S.O.S! : DoMba Liburan ke Jogja
Setelah lebih dari setahun DoMba sibuk bersemedi demi menangani kasus-kasus gila di klinik S.O.S!, akhirnya DoMba memutuskan untuk turun gunung dalam rangka liburan romantis ala Dokter Jo dan Mbah DeNi. Ini kami lakukan agar tidak stress dan ketularan kasus dari pelanggan setia klinik kami.
Bagi yang mau berobat sila ambil nomor antrian dan kembali dua minggu ke depan karena hari ini klinik S.O.S! ditutup, untuk kali ini, DoMba akan membagikan kisah liburan yang HOT. Yuuk!
Liburan diawali dengan kedatangan Mbah DeNi di Bandara Adi Sucipto Yogyakarta yang disambut dengan kejahilan Dokter Jo yang sudah tiba lebih dahulu di Kota Gudeg ini. Dokter Jo mengirimkan sms, mengabarkah kalau dia telat menjemput karena macet.
Si Mbah yang emang sudah ketauan manja, hampir saja menangis menggerung-gerung di bandara karena merasa diabaikan. Tapi saat keluar dari pintu kedatangan, tiba-tiba ada tangan yang menepuk Mbah. Sontak saja Mbah kaget, hampir saja dia memukul kepala si empunya tangan dan berbalik mencopet dompetnya. Eh, ternyata Dokter Jo! Dan untung saja Mbah ingat ini bulan puasa. So, Mbah mengundurkan niat tersebut dan malah mencium tangan Dokter Jo, atas kebaikannya menjemput Mbah. Bersama Si Dokter telah berdiri seorang seorang sahabat yang baik hati karena telah bersedia open house untuk DoMba.
Hari Pertama
Tur dimulai dengan mengunjungi Desa Wisata Pentingsari, Sleman, yaitu desa yang sengaja dirancang untuk tempat wisata dengan memanfaatkan beberapa peninggalan bersejarah. Objek wisata pertama yang DoMba kunjungi adalah Pancuran Sedangsari. Konon kabarnya pancuran ini dibuat oleh pangeran dari Madura yang menusukkan kerisnya ke sebuah tebing hingga mengucurlah air dari tebing tersebut. Air Pancuran Sedangsari dipercaya mampu menyembuhkan, menaikkan pangkat atau jabatan, melancarkan usaha atau bisnis dan mengatasi masalah lainnya.
Nah, melihat khasiat pancuran yang luar biasa, DoMba langsung mencuci muka di pancuran. Dokter Jo mencuci mukanya supaya tetep keren, sedangkan Mbah membasuh wajah khususnya bagian hidung supaya hidungnya mengempis. Eh bener loh, hidung jambu si Mbah kempes sekitar 0,00001 mm. Lumayan, kan?
Dari pancuran, perjalanan diteruskan ke rumah adat khas kota Yogyakarta, namanya Joglo dan Luweng. Luweng adalah tempat pasukan-pasukan Pangeran Diponegoro memasak pada waktu mengadakan perlawanan dengan pasukan-pasukan Belanda. Sebelum pulang dari Desa Wisata Pentingsari, DoMba sempat berpose dengan kambing domba asli demi menghormati pemilik nama. Tidak ketinggalan juga bergaya di depan mobil antik. Domba meninggalkan Desa Wisata dengan menjinjing sekantong salak pondoh gratis yang didapat berkat muka temboknya Mbah yang membanggakan bahwa sekarang hidungnya mirip salak pondoh.
Selanjutnya tur diteruskan ke Museum Ulen Sentalu, Kaliurang. Museum ini merupakan museum seni dan budaya Jawa. Dengan tiket seharga Rp. 25.000/orang, DoMba bisa berkeliling beberapa ruangan museum selama 55 menit ditemani seorang pemandu berwajah manis.
Saat melintasi patung Ganesha, si Mbah pengen banget berpose bersama patung Ganesha dalam rangka membandingkan ukuran perut. Tapi sayang, di Ulen Sentalu dilarang mengambil gambar. Sang pemandu menjelaskan bahwa perut buncitnya patung Ganesha adalah lambang kecerdasan. Spontan DoMba langsung berjalan sumringah, bangga dengan perut buncitnya.
Di penghujung tur museum, pemandu menyuguhkan ramuan awet muda, Ratu Mas. Mendengar ada kata “awet muda” si Mbah jadi maruk dan ngotot untuk minum dua gelas padahal satu orang hanya diberikan jatah satu gelas.
“Ingat ya Mbah… saya nggak tanggungjawab kalau Mbah over dosis ramuan Ratu Mas. Bukannya awet muda, bisa-bisa Mbah berubah jadi orok!” kata Dokter Jo mengingatkan.
Usai dari Museum Ulen Sentalu, DoMba menuju Kaliadem untuk menatap pesona Gunung Merapi. Kaliadem kala itu diserbu gerimis yang membuat perjalanan menjadi romatis. DoMba dengan semangat menapaki sisa-sisa letusan Gunung Merapi. Di bawah bebatuan ini dulunya adalah sebuah kampung sebelum Gunung Merapi meletus pada Juni 2006. Konon, kampung ini sebenarnya sudah menyiapkan kali untuk mengalirkan lahar itu ke tempat lain agar kampung tersebut aman. Tapi, dahsyatnya bencana alam itu memang di luar batas perkiraan manusia. Letusan Merapi akhirnya menerjang kampung tersebut. Eh, inget Mbah Marijan, kan? Roso! Roso! Roso! Waktu itu, DoMba ngelewatin jalan menuju rumahnya, lho… Hehehe.
Seharian berkeliling, DoMba akhirnya kecapean juga. Sejenak tubuh tua DoMba diistirahatkan di rumah sahabat agar malamnya bisa melanjutkan tur. Tapi saat melihat sebuah gitar, bukannya istirahat DoMba langsung mengadakan konser dadakan. Dokter Jo bermain gitar dan Mbah De Ni melantunkan “Pesawat Tempur”-nya Iwan Fals.
Saat refrain DoMba nyanyi kencang-kencang, “Penguasa, penguasa berilah hambamu uang…” Eh, ternyata beneran didenger loh, cuma kayaknya salah denger. Secara yang DoMba minta kan uang, eh yang diberi malah gempa. Hiksh! Si Mbah yang biasanya gagah dengan kemenyan di tangan kanan dan kembang di tangan kiri, mendadak keder, wajahnya pias dan langsung sembunyi di ketiaknya Dokter Jo. Si Dokter yang kesal karena nggak bisa kemana-mana lantaran tangannya dipegangin terus, menghardik si Mbah.
“Hayo, ngaku! Mbah pasti buang angin sembarangan di lereng Merapi! makanya kejadian deh gempa begini!”
Usai menenangkan diri, tur dilanjutkan. Tujuannya adalah Kafe Raminten. Dengan mata berkedip-kedip menahan hasrat, Si Mbah memesan minuman special Susu Perawan Tancep yang disuguhkan dalam gelas yang bentuknya mirip pay… ups! Sensor! Ampun deh…!
Puas menyusu, DoMba tancap gas ke Alun-alun Kraton. Alun-alun di malam hari meriah, euy! Ajib banget. Disana, ada penyewaan sepeda dan becak yang dihiasi lampu warna warni menyedot perhatian DoMba. Sebuah becak kecil pun disewa seharga Rp. 5.000/putaran. Berhubung Mbah tidak bisa narik becak, maka Dokter yang mengambil alih jadi pengemudi becak dan Mbah sebagai penumpangnya. Tapi dasar Dokter jahil, sempat-sempatnya menakut-nakutin Mbah dengan berpura-pura akan menabrakkan becak ke mobil yang sedang parkir di alun-alun, membuat Mbah menjerit-jerit ketakutan dan malah jadi pusat perhatian pengunjung yang lain. Sementara Dokter Jo tertawa puas.
Mengunjungi alun-alun belum lengkap tanpa tantangan melewati pohon beringin yang berdiri gagah di tengah alun-alun. Konon, kalau bisa lewat di tengah-tengahnya dengan mata tertutup maka permintaan bisa terwujud. Dan ternyata, Si Mbah hebat loh, dia berhasil mewati tantangan tersebut.
“Emangnya minta apa sih, Mbah? Hidung seksi?” tanya Dokter Jo.
Si Mbah menggeleng cepat lalu dengan wajah malu-malu si Mbah mengaku, “Minta supaya nggak gempa lagi. Mbah beneran takut, Dok…”
Ha ha ha, kasihan, si Mbah masih ketakutan ternyata. Benar saja, permintaan si Mbah terkabul. Malam itu berlalu dengan damai sejahtera tanpa goncangan gempa.
Sementara, sekian dulu cerita Mbah. Masih banyak lho, pengalaman seru lainnya. Pengalaman nongkrong di sebuah kafe yang kabarnya tempat nongkrong teman-teman lesbian. Akan kah DoMba menggelar jumpa fans membuka klinik offline? Mampu kah DoMba memeluk stupa di Candi Borobudur? Dan bagaimana dengan gempa lokal di Bandara Adi Sucipto?
Pegang nomor antrian Anda erat-erat dan nantikan kelanjutan petualangan DomBa di kota Yogyakarta.
@Tim S.O.S!, SepociKopi, 2010
Picture by twoeightzerofive, Deviantart.









ahahahaha… seru
jd keinget jg waktu liburan k sna.
em! iya, iya ditunggu crita lanjutannya DOMBA
*mengangguk smangat sampai bdan brguncang, dan mengepal k2 tangan plus senyum lebar ala pasta gigi Darlie
Hahahy seru seru bisa ketemuan g ya domba kebetulan aike tinggal dijogja jg nie
Hahaha..
Jogja memang indah..
kok ga mampir ke rumahku? tempatku kan dkt sm jogja, ngesot jg nyampe
Antri tiket ya, aku tunggu cerita selanjutnya terutama kafe yg digosipkan tempat ngumpul para lezy….hmmmm
yogyakarta kota yg bersih dr sampah domba ..
Wew. Seru seru seru. Xan sempet makan ketak ga? Makanan trdsi0nal loh. Kyak tahu tp enak deh. ^^b
domba bikin iri,aq kn jd pgn jln2 k yokya..
Pst asik klo ma partner
mongo-mongo mampir ting yoja,katah sing saget dipresani lho… saking ler dumugi kidul, saking kilen dumugi wetan, uasik poko’e. (orang jogja yang slalu bersyukur lahir dan besar di Jogja, karena kawan-kawan yang pernah datang selalu menyukai Jogjaku)
Kopinya Tea
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Februari yang beraroma romantis mulai tampak. Apakah cinta? Pada hubungan percintaan lesbian yang tak bisa terikat dalam landasan pernikahan, banyak lesbian yang terjatuh pada kebingungan, ketakutan, dan ketidakpastian. Di mana pegangan untuk masa depan?
Lesbian, cinta bagi pasangan lesbian tentu membutuhkan perjuangan keras agar hubungan jangka panjang bisa terjadi. Banyak tantangannya dalam berkomitmen, misalnya kesetiaan, finansial, keluarga, perbedaan, dan lain-lain. Bisakah kita menjalaninya? Berapa lama pasangan lesbian bisa bertahan? Konon ada yang mengatakan bahwa usia pasangan lesbian tak bakal melewati satu tahun. Ah, tentu tidak benar!
Lesbian, untuk menjadi pasangan yang langgeng sampai nenek-nenek, kita bisa belajar dari teman-teman lesbian yang lain yang sudah bersama selama bertahun-tahun. Delapan tahun? Dua belas tahun? Lima belas tahun? Dua puluh tahun? Bisakah kita mencuri kebijaksaan mereka dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan percintaan agar kita pun bisa berbahagia dengan pasangan sampai nenek-nenek? Pastinya dong! Selamat merayakan cinta dalam arti yang sepenuh-penuhnya. Peluk cium untuk segenap pembaca SepociKopi tersayang.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments