Siang di Pontianak
Saya sedang berdiri di dekat sungai, aliran air tempat kamu ada sepuluh tahun lalu.Tidak tampak sama dengan cerita yang kamu sampaikan. Warnanya keruh, sampah bertebaran di mana-mana, dan nelayan tidak tampak batang hidungnya.
Hanya saja, saya membayangkan, tubuh mungilmu meloncat dari pinggir jembatan. Ayah berteriak-teriak panik mencari. Kemudian tinggal mengambil rotan untuk sekali lagi mencambuk pantat. Dengan kecewa kamu pulang, jadi tontonan semua orang sekampung halaman. Malu, marah, kesal yang akan reda seketika saat Ibu meminta maaf dengan satu kecupan kening.
Kendaraan bermotor masih banyak berhamburan di sini. Anti macet sepertinya, mobil dengan merek-merek terkenal gagah bergoyang-goyang. Ciri khas kota kecil yang menomorsatukan harga diri berdasarkan kekayaan.
Pada hari itu memang saya tidak sempat berjalan berkeliling kota. Saya hanya menyampaikan salammu pada panas yang hari ini membakar kulit.
“Pontianak itu kota unik, satu-satunya wilayah Kalimantan yang memakai satuan waktu WIB. Di sana pada hari tertentu, bayanganmu hilang tepat pada pukul 12 siang. Fenomena alam yang menakjubkan bukan?” Kamu mengucapkannya sambil terus mengemasi notebook yang akan saya bawa.
Teman-teman mulai memanggil saat fragmen cerita yang kamu buat berhasil saya satukan. Mereka tidak sabar menunggu pertemuan kita. Menganggap saya satu lagi orang aneh di jembatan tengah Pontianak.
Yah, dekat pasar tempatnya, saya menganggapnya demikian. Ruko-ruko berjajar, debu berserakan, toke-toke Tionghoa dengan suruhannya berpakaian sederhana menjaga toko. Gigi-geligi mereka telah rusak. Dengan sigap mereka melayani pembeli.
Mungkin air bersih yang susah membuat karak-karak menetap. Sewaktu tiba, supir yang mengantar rombongan sempat mengeluh tentang hujan yang enggan mampir. Sehingga air mandi menjadi payau, keruh kecoklatan di daerahnya. Ah, berapa banyak air mineral yang bisa di dewakan di tempat begini, sementara air kran di rumah sering lupa kita tutup?
Saya menelusuri tempat itu satu-persatu, mencari selai srikaya cap ayam yang dikemas dalam gelas rumahan. Restoran di sebelahnya bertuliskan masakan Jepang dan kue, padahal menjual dimsum. Pangkas rambut yang bermerek ”Salon” mengapit membuat saya tidak tahan untuk tertawa geli. Benar katamu, orang Tionghoa di sini tidak tahu bahasa Indonesia. Mereka bercakap dalam Bahasa Tio Ciu dan Khek. Lalu memang apa kesalahannya? Saat sebuah suku yang menetap di daerah baru mencoba tetap mempertahankan budayanya. Dua jempol diacungkannya saat saya dengan malu-malu menyatakan tidak bisa bicara Mandarin.
Ciri khas pendatang memang harus terus dihargai. Mereka akan menjadi bagian dari sebuah bangsa yang besar. Rangkul dan hargai, maka warga keturunan menjadi nyaman. Tak kurang dari mereka yang hidup yang sama, mengais rejeki dengan berbagai cara. Saya berbicara mengenai warna darah dan jumlah nyawa yang tidak akan ditemukan perbedaannya.
Sepanjang perjalanan terlihat kuil-kuil kecil berwarna merah, menarik hati untuk mampir. Sayang sekali, hari ini adalah hari pertama saya menginjak tanah kelahiranmu. Tidak sama seperti kamu menghabiskan ratusan kisah di usia remaja dan kanak-kanak. Pesawat lain sudah datang. Saya harus kembali, dalam urut-urutan pekerjaan.
Tapi nanti, saya mau kamu di sini. Berkeliling dengan becak dan kipas untuk mengantisipasi keringat saya yang tidak berhenti mengucur. Jangan lupakan makanan rakyat yang rasanya membuat terbelalak. Yah, sewaktu momen itu datang, berjanjilah kamu kita akan berkejaran bersama bayangan yang hilang di tengah terik matahari. Sambil tertawa bodoh.
Hanya siang di Pontianak, belum lagi sore ketika saya beranjak ke Jakarta hari ini.
@Rosallyn Tanoyo, SepociKopi, 2010










ah… cantiknyo…
jd ngebayang2in gmn kota Pontianak itu~
jd rindu dg Pontianak..
Rindu dg alun2 di tepi sungainy..
Rindu dg pemandangan ironis sungai kapuasny..
Rindu dg tugu khatulistiwany..
Rindu dg jagung bakar dan es lidah buayany..
Rindu dg keanekaragaman budayany..
..warna darah dan jumlah nyawa yang tidak akan ditemukan perbedaannya.
i like tiz statment. ^^ kota pontianak dkt daerah aku, singkawang. singkawang jg pake wib kok
Leave your response!
Esensi Espresso
Lesbian, bulan Februari yang beraroma romantis mulai tampak. Apakah cinta? Pada hubungan percintaan lesbian yang tak bisa terikat dalam landasan pernikahan, banyak lesbian yang terjatuh pada kebingungan, ketakutan, dan ketidakpastian. Di mana pegangan untuk masa depan?
Lesbian, cinta bagi pasangan lesbian tentu membutuhkan perjuangan keras agar hubungan jangka panjang bisa terjadi. Banyak tantangannya dalam berkomitmen, misalnya kesetiaan, finansial, keluarga, perbedaan, dan lain-lain. Bisakah kita menjalaninya? Berapa lama pasangan lesbian bisa bertahan? Konon ada yang mengatakan bahwa usia pasangan lesbian tak bakal melewati satu tahun. Ah, tentu tidak benar!
Lesbian, untuk menjadi pasangan yang langgeng sampai nenek-nenek, kita bisa belajar dari teman-teman lesbian yang lain yang sudah bersama selama bertahun-tahun. Delapan tahun? Dua belas tahun? Lima belas tahun? Dua puluh tahun? Bisakah kita mencuri kebijaksaan mereka dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan percintaan agar kita pun bisa berbahagia dengan pasangan sampai nenek-nenek? Pastinya dong! Selamat merayakan cinta dalam arti yang sepenuh-penuhnya. Peluk cium untuk segenap pembaca SepociKopi tersayang.
Kategori
Visitor Number:
Arsip SepociKopi
Sedang Online
Senggolan Sepocikopi
Stop Press!
Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.
Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!
Salam SepociKopi!
Tags
Pembelian Online:
www.gramediashop.com
www.gramediaonline.com
Friendly Reminder
Situs ini adalah situs lesbian nonprofit. Untuk 18 tahun ke atas. Harap keluar dari situs ini jika Anda masih di bawah umur.
Most Commented
www.facebook.com/sepocikopi
www.twitter.com/sepocikopi
Twitter Buttons
Most Viewed
Recent Comments