Home » L'Amour, Sepocikopiana

L’Amour: First Kiss

Submitted by on 06/03/2011 – 11:08 pm25 Comments | 8,300 views

Oleh: Diox

Dari SMP gua memang sudah agak tomboy, rambut pendek dan punya geng cewek-cewek tomboy. Sampai SMA juga masih tomboy dan masih ngegeng. Tapi memurut gua saat itu, tomboy nggak selalu berkaitan dengan orientasi seksual. Gua nggak asing dengan kata-kata “lesbian” karena nggak sekali dua kali temen-temen geng gua sering dikatain sama geng Cewek-Cewek Sok Cantik dengan cibiran, “Dasar, lesbi lu.”

Seperti remaja lain, gua melewati proses pencarian jati diri. Secara tampang gua biasa-biasa saja dan nggak mau ribet dengan urusan dandan, gue memutuskan untuk menjadi cewek tomboy. Gua memilih potongan rambut pendek, supaya bisa kaya iklan shampo yang ngerapiin rambut cuma dengan disisir pakai jari. Gua nggak punya ortu kaya yang bisa beliin gua baju remaja trendi yang up to date, sehingga gua memilih jeans plus kaos oblong atau kemeja, menjadi pakaian kebesaran gua, dan pakaian ini gak akan ada matinya. Gua nggak perlu ribet dengan berbagai macam alas kaki, sepatu high heels, wedges, dll. Cukup dengan sepatu kets yang nggak mati gaya selama bertahun-tahun. Pilihan pakaian itu membuat gua lebih nyaman, lebih percaya diri.

Ejekan mereka yang sering ngatain geng gua lesbian, gua bantah habis-habisan. Gua mau membuktikan kalau cewek tomboy gua juga bisa punya pacar. Dan kenyataannya, biar gua tomboy, ada kok cowok-cowok yang nembak gua. Pacar gua malah bilang asik pacaran sama gua. Mandiri, gak cengeng, gak posesif. Kecuali satu hal yang kurang asik: pacaran sama gua nggak kaya pacaran sama cewek yang lain yang mudah diajak ekplorasi seksual, dan biasanya faktor ini yang bikin gua cepat putus dari cowok. Gua gak perlu menutup-nutupi fakta kalo gaya pacaran teman-teman gua banyak yang udah kaya suami istri.

Pas kuliah, geng teman-teman SMA gua bubar, terpencar-pencar. Dan gak disangka ternyata gua malah sekampus sama salah satu cewek Geng Sok Cantik yang dulu sering mencela gua sebagai lesbian, sebut saja namanya Widi (dia juga teman SMP gua). Nggak cuma sekampus, tapi sejurusan hanya beda kelas. Jelas banget males gua liat mukanya, apalagi kalau ingat tingkahnya waktu di sekolah dulu. Gua cuek-cuek aja, sok nggak kenal. Sampai Semester tiga kemarin, akhirnya gua mengambil matakuliah yang sama dan kelas yang sama dengan dia. Dan saat pembagian tugas kelompok penyusunan makalah, gua kebagian sekelompok yang sama dengan dia, mau nggak mau musti berkomunikasi. Dalam hati gua, mending gua ngulang mata kuliah ini daripada harus berurusan sama dia.

Kayanya dia tau gua memang menghindari dia, dan sepertinya juga dia merasa bersalah gitu. November 2010 kemarin, kira-kira sebulan sebelum jadwal UAS semester tiga,  tiba-tiba dia menghampiri gua di food court kampus, bahkan dengan beraninya dia ngusir dua orang teman cowok gua.

“Eh, sori ya, aku minta waktu ngomong sama Dian sebentar.”

Temen-temen gue langsung menyingkir. Gua juga sudah nggak bisa pura-pura nggak kenal dan menghindar. Dia langsung to the poin.

“Dian, aku mau minta maaf untuk semua kesalahan aku sama kamu waktu di sekolah dulu.”

“Minta maaf? Hehehe, bukannya lebaran masih jauh?”

“Aku serius.”

“Gua juga.”

“Aku nggak tahan kamu diamin seperti kita nggak pernah kenal, padahal teman-teman juga tau kita dari sekolah yang sama.”

“Memangnya lu pernah mikir gua tahan apa enggak waktu lu ngata-ngatain gua?”

“Ya ampun, itu kan lucu-lucuan aja!”

“Buat gua nggak lucu!”

Dia diam. Gua mengalihkan pandangan ke arah lain. Gua merasa bukan tipe pendendam, tapi gua rasa kelakuan dia dan teman-teman gengnya udah kelewatan ke gua dan temen-temen gua. Dan gua nggak berminat berurusan lagi sama dia.

Sampai gua dengan suara isak tertahan.

“Yah, lu pake nangis lagi. Ntar gua dipikir apaan lagi!”

Please sekali ini saja kasi aku kesempatan buat menjelaskan semuanya.”

Dengan kepala tertunduk Widi menarik tangan gua, memutari food court menuju lorong di samping Ruang E7, ke toilet wanita. Gua nggak bisa menebak apa yang akan dia jelasakan, tapi gua pikir toilet adalah tempat teraneh untuk menjelaskan apapun itu. Ternyata dia mau cuci muka, mungkin supaya nggak ketauan baru nangis. Gua diam aja melihat dia mencuci muka di wastafel. Tak lama seorang cewek keluar dari toilet ujung. Setelah mengeringkan wajah dengan tisu dia menarik tangan gue menuju pintu.

Gua pikir dia mau ngajak keluar lagi, ternyata dia malah menutup dan mengunci pintu. Dan tanpa memberi kesempatan gue berpikir apa-apa dia menarik kepala gue dan mencium bibir gue. Gua shock setengah mampus. Tapi mendadak otak gua nggak bisa berpikir apa-apa. Badan gua mendadak lumpuh. Dia mencium gua lamaaaaaa. Lama banget. Sampai gua merasa seluruh badan gua kaya kena setrum listrik. Sampai pandangan gua kabur, dan gua malah memejamkan mata. Sampai gua gemetar. Sampai  gua merasakan rasa asin dari air mata Widi. Sampai gua ngerasa pengen kencing.

Semua perasaan dan sensasinya campur aduk. Dan gua akui tidak pernah gua rasakan saat pacaran dengan cowok-cowok gua waktu sekolah dan saat kuliah (gua nggak pernah awet pacaran, paling lama hanya bertahan enam bulan).

Setelah itu, Widi bilang sama gue kalau dia nggak bisa menjelaskan semuanya di sini (ya iyalah! toilet kampus, bok!). Akhirnya dia ngajak gua ke kostnya yang tidak begitu jauh dari kampus. Sepanjang jalan gua memikirkan “tragisnya” nasib gua, karena seumur hidup gua harus mengenang ciuman pertama gua dengan cewek terjadi di toilet kampus!

@Diox, SepociKopi, 2011

Tentang Diox

Mahasiswi semester tiga di universitas swasta di Jakarta Barat. Bertahun-tahun menjadi “lesbian in denial“  gara-gara benci dikatain lesbian.

Catatan Redaksi:

Karena naskah yang dikirimkan Diox cukup panjang, redaksi SepociKopi.com akan menayangkannya dalam dua episode. Terima kasih.

Tags: , , ,

25 Comments »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.