Home » Humaniora, Ibu

Mata Untuk Mama

Submitted by on 22/12/2010 – 11:45 pm7 Comments | 590 views

Oleh: Bening

Desember tahun ini agak berbeda dengan tahun-tahun kemarin. Sudah pertengahan bulan Desember, tapi belum ada tanda-tanda kedatangan parcel, belum ada juga tanda-tanda kehadiran bonus. Padahal biasanya, bahkan selepas minggu pertama Desember, satu dua bingkisan kecil sudah tiba di rumah. Disusul satu dua amplop bonus.

Tapi sekarang…, duh sedihnya. Yah, mungkin karena sistem di kantor baru partner yang berbeda dengan kantor sebelumnya. Eh, ini bukan urusan matre atau apa ya, aku yakin siapa pun sangat menyukai hadiah. Bukan melulu perkara nilai bingkisannya, tapi kebahagiaan saat menerimanya.

Sedang asik-asik ngelamunin parcel dan amplop, partner mencolek lenganku.

“Dik…  Kok ngelamun aja? Kamu udah tau kan?”

“Eh, eh. Tau apa? Parcel? Atau bonusnya udah turun Ay?”

“Heh? Parcel? Apaan sih?” Partner melongo.

Glegh. Aku menelan ludah. Malu euy! Cepat-cepat aku mengalihkan pandangan dan menyibukkan diri memencet remote TV.

“Mama sama Papa mau datang, dik. Mungkin akhir minggu ini.”

“Oh. Mau kondangan lagi?”

“Bukan. Mau operasi mata.”

“Hah? Apa?! Operasi mata? Kapan? Kok nggak bilang-bilang? Memangnya mata Mama kenapa?” sergahku panik. Jemariku langsung memencet tombol mute. Memberondongnya dengan pertanyaan. Aku agak-agak trauma dengan kata “operasi”.

“Lha, gimana sih. Ini kan lagi bilang, Say. Kamu sih, kebanyakan melamunnya. Mama itu udah lama ngeluh kalau pandangannya agak buram. Nonton sudah nggak jelas. Baca apalagi.”

“Terus?”

“Terus, ya siap-siap saja, dik. Artinya kan kita siap-siap waktu mesti nemuin Mama dan Papa. Dan terutama, siap-siapin biayanya.”

Kalimat terakhir diucapkan dengan penekanan, sambil menatapku penuh arti. Aku terdiam, tidak tau harus menjawab apa kecuali mengangguk dan tertunduk.

“Dik…,” partner menyusupkan jemarinya di rambutku, memintaku mengangkat wajah dan menatap matanya. “Akhir tahun kita nggak kemana-mana ya. Nggak apa-apa, kan?”

Aku mengangguk mantap. “Nggak apa-apa, Ay. Sungguh. Mama lebih penting dari semuanya.”

Partner menarikku ke dalam pelukannya. “Kita beri yang terbaik untuk Mama, ya.”

***

Akhir tahun ini rasanya sangat berat. Bahkan terberat dalam sejarah kebersamaanku dengan partner. Tujuh tahun kebersamaan kami, membuat Mama bukan hanya Mamanya, Ibu bukan hanya Ibuku, bukan keluargaku atau keluargamu. Tapi Mama kita, Ibu kita, keluarga kita. Semua yang pahit, kecut dan getir bukan hanya “masalahmu” atau “masalahku”, tapi masalah kita.

“Ay… kalau uang yang buat Mama masih kurang, pakai yang di tabungan adik dulu. Nanti pelan-pelan kita kumpulkan lagi,” tawarku pada partner. Jangan bayangkan kalau uang tabunganku itu nolnya berderet-deret. Angkanya memang hanya tujuh digit. Tapi buat Mama, apa sih yang enggak. Biar cuma tinggal kolor sama kutang juga bakal aku lakoni.

“Nggak. Nggak usah. Jangan. Awal tahun depan kan mau buat bayar uang kuliah si bungsu.”

“Tapi kan, Mama…”

Belum sempat aku melanjutkan kalimat, partner meletakkan telunjuknya di bibirku. “Udah, jangan bawel ya. Insya Allah nanti ada jalannya.”

Itu kalimat pamungkasnya. Keyakinan yang tidak bisa dibantah. Selalu ada jalan. Tanpa sadar, jemariku meremas resah sambil berbisik lirih. Amiin Ya Robbal ‘Alamin…

***

17 Desember 2010

Aku baru saja selesai menyiapkan seteko teh manis hangat ketika partner memanggiku dari kamar tidur.

“Ada apa, Ay?”

“Ini. Adik yang buka.”

Keningku mengernyit, menerima amplop coklat yang disodorkan partner. Amplop tebal dengan logo perusahaan.

“Pembagian kalender 2011?” tebakku. Biasanya di ujung tahun partner akan menerima kalender atau agenda tahunan. Tapi kok ekspresi partner agak aneh dan misterius ya?

“Buka saja.”

Jantungkungku berdegup. Ada selintas harapan, tapi segera kutepis. Nggak mau berandai-andai. Nggak mau melambungkan harap terlampau tinggi. Takut kejeduk atau terhempas. Jemariku menyusuri pinggiran amplop, merobek ujungnya.

Oh. Satu bundel company profile. Aku enghembuskan napas tegang yang sejak tadi tertahan.

Eh, tunggu dulu. Kok ada amplop yang lebih kecil. Jantungku kembali berdegup kencang. Sekarang jemariku benar-benar gemetar meretas perekatnya.

Begitu melihat isinya, aku langsung menghambur ke pelukan partner. Menciumnya bertubi-tubi sampai terjungkal dan telentang di atas tempat tidur.

“Alhamdulillah… Alhamdulillah… Ya Allah… Alhamdulillah. Buat Mama ya Ay. Buat Mama ya!”

Serangan ciumanku di seluruh pipinya membuat partner tidak bisa menjawab apa-apa kecuali ho-oh-ho-oh.

22 Desember 2010

Sampai hari ini rumah kami belum dihampiri parcel apa-apa. Tapi kini parcel tidak penting lagi buatku. Ternyata Tuhan berkenan mengantarkan langsung hadiah yang lebih besar. Bahkan hadiah combo. Kebahagiaan buat kami, sekaligus hadiah Hari Ibu yang terindah buat Mama, berupa penglihatan yang lebih terang. Tuhan tidak selalu memberikan apa yang diminta. Tapi Ia selalu sediakan yang kita butuhkan.Melebihi yang bisa dibayangkan. Melampaui lintasan pikiran.

Kepada Mama dan Ibu kami yang tersayang,

Selamat Hari Ibu.
Sungguh kami terberkati memiliki perempuan seperti kalian. Dengan segala kelebihan dan kekurangan kalian, Mama dan Ibu tetap perempuan juara seluruh dunia. Jangan berkecil hati kalau Tuhan belum memberikan kalian menantu laki-laki, yang kalian idamkan menjadi pasangan kami, kedua putrimu. Kami tahu kalian ingin, tapi mungkin bukan itu yang kalian butuhkan sekarang. Yang kalian butuhkan adalah kasih sepenuh hati dari putrimu, baik yang engkau lahirkan maupun putri yang terlahir dari perempuan tangguh lain sepertimu.

Selamat Hari Ibu.
Semoga keberadaan kami dan kasih sayang sederhana kami, tetap menjadi hadiah terbaik buat kalian.

@Sebeningembun, SepociKopi, 2010

  

Tags: , , , ,

7 Comments »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.