Home » Humaniora, Tajuk

Tajuk: Hidup Bertetangga dan Kita

31 August 2010 168 views 6 Comments

love yourOleh: Nuha Guwa

Masih heboh soal tetangga? Tetangga siapa lagi kalau bukan orang-orang yang rumahnya berdekatan. Kalau disuruh bertanya siapa saudara paling dekat? Maka saya akan menunjuk tetangga yang ada di depan rumah. Meskipun dengan tetangga lain tidak begitu akrab, namun saya memiliki tetangga dekat yang selalu menjadi bagian dari keseharian layaknya saudara. Ketika ibu datang dan saya tidak ada di rumah, maka saya akan menitipkan kunci pada tetangga di depan rumah itu untuk menyambut ibu dan memberikan kuncinya, sehingga beliau tidak perlu menunggu hingga saya pulang kerja. Well… gampang dan mudah.

Yang pasti hidup bertetangga itu memberikan banyak manfaat yang juga akan membantu kita melestarikan lingkungan. Semua jika dilakukan secara bersama-sama akan meringankan pekerjaan dan beban. Misalnya melakukan penghijauan di jalan menuju rumah kita, menghiasi taman, menjaga lingkungan dari sampah yang berserakan. Hal-hal seperti ini akan menciptakan lingkungan hidup yang damai dan harmoni. Kehidupan tetap membutuhkan interaksi dengan orang-orang di sekitar, bayangkan! Jika kita dekat dengan tetangga, bisa nebeng ke kantor, mencicipi oleh-oleh saat mereka kembali dari luar negeri. Mereka juga dapat ikut melindungi rumah dan memperhatikan orang yang mencurigakan.

Memang nilai-nilai seperti ini mulai bergeser. Kehidupan bertetangga berubah mengikut kemajuan teknologi. Setiap individu barangkali sudah memiliki kepentingan dan urusannya masing-masing. Kebutuhan interaksi terhadap tetangga pun semakin berkurang. Canggihnya dunia digital menciptakan kemudahan berkomunikasi dengan siapa saja melalui telepon genggam. Hal ini juga yang membuat interaksi antar pribadi langsung semakin berkurang. Nilai-nilai kedekatan dengan orang yang jauh berubah tajam. Melalui telepon dan chatting semua jadi terasa dekat. Bantuan dengan segera bisa diberikan dengan adanya handphone, situs jejaring seperti Twitter dan Facebook membuat bantuan ke lokasi bencana alam misalnya cepat didistribusikan. Lalu apalagi gunanya tetangga?

Menurut saya, tetangga tetap merupakan saudara dekat yang harus dihormati. Jika terkena musibah seperti kebakaran, tetanggalah yang lebih sanggup memberi pertolongan hingga bantuan utama tiba. Baiklah, jika nilai-nilai bertetangga sudah bergeser sejalan dengan kemajuan teknologi komunikasi, sopan-santun bertetangga tak bisa dibuangbegitu saja. Setidaknya kita tidak boleh menggangu ketenangan tetangga lain. Tetangga yang baik senantiasa menjaga hubungan baik dengan tetangganya: memberi perhatian, bertoleransi, tidak membuat keributan, bahkan memberikan bantuan jika memang dibutuhkan.

Bersikap baik pada orang lain adalah prinsip dasar dalam kehidupan bermasyarakat. Mereka yang melakukan perbuatan baik akan benar-benar memiliki nasib baik. Intinya, tentu saja setiap kita wajib menjaga sikap maupun perbuatan sehingga tidak menggangu kehidupan bersama. Bangunan yang kita dirikan tidak mengganggu tetangga, tidak membuat rumah mereka tertutup dari sinar matahari atau udara, dan kita tidak boleh melampaui batas merusak atau mengubah sesuatu yang memang miliknya.

Adab bertetangga antarlesbian juga tentu berlaku dalam dunia maya, misalnya tidak mencuri tulisan kemudian mengambil sebagian isinyanya untuk dipajang begitu saja di situs kita. Mengerling mata dari perempuan yang sudah menjadi milik orang lain, membuka rahasia nama asli. Jangan sampai karena merasa dekat, kita malah jatuh cinta dengan pasangan tetangga maya kita. Pada intinya, netizen wajib memelihara hak-hak serta menjaga kehormatan tetangga yang lain. Jangan lupa, juga siap mengulurkan bantuan dan pertolongan kepada mereka yang membutuhkan.

Memang ada juga tetangga yang sombong, suka menggosip, mencela, bahkan bersikap menantang. Karena punya uang dan kuat, maka dengan sesuka hati berani mengambil apa yang kita pajang di blog atau halaman belakang rumah kita sebagai bagian miliknya. Tingkah polah tetangga seperti ini sering memancing terjadinya keributan antar tetangga yang tidak jarang harus berujung ke ranah persiteruan. Sangat primitif sih. Konfrontasi fisik atau secara langsung itu hanya milik hewan yang tidak berakal budi.

Kehidupan berbangsa dan bernegara pun tak jauh beda. Kedamaian hanya akan tercipta jika masing-masing pihak yang bertetangga saling menghargai dan menghormati satu sama lain. Sebaliknya, jika salah satu pihak selalu mengemukakan egonya sendiri, maka tidak pelak lagi sengketa dan konfrontasi langsung yang akan terjadi, bahkan tidak jarang berujung perang. Tentu sekaya apa pun kita bukan berarti bisa membuat penghinaan semena-mena dengan tetangga. Seseorang yang mengambil buah mangga yang ada di halaman rumah tetangganya malah menangkap pemilik mangga dan menjadikannya seorang tahanan. Ini namanya sudah keterlaluan.

Sebenarnya kehidupan bertetangga yang tenang dan damai cukup mudah untuk dijalankan, asal kita tidak meributkan soal wibawa, harga diri, dan kesombongan. Bukankah bulan Ramadan adalah bulan melatih kesabaran? Berhentilah menunjukkan jari tentang si anu dan si anu yang menjadi biang kerok. Seperti apa pun konfliknya, seperti apa pun kisahnya, mari introspeksi diri, tanyalah diri masing-masing: ”Sudah menjadi tetangga yang baikkah kita?”

@Nuha Guwa, SepociKopi, 2010

6 Comments »

  • Românezianca said:

    Kalau aku lebih suka individual saja, termasuk dengan tetangga. Dengan hidup kita yang berbeda dari orang banyak, lebih baik mengurus urusan masing2 saja. Hubungan yang baik tidak harus dekat atau akrab.

  • yulsic said:

    tetangga gw mulutny pd bangor. dibaikin jg percuma

  • only said:

    Gw termasuk aga2 antsos ama tetangga. Klo pas2an cm senyum n nyapa ajah (tetangga kosan). Tp klo ama tetangga di rmh ortu.. Hmmm…. Mayan dah. Itu wt masih bocah. Klo dah setuir ini, paling nyapa n nanya kbr aja. Jarang2 berkunjung ke rmh mrk. Soale bokap blg, byk bertemu org, byk pl gosiiiipnya.

  • disa said:

    klo soal antar bangsa wah…berat bwt komentarnya…

    tp klo soal dri sendiri aku ni plg gk pande bwt sosialisasi ma lingkungan baru…
    ujung2nya nyari zona aman aja…

  • no_name said:

    Mungkin, Apabila tidak ditelaah lebih jauh tulisan ini terkesan biasa saja. Namun apabila kita berkenan menyisihkan waktu sedikit saja untuk mengambil makna dan hikmahnya, sesungguhnya hal yang terlihat remeh justru mampu menunjukkan kualitas diri kita. Terutama budi pekerti. Salah satu parameter yang menunjukkan apakah kita termasuk orang berbudi (bahkan parameter keimanan seseorang) berdasarkan ideologi yang saya anut adalah hubungan/cara kita memperlakukan tetangga sesuai dengan adab yang ada. Hubungan dengan tetangga kesannya remeh, namun sesungguhnya merupakan amalan bermakna untuk memudahkan jalan ke surga. Kehidupan matrealis dan individualis menyebabkan adanya degradasi nilai-nilai kehidupan bermasyarakat. Salah satunya kehidupan bertetangga.
    BUat Nuha, terimakasih atas tulisannya yang sarat nasihat.Juga buat SK.Bravo!!!

  • ANDIKA BUMI PRATAMA said:

    Tetangga penting tp aku lebih suka tak bergaul dengan mereka krn mereka selalu menilai aku salah . hanya keluarga aku saja yang mngerti tentangku . AKU HANYA BUTUH KELUARGAKU bukan tetanggaku .

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.