Home » Ibu, Sepocikopiana

Bunga Terindah

Submitted by on 30/11/2010 – 3:04 pm9 Comments | 827 views

 

Oleh: Arie Gere

Semuanya gara-gara Emak. Akhirnya, aku benar-benar jatuh cinta dengan bunga. Datanglah ke rumah Emak, akan kau temui beragam bunga di halaman rumah. Separuh halaman ditutupi bunga bermekaran dan diwarnai bermacam-macam cinta dan kehidupan. Dengan sabar dan telaten, Emak merawat mereka penuh kasih sayang. Disirami setiap pagi, dipupuki sebulan atau dua bulan sekali, dibersihkan dan dipangkas bila bentuknya mulai menutupi keindahannya. Antara Emak dan bunga, seperti ada cinta yang saling mengikat, ada cinta yang saling bergantungan. Emak tak tahan kalau tak melihat bunga-bunganya. Begitupun bunga, tak akan mekar kalau tak ada Emak.

Kupikir seperti itulah wujud cinta yang tak nampak dan kasat mata. Hanya kalau kau jeli, barulah kau bisa melihat ada cinta yang seperti itu. Cinta itu adalah kesabaran, ketelatenan, dan perawatan. Kalau lupa disirami, cinta melayu. Kalau tidak dipupuk, gejolak dan hasrat menjadi hambar dan standar. Kalau sampah-sampah tidak dibersihkan, kecurigaan dan ketidakpercayaan akan mengotori indahnya cinta. Kalau tak dipangkas, cinta bisa amblas dan bablas tanpa batasan. Cintaku tumbuh seperti bunga, bermekaran menghasilkan madu. Pernah kau cicipi madunya si bunga jarum? Rasanya persis madu, segar dan manis. Sewaktu kecil, aku paling suka memetiknya, tak tanggung-tanggung satu genggaman, lalu kuhisap madunya.

Emak tahu kalau aku sebenarnya tak tahan melihat manisnya si bunga, maka pada awalnya, dibiarkannya saja. Lama kelamaan, aku ketagihan menghisap si bunga, terus-menerus setiap pagi. Sampai-sampai, si bunga tak kelihatan lagi. Emak marah, aku dilarangnya mencicipi lagi si bunga jarum. Diam-diam kukurangi frekuensi cicipanku, kutunggu sampai mekar yang satu dulu, lalu kucicipi yang lainnya. Intinya, deretan si jarum harus tetap muncul dan tak boleh gundul.

Pernah suatu ketika, aku menyenggol pot bougenville si emak sampai pot-nya jatuh dan tanahnya berserakan di lantai halaman. Rantingnya pun ada yang patah. Emak terdiam melihat ulahku yang selalu tergesa-gesa. Dirapikannya bunga-bunga yang berserakan itu dalam kebisuan, dalam keheningan. Aku tahu, ada tetesan air mata yang tertahan di pelupuk mata. Seminggu sesudahnya, kulihat bougenville yang kupatahkan itu, sudah berganti tanah yang baru. Di ujung rantingnya ada bekas patahan, namun sudah bermunculan tunas-tunas baru di sana.

Aku terkenang, pada cinta-cintaku yang telah patah. Ternyata, aku memang benar-benar menyukai bunga. Aku masih bisa membayangkan, bagaimana berbinarnya hatiku saat pertama kali diberi bunga oleh mendiang kekasihku dulu. Diberikannya aku sekuntum bougenville dari dalam ranselnya, dan aku tak bergeming memandang indahnya sang bunga. Pada kenangan lainnya, aku melihat tanaman bunga di dalam kamar mantan yang kini menjadi sahabatku. Kutanyakan padanya, katanya khusus dipetik menyambut kedatanganku. Bermekaranlah senyumku, seindah bunga-bunga di halaman Emak.

Tiba-tiba, aku rindu menciumi bunga. Aku rindu menghisap madunya. Aku rindu memegang kuntumnya. Aku rindu melihat kelopak-kelopak bermekaran. Aku rindu melihat warna-warni dan keindahan.Ah bunga, apakah madumu hanya bisa kuhisap diam-diam saja? Bungaku sayang, diam saja di tempatmu, aku akan datang untuk merawatmu, menyiramimu dengan penuh cinta, memupukmu dengan segenap kasih, dan menghisap madumu dengan hasrat yang bergelora. Bunga, apakah proses penyerbukanmu terganggu karenaku? Mana serbuk sarimu, sudahkah melekat di kepala putikmu? Ah bunga, izinkan sebentar saja aku menjadi si serbuk sari, biarkan buahmu memenuhi halaman rumah Emak.

Bunga, kau mungkin tak pernah tahu, kalau aku begitu mengagumi. Baik-baiklah di atas tanahmu, tunggulah aku yang kan datang menyuburkanmu. Nantikan aku dengan sabar, sebab sabar adalah kekayaan terindah yang diberikan Tuhan. Bukan begitukan, bunga? Ah bunga idamanku, Bunga Citra Lestari.

@Arie Gere, SepociKopi, 2010

(Tulisan ini dibuat oleh pengagum berat BCL. Semoga tak pernah bosan mengagumimu)

Tags: , ,

9 Comments »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.