Home » Buku, Seni Budaya

Buku: Un Soir du Paris, Sebuah Catatan Kecil

Submitted by on 19/10/2010 – 9:54 am9 Comments | 2,069 views

Oleh: Maggie Tiojakin

Setelah antologi cerpen Un Soir du Paris terbit, ada beberapa orang yang menanyakan kenapa sebagian besar cerita-cerita pendek bertema lesbian terkesan ‘cengeng’ dengan karakterisasi yang kurang kuat; sekaligus menyatakan kerinduan mereka terhadap karya sastra yang lebih positif atau inspiratif. Menurut saya pertanyaan/usulan ini sah-sah saja, dan bahkan menarik untuk ditanggapi.

Sebagai salah satu penulis yang karyanya dimuat dalam koleksi Un Soir du Paris, terus terang saya tidak pernah secara sadar mengimbuhkan label tertentu terhadap hasil tulisan saya. Di dalam file tulisan saya tidak ada pemisahan kategori yang menyatakan bahwa cerita A bertema petualangan sedang cerita B bertema persahabatan; atau cerita C mengupas masalah LGBT, dan cerita D mengangkat topik nasionalis. Karena bagi saya cerita yang utuh adalah cerita yang memiliki potensi untuk mencakup lebih dari satu tema. Kisah petualangan bukan tidak mungkin mengusung tema persahabatan, percintaan, ataupun perjuangan—demikian juga sebaliknya.

Michael C. Curtis, seorang Guru Besar di AS yang menjabat sebagai Kepala Editor Fiksi di Jurnal Sastra dan Politik, The Atlantic, pernah berkata pada saya sekitar sepuluh tahun lalu saat saya kerja magang di sana bahwa “cerita pendek yang sempurna harus bisa memicu sudut pandang yang berbeda dan memiliki daya tafsir beragam”—dalam arti, sebuah cerita harus bisa melakukan lebih dari sekedar bercerita, tetapi juga harus bisa menjadi poin refleksi bagi si pembaca.

Cerita Cengeng

Oka Rusmini, dalam kata pengantarnya di buku Un Soir du Paris, mengajukan keberatan yang senada bahwa sebagian besar (kalau tidak semua) cerita-cerita yang disuguhkan dalam buku ini melulu menghadirkan masalah percintaan melankolis. Kenapa tidak melakukan dobrakan yang lebih mengena dengan mengusung topik serius?

Apabila mau dilihat secara saksama, hampir semua cerita pendek dunia yang masuk ke dalam genre sastra mempunyai ciri khas yang sama, yaitu melankolis. Mulai dari F. Scott Fitzgerald sampai Raymond Carver, Haruki Murakami, Alice Munro, Uwem Akpan, Stephen Zweig, Alexandar Hemon, dll.—mereka mengusung tema-tema melankolis di dalam cerita pendek yang mereka tulis (meski tidak jarang dikemas dengan tema lain). Di peluncuran Un Soir du Paris, Clara Ng (“Mata Indah”) sempat mengklarifikasi bahwa salah satu tugas cerita pendek adalah untuk mendramatisir nilai drama yang ada di dalamnya.

Tanpa ada drama, sulit bagi sebuah cerita untuk bisa bertahan. Sebenarnya, drama tidak otomatis berarti melankolis, dan melankolis tidak selamanya mengundang air mata. Apabila diceritakan dengan benar, sebuah cerpen pun bisa menggugah jiwa pembacanya: membuat dunia si pembaca terbuka sedikit lebih lebar dan perasaannya sedikit lebih sensitif. Tentunya, ini bukan tugas sederhana, apalagi kecil. Ini termasuk tugas yang memiliki tingkat kompleksitas tinggi dengan beban moral cukup berat (dan tidak eksklusif terkait pada tulisan bertema lesbian). Hidup adalah drama, dan semua drama pantas untuk diolah menjadi sebuah cerita—begitu kira-kira pepatah yang pernah saya dengar dulu.

Tapi tidak semua penulis bisa atau bersedia mengolah drama kehidupan menjadi cerita yang layak baca; sebagian besar justru memilih jalan pintas dan akhirnya terjebak ke dalam gaya penceritaan yang condong mengekstrapolasi struktur drama hingga jadi ‘cerita cengeng’ atau tear-jerker. Namun, jangan salah kaprah, penulis ‘cerita cengeng’ bukanlah penulis gagal. Bahkan, tiga penulis lima besar dunia dengan penghasilan tertinggi (USD 50 juta per buku)—James Patterson, Danielle Steel, dan Stephenie Meyer—merupakan penulis ‘cerita cengeng’.

Positif, Inspiratif

Secara pribadi, saya punya kecenderungan untuk berkiblat pada gaya penulisan cerita pendek yang dikembangkan (dan kini menjadi budaya tersendiri) di daerah Amerika Utara. Ini berarti sebagian besar cerita pendek yang saya tulis lebih pantas disebut sebagai novela mengingat panjangnya yang melebihi batas rata-rata; dan ini juga berarti saya lebih senang mengusik keseharian karakter saya ketimbang menempatkan mereka pada situasi-situasi yang abnormal. Cerita pendek terbaik yang pernah saya baca hampir kesemuanya mengangkat dilema sehari-hari: contoh terkini adalah koleksi cerita pendek karya Maile Meloy yang berjudul Both Ways Is The Only Way I Want It terbitan Riverhead Books, 2009. Di sana ia menceritakan sejumlah kehidupan yang tak berpangkal, juga tak berujung. Pembaca diajak menilik ke dalam kehidupan sebelas karakter dengan masalah dan kendalanya masing-masing. Namun di dalam setiap cerita, pembaca merasa seolah terlahir kembali, melihat dunia dalam cahaya baru. Hanya segelintir penulis di dunia yang sanggup menghadirkan efek sehebat ini dalam diri pembaca—dia salah satunya. Sebagai seorang pembaca, inilah nilai positif dan inspiratif yang selalu saya cari dari sebuah cerita pendek; namun sebagai seorang penulis, ini adalah tantangan terbesar.

Ketika menulis Hari Ini, Esok dan Kemarin saya sebenarnya hanya ingin bereksperimen dengan kondisi psikis yang dialami karakter saat ia telah terjerat di dalam kebohongannya sendiri, yang ia pintal selama bertahun-tahun karena perasaan ‘tidak enak’ atau ‘takut’. Sebenarnya bisa saja saya tuliskan tokoh selingkuhannya sebagai laki-laki, tapi saya melihat kesempatan unik untuk menghadirkan sosok perempuan di sana. Apakah sebuah perselingkuhan kehilangan kredibilitasnya bila dilakukan dengan sesama jenis, atau sama saja?

Sastra Lesbian

Saya pernah membaca di suatu tempat bahwa otak manusia secara tidak sadar terus mencari pola yang bisa ia kenali, lalu pelajari. Mungkin ini sebabnya kita gemar menaruh label pada segala hal. Secara gamblang, sastra lesbian adalah segala macam tulisan yang mengetengahkan isu-isu lesbian atau segala macam tulisan yang ditulis oleh lesbian. Tapi definisi ini juga masih tergolong rancu; karena tidak semua penulis yang berorientasi seksual lesbian lantas setuju begitu saja ketika karyanya otomatis di-cap sebagai ‘sastra lesbian’. Contohnya, Lori Ostlund yang baru-baru ini naik daun karena koleksi pertamanya, The Bigness of The World (2009), memenangkan berbagai penghargaan: ia tidak mengeksklusifkan dirinya sebagai seorang lesbian, meski dia tidak juga menutupi hubungannya dengan sang partner, Anne. Cerita-cerita pendeknya juga tidak eksklusif mengupas isu-isu lesbian, melainkan lebih kepada hubungan interpersonal antara satu manusia dan manusia lain terlepas dari orientasi seksual mereka. Contoh lain adalah Michael Cunningham, penulis The Hours (2000), yang terbuka mengakui dirinya gay—namun ia tidak secara eksklusif membahas perjuangan kaum gay di dunia hetero. Di negara-negara barat tidak sedikit jurnal sastra bertema lesbian atau LGBT yang didirikan khusus untuk menampung karya-karya tulisan yang berkaitan erat dengan isu-isu tersebut; dan setiap tahunnya tak kurang dari 150 koleksi tulisan diterbitkan di sejumlah negara—mulai dari cerita pendek, novela, erotika, hingga pengalaman pribadi—seperti Best Lesbian Love Stories atau Best Gay Erotica. Penghargaan pun tak sedikit diberikan untuk karya-karya terpopuler dari organisasi terkemuka seperti GLAAD dan LLEGO.

Bagi saya, sastra adalah kategori yang cukup luas dan toleran. Di dalamnya, ia memuat segala macam karya yang memiliki ciri khas sendiri-sendiri. Tak perlu kita mengkategorikan isinya ke dalam pola pikir ‘ini punya saya, itu punya kamu’—karena sastra sendiri adalah suatu disiplin yang terus berkembang dan berevolusi, disekat oleh kualitas dan bukan kuantitas. Cerita pendek juga merupakan medium yang toleran terhadap tema: tanpa memperdulikan warna kulit, status, orientasi seksual, maupun afiliasi nasional. Jadi…tunggu apa lagi? Mari berkarya!

@Maggie Tiojakin, SepociKopi, 2010

NB: Redaksi SepociKopi berterima kasih pada Maggie Tiojakin atas kesediaannya memberikan catatan untuk dimuat di sini.

Tags: ,

9 Comments »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.