Home » Humaniora, Renungan

The Unloneliness Project

7 September 2010 146 views 9 Comments

pociOleh: Nuage

Mungkin, inilah misi kita hidup di dunia ini. Sebuah proyek besar yang tanpa sengaja selalu kita kerjakan dari hari ke hari, the unloneliness project. Proyek mengusir kesepian adalah sesuatu yang alamiah, kita lakukan tanpa kita sadari, sebagaimana kita berjalan dan bernapas.

Hingga suatu saat aku berada di suatu tempat, sendiri, barulah aku sadar. Barulah aku berpikir tentang kesepian-kesepian, barulah aku terpikir tentang proyek besar yang tidak pernah kita sadari itu.

Aku telah ditinggal sendiri di tempat ini, tempat ini bukanlah Shangrilla, bukan tempat ideal yang indah untuk menyendiri dan merenung, malah kebalikannya. Tetapi ternyata cukup untuk membuatku berpikir.

Kesepian itu macam-macam. Setidaknya ada 3 yang bisa aku pikirkan. Ketiga ini mungkin berjenjang/bertingkat, mungkin juga merupakan variasi. Entahlah…

Kesepian tingkat pertama, pada level yang paling mendasar adalah kesepian yang bersifat fisik. Kita butuh orang lain di sekitar kita, someone to talk to, someone to be with, dan sedikit human touch. Ini bisa siapa saja, karena masih bersifat mendasar (primitif) jadi ketika lama kita tidak bertemu siapa-siapa, tidak ada kontak dengan manusia, sedikit perhatian dari siapa saja akan terasa menghibur. Karena ternyata itu adalah salah satu kebutuhan alamiah manusia.

Kesepian tingkat dua, bahkan ketika kita sudah terpuaskan pada level pertama, secara fisik kita terpenuhi, namun masih saja terkadang kita merasa lonely. Kesepian ini lebih karena keinginan kita tidak terpenuhi. Kita terlalu banyak keinginan, kita tidak pernah puas, dan sering kali kita tidak tahu apa yang kita inginkan! Lah bagaimana kita bisa memenuhi keinginan kita itu bila bahkan kita tidak tahu apa yang kita inginkan? Ini kesepian yang cukup sulit.

Pada tingkatan ketiga, mungkin lebih tinggi dari yang level dua, mungkin juga sama. Ketiga jenis ini, bisa juga disejajarkan, sekali lagi, terserah kok. Pada tingkat ketiga, adalah kesepian karena merasa tidak dimengerti. Ini bisa disebut kesepian intelektual. Orang-orang pintar dan dalam, orang-orang “sinting”, para pemimpin, para visioner, sering merasakan kesepian ini. Tidak harus mereka, mungkin kamu juga kadang akan merasakannya.

Apakah ada lagi jenis kesepian yang lain? Tolong tambahkan bila ada. Tanpa kita sadari, sepanjang hidup kita, ketiga itulah musuh yang coba kita taklukkan. Kita adalah makhluk yang selalu membutuhkan teman, manusia adalah makhluk sosial, kamu pasti sering dengar.

Di level paling bawah adalah orang-orang di sekitar kita, tempat kita berinteraksi, melakukan aktivitas sehari-hari. Tetangga, teman kantor, teman sekolah, teman-teman. Teman pun tidak jarang ada yang bisa menjadi pembunuh kesepian tingkat kedua bahkan ketiga, mereka yang kita sebut sahabat seringkali adalah orang yang secara fisik sering bertemu dengan kita, ataupun bisa juga secara fisik jauh tapi dapat memenuhi kebutuhan pada level yang lebih tinggi itu.

Pada tingkatan tertinggi adalah cinta. Cinta adalah puncak dari the unloneliness project. Seorang partner diharapkan dapat memenuhi semuanya. Mulai dari kebutuhan fisik, seseorang yang ada di sampingmu, seseorang yang menemanimumu ke mana-mana, seseorang yang memenuhi kebutuhan akan kasih sayang, sentuhan manusia, dan seks. Seseorang yang diajak ngobrol itu sudah pasti.

Masalahnya, sampai tingkat apa kebersamaan itu dapat membunuh kesepian-kesepian kita tadi itu. Coba cek dan ricek dalam hubungan kamu bagaimana. Kalau ada waktu saya akan buatkan kuesioner untuk mengukur tingkat kepuasan sebagai pasangan… tapi sementara cukuplah sampai di sini, namanya juga iseng mengeksplorasi sebuah wacana.

Siapa yang bisa memenuhi semuanya, hingga setuntas-tuntasnya, hingga kita tidak lagi merasa sedikit pun kesepian. Not any slightest feeling of loneliness. Itulah ketika kita sudah menemukan si dia. The perfect partner.

Akankah kita menemukannya? Katanya, tidak ada yang sempurna…

@Nuage, SepociKopi, 2010

9 Comments »

  • Cyntiasari said:

    Thanks’… tulisanya bener2 ngewakilin, tentang apa yg lagi aku rasain…. Aku fikir cuma aku sendirian yg selalu ngerasa kaya gitu.

    Thanks Nuage.. :)

  • futuredoctor said:

    Tulisan yang bagus. Kesepian, kebutuhan untuk ditemani, diterima, dan dimengerti.

  • ice.cone said:

    dan yg ironis adalah jika anda hanya pengisi kesepian untuk sementara waktu ;p

  • romeo said:

    yupz…bgs bgt…gw jg trmsuk kategori kesepian. Need someone beside me…

  • lie_nux said:

    good girl…………………….

  • meli said:

    hmm,menarik…level kesepian ini apa harus orang lain yg mengisinya?bagaimana kalau kesepian itu begitu dalam,sehingga tak ada sepertinya orang yg tepat untk mengisinya?untuk sesaat,mungkin bisa,tapi tetap ada saat menjadi bosan dan kosong sehingga mencari bentuk pemuasan yg baru (terus menerus) saya rasa ada bentuk kesepian yg hanya kita (saya)dan tuhan yg dapat mendamaikan nya.saya tak akan dapat mengusir kesepian 100% …(bukankah kita butuh kesendirian untuk menemukan jati diri kita??)

  • nay said:

    saya sering merasakan ketiga tingkatan kesepian itu.
    i hope there is a another woman that can kill my loneliness, and share everything together

  • gladysme said:

    ceritanya sm dgn yg sering aku rasakan dulu. .
    Ksepian bs membuahkan rasa saling ketergantungan jdnya dgn orang lain dan dan merasa kcewa brlebih jika apa yg kta mau tdk tercapai klo mnurutku.
    Jd lebih baik jika menghadapi kesepian lakukanlah hal2 positif yg dpt merubah diri kita menjadi jauh lbh baik lg..

  • gumilotsy said:

    wacana yg bagus u/ diketengahkan dan didiskusikan. thx nuage u/ keisengannya n thx jg u SK tlah menyajikannya ;)

    mm… mnrt sy ad 2 jnis ksepian. ksepian jasad & ksepian jiwa.
    ksepian jiwa brjenjang.
    org yg tlah brteman akrab dng dirinya sendiri sudah bisa dpastikan dia bisa mengusir kesepian bila ia trlihat sendiri. dia justru menikmati malah mengalokasikan waktunya agar ada waktu u/ menyepi.
    dgn menyepi ia bisa merenung, menghayati, mncari jawaban dll.
    tdk ada yg smpurna, dukung penuh bhw prnyataan qmu bnar nuage. bila ktdk smpurnaan tlah dterima sbg teman, bkan lagi musuh yg hrus dperangi/dijauhi maka rasanya akan manis skali :D
    ktika qt menerima, memandang ktdk smpurnaan itu sbg keunikan yg menawan, kekurangan yg ajaib, kjenakaan yg menggelitik, dan sesuatu yg qt rindukan maka ktdk smpurnaan akan brubah wujud mnjd ksmpurnaan yg tiada dua yg sungguh melegakan.
    the perfect partner?
    sy rasa tiada lg the perfect partner kcuali Tuhan. bahkan buang air pun qt dtmani dng brdoa minta perlindunganNya. hal2 yg manusia tak sanggup bantu, Ia mampu. sampai pd akhirnya ajal menjemput, mbwa qt kmbli pdNya, ilmu akan diriNya menyelamatkan qt.
    tentu saja, ktika qt sakit tak da satupun manusia yg bisa mengangkat apa lg memindahkan sakit itu bukan? pmahaman akan Tuhan, mengangap bhw Tuhan menyayangi qt, percaya bhwa Ia bkan musuh melainkan teman, maka yg dirasakan keikhlasan, ketenangan.
    jd, smoga qt tdk hnya mencari teman dunia tp jg teman akhirat. dan smoga qt tdk hnya mempersiapkan bekal dunia saja tp jg akhirat. amin
    ayo teman2 smua, mari qt tetap trus brsemangat! :D

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.