Populasi Tujuh Milyar
Di tahun 2011, manusia dikejutkan dengan entakan informasi yang mengerikan: makhluk mamalia homo sapiens sudah menguasai bumi dengan berjumlah tujuh milyar! Bandingkan dengan permulaan abad 19, tahun 1800, manusia seluruh dunia hanya berjumlah satu milyar saja. Diprediksi, pada tahun 2045, bumi akan penuh sesak dengan angka sembilan milyar manusia. Can the planet take the strain?
Dengan jumlah yang sangat tinggi itu, bagaimana cara bumi memberi makan kepada tujuh milyar manusia? Jika bermilyar-milyar manusia bermimpi untuk melepaskan belenggu kemiskinan mereka, mengikuti jejak langkah negara yang sukses dan berhasil, bayangkan betapa beratnya bumi harus mendukung impian ini!
Populasi meledak bukan dalam skala yang semakin meninggi, tapi memiliki penurunan di banyak negara, khususnya negara-negara stabil dan kaya raya. Zaman dulu, ilmu pengetahuan dalam bidang kesehatan sangat rendah, sehingga perempuan melahirkan anak dengan jumlah yang banyak sekali. Angka kematian bayi juga tinggi. Sulit bagi balita untuk melewati masa balita atau sulit bagi kanak-kanak melewati masa kanak-kanaknya. Di zaman sekarang yang sangat progresif dan pendidikan ibu yang tinggi, kelahiran bayi semakin mengecil dalam satu keluarga. Akan terjadi penurunan jumlah manusia di negara-negara adidaya, tapi penurunan itu juga membutuhkan waktu. Contohnya, Cina. Negara Cina sudah berada di bawah angka kesuburan/kelahiran anak. Itu karena gerakan politik “satu anak saja” yang mendulang sukses.
Jepang, juga sebagai salah satu negara yang mengalami angka penurunan kelahiran. Sebagian kaum mudanya menolak menikah, banyak pasangan muda menolak memiliki anak lebih dari dua. Yang terjadi adalah kaum dewasa menguasai 23 persen populasi penduduk sementara kaum (yang semakin) tua menguasai 29 persen penduduk. Ini menjadi masalah pemerintah Jepang dan keluarga di masa depan, sebab pertanyaannya menjadi “siapa yang akan menjaga dan merawat kaum tua?” Apakah kaum mesin alias robot akan melayani kaum tua di masa depan? Mungkin saja.
Jadi, apa yang membuat populasi meningkat pesat apabila di negara adidaya, populasi manusia justru merosot? Negara-negara miskin dan negara berkembang adalah penyumbang terbanyak kelahiran manusia. Misalnya di Kenya, negara miskin yang pendudukan hidup jauh di bawah garis kemiskinan. Seorang perempuan dapat menikah di usia kanak-kanak atau pra-remaja, mulai melahirkan anak pertama sampai anak ketujuh di usia 17 tahun, dan berjuang dengan kemiskinan bersama sepuluh anaknya pada saat ia mencapai usia 20 tahunan. Pada saat 30 tahun, ia mulai menimang cucu-cucunya.The cycle goes on again…
Lalu bagaimana dengan lesbian? Lesbian di negara adidaya, khususnya di negara-negara yang melegalkan pernikahan sesama jenis kini memiliki kesempatan untuk menikah, menjadi sepasang ibu, dan memiliki keluarga. Berarti, lesbian di negara Amerika, dan sebagai negara-negara Eropa yang melegalkan perkawinan sesama jenis justru malah menambahkan jumlah penduduk. Anggaplah dulu para lesbian ini tidak menikah dan tidak menjadi ibu. Jika sekarang mereka bisa menikah dan melahirkan, maka lesbian ikut menyumbang populasi sembilan milyar di tahun 2045.
Lesbian di negara miskin tidak memiliki kesempatan atau pemikiran yang berbeda. Budaya akan menekan dan memaksa perempuan untuk menikah dan meneruskan keturunan. Menurut pengamatanku, justru kesempatan seperti ini terlihat di sebagian negara menengah ke bawah (atau negara berkembang), misalnya di Indonesia. Pada zaman sekarang, para lesbian yang berpendidikan tinggi dan memiliki kekuasaan di tingkat sosial-ekonomi berani melawan arus dan melawan tekanan budaya untuk tidak menikah. Dengan tidak menikah, kesempatan menjadi ibu tentu saja hilang. Maka, dengan sendirinya, lesbian yang seperti ini justru malah membantu menekan populasi homo sapiens di muka bumi.
Mari, aku berikan ilustrasi seperti ini. Ledakan penduduk – walaupun melambat karena warganegara makmur memutuskan tidak memiliki banyak anak – tetap sulit dihentikan. Dengan penambahan 80 juta manusia setiap tahun dan kemajuan teknologi kesehatan yang luar biasa, ini adalah lonceng tanda bahaya. Walaupun seorang perempuan mampu melahirkan anak kurang dari dua, pengurangan jumlah manusia di keluarga akan jauh lebih lama karena usia ibu dan ayah yang semakin panjang. PBB memperkirakan manusia mencapai 9 milyar sebelum tahun 2050, atau 2045 dengan kondisi memprihatinkan seperti global warming, sulitnya air bersih, populasi ikan merosot tajam, dan pertanian yang berada di ujung kekeringan. Satu milyar manusia kelaparan setiap tahun. Dalam sepuluh tahun ke depan, diperkirakan dua milyar mulut manusia membutuhkan makanan, khususnya di negara miskin. How exactly is thing going to work, lesbians?
Kuingatkan lagi, Amerika Serikat, negara kaya raya yang banyak dipandang oleh kaum LGBT dengan penuh mimpi dan harapan, ternyata memiliki tingkat kelahiran bayi yang tinggi. Berbeda dengan teman-teman negara lainnya yang juga makmur seperti Inggris. Ini disebabkan oleh tingginya angka kehamilan di luar nikah yang terjadi pada kaum remaja dan banyaknya imigran yang tak berpendidikan dari negara-negara miskin memasuki negara adidaya ini.
Sekarang, sudahkah kita ikut memikirkan problema bumi di masa depan? Tahun 2045 tidaklah terlalu jauh, hanya secepat kedipan mata. Kemungkinan besar, banyak dari kita masih hidup di tahun itu. Jika kaum lesbian di Indonesia sudah meniatkan diri takkan menikah dan tidak mau menjadi seorang ibu, bayangkan bantuan yang diberikan kepada bumi: menekan jumlah populasi! Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mengajak kaum lesbian beramai-ramai menolak menikah dan mengandung serta memiliki anak, tapi tulisan ini mengajak kaum lesbian untuk melihat sisi lain. Sisi di mana kita, sebagai lesbian, tanpa sadar dan secara tak langsung, mendistribusikan partisipasi aktif dan bantuan besar kepada planet biru tercinta kita ini.
@Lakhsmi, SepociKopi, 2011










Wah! Jadi pengen minggat ke negeri adidaya nih.
HAHAHAHAHAHAA *two thumbs up* buat Lakshmi
Tp ap ntr manusia musnah klo g ad yg px ank.
Mmg skr g sma org homo.tp bkn kh homo tu bs mnular dg cpt?
Mmg sich.aq s7 dg laksmi krn aq emg g ska ank kcl.tp mnrutq,plg tdk ad lh bbrpa dr qt jg hrs px ank bwt populasi slnjtx.
Toh cew kn bs px tnpa cow.
Slma cow gay msh ad.cew lesbi pn jg bs px ank kq.
@Lakhsmi tulisan yang selalu menarik dari bos SK,, love u sis,, (^;^)
Membaca artikel laks kali ini seakan pikiran saya mengembara ke masa 3(tiga) abad yang lalu. Ketika seorang tokoh bernama Robert Malthus menyatakan tentang teori populasi. Bahwa populasi penduduk akan bertambah menurut deret ukur sedangkan suplai makanan(pertanian) akan bertambah menurut deret hitung. Walau ramalannya (dinilai) gagal oleh para ahli karena tak terbukti di abad ke-19 namun ternyata sepertinya bakal terbukti beberapa waktu ke depan. Seperti yang diuraikan dalam artikel di atas.
Sejalan dengan bertambahnya jumlah populasi banyak risiko dan bahaya besar mengintip yang mengancam keberadaan manusia di muka bumi. Diperlukan kemampuan ‘survival’ yang lebih tinggi baik fisik maupun psikis. Oleh karenanya saya setuju jika para L mulai berpartisipasi terhadap keberlangsungan kehidupan mahluk hidup yang ada di planet tercinta ini. Terutama terhadap populasi dan kemampuan alam yang mendukungnya.
Buat laks, tks atas artikelnya…
SK, bravo !!
Tenang aja.. Selama kelompok radikal masi ada di bumi ini kita ga perlu khawatir soal peningkatan populasi. Meraka kan demen bunuh2in orang ga jelas gitu (tuh kayak yg kita lihat di tipi2) jd lama2 bakal berkurang/habis jg kan populasi manusia.
*kidding..
Hehehe pisssss
hidup dan mati itu kuasa tuhan.
Tuhan menciptakan manusia dlm jumlah besar, pasti tuhan juga punya cara bagaimana bumi ini selalu ‘cukup’ bagi umatnya….
Artikel yang menarik, sesuatu yang sudah saya pikirkan dari sejak remaja. Terlahir di asia, sebagai wanita artinya adalah menikah jika sudah waktunya, melahirkan keturunan dsb.. hal itu sepertinya sudah ‘siklus’ yang harus dijalani. Jika berjalan di luar ‘siklus’ tersebut kadang kala masih dianggap aneh di masyarakat.
Hmm..
Seperti Alexandra bilang, wanita menikah jika sudah waktunya, kemudian melahirkan dll..Beban ya dilahirkan sebagai wanita Asia, saya mulai merasakan seiring bertambahnya umur, jauh dilubuk hati konsep wanita tradisional ini tidak pernah bisa saya terima sejak dulu.
artikel ini menarik tp aku setuju sama frey@, hitung2an manusia sm Tuhan itu berbeda. Secara logika populasi manusia yg sebegitu banyaknya mana mungkin dapat ditampung semuanya (terutama kebutuhan pangan) oleh bumi. Tapi Tuhan Maha Kuasa. Akan dicukupkan oleh Tuhan.
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Februari yang beraroma romantis mulai tampak. Apakah cinta? Pada hubungan percintaan lesbian yang tak bisa terikat dalam landasan pernikahan, banyak lesbian yang terjatuh pada kebingungan, ketakutan, dan ketidakpastian. Di mana pegangan untuk masa depan?
Lesbian, cinta bagi pasangan lesbian tentu membutuhkan perjuangan keras agar hubungan jangka panjang bisa terjadi. Banyak tantangannya dalam berkomitmen, misalnya kesetiaan, finansial, keluarga, perbedaan, dan lain-lain. Bisakah kita menjalaninya? Berapa lama pasangan lesbian bisa bertahan? Konon ada yang mengatakan bahwa usia pasangan lesbian tak bakal melewati satu tahun. Ah, tentu tidak benar!
Lesbian, untuk menjadi pasangan yang langgeng sampai nenek-nenek, kita bisa belajar dari teman-teman lesbian yang lain yang sudah bersama selama bertahun-tahun. Delapan tahun? Dua belas tahun? Lima belas tahun? Dua puluh tahun? Bisakah kita mencuri kebijaksaan mereka dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan percintaan agar kita pun bisa berbahagia dengan pasangan sampai nenek-nenek? Pastinya dong! Selamat merayakan cinta dalam arti yang sepenuh-penuhnya. Peluk cium untuk segenap pembaca SepociKopi tersayang.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments