Home » Humaniora, Ibu

Sebelum Helai Terakhir Jatuh

Submitted by on 04/12/2010 – 10:08 pm20 Comments | 786 views

Oleh: Deni Melisa

“Hon, mau temenin aku nonton ‘Eat, Pray, Love’ nggak?” Mel bergelayut mesra di pundakku. Tapi tak kuhiraukan. Aku sedang disibukkan oleh proposal tesis yang mesti selesai minggu ini. Mendapati reaksiku dingin, Mel mengalah, ia menonton film itu seorang diri.

Saat ruangan memisahkan kami, aku kembali diingatkan tentang… sesuatu.

***

Air mataku jatuh saat kudekap sepatu olah raga putih milik Mama. Sepatu itu telah lama berdebu, tapi kuijinkan debunya melekat di bajuku. Benda itu terlalu berharga, ada jejak kaki Mama di sana.

Aku mencari jejakmu, hingga ke ujung pelangi. Tapi ternyata tak jauh, jejakmu tertinggal di hati.

Enam tahun lalu. Setiap pulang bekerja, aku selalu terpaku di depan etalase toko sepatu. Sepatu olah raga putih bergaris biru, ah sepatu itu akan terlihat cantik jika dikenakan di kaki Mama. Ini adalah bulan pertama aku bekerja. Seminggu lagi, gaji pertama kuterima.

Mengapa aku justru mengidamkan sepatu olah raga untuk Mama? Bukankah sepatu pesta lebih terlihat cantik jika dikenakan di kaki perempuan? Kuberi tahu alasannya. Berbulan-bulan, aku memeregoki Mama mengintip ibu-ibu yang asik bersenam sore di lapangan dekat rumah. Mama hanya bisa mengintip, meski aku tahu ia ingin sekali bergabung dengan mereka. Tapi tidak bisa, Mama tidak punya sepatu olah raga.

Akhirnya, hari itu tiba. Gaji pertamaku tidak besar, hanya lima ratus ribu rupiah. Tapi senangnya bukan kepalang. Tanpa menunggu besok, aku segera pergi ke toko sepatu. Harga sepatu itu seratus lima puluh ribu, tidak bisa kurang, tanpa diskon. Sebenarnya, menurutku sepatu itu terlalu mahal, tapi aku tetap bernafsu membeli. Sepatu olah raga putih bergaris biru nomor 36 kubawa pulang dengan riang. Kertas pembungkusnya berwarna jingga, berpita merah.

Adakah hal yang lebih berharga daripada berbakti kepada orangtua?

Sepanjang jalan, aku tersenyum membayangkan wajah bahagia Mama menerima sepatu itu. Aku pasti dipeluk, aku yakin dicium dan kemudian aku akan tenggelam dalam dekapan tubuhnya yang hangat.

Di pintu pagar rumah, aku sudah berteriak-teriak memanggil Mama. Tak ada jawaban. Kukira rumah sepi, dan semua orang pergi. Tapi tidak, justru sebaliknya, ramai. Keluargaku lengkap di sana. Tapi mengapa tak ada yang menyahut? Ada apa?

Pemandangan yang tidak aku harapkan membuatku mematung di pintu. Air mata itu, pipi yang basah, mata yang lebam. Aku benci wajah-wajah muram. Ini adalah hariku, hari istimewaku. Mestinya jangan dirusak, mestinya tidak diburamkan.

Apa yang kamu tahu tentang besok, bukankah satu detik di depan pun tak bisa diterka?

“Hasil test sudah keluar. Benjolan di dada Mama itu ternyata kanker.” Abangku menjelaskan.

Kenapa harus sekarang kudengar kabar yang menyakitkan itu? Kenapa harus hari ini? Kenapa bukan minggu depan, bukan bulan depan, tahun depan, atau tidak perlu mendengarnya sama sekali.

Kupeluk Mama yang duduk lemas di sofa. “Ma, semua bohong kan?”

Mamaku hanya membelai rambutku lembut, tanpa kata. Tapi aku mengerti, diam berarti “Iya”

“Stadium tiga B.” Lagi, abangku menjelaskan.

Kubiarkan tubuhku terkulai lemah dalam pelukan Mama. Jangan hitung berapa banyak air mata yang tumpah.

Malam datang, hening menyelimuti. Tersisa aku dengan kotak jingga berpita merah. Kudekap kotak itu. Otakku menimbang, rasioku memutuskan. Tidak, aku tidak akan memberikan hadiah ini pada Mama. Sepatu ini hanya akan menambah kesedihannya. Jadi, kusimpan sepatu itu di lemari, bertumpuk dengan baju-bajuku, berjejal dengan celana. Bulan berganti, tahun berlalu, sepatu itu terlupakan.

Dilupakan atau berusaha melupakan, apakah ada bedanya? Keduanya memberikan kesedihan yang sama.

Saat kondisi fisik Mama makin melemah, langkahnya yang biasa tegap dan bersemangat menjadi tertatih. Tapi sel-sel kanker itu tidak pernah bisa merusak jiwa Mama. Pengabdian, cinta dan seluruh perhatiannya, membuat Mama tidak pernah mau berhenti mengurus keluarga.

Suatu sore, ketika Mama merapikan lemariku, ia berhasil menemukan kado jingga teronggok di sudut lemari. Aku terbelalak saat melihat kado itu berada dalam pelukan mama. Kadonya memang belum dibuka, tapi Mama pasti tahu kado itu untuknya, karena di kotak itu kutulis: Untuk Mama yang sering mengintip ibu-ibu senam. Ketahuan deh! Hehehe.

Mama membuka kado itu dengan hati-hati. Buliran air matanya menetes. Sepatu putih bergaris biru membuatnya haru.

“Cantik sekali,” puji Mama. “Eneng nggak berani ngasih, ya? Kenapa? Eneng kira mama udah nggak kuat senam?”

“Bukan begitu, Ma…”Aku tidak sanggup lagi berkata-kata. Air mataku meluncur deras di pipi.

“Sore ini Mama mau senam, Neng.” Mama sungguh-sungguh meminta.

Dengan sepenuh cinta, kupasangkan sepatu itu di kaki Mama. Lalu Mama berdiri dan melangkah tertatih. Kugenggam tanggannya, menuntunnya sekuat tenaga. Tapi Mama tidak bisa sampai ke lapangan. Tubuhnya sudah terlalu lemah. Jadi ia putuskan untuk kembali dan memakai sepatu itu seharian di rumah.

Dan ternyata hari itu adalah hari pertama dan terakhir Mama memakai sepatu pemberianku. Karena, hari-hari selanjutnya Mama hanya bisa berbaring di tempat tidur. Sel kanker yang sudah menyebar ke hati membuat kakinya bengkak, sepatu itu tidak muat lagi dipakai. Tapi, sekali lagi seganas apapun, sel kanker itu tidak pernah bisa membunuh jiwanya, Mama terus menerus menyemangati, “Neng, nanti kalau mama sembuh, mama mau pakai sepatu ini lari pagi ke monas.”

Monas hanya menjadi harapan yang tidak pernah terwujud.

Mama pergi dengan menyisakan sejuta penyesalan di hatiku. Mengapa tidak sedari dulu aku memberikan sepatu itu? Takut mama sedih? Takut Mama kecewa? Ah, ternyata ukuran sedih dan kecewa seorang Ibu sungguh jauh di luar pemikiran anaknya.

Dari peristiwa ini aku mendapat pelajaran berharga bahwa kasih tidak boleh tertunda. Sebab jika kasih yang tertunda itu hendak diungkapkan, seringkali semuanya sudah terlambat. Yang tersisa hanya penyesalan yang tidak berujung. Maka, kusimpulkan bahwa setiap hari adalah kesempatan karena hari esok adalah ketidakpastian, lusa adalah misteri. Kepada semua yang kita cintai, keluarga, sahabat, kekasih, sebisa mungkin, hari ini juga nyatakanlah cinta kepada mereka.

***

Senyum mengembang di pipi kekasihku, saat aku duduk di sampingnya. “Eat, Pray, Love” kami tonton sampai habis, berdua, bergenggaman tangan.

Tahukah sayang? Aku ingin menyatakan cinta kepadamu, sekarang!

@Deni Melisa, SepociKopi, 2010

  

Tags: , , ,

20 Comments »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.