Have Your Say: Persahabatan Sejati
Memasuki dunia lesbian dan mengakuinya di hadapan teman-teman straight memang memiliki resiko tersendiri. Banyak lesbian yang menempuh resiko itu untuk menjadi terbuka dan apa adanya. Berhargakah keterusterangan tersebut jika kehilangan teman? Ataukah memang keterusterangan adalah syarat mutlak untuk menilai kemilau persahabatan? Dengarkan kisah Erika Chan yang bercerita tentang sahabat-sahabat straight-nya.
Perkenalkan teman-teman SepociKopi, nama saya Erika. Sejujurnya, saya terkejut sekali menemukan situs SepociKopi. Situs ini adalah impian saya sejak saya mengakui orientasi seksual saya kepada diri ini. Situs ini juga adalah angan-angan semua sahabat-sahabat lesbian saya dulu. Jadi alangkah gembiranya saya menemukan ternyata impian itu bukan sekadar impian, tapi benar-benar menjadi kenyataan. Proficiat SepociKopi untuk ketekunan dan keberhasilan yang dicapai dari situs ini. Saya melihat bookmark dan jumlah angka-angka pengunjung yang mencengangkan. Luar biasa1 Teman-teman lesbian yang berdiri di belakang situs ini, saya mengucapkan terima kasih.
Saya ingin membagi cerita. Dulu ketika pertama kali saya mengetahui orientasi seksual saya, dunia internet belum seramai ini. Bahkan lesbian pun juga belum bisa semudah ini bertemu dan berkenalan. Sulit sekali untuk mengakui ketertarikan saya terhadap perempuan. Buku-buku yang beredar di pasaran juga tidak banyak membantu.
Sepuluh tahun yang lalu, saya memutuskan untuk coming out untuk pertama kali kepada sahabat perempuan saya. Dia teman dari SMA, yang selalu bersama saya. Sahabat saya itu sudah saya anggap saudari sendiri. Saya memilih hari yang tepat, mencari suasana, dan mempersiapkan segala-galanya. Saya membawanya berlibur bersama. Di malam obrolan persahabatan kami, saya bercerita kepadanya.
Saya melihat kegalauan dan keterkejutan yang luar biasa hebat di matanya. Saya tidak heran. Sahabat saya yang satu ini sangat religious. Dia rajin pergi ke gereja dan bahkan sebentar lagi menjadi pendeta. Sampai hari ini, saya sering membayangkan apa yang sahabat saya pikiran dan rasakan di malam itu.
Apa yang terjadi di malam itu membuat saya merasa itu adalah suatu kesalahan besar dan secara bersamaan, juga adalah tindakan paling benar yang saya lakukan seumur hidup saya. Salah karena akhirnya saya menciptakan jeda yang pelan-pelan menjadi jurang pemisah antara aku dan sahabatku. Dua bulan kemudian, saya benar-benar kehilangan sahabat saya yang satu itu. Benar karena akhirnya saya berani melihat wajah saya utuh di depan mata sahabat saya. Saya sudah menghadapi ketakutan saya.
Sejak saat itu, saya tidak pernah menyesal untuk coming out kepada sahabat terbaik saya. Jangan salah, saya bukan tipe orang yang suka berbicara sembarangan. Saya tipe pendiam, sebenarnya. Di antara kelompok, biasanya sayalah yang paling tidak banyak bicara.
Saya memiliki teman-teman dekat dari golongan tertentu. Maksudnya, saya dekat dengan seseorang di kantor. Saya juga dekat dengan seseorang di lingkungan gereja. Saya juga dekat dengan seseorang di keluarga. Sahabat-sahabat saya banyak, tapi saya termasuk pemilih. Apabila saya merasa nyaman dengan seseorang, maka saya akan berbagi banyak hal kepada dirinya.
Pengalaman coming out saya kepada sahabat SMA tidak membuat saya berkecil hati dengan penolakan. Justru itu membuat saya merasa harus menemukan sahabat straight sejati. Sahabat yang tidak memilah-milih orientasi seksual dan SARA. Sahabat yang bisa menerima saya sungguh-sungguh apa adanya. Sahabat yang bisa saya curhatin tentang apa saja, tanpa perlu berpura-pura.
Teman kedua yang saya coming out adalah teman kantor. Setelah saya pertimbangkan baik-baik, untung dan ruginya, akhirnya saya memutuskan untuk bercerita kepadanya dengan santai. Temanku itu terkejut, tentu saja. Nggak heran. Tapi saya senang, dia bisa menerima keadaan saya. Dia tidak menganggap orientasi seksual adalah suatu hal yang penting untuk dijadikan alasan pertemanan. Hubungan kami berlanjut menjadi teman yang baik.
Tidak heran kalau orientasi seksual saya pun akhirnya bocor sampai ke bos saya. Saya tidak mau menuduh teman saya, tapi akhirnya nyaris seluruh kantor saya (dulu) tau saya lesbian. Saya anggap teman saya itu sangat santai saat berhadapan dengan isu ini, sehingga kalau dia berkata “eh si anu juga lesbian” itu suatu pernyataan yang sebiasa “eh aku liburan mau pergi ke Bali.” Setelah tahu cara berpikiranya, saya tidak marah. Saya toh juga tidak memintanya untuk bertanggungjawab terhadap rahasia saya. Sampai hari saya mengetikkan cerita ini, teman saya itu tetap menjadi teman saya. Terkadang kami masih sering keluar bersama-sama, walaupun kami sudah tidak sekantor lagi.
Setelah itu, saya lebih nyaman dan rileks mengatakan siapa diri saya kepada sahabat-sahabat terbaik saya. Ingat ya, sahabat-sahabat baik. Saya tidak bisa sembarangan berkata kepada semua orang bahwa saya lesbian. Saya juga tidak senyaman itu apabila pengakuan itu menjadi bumerang bagi saya sendiri. Di kantor saya sekarang, tidak ada seorang pun yang tahu saya lesbian. Kebetulan, saya juga belum memiliki teman akrab di sana.
Keluarga saya tidak berada di Jakarta, ini mungkin juga yang membuat saya tidak terlalu mencemaskan reaksi keluarga. Saya membutuhkan teman straight dekat, karena cuma merekalah yang bisa menjadi keluarga saya di sini. Tentu saja selain pacar dan teman-teman lesbian. Saya tidak mau menggantungkan seluruh hidup saya di dunia lesbian. Bagi saya, hanya hidup di dunia lesbian seperti kehidupan yang penuh kepura-puraan dan ilusi. Maksud saya… c’mon, kita tahu dunia kita bukan lesbian saja. Saya butuh teman dan lingkungan umum di mana saya merasa nyaman berada di sana dan mereka menerima saya dengan tangan terbuka.
Demikian cerita saya tentang sahabat-sahabat straight dan pengalaman coming out saya. Sampai sekarang, saya masih tetap percaya, persahabatan yang sejati adalah persahabatan melintas batas, yang tidak akan memandang orientasi seksual, suku, agama, ras, dan antargolongan. Jika ada sahabat yang seperti itu, saya rasa dia bukan sahabat yang baik. Salam sukses buat SepociKopi.
@Erika Chan, SepociKopi, 2010









Sy sngt trkesan dgn kalimat “Sy tdk mau menggantungkn slruh hdup sy didunia lesbian. Bagi saya, hanya hdup didunia lesbian sprti kehdupan yg pnuh kepura-puraan dan ilusi”. Itu adlh kalimat Rasional yg prnah sy dngar dr seorg lesbian.
Mmang bnar kita butuh lingkungan lain selain lingkungan lesbian kita..
Karena lesbian jg mahkluk sosial Friends…
Aku juga berpikir seperti itu mengenai yang namanya sahabat atau teman sejati, orang2 yang benar2 menyayangi kita.
aku bertanya2..apa coming out, mjd ssuatu yg sgt penting? bukankah, kita ttp teman sejati, dng or tdk ad ny pgetahuan tmn2 kita bahwa kita L?
aku lbh bae tjahit bibirku drpd mlontarkny dr mulutku sdiri klo aku adlh L, dhadapan tmn2 straight…..
but, thanks for sharing
Penolakan oleh sahabat klo kita adlh L mungkin dpt d tahankan rasa kecewa n sakit hatinya,toh kita masih bisa cari yg bisa terima kita APA ADANYA..
Tapi jika yg menolak adalah KELUARGA?
Sbnr nya tdk hrs coming out,dan tdk perlu jg menyembunyikan nya…shrsnya biasa aja, sama spt thdp para straight, krn hal itu nyata dan ada…
ya, ga’ harus coming out cuma karna ga’ mau disebut munafik. berharap keluarga ga’ akan pernah tau atas jln yg gw pilih, mencoba untuk membangun hubungan dtmpt jauh dr kelurga. karna ga’ mau ngecewain mereka & respect keluarga gw.
Aq bukan tdk peduli dengan keadaan d sekitarku yg memandang miring aq dan partnerku. Tapi kami bisa jalani semuanya. Yah, konsekuensi mjadi lesbian yg coming out memang berat. Tapi buatku, aq msh bs menjalani my ordinary life.. Karena lesbian bukan ‘aq ingin menjadi’. Tp karena ‘aq adalah’..
Nice…
tidak mudah untuk memiliki keberanian spt Erica bisa menyatakan dirinya. Meskipun ada resikonya, namun ada kelegaan bisa mengutarakan siapa dirinya.
Meskipun saya seorang straight tapi saya memiliki beberapa teman pria yang gay. Buat saya menjadi straight atau gay adalah hak masing-masing pribadi mereka, karena siapakah kita bisa mencemooh orang lain tanpa kita sendiri sadari bahwa kita juga tidak lebih baik dari mereka. Saya pun banyak belajar dari mereka, beban hidup mereka, suka dukanya dan ejekan yang mereka dapatkan. Sampai sekarangpun kita masih berhubungan teman yang sangat baik. Menerima kelebihan dan kekurangan seseorang adalah suatu hal yg spesial dan hal itu menyempurnakan hidup kita juga.
Saluuut buat erica
… aku cm punya 2 org tmn str8 yang tau kalo aku mencintai wanita… dan blm ada keberanian untuk mengungkapkan kpd org lain lagi, walau terkadang ada rasa ingin berbagi.. tp ke 2 teman aku itu sudah lebih dari cukup untuk mengerti aku…
wew…bagi gw sahabat sejati itu kaga ada…..kl dulu gw punya sahabat yg sangat dan teramat gw sayang…tp sekarang gw ga mau anggap dia sahabat lagi…sahabat gw ningali gw ketika gw ga ada uang…ketika gw ada uang dia berusaha dekati gw….bullshit dehhhhhhhhhhh..
tulisan yg bagus erika
gw hetero n gk keberatan
punya teman siapa n dr mana saja
gilaaa.. heboh bgt yah yg namanya coming out ituh.. hehehhe.
Dari semua “have say” yg prnah aku baca, kok kayanya rada gimanaaa gituh tentang coming out. Bnr2… susa ya ?
Crita2 L semacam ini jd berasa mendramatisir..
Klo kita coming out ke tmn kita and trnyata reaksinya malah mundur, yah gampang aja kan..tuh namanya dia bukan gud friend kita.. Bukannya bagus klo kita jadi tau mana yg mundur mana yg engga ?
Okey lha kita juga bukannya nge-judge mereka bukan temen yg baek atau gimana2, tp 1 yg pasti..mreka engga bisa nerima sisi kita yg 1 ini.. nah, knp jg kita hrs mau nerima sisi mereka yg kaya gituh ? Juz leave it behind. It`s not easy surely, but thats what rationally we`re supposed to do.. ^^ Mo coming out ke ortu atw tmen tuh kan cuman masalah pilihan aj.. sapa siy yg bilang coming out harus k smua org dket kita ? emg mau apa klo uda coming out gt ? palagi ke ortu.. senerima-nerimanya ortu tentang L, ya jelas ngga akan sama.. amin2 klo mereka bisa nerima n ngga ngebeda2in.. Coming out atw engga, that doesnt mean it changes our personality…rite? L is necessary in making a relationship..not parentship lol, so it doesnt matter at all we confess it to parents or not. It`s not a Lie hey. So, juz be You ! ^^
Aku baru membaca tulisanmu Erika. Terharu, sekaligus kagum. Aku menyukai persahabatan seperti yang disebut oleh Erika yang tidak memandang orientasi seksual dan SARA, sehingga gak keberatan jika punya banyak sahabat. Bagiku seribu sahabat masih kurang, tapi satu musuh terlalu banyak.
Salam kenal Erika …
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Februari yang beraroma romantis mulai tampak. Apakah cinta? Pada hubungan percintaan lesbian yang tak bisa terikat dalam landasan pernikahan, banyak lesbian yang terjatuh pada kebingungan, ketakutan, dan ketidakpastian. Di mana pegangan untuk masa depan?
Lesbian, cinta bagi pasangan lesbian tentu membutuhkan perjuangan keras agar hubungan jangka panjang bisa terjadi. Banyak tantangannya dalam berkomitmen, misalnya kesetiaan, finansial, keluarga, perbedaan, dan lain-lain. Bisakah kita menjalaninya? Berapa lama pasangan lesbian bisa bertahan? Konon ada yang mengatakan bahwa usia pasangan lesbian tak bakal melewati satu tahun. Ah, tentu tidak benar!
Lesbian, untuk menjadi pasangan yang langgeng sampai nenek-nenek, kita bisa belajar dari teman-teman lesbian yang lain yang sudah bersama selama bertahun-tahun. Delapan tahun? Dua belas tahun? Lima belas tahun? Dua puluh tahun? Bisakah kita mencuri kebijaksaan mereka dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan percintaan agar kita pun bisa berbahagia dengan pasangan sampai nenek-nenek? Pastinya dong! Selamat merayakan cinta dalam arti yang sepenuh-penuhnya. Peluk cium untuk segenap pembaca SepociKopi tersayang.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments