah putus bertahun-tahun lalu, tapi cintaku pada Rin selalu abadi.

@DeeDee, SepociKopi, 2011

  

Tags: , , ,

28 Comments »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.