Home » Humaniora, Spiritualisme

Saat Berbuka Tiba

2 September 2010 110 views 22 Comments

Jama Masjid by Faylinn Oleh: Sebeningembun

Azan magrib baru saja berkumandang. Dengan sukacita kuteguk segelas air putih yang dengan segera membasahi kerongkonganku setelah seharian kerontang. Seperti tanaman layu yang langsung segar tersiram air hujan, begitu pula rasanya tubuhku kembali bugar. Terima kasih Tuhan…, saat puasa begini, bahkan air putih pun terasa begitu nikmat. Hari ini masih seperti hari-hari kemarin, tidak ada hidangan berbuka puasa yang meriah, tidak ada es buah, tidak ada kolak atau pacar cina. Hanya air putih di atas meja. Dan entah mengapa, rasanya itu sudah lebih dari cukup.

Sesungguhnya kebahagiaan orang yang berpuasa itu ada dua, yaitu saat berbuka dan saat bertemu dengan Tuhannya.

Di depanku layar komputer masih berkedip-kedip, setelah sesorean ngabuburit di dunia maya. Mulai acara mengunjungi forum-forum diskusi, melompati beberapa portal berita sembari menyelesaikan beberapa detil pekerjaan kantor yang tertunda. TV juga masih menyala dengan suara lirih hingga memungkinkanku mendengar sayup-sayup lantunan salawat dari masjid di kompleks belakang.

Hanya dua benda, laptop dan TV yang menemaniku kala berbuka. Plus ponsel yang sesekali bergetar menyampaikan ucapan selamat berbuka puasa. Partner masih di kantor. Hari kerja begini sangat sulit buat dia menyempatkan diri menemaniku berbuka puasa. Selain karena tuntutan pekerjaan, jalanan yang macet dan sesak selalu jadi pemandangan rutin di jam-jam pulang kantor menjelang berbuka. Kesempatan menikmati buka bersama partner bisa dihitung dengan jari tangan. Tapi anehnya, tidak sedikitpun terasa sepi.

Aku masih berselonjor menikmati kedamaian. Konon katanya, saat menjelang buka puasa dan saat berbuka adalah waktu terbaik agar doa-doa kita dikabulkan Tuhan. Dan boleh jadi, doa-doa yang dipanjatkan orang-orang itulah yang menguarkan aroma syahdu hingga ke ruang tengah rumah kami. Udara pekat oleh manisnya kedekatan dengan Tuhan.

Sebutir butir kurma yang legit semakin memulihkan tenagaku. Mungkin bukan hanya karena kandungan gizinya yang tak terbantahkan, tapi karena kasih sayang yang terselip di antara susunan kurma tersebut. Awal bulan Ramadan kemarin, seorang sahabat mengirimkan dua kotak kurma, setelah beberapa minggu sebelumnya dia juga mengirimkan penganan untuk menemaniku menyantap hidangan sahur. Tidak ada kalimat yang mampu menerjemahkan perhatian setulus itu kecuali sesuatu yang bernama kasih sayang.

Teringat aku, sepenggal percakapan dengan partner saat menikmati kurma bersama-sama.

“Dik, kurma itu adalah salah satu jenis buah yang menunjukkan kekuasaan Tuhan,” katanya memulai cerita.

“Oh, ya? mengapa begitu A?” tanyaku antusias.

“Lihatlah, bagaimana kuasa Tuhan menciptakan buah kurma. DIA menumbuhkannya di negeri gurun pasir. Di atas bumi yang kelihatan gersang dan sulit mendapatkan air, DIA menumbuhkan tanaman yang menghasilkan buah yang luar biasa: bergizi, manis, mengenyangkan, dan menyimpan ratusan mineral bermanfaat yang tidak kita temukan pada buah lain.”

Aku tersenyum, berbisik lirih. Mahasuci Engkau Tuhan.

Dan hari-hari pekat oleh manisnya kebersamaan.

Mungkin itu sebabnya, untuk ukuran orang yang menikmati ibadah puasa sendirian aku tidak sempat merasa kesepian. Kesibukan partner dengan pekerjaannya di kantor justru membuatku memiliki kuantitas waktu yang cukup untuk meretas kembali jalan menuju Tuhan yang selama ini kubiarkan tak terawat, onak dan duri-duri kemalasan membuatku terseok-seok mengejar banyak ketertinggalan. Seperti sekarang ini….

Pikiranku masih melompat ke sana kemari. Meski azan sudah selesai berkumandang, aku masih saja enggan beranjak ke kamar mandi untuk segera berwudu sebelum menunaikan solat magrib.

Dan lintasan kenangan itu muncul lagi… Televisi yang selama ini tak mempan dikritik karena hanya mampu menayangkan acara yang tak mendidik, di bulan ramadan ini seakan berlomba menjadi sarana penyebar kebaikan. Televisi yang biasa kucibir sinetronnya, kini harus kusyukuri keberadaannya sebagai sumber penambah wawasan, khususnya buat orang-orang sepertiku yang cetek pemahaman agamanya.

Sholat itu wajib, tetapi hati harus menemukan alasan agar sholat menjadi khusyuk.

Cukup lama aku tercenung, potongan kalimat itu terngiang-ngiang di telingaku. Sebentuk cermin jernih terpampang di hadapanku, memaksa diri untuk menatap jauh ke relung hati terdalam.

Terkadang ada bisikan-bisikan, “Halah, ngapain juga sembahyang kalau kelakuannya kagak bener” atau “Kalau solat cuma sekedar lepas kewajiban dapat apa? Nggak ada rasanya… sama aja dengan yang kagak solat.” Duh… kerjaan siapa sih yang ngebisikin hal-hal begini? syaitan kali, ya? Tapi bukannya syaitan lagi dirantai?

Mungkin aku harus terus mengasah diri, terus mencari alasan-alasan untuk bisa khusuk melaksanakan solat, tidak sekedar melepaskan kewajiban, apalagi sampai mengabaikan kewajiban itu hanya karena tidak menemukan alasan agar menjadi khusuk.

Eh, sebentar… Aku teringat lagi sesuatu. Tadi sore, saat berselancar di dunia maya, aku sempat membaca timeline di Twitter seorang penulis. Kalau tidak salah begini bunyinya, “Berpura-puralah menjadi seseorang yang baik selama mungkin–sampai kau lupa bahwa kau sedang berpura-pura!”

Aha! mungkin tips ini bisa kuterapkan. Berpura-pura menjadi seseorang yang khusuk solatnya, sampai akhirnya lupa bahwa aku sedang berpura-pura. Atau mungkin berpura-pura lupa bahwa aku seseorang lesbian, agar aku tidak perlu lagi tersaruk-saruk memanggul label lesbian yang membuatku enggan menghadap Tuhan, padahal Tuhan sendiri berjanji bahwa IA Mahapengasih yang tidak akan pernah pilih kasih.

Baiklah, tidak ada salahnya dicoba. Mumpung kesempatan mengumpulkan kekuatan tinggal seminggu lagi, terlalu sayang kesempatan berharga ini disia-siakan. Sebab belum tentu diri ini akan berjumpa dengan Ramadan berikutnya.

@Sebeningembun, SepociKopi, 2010

Ilustrasi Jama Masjid by Faylinn, Deviantart.com

22 Comments »

  • orange said:

    Like this :-)

  • Yasmin said:

    Setuju semuanya, termasuk yang berpura-pura. Caranya, tulis kalimat yang pura2 itu, lalu jeda 10 menit kemudian (yang lama) baru tulis lagi, “seolah-olah”. Selamat berpuasa, sahabat, semoga puasamu dan ibadahmu semuanya di bulan Ramadhan ini diterima oleh Allah

  • icop said:

    love this… :)

  • Disa said:

    Smakin aq nyadar ke lesbianan q..
    Smakin malu aq mghadap pada Nya..
    N sering q enggan menundukkan kepala ini kehadapanNya..

    Aq malu tuhan..

  • Tuyus said:

    Benar, Ning. Saya juga jarang sekali khusyu’ dalam sholat. Mata menghadap sajadah namun pikiran meloncat-loncat dengan nyamannya ke kanan, ke kiri, ke atas ke bawah, ke depan ke belakang. Baru mengalami sholat khusyu’ kalau sedang tertimpa musibah :-( . Tips pura-pura khusyu’ boleh juga dicoba. Terima kasih untuk tips sederhana ini, Bening. Selamat berpuasa buat teman-teman yang sedang menjalankannya.

  • admin said:

    Tuyus : Hiks, ternyata ya sama aja. Giliran mau solat baru inget kunci naruh di mana, inget jemuran yang musti diangkat, ingat wortel yang habis. Gimana mau khusuk coba, ya? Ck!
    Yah, Ning juga lagi mencoba tips itu. Yuk, sama-sama ;)

    Disa: Trus kalau malu menghadapNYA, kita mesti menghadap kemana lagi? Hiks… andai bisa ngadepin muka ke Presiden dan semuanya beres kayanya bakal ning jabanin deh..

    Icop : Love U too… ups…salah ya? heheh. Thanks Icop

    Yasmin : Trimkasih Yas untuk semuanya. Untuk smua tips “pura-pura” dan “seolah-olah” yang sama-sama kita coba :)

    Orange : Like U too, hehehe ;)

    Untuk semua, selamat berpuasa ya. Smoga tetap semangat hingga hari-hari terakhir.
    Ning

  • say_czeka15 said:

    mba ning met puasa y..
    *ups lg no coment, cm mau nyapa mba ning hehe

  • Dragon said:

    Kren.. :-)

  • gumilotsy said:

    hehehe, mslh ga khusyu mnimpa smua org, krna setan mang bsikin qt u/ ingat ini & itu. tp prnh sy dgr hadistnya, kl lngsng ingat bhw qt lg solat, ya itulah khusyu qt. mprhatikan/ tau pa yg qt baca saat solat itu jg khusyu. Nabi bs jg ga khusyu, oleh karna itu bliau minta dgnti gorden dgn yg putih ja, jgn bgmbar2. pa lg kl qt solat bralas koran, huehehe malah baca dech.
    sy krng stuju dgn brpura2, mungkin karna kekurang mengrtinya sy dgn bgaimana cara brpura2 khusyu/brpura2 baik. jd yg sy lakukan hnya brupaya aja, brupaya khusyu/brupaya baik.
    1 lg tntng solat yg 5, sy pnh dgr hadis. Nabi blng solat bgai qt mandi dsungai sbnyk 5x. nah pzti brsih bgai lunturnya dosa2 kcl qt. dlm HR Muslim no 242, ktk qt bc Fatihah, Allah mnjwb loch

  • della quinzha said:

    menyadarkan aku tentang sesuatu yg selama ini kutinggalkan.. senja di balik awan, tak selamanya berwarna merah.. lihat kawan, kita masih harus banyak berbenah.. :) -two thumbs up buadh kak bening..-

  • gumilotsy said:

    “Sembahyang itu Kubagi 2 bag;sbgian untukKu & sbgian u/ hambaKu dprknankan memohon. Apabila hambaKu mbaca: Alhamdu lillahi rabbil ‘alamin, brkt Allah: “Aku tlah dpuji hambaKu,” & bila dbca: Arrahmanir rahim, brkt Allah: “Aku tlh dsnjung hambaKu,” & bila dbcnya: Maliki yaumiddin, brkt Allah: “Aku tlh diagungkan hambaKu” ato ktNya: “Hambaku tlh brserah diri KpdKu,” & bila dbcnya: Iyyaka na’budu waiyyaka nasta’in, brkt Allah: “Inilah tali pnghubung antaraKu dng hambaKu & lg hambaKu blh meminta apa saja,” & bl dbcnya: Ihdinash shirathal mustaqim, hingga akhirnya brkt Allah: “Ini khusus u/ hambaKu, & u/ hambaKu dprkenankan memohon apa saja.”

    hehehe, senangnya :D
    kl qt malu mnghdap Tuhan lantaran lesbian/ gay sma ja qt ga trima pa yg dah Tuhan ptusin a/ qt. Ia mbrikan cobaan sesuai kmampuan hambaNya. yg prlu qt camkan adalah, prasaan yakin & prcaya bhwa Dia tdk menghina/mrendahkan/mendhalimi mahlukNya.
    yuk jgn brputus asa atas rahmat & prtolonganNya.
    Smangat! haiyah! :D

  • Românezianca said:

    @Disa… Kamu tidak punya alasan untuk malu ke Tuhan.

  • Disa said:

    @roman: benarkah aq gk blh malu kpd tuhan?

    Tuhan sendiri dlm firmannya QS. HUD 77-83 menceritakn bgm Dia membenci kaum LUTH,n Allah SWT sndr yg mgatakan klo kaum Luth adlh kaum yg melampaui batas?

    Jika ini salah kenapa ini ada?

    Tuhan hny akn mndgrkn doa2 org yg mau patuh padaNYA…

  • no_name said:

    Tulisan yang menarik untuk dibaca, direnungkan dan dikomentari. Terutama tiga alinea terakhir. Yakni mengenai kepura-puraan. Saya tidak akan bilang pendapat itu salah atau benar, karena seseorang akan beropini sesuai dgn apa yang diketahui dan diyakininya. Bagi saya pribadi, saya tidak akan menggunakan kata”pura-pura” sbg landasan saya melakukan sesuatu. Jika kita merujuk dengan berbagai teori motivasi, baik teori klasik, maslow sampai dengan kontemporer, sesungguhnya setiap manusia akan bertindak atau berperilaku sesuai dengan dorongan / motif/motivasi yg dipengaruhi dari dalam maupun dari luar dirinya. Dan semua tindakan tsb dikaitkan dgn arah dan tujuan yang ingin dicapai.Umumnya kita akan menggunakan kalimat, ” apasich manfaatnya bagiku jika aku melakukan ini”. Atau secara kasarnya, manusia perlu diiming-imingi atau mengiming-imingi dirinya untuk bertindak/berperilaku. Dan untuk mengetahui berharganya suatu iming2 dan cara meraihnya (how to) dipengaruhi oleh ilmu dan pengetahuan seseorang. Begitu juga dengan sholat, kuantitas dan kualitas sholat seseorang tergantung dgn motif/niat atau ilmu yg diketahuinya ttg sholat. Mengetahui apa manfaatnya bagi dirinya. Kalo menurut Teori motivasi Maslow, ada 5 tingkatan kebutuhan seseorang yang mendorong seseorang melakukan sesuatu. Kita tinggal melihat di tingkatan manakah kita berada. Jika kita ingin gali lagi lebih dalam dalam teori-teori motivasi yg ada, maka akan membuktikan bahwa niat, ilmu dan amal adalah sesuatu yg akan menentukan derajat manusia baik dimata manusia maupun dimata Allah. Kesimpulannya, akan sayang waktu yg kita gunakan untuk beribadah dengan alasan ‘pura-pura’. Kita harus mendapatkan alasan yang ‘luarbiasa’ untuk melakukan suatu tindakan. Dan berusaha untuk menjadi yang ‘luarbiasa’ dalam beramal. Satuhal lagi, Allah lebih menyuka ‘proses’ dibandingkan hasil. Karena ‘hasil’ hanya DIA yg berhak menentukan seberapa luarbiasa hasil tersebut. Buat Ning , terimakasih atas tulisannya yg luarbiasa. Semoga kita mendapat berkah ramadhan kali ini dan dimasa yang akan datang amiin. buat SK, Bravo!!

  • no_name said:

    @disa, boleh-boleh saja seseorang malu terhadapTuhannya, tetapi bukan menjadi alasan untuk tidak mendekatiNyakan??.

    Jika nilai masuk surga itu 10, dan ada 1 nilai yg membuat kita jelek di mata Allah, bukankah kita masih punya 9 cara/nilai agar DIA mampu mencintai dan menyayangi kita. Tinggal bagaimana caranya agar yang satu itu tidak memusnahkan yang 9. Bagaimana caranya agar kehadiran kita bisa menjadi rahmatan lil ‘alamin. Niat, ilmu dan amal adalah salah satu kuncinya. Termasuk niat dan ilmu saat memilih pasangan. (Jika terpaksa harus berpasangan).Sehingga bersatunya kita dgn pasangan dapat mendekatkan diri pada Tuhan, berkah pada semesta, dan memudahkan jalan ke surga. Dan tak ada kesia-siaan pada jalan hidup temaram yang harus kita jalani. Wallahu’alam

  • gumilotsy said:

    jgn pula qt tdk shalat, krna shalat a/ pnolong qt: 2:45-46, 2:153, mrupakan ibadah yg plng utama:29:45. Allah perintahkan org2 yg briman u/ shalat: 14:31, memelihara shalat: 2:238. Nabi Ibrahim pun brdoa agar bliau & anak cucunya, trmasuk qt pastinya, mrupakan org2 yg tetap mendirikan shalat:14:40. & brpegang teguhlah pd agama sesungguhnya kamu brada di jln yg lurus:43:43.
    dan kbenaran dtng dr Allah, janganlah ragu2:2:14 & jgnlah qt brcerai berai/brselisih stlh dtng ktrangan yg jelas:3:104. mari qt saling brpesan u/ brsabar & brkasih sayang agar mnjd gol. kanan (gol. yg bruntung):90:17-18.

    bagi sy, yg plng pelik bg siapapun a/ kprcyaan bhwa Allah sungguh Maha Pengasih &Maha Penyayang, Maha Pengampun. namun kdng qt manusia, sringkali trjerumus, karna qt memiliki nafsu, &setan slalu brusaha mengajak kpd prbuatan jahat:2:169.
    sy, btuh kalian u/ mengingatkan sy. yuk, qt saling mengingatkan. hubungi sy: gumilotsy@gmail.com.
    sy brtimakasih a/ kbaikan hati kalian merespon ini, tak pduli respon yg baik ataupun kurang baik.
    trimakasih bnyak jg u/ sepocikopi yg menjembatani ini smua :)

  • gumilotsy said:

    @disa & qt smua yg malu pdNya.
    Allah menyatakan bhwa org2 yg mlampaui btas jgn brptus asa a/ rahmatNya & Ia ampuni smua dosa: 39:53, 4:48. Dia yg mentapkan, manusia menerima:28:68. Ia ilhami tiap jiwa jln kefasikan & ktakwaanya, mreka yg ptuskan pilih yg mana:91:8-10. bgi mreka yg brbuat keji, jahat & menganiaya lalu mohon ampun, maka ia dapati Tuhannya Maha Pengampun &Maha Penyayang: 3:135, 4:17&110. Ia slalu dkat & mengabulkan doa2 mreka yg meminta kpdNya, & memerintahkan agar snantiasa briman:2:186. dan brsabarlah dlm menjalani printahNya:74:7, 2:152-153.

    kaum Luth trbgi 2, yg menentang & yg mengikuti seruannya. lalu, apakah Allah slamatkan mreka yg mengikuti? jwbnya: iya.
    tdk dsbutkan bhwa brbeda orientasi dgn yg kbnyakan skrng, patut membuat manusia lari dr Tuhannya. sesungguhnya apa yg dtetapkan hanyalah cara2 yg dkehendakinya u/ mempercayai Allah. bhwa sungguh Ia Maha Pengampun, Maha Pengasih & Maha Penyayang. jd masihkah qt mau mpercayaiNya wlpun Ia memberi cobaan yg sbnarnya pun qt sanggup menanggungnya:2:286?
    u, n i who decide it ;)

  • Românezianca said:

    @Disa… Kamu tidak perlu malu kepada Tuhan. Bukankah yang kamu dan kita semua rasakan ini berasal dari Dia juga? Hal ini adalah media untuk kita belajar dalam hidup ini untuk menjadi lebih baik. Percayalah bahwa Tuhan menyayangi kamu seperti apapun dirimu. Tentang apa yang ditulis dalam kitab suci, …sebaiknya kita tidak menginterpretasikannya langsung begitu saja. Yang paling baik adalah dengan menggunakan hati, hanya disanalah kamu dapat menemukan kebenaran.

    Kaya Guru aja aku, haha. Padahal spiritual levelnya belum tinggi2 amat :P

  • Românezianca said:

    @Disa…again. Tapi aku serius dengan apa yang aku katakan itu. Dulu aku juga sempat sedikit malu kepada Tuhan. Tapi karena Tuhan sayang sama aku, dia menunjukkan jalannya. Bahwa aku sama sekali tidak perlu malu kepadanya. God is…wonderful…amazing :)

  • Disa said:

    All: trmksh ats suportx,trmksh bwt pncerahanx..
    Mdh2n aq n partner bs mjd mkhluk yg slalu brusaha mdktkn dri pdNYA,bkn mjauhiNYA..
    Bgt jg dg tmn2 L yg sm2 lg galau..
    Amin2 y robbal alamin..

    Mhn mf lhr btn,slmt lebaran y smuax..

  • Just In said:

    Dari pada “pura-pura” mending “berupaya, berusaha atau memaksa diri untuk” kesannya lebih positif n hasil akhirnya mudah2an lebih baik..he2…dari pada “pura-pura” kesannya cukup negatif, karena ada sedikit kebohongan jadinya…yaaa..membohongi diri sendiri begitu…khawatirnya hasil akhirnya tidak memuaskan….
    n 4 Disa…salut karena masih ada rasa “malu”, yg mnurutku gak banyak dimiliki orang lain…meskipun mnurutku kamu sedikit keliru mengintepretasikannya…kl boleh sdikit saran, cb ditelaah korelasiku ya…… begini….Kalau gk slah nabi kta prnah blang ”jadikanlah malu sbagai pakaianmu dgn bgitu ia bs jadi pngingatmu”…malu itu ibarat rem di otomotif kita, sbagai pngingat kita klau kita trlalu ngebut…so.. pas kt ngebut jgn sampai kita menjauhkan kaki kita dari pedal “rem” bisa makin ngebut n gak terkendali, jadinya bs fatal, kawan…justru kita harus melekatkan kaki kita pada pedal “rem”nya (konsen disana)…biar aman, terkendali n selamat…he2…so…jika kamu malu sama Allah…maka jngan malah menjauh n gak peduli….justru kamu harus semakin mendekati-Nya n bahkan berupaya mengenal-Nya lebih jauh…mungkin ini korelasinya…smoga bermanfaat…he2..

  • PXM said:

    Ning,kangen! Tulisanmu begitu familiar,hangat dan selalu terkenang masa2 obrolan2 qt dulu… Hiks miss those days n I miss U

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.