Home » Humaniora, Telezkop

te.Lez.kop: Takut Aja Terus!

8 September 2010 79 views 39 Comments

whosafraidbadbookOleh: Shinigami

Minggu lalu saya merasa senang membaca pengumuman di situs ini tentang diterbitkannya kumpulan cerpen lesbian pilihan SepociKopi. Saya melihatnya sebagai satu langkah lagi, satu sumbangsih lagi dari komunitas ini terhadap literatur Indonesia, khususnya literatur lesbian, setelah Club Camilan. Namun rasa ikut senang ini luntur dengan sukses seperti noda yang gagal menempel di tembok di iklan sebuah produk cat ketika saya membaca kolom komentar pembaca. Ada beberapa, tapi yang akan saya bahas kali ini adalah komentar yang bilang tentang akan beli buku itu tetapi titip karena takut disangka atau ketahuan lesbian. What the…?

Terus terang, sulit sekali bagi saya untuk bisa menerima konsep takut ketahuan lesbian jika beli buku bertema lesbian. Membeli buku adalah suatu kegiatan umum yang bisa dilakukan siapa saja, tak ubahnya membeli barang-barang lain seperti permen, baju, sepatu atau benda lain. Dan, yang paling penting, barang yang dibeli seseorang tidak dengan serta-merta menjadikan orang itu sebagai pemakainya. Bayangkan ada seseorang datang ke warung bakso dan beli satu porsi bakso untuk dibawa pulang. Apakah itu berarti pembeli itu sendiri yang akan memakannya? Belum tentu kan? Kalau penjualnya mau beranggapan orang itu sendiri yang memakannya, itu urusan si penjual, dan dia semestinya sadar bahwa kebenaran anggapannya itu hanya 50%. Sebab selalu ada kemungkinan kalau dia membelikannya untuk orang lain. Nah, jika seperti itu keadaannya, kenapa harus begitu khawatir?

Apa? Bagi pembeli yang butch atau andro, buku itu akan menjadi konfirmasi dari kelesbianan mereka? Itu berlebihan. Konfirmasi seperti apa sih? Apakah ketika membayar di kasir si pembeli melakukannya sambil bilang, “Saya lesbian,” atau, “Saya bukan lesbian, ini buku titipan”? Toko buku mana yang punya aturan sinting semacam itu?

Dan kalau memang penampilan kalian begitu butch sehingga dalam sekali pandang orang akan mencap kalian lesbian, percayalah, membeli buku bertema lesbian tidak akan berarti apa-apa. Buku itu mungkin hanya jadi aksesoris tak penting, sebab tanpanya, orang toh tetap akan berpikir kalian lesbian. Seperti menggarami laut. Sebaliknya, apa dikiranya orang langsung menganggap kalian straight waktu kalian membawa majalah dengan wajah cowok macho di sampulnya? Naif sekali. Bagaimana kalian bisa yakin kalau mereka tak berpikir bahwa kalian adalah seorang female-to-male transexual yang sedang berusaha mencari figur untuk ditiru setelah operasi ganti kelamin kalian nanti?

Hal lain lagi yang membuat ketakutan satu ini cukup absurd adalah status hubungan antara pembeli dan penjual. Kecuali kasirnya masih punya hubungan saudara atau bertetangga dengan kalian, apa sih yang ditakutkan? Kan kalian tidak kenal dengan si kasir. Hubungan kalian dengannya hanya terjadi saat membayar itu saja, dan di meja itu saja. Sangat singkat dan sangat terbatas, bukan? Mereka tidak mungkin melapor kepada orang-orang terdekat kalian bahwa kalian beli kumpulan cerpen lesbian. Malah, kemungkinan kalian bertemu lagi dengan si kasir di lain waktu dan tempat sangat kecil, katakanlah 1%, dan kemungkinan si kasir mengingat kalian DAN buku yang kalian beli itu bahkan lebih kecil lagi. Saya yakin kasir-kasir itu tidak digaji untuk mengingat siapa-siapa saja yang membeli buku apa, seperti halnya saya yakin kalian tidak akan diminta meninggalkan fotokopi kartu identitas ketika membayar buku itu di kasir.

Tetapi komentar yang berbunyi titip beli buku lantaran takut ketahuan lesbian ini membuat saya geram bukan hanya karena kedangkalan dan keabsurdan pemikirannya. Kalau ditarik ke dalam lingkup yang lebih besar, komentar ini menunjukkan bagaimana kontradiktifnya sikap teman-teman lesbian dengan apa yang teman-teman inginkan sendiri. Percuma merengek-rengek tentang tak adanya persamaan hak atau status, koar-koar tentang bagaimana lesbian mendamba pengakuan di mata masyarakat dan hukum, kalau membeli buku lesbian saja tidak berani. Bayangkan, membeli buku—suatu tindakan yang sah terhadap barang yang juga sah dan diperjualbelikan bebas—saja takut! Kalau untuk hal seremeh ini saja takut, harapan apa yang kita punyai atas mengusahakan pengakuan dan penerimaan lesbian di masyarakat? Apa yang bisa diharapkan dari sekelompok orang yang banyak (?) anggotanya merasa tertekan dan ketakutan ketika mau membeli buku yang mereka inginkan? Usaha apa yang bisa diharapkan dari mereka? Dukungan apa? Kalau memang seperti ini ya silakan takut terus, dan silakan terus bermimpi tentang pengakuan dan penerimaan kelompok lesbian oleh masyarakat, sebab itu tak akan terjadi.

@Shinigami, SepociKopi, 2010

39 Comments »

  • orange said:

    Stuju sekali. :)
    Jadi.. Masih ada yg mau nitip beli ga nih??hehe

  • t4nk said:

    prokkkk…. prokkk… prookkkk….

    MANTAAAFFHHHH……
    mari berpesta bwt kelahiran buku tsb,,,, ;)

    ssyyyyuuutttttt….. DDHHEEYAAARRRRRRR……
    #bunyi kmbank api
    NNGUUUUNNGGGGGG
    #bunyi vuvuzela

  • AL said:

    Hmmm, bener tuh! Hetero emang picik pandangannya kalo liat orang beli buku tentang gay berarti orang itu gay, kalo ada liat orang beli buku tentang atheisme berarti orang itu atheis. Liat orang beli buku tentang terorisme, berarti orang itu teroris. Hati2!!
    *nyengir*

  • Jingga said:

    SEPOCI KOPI beruntung memiliki seorang SHINIGAMI yg selalu menghadirkan tulisan2 yg cerdas dan berbobot dgn gaya yg enak dinikmati. Untuk kali ini saya cuma mau berkomentar -Saya tidak takut ^_^

  • Ri said:

    d^__^b
    Knapa mesti takut?
    Gw bayar ko, gak nyolong

  • rani said:

    setuju setuju tp kalo ampe beli2 buku gt idih sama yang koment aku juga takut wkwkwkwk,,,,,,

  • Nadira ditya said:

    Betul..betul..betul knp mesti tkt..lo Q g peduli apa yg akan d fkrn kasir toko buku wkt Q sodorin buku lesbian..ini adlh hdpQ n org laen g blh ikt cmpr..Q py byk bgt koleksi buku b’tema lesbian..ada karanganx deojha,gerhana kmbr,grs tepi seorg lesbian,janji sepasng kekasih dr dinasti ming,sepasng remaja lesbian d persimpangn jln,detik t’akhir,camilan,love U ’til the end n yg bsk terbit wajib n hrs d beli..lo tkt d ketauan msk k gramedia pkai jaket,topi n kcmata.

  • kiora said:

    Pemikiran dan pendapat yg sangat bagus n bener bgt, sista.
    Emang qta slalu berkoar2 pengen diakui keberadaan qta sbg lesbian tapi mengakui diri sendiri aja takut… dilematis or munafik? Or krn lingkungan qta yg mengajarkan qta menjadi penakut? ;p

  • rhea justicia said:

    hahaha..jd inget pengalaman beberapa waktu lalu..
    aku membatalkan beli novel bertema lesbian krn pergi ke toko bukunya sm mama..
    ga mau aja si mbak kasir berpikiran,”kasian anda bu..putri anda tnyata lesbian” :D

  • Just In said:

    He2..jlas bngetzzz kekecewaan, kjengkelan n kgeraman……tertuang pd stiap kata2…..serta pmilihan pnggalan klimat yg digunakan….sabar kawan…sabar…mski rmbut sm hitam, drah sm merah n hati sm berat….tp jwa, rsa n kberanian bs beda kwan…mgkin tjuan n keinginan bs sama tp proses pncapaianx bs beda kawan….sbagian orng mgkin tk btuh orang lain ntuk mncapai tjuan, keinginan atau bahkan ntuk mnimbulkan kbranianx…atau orng lain itu hnya sbagai pmicu n pmacu saja….namun banyak jg yg hrs dituntun, dbimbing, diberitahu atau bhkan dipecut spya mrka mlai mau membuka mata n fikirannya srta mlai berusaha mlepaskan kcamata kudanya n kluar dr fikiran smpitnya…he2…dunia itu sngat luas,sngat indah..n sangat2…..sungguh syang kl kt hanya brani mlihatnya dr balik cangkang kita, cobalah brusaha kluar dr cangkang..spaya bs mlepas pndang dgn leluasa…smua bs trlihat dgn jlas…ingatlah tak ada yg tak berisiko, namun tak ada risiko yang tak bisa diatasi…smoga dngan tulisanmu ini,kawan, banyak yg mlai mlakukan prbahan….be brave…open up ur mind…change ur mindset….he2…n 4 U Shin…be cool n tetap smangat…

  • PXM said:

    Betul,ga usah takut,nyantai aja,toch siapa tau bisa mendetect lesbian lainnya :p hanya ga semua lesbian punya harapan pengakuan di masyarakat

  • Clarissa said:

    Mungkin sudah waktunya sedikit menggeserkan kepala dan melihat dari sudut pandang berbeda bahwa buku yang dibeli, film yang ditonton, dsb-nya tidak serta merta mencerminkan orientasi seksual seseorang. Kalau pemikirannya sempit terus kapan mau jadi orang yg berwawasan luas? :)

  • Românezianca said:

    Hahahaha, tulisan ini bikin aku ketawa. Dikarenakan aku salah satunya yang pikir2 dulu untuk beli sendiri. Jadi malu nih :”> …hehe. Apa yang…siapa?…Shinigami ya?…yang Shinigami bilang benar sekali. Aku setuju. Tapi…aduh, bagaimana ya?! Ada yang bisa dititpi ga?? Hehehe. Oh, aku harus bisa mengontrol kekhawatiranku yang ada di otakku ini.

  • jo said:

    Setuju banget..
    Beli ya beli aja,lagian ????? GAK?? da yg merhatiin ini.haha

  • Zorra said:

    Iy..iy..beli sendiri deh:-o

  • yulsic said:

    aku jg sempet ngeh soal ini, knp beli buku aja pd ga berani? aku sndr sih bkl bl bbrp hr lg. bl sndiri! xp

  • say czeka said:

    takut ah.. tetep..

  • lushka said:

    usul: beli buku online *kalo takut dilihatin kasir*, tapi resikonya kalo masih tinggal di rumah, ntar yang nerima orang rumah ditanya deh, beli buku apa, dek? hihihi. Ah tapi gue emang lebih senang belanja buku online, dapat diskon, ongkir juga lebih murah dibanding pengeluaran sampingan kalo beli buku di mall. *kenapecurcol?

  • dixie said:

    Aha!!
    Telak bgt, bgt!!!
    Galz, klo masi ada yg g nyaman atw takut
    Mta tmnin j sama yayank..gmn masih tatut?!
    Don’t be afraid, coz we’re all
    Equal in the eye of GOD ko galz.
    Jadi takutnya sama TUHAN, jgn sm sesama manusia
    @(^_^)@ v

  • Bianca said:

    Saya kemarin beli buku itu dan saya bahkan tidak tahu sebelumnya kalau ternyata itu novel lesbian.ternyata ada ya novel ‘seberani’ itu..

  • Alexis said:

    Aq udah beli siang ini. Ngga pake malu, cuma pake hutang. Alias gesek k.kredit. Lumayan bs dpt dics. 20%

  • Heaven as said:

    Td pagi aq coba cari di Gramedia M2, koq gak ada y,?? :S
    Aq tnya sm Kasir-nya, gda yg Tauuuu
    Apa mngkin aq dtg-nya ke pagi-an klee y,?? Hehe,, :p

  • voni viona said:

    iya tu jngn takut2 ah jd pngn beli ada yg thu yg plng bgs judul nya apa gk hehehe

  • Ryou said:

    Takut buat yang pertama kali (dan kedua kali mungkin?) itu wajar, tapi sekali kita memberanikan diri lama2 bisa cuek kok. Percaya, deh.

    @Shinigami: Sabar, Kak, sabar. Hehehe. Nggak semua orang terlahir dengan mental baja, kudu belajar dulu baru bisa berani. Termasuk saya. Penakut, tapi bukan pengecut :D

  • Jayne said:

    setuju banget, aku d beli bukunya dr hari selasa kemaren dan aku belinya sendiri..gak ada masalah tuh : ) malah tuh buku sempet aku bawa keliling2 dulu sambil nyari buku yang lainnya hehe…

  • voni viona said:

    ryou brnr tu hehehe thanks w coba tr

  • only said:

    Yoi,pertama mrs aneh jg ama yg blg takut ketahuan. Koq bs??ampe pgn bgt jelasin di kolom komen ini. Tp untunglah, ada yg mengangkat topik ini. Jempol deh!!
    Sisihkan uang tuk beli, klo ga nabung dl. Klo dah ga sabar, baca dl di tk buku, tar ckp uang br beli.wkwkwkw….

  • gladysme said:

    eitss. . kok tulisannya jd ngejudge orng berpikiran dangkal yahh.
    Tiap orang psti punya cra pandang, pola pikir dan alasan yg berbeda2 kan.
    Stuju bgt sm commentnya Just In. .

  • LuV.rAs said:

    Lez.Bi kan jg manusia..
    Qt jg buTuh pengHidupan..

  • Hujan said:

    beli buku itu hari ini. Bahkan nyuruh mas nya nyariin di gramedia grand indonesia. so far, so good. toh liat deh nama penulisnya aja ratih kumala dan lain-lain. sepertinya bukan takut. Tapi termnya cemas. Karena objeknya gak konkrit, gak pasti.

    so, it’s merely a book. Why so afraid?

  • gumilotsy said:

    sya stuju dgn qmu Shin, dan komentar teman2 smua, trmasuk yg merasa takut. bkan sya tdk pnya pendirian, bkan itu.
    bila qt pd posisi si takut (blm siap ktahuan) pstinya qta merasa perlu dimengerti. duh aku jg pgn sprti qmu, brani, tp gmana dung, aku blm sanggup, aku merasa siap, aku brusaha tp hnya itu kmampuanku. maukah kau brsabar atasku?
    itu yg trpikir oleh sya, jika sya dlm posisi takut. buat yg krng sabar, dah pzti gemes bukan main. nasehat apapun ga kan mempan, bila hati si takut blm mantab, jd bntulah ia u/ mantab.
    yg menjd ktakutan yg sangat ya ktahuannya bukan beli bukunya kan? kekhawatiran mereka bkan jd sesuatu yg buat qt kesal, ya boleh ja kesal tp jgn klamaan jg, mngertilah pa yg mreka khwatirkan. dan brhubung resiko itu ditanggung masing2 walaupun qt blng ga usah takut jg ga da gunanya, lah yg ngerasain si sya bukan si qmu.
    mang bener bgt ga slebai itu jg qt bli buku dtnyain macem2, orientasi seksualnya pa lg ampe suruh taro fotokopi ID sgala. tp pmikiran si kasir n org2 dsekitar yg dikhwatirin, namanya jg manusia mana punya kekuatan u/ kontrol pikiran org lain, kdng kontrol pikiran sndiri jg ga bisa.
    jd, sbg org2 yg mempunyai pmikiran2 yg beda dng takut aka brani, yuk bntu si takut u/ jd brani, dng cara2 yg lbh persuasif dan memahami keadaan dia sehingga si takut tdk merasa tertindas, terintimidasi, bhkan bsa jd membenci dirinya sendiri. sulit, lama ya cuma ksabaran n doa2 yg paling bnyak harus disediain. mari qt anggap perbedaan itu sbg sarana qt u/ saling mengenal, memahami dan mengharmonisasikan. hidup dlm kdamaian dan penerimaan.
    ayo smua smangat! :D

  • viana said:

    Jika pengen beli buku, beli aja. Takut bukan alasan yg tepat, selama tdk mlakukan ksalahan. Toh kita bukan selebritis yg akan disorot apa yg kt lakukan. Lagi pula, memang kasirnya pasti tau tema buku yg kita beli, mana sempet dia mikirin itu??
    Kalo aku ga beli, krn aku belum pengen baca buku itu:)

  • jona said:

    Tips dari sy, ini mnurut pngalaman sy sndri, kalo beli buku lgbt skalian beli buku yg bertema lain. Beli 2/3 buku. Bisa ngurangin rasa takut atau g enak yg mgkn trasa.

  • alice said:

    haha baru mau bilang yang dikatakan viana. yeph emangnya kasir tau itu buku mengenai apa? toh di kavernya nggak ada tulisan gigantic “LESBIAN STORIES” atau apalah.

  • alice said:

    Oh ya satu saran aja, kalo mau beli, bareng2 aja sama temen2, sepuluh orang gitu (sekalian borong maksudnya…), trus pas antrinya satu2, jadi kasirnya mikir emang bukunya laku banget hahaha. Kalo perlu nyelip2 di antrian orang lain deh biar nggak ketauan kalo bareng2.

  • Claire said:

    1. Buku di sebuah toko buku itu kn banyak bgt, ga mgkn jg kan petugas hapal isi”nya 1per1..
    2. Biar aj toh orang mw ngira ap, ‘those who mind doesn’t matter, and those who matter doesn’t mind’ dr.zeus.
    Justru kalo dy ngeliat seseorang membeli buku mengenai gay, dan lgsg ngira org itu gay, dan malah mungkin berkomentar mcm2 dan nyebar gosip, berarti org itu yg salah trlalu sempit pikirannya.. :)

    Lol, sy sndiri pas prtama membeli novel bertema L itu kebetulan saat jalan sma ibu.. :p

  • sun said:

    btw ini kok tulisanx jd spt yg menyudutkan yg takut beli buku bertemakan lesbian y?! Ap seperti ini cara promosi bukunya sepocikopi?? Itu bkn sikap yg fair. Kalo menurut sy ya it urusan msg2 aj, knp hrus diributkan kalo memang ada yg takut membeli, kalo memang tdk nyaman knp hrus dpaksakan?? Dan itu bkn berarti tdk menghargai hasil karya sesama lesbian.

  • mystica said:

    hidup belanja online!!! ^^

  • lim said:

    Tulisan yg pedas. Tapi mengembleng kebeneran. I like it!

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.