Home » Humaniora, Opini, Telezkop

te.Lez.kop: Bahagia Itu Ya Bahagia. Titik

Submitted by on 20/10/2010 – 4:29 pm6 Comments | 342 views

Oleh: Shinigami

Lesbian memang bukan mainstream. Kita bukan kelompok mayoritas dalam hal orientasi seksual. Hal ini dengan jelas memisahkan kita dengan orang-orang pada umumnya, dan disadari atau tidak, mau atau tidak, ada semacam keekslusifan yang melingkupi kita. Rasa dan kesadaran memandang diri serta teman-teman lesbian sebagai “kita” dan orang-orang hetero sebagai “mereka” sangatlah kuat. Ada keterikatan, ada koneksi yang sulit digambarkan, dan mungkin bahkan ada kebanggaan menjadi salah satu dari sedikit ornag ini. Lantas, apa yang akan terjadi bila ada salah satu dari “kita” kemudian berpindah kubu menjadi salah satu dari “mereka?”

Seringnya para lesbian bersikap ekstrem. Ekstrem pertama adalah menjadikan dia yang berpindah sebagai musuh. Benar, saya yakin ada orang-orang yang menganggap mereka yang menjadi straight (dengan apa pun alasannya) adalah lawan. Bahkan mungkin pengkhianat.

Kalau begini, rasanya kelompok lesbian itu serupa dengan organisasi rahasia atau mafia yang sekali masuk menjadi anggota, seseorang tidak boleh keluar dari sana. Keluarnya satu anggota dan berpindah ke pihak lain menjadikannya seolah-olah menjual rahasia kelompok dan menjadikan kelompok ini terancam. Ya, seperti yang saya bilang tadi, esktrem kan?

Ekstrem kedua adalah menganggapnya tiada. Sikap yang ini tak menjadikan mereka yang menjadi straight sebagai musuh atau pengkhianat. Biasa-biasa saja, tapi bukan juga sebagai teman. Mereka yang meninggalkan kelompok dengan tidak lagi menjadi lesbian itu serasa pesawat luar angkasa yang disedot black hole, atau kapal layar yang baru saja melintasi area segitiga Bermuda dan bernasib sial. Hilang. Lenyap. Tak nyata. Bila sudah begini, maka masing-masing pihak akan melanjutkan kehidupannya tanpa saling mempedulikan atau bersinggungan lagi, seakan tak pernah kenal sebelumnya. Singkatnya, sikap ini bisa diterjemahakan menjadi “urusanku urusanku, urusanmu urusanmu.”

Apa cuma itu? Tak ada pilihan lain? Ada dong. Dan saya rasa ini yang seharusnya kita ambil: perbuatlah seperti apa yang kau inginkan orang perbuat terhadapmu. Kita ingin diterima sebagai seorang lesbian, karenanya kita juga harus bisa menerima orang lain menjadi heteroseksual. Bila kita bisa menerima seorang lesbian baru (sebelumya pacaran dengan laki-laki tapi sekarang tertarik dan berpacaran dengan perempuan) ke dalam kelompok kita, kenapa kita tidak bisa menerima jika ada seorang lesbian yang kini menjadi hetero? Memalukan sekali bila kita—lesbian yang selama ini cenderung mengeluh karena hubungan percintaannya tak diterima dengan baik oleh masyarakat—menerapkan standar ganda.

Saya rasa kita harus adil. Bila memang ada yang merasa dirinya sekarang heteroseksual, ya sudah. Sama seperti kita berhak menjadi lesbian, orang tersebut juga memiliki segala hak di muka bumi ini untuk menjadi seorang heteroseksual. Tak ada yang patut mencegahnya.

Kalau alasan “timbal balik” itu tidak cukup juga, ada satu hal yang lebih besar dari itu, yang menurut saya, akan mampu membuat siapa pun menerima orientasi seksual seseorang: kebahagiaan.

Ingatlah kembali perasaan yang timbul ketika kita menemukan seseorang yang kita cari selama ini, seseorang yang teramat pas dan telah dinanti. Ingatlah rasanya berjalan bergandengan malu-malu pertama kali atau ketika menciumnya dengan gugup. Entah bagi kalian, tapi bagi saya, kebahagiaan semacam itu begitu indah dan tak seorang pun berhak menghalangi tercapainya rasa itu hanya karena ia tidak setuju dengan orientasi seksual pihak yang bersangkutan.

Sebaliknya, kita pasti tahu bagaimana perasaan kita menjadi begitu tak keruan ketika kita dipaksa menjadi atau melakukan apa yang bukan kita. Begitu tersiksanya berpura-pura dan memaksakan diri itu, begitu tidak bahagianya. Sebegitu egoisnyakah kita sehingga tidak menyetujui ‘kepindahan’ seorang teman lesbian ke pihak heteroseksual? Bila memang ia tidak lagi bahagia di sini, apa kita tega menahannya?

Jadi, menurut saya, ketika ada salah satu dari “kita” yang kemudian menjadi “mereka,” tidak usah ribut, antipati, atau dibesar-besarkan. Toh teman kita itu tetap orang yang sama, hanya saja ia kini tertarik kepada laki-laki. Menjadi hetero tidak semerta-merta menjadikannya seorang mutan atau monster yang akan memancung kepala kita atau menjual seluruh rahasia kita ke khalayak umum. Kalau dia memang orang baik, dia akan tetap baik. Apa kita harus kehilangan teman yang baik gara-gara ini? Sebaliknya, kalau dia brengsek, mau jadi lesbian atau hetero pun, dia tetap akan brengsek, tetap akan menyebarkan siapa-siapa saja yang lesbian tanpa menyebutkan dirinya, misalnya. Yang terpenting, dia bahagia.

Bahagia itu mau seperti apa pun bentuknya, ya bahagia. Titik. Kalau dia tidak bahagia, baru kita bisa protes. Tapi sekali lagi, keputusan tetap di tangannya, bukan kita. Santai saja, homoseksual atau heteroseksual itu bukan negara, tidak butuh izin masuk atau izin tinggal untuk menjadi penghuni wilayahnya.

@Shinigami, SepociKopi, 2010

  

Tags: , , , ,

6 Comments »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.