Home » Opini, Sepocikopiana

Indahnya Perbedaan

Submitted by on 11/09/2010 – 9:00 pm13 Comments | 854 views

Oleh: De Ni

Sepiring ketupat sayur baru saja kuhabiskan. Kali ini aku mengincar kolang kaling, sagon dan kue sagu. Pak Haji, selaku pemilik makanan, justru malah menyuruhku untuk makan lebih banyak. Ia sibuk memerintahkan Bu Haji mengeluarkan kue lapis, kue pisang, dan unti. Semakin banyak makanan yang masuk ke dalam perutku, semakin besar senyum yang menyembang di wajah Pak Haji.

“Makan yang banyak, Den. Kapan lagi kamu makan banyak, gratis pula,” kata Pak Haji.

Mendengar kata gratis, selera makanku jadi bertambah. Mel yang ketakutan badanku jadi bertambah montok, tidak berhenti menginjak kakiku. Untuk urusan makan, entah mengapa kaki ini jadi terasa kebal. Nafsu makanku tetap tidak bisa direm. Melihat jurusnya tidak sakti, Mel mengeluarkan jurus lain, yaitu mencubit pinggangku sekencang mungkin. Kali ini dia ampuh, aku berteriak kesakitan, dan langsung berhenti makan.

Tak lama kemudian, Ibu Haji keluar dengan membawa tape uli. “Makan tape ulinya, Dek Deni.”

Melihat uli yang dipasangkan dengan tape ketan hitam selera makanku membludak lagi. Aku melirik Mel dengan maksud meminta izin. Huh! Wajahnya sih memang tersenyum, tapi tangannya sudah siap di pinggangku. Sewaktu-waktu jemari yang berkuku panjang itu siap mencubit pinggang seksi ini. Dengan berat hati, terpaksa aku berbohong, “Udah nggak kuat Bu Haji, kenyang…”

“Oh kalau gitu Ibu bungkusin aja ya.” Ibu Haji menawarkan. Ahay, mendengar kata ‘bungkus’ hatiku melonjak gembira. Tanpa diperintah mukaku langsung semeringah, dibarengi dengan senyum yang lebar banget. Ketahuan sekali kalau mengharapkan Ibu Haji bilang begitu. Melihat aku yang cengar-cengir kegirangan, Mel langsung menginjak kakiku lagi. Repot deh kalau kunjungan lebaran ngajak-ngajak Mel.

“Bapak senang nih kalau kayak gini. Rumah Bapak mah terbuka untuk semua agama kalau lebaran. Tadi juga Pak Ceng An baru dari sini. Pak Ceng An, tahu, kan? Itu pengurus vihara.” Pak Haji meneguk kopinya, “Tadi dia ke sini sama anak-anak yang suka main barongsai. Tapi belum sempat makan ketupat.”

Mel berbisik di telingaku, “Iya nggak kayak kamu, makannya banyak.”

“Nggak apa-apa, Bapak malah seneng kalau Deni banyak makan. Lah orang makanan juga disiapkan buat tamu.” Pak Haji tertawa. Wajah Mel memerah. Hahahahah, rupanya Pak Haji denger toh.

“Kan kalau Natal, biasanya Bapak juga dikirimin kue sama Deni.” Pak Haji meneruskan, membuatku terkekeh.

Jujur, kepada lelaki baya berpeci ini, aku menaruh hormat. Bukan hanya karena sifatnya yang rendah hati, tapi juga atas karya yang diperbuatnya. Dia mengundang semua orang dari berbagai agama datang ke rumahnya tiap Idul Fitri, dia juga menyempatkan diri menghadiri acara Natal di gerejaku, dia juga ikut menyambangi satu per satu rumah etnis Tionghoa pada hari Imlek. Dia dituakan bukan hanya karena dia menyandang gelar Haji, lebih dari pada itu, dia dikagumi karena keberhasilannya menciptakan keharmonisan di kampung kecil kami, kampung yang didominasi oleh umat Islam, Kristen dan Buddha. Sebuah kampung kecil, dengan Masjid, Vihara, dan Gereja yang dibangun berdekatan.

Pak Haji menjadikanku akrab dengan pemuda pemudi Muslim kampung kami dengan mengangkatku sebagai ketua IO acara buka puasa bersama, padahal aku adalah penganut agama Kristen. Dia juga mengakrabkan pemuda-pemudi Islam dan Kristen dengan memerintahkan anak-anak Masjid menjaga keamanan perayaan Natal di gerejaku. Dan Pak Haji menyatukan pemuda Islam dan Buddha dengan cara meminjamkan tenda Masjid untuk acara pesta Imlek etnis Tionghoa.

Saat aku tanya apa resepnya sehingga ia bisa menciptakan kerukunan antar umat beragama ini. Pak Haji menjawab, “Den, untuk bisa menciptakan kerukunan, kamu harus bisa memandang segala perbedaan sebagai diferensiasi bukan stratifikasi.”

Diferensiasi sosial adalah pengkelasan, penggolongan, atau pembagian masyarakat secara horisontal atau sejajar, sedangkan stratifikasi sosial adalah pengkelasan, penggolongan, atau pembagian masyarakat secara vertikal atau atas bawah.

Dalam stratifikasi, perbedaan dipandang berjenjang. Ada superior dan inferior, ada yang tinggi dan rendah, ada kelas satu dan ada kelas dua. Sementara dalam diferensiasi sosial, segala perbedaan dipandang sebagai kesejajaran. Tidak ada yang superior dan inferior, semua dipandang setaraf meski berbeda. Segala perbedaaan dipandang sebagai kepelbagaian yang tidak perlu diperdebatkan untuk mencari siapa yang berada di kelas satu dan siapa yang menempatkan kelas dua. Perbedaan dipandang sebagai warna-warni yang akan memberikan sentuhan warna dalam indahnya harmonisasi pelangi.

Dalam kehidupan yang majemuk kita selalu dihadapkan dengan perbedaan, entah perbedaan agama, etnis, warna kulit, suku, ataupun pekerjaan. Juga dalam dunia lesbian, kita juga kerap menemukan perbedaan-perbedaan. Ada lesbian lajang, ada lesbian menikah, ada mombian, ada yang coming out, ada yang bercinta dalam persembunyian, ada yang living together, tapi ada juga yang menikmati LDR. Semua perbedaan yang tercipta di antara kita, bisa saja menciptakan konflik perbedaan. Yang satu merasa lebih baik dari yang lain, dan yang lain merasa lebih benar dari yang satu. Padahal, kalau kita mau kaji lebih dalam, maka kita akan diperhadapkan pada pertanyaan, apa parameter untuk menentukan bahwa kelompok satu lebih baik dari kelompok lain? Bahwa lesbian A lebih baik dari lesbian B? Dalam humaniora tidak ada nilai mutlak untuk menilai bahwa A lebih baik dari B, sebab A dan B sama-sama baik dalam pandangan mereka.

Waktu aku menulis tentang artikel Living Together, aku menuai banyak komen positif, bahkan tidak sedikit dari teman-teman lesbian yang iri dan ingin living together seperti kami. Namun, seminggu kemudian seorang kawan lesbian bernama Vianne membuat tulisan yang kontras dengan tulisanku. Tulisan itu berjudul, L’Amour: Cinta Lintas Provinsi. Dalam tulisan ini Vianne dan partnernya justru menceritakan bahwa mereka merasa lebih nyaman menjalani LDR. Saat membaca tulisannya, aku menyadari bahwa dunia lesbian sungguh berwarna. Aku dan Mel memilih warna biru, dan untuk membentuk pelangi indah di langit dunia lesbian, Vianne dan partnernya memilih warna merah. Aku yang LT tidak memandang bahwa aku lebih baik dari pada Vianne, begitupun sebaliknya. Segala perbedaan diinterpretasikan sebagai sebuah diferensiasi, bukan stratifikasi.

Jadi dari pada sibuk mengurusi siapa lesbian yang benar-benar lesbian, dan dari pada pusing mendudukkan siapa lebian kelas satu dan siapa lesbian kelas dua, mendingan bantuin aku menghabiskan kue-kue di meja makan Pak Haji.

Tenang, kali ini Mel mengizinkan kok, soalnya aku baru saja bilang ke dia, “Say, bobot tubuh itu deferensiasi lho, bukan stratifikasi. Yang langsing bukan berarti lebih baik dari yang gemuk.”

@De Ni, SepociKopi, 2010

  

Tags: ,

13 Comments »

  • WKWKWKWKWK SENENG N LUCU BANGET BACA TULISAN KAK DENI….

  • memang perbedaan indah dan perlu disebarkan ke orang lain dan contoh tentunya….

  • yo says:

    hahaha .
    “bobot tubuh itu diferensiasi”
    hhi .

  • Danish says:

    Hahaha.. Temboloknya besar y, k’deni? :P

    Salut ama pak Haji.. Coba smua pak Haji bgitu yah.. :D

  • doris fidelya d'rain says:

    hahaha, bobot tubuh deferensiasi jg yaw, xixixi

    lbh indah, pelangi dgn warna/i ny yang indah. bukan kah sdh bisa kita sadari dari pesan ciptaan Tuhan itu?
    biarlah pbedaan mjadi pbedaan yang lbh mprindah hidup kita ;)

  • Românezianca says:

    Wah, …foto makanannya enak tuh.

  • Just In says:

    Dari pd buang2 waktu dgn sbux mncari2 prbedaan2 yg sbnarx sdh jelas n gk prlu dicari2 lg serta gk prlu diperdebatkan lg…. alangkah lebh baikx kl kita mikirin prsamaan2 yg ada aja……krn smuax mnyangkut pilihan, hati n rasa…ingatlah,kawan..hidup itu pnuh dgn pilihan n plihan itu tdk bs dpaksakan……mau kristen, hindu, budha, islam atau apapun kepercayaanx toh sama2 mgajarkan kbaikan dan pnya tujuan yg sm positifx (menjalankan khidupan dgn aman, damai n penuh kasih…)… mau hetero atau non hetero…toh sama2 manusia ini, sama2 warga negara ini, sama2 pnya hak n kwjiban, sama2 pnya hak hidup, sama2 butuh dihargai n mnghargai, sama2 butuh perlakukan adil….sama2…n sama2….bnyk jln mnuju roma, kawan…biarkanlah org memilih jalan terbaik mnurut mereka masing2…
    Andai stiap orang punya positive thinking atau bahkan positive feeling…pastix dunia…damai…damai…damai….
    Marilah kita mulai dari diri kita masing-masing, kawan…good luck!

  • yulsic says:

    jd malu. dl keluarga aku sndr sll ribut gr2 prbdn spt itu =.=’

  • t4nk says:

    sayankny dibelahan dunia laen, ada yg bepikiran sangaaaaat sempit soal perbedaan tsb,,,,
    hampir aja merusak nikmatnya IED tuh,,,

    #btw, gemuk tuh lambang kemakmuran kog,,, ;)

  • voni viona says:

    hahaha ka imel ma ka deni emang t o p b g d dah iya tu biar beda kita satu kan hehehe

  • Tim says:

    E maksudnya diferensiasi sosial menyangkut orientasi seksual

  • Tim says:

    Diferensiasi wow…
    Berarti ada indikasi kalo pak haji itu gay friendly tapi,
    btw emank ada diferensiasi sexual? *nitip nanya ke pak haji donk om deni*

    salam gembul

  • gumilotsy says:

    ahahaha, bener bgt tuh. makanan gratis yg enak plus halal ga bkal sya tolak pa lg pake kata bungkus, huahaha mata sya psti brkilat2 penuh bahagia. duh liat gambarnya ja buat sy ngiler kepengen
    :p

    dan mang benar bgt, kalo seseorang dah anggep dirinya lbh baik dr yg lain, mana da kdamaian, yg da konflik mulu. menyebarkan kasih dan sayang memang gampang2 susah, ato bs jg susah2 gampang.
    bila qt dah liat perbedaan sbg suatu rangkaian warna pelangi, bumbu2 masak yg buat masakan yg nikmat nan lezat, buah2an dr brbagai jenis pohon, waduh enaknyo, rancak bena :D
    yuk, qt saling menerima perbedaan sbg suatu perbedaan yg buat qt blajar, mengenal, memahami, mengharmonisasikan sehingga tdk membuat hidup qt membosankan & menyedihkan.
    let’s show d love n spread it yo! :D

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.