Home » Humaniora, Tentang Cinta

Siang di Pontianak

26 August 2010 241 views 4 Comments

city-love-heartOleh: Rosallyn Tanoyo

Saya sedang berdiri di dekat sungai, aliran air tempat kamu ada sepuluh tahun lalu.Tidak tampak sama dengan cerita yang kamu sampaikan. Warnanya keruh, sampah bertebaran di mana-mana, dan nelayan tidak tampak batang hidungnya.

Hanya saja, saya membayangkan, tubuh mungilmu meloncat dari pinggir jembatan. Ayah berteriak-teriak panik mencari. Kemudian tinggal mengambil rotan untuk sekali lagi mencambuk pantat. Dengan kecewa kamu pulang, jadi tontonan semua orang sekampung halaman. Malu, marah, kesal yang akan reda seketika saat Ibu meminta maaf dengan satu kecupan kening.

Kendaraan bermotor masih banyak berhamburan di sini. Anti macet sepertinya, mobil dengan merek-merek terkenal gagah bergoyang-goyang. Ciri khas kota kecil yang menomorsatukan harga diri berdasarkan kekayaan.

Pada hari itu memang saya tidak sempat berjalan berkeliling kota. Saya hanya menyampaikan salammu pada panas yang hari ini membakar kulit.

“Pontianak itu kota unik, satu-satunya wilayah Kalimantan yang memakai satuan waktu WIB. Di sana pada hari tertentu, bayanganmu hilang tepat pada pukul 12 siang. Fenomena alam yang menakjubkan bukan?” Kamu mengucapkannya sambil terus mengemasi notebook yang akan saya bawa.

Teman-teman mulai memanggil saat fragmen cerita yang kamu buat berhasil saya satukan. Mereka tidak sabar menunggu pertemuan kita. Menganggap saya satu lagi orang aneh di jembatan tengah Pontianak.

Yah, dekat pasar tempatnya, saya menganggapnya demikian. Ruko-ruko berjajar, debu berserakan, toke-toke Tionghoa dengan suruhannya berpakaian sederhana menjaga toko. Gigi-geligi mereka telah rusak. Dengan sigap mereka melayani pembeli.

Mungkin air bersih yang susah membuat karak-karak menetap. Sewaktu tiba, supir yang mengantar rombongan sempat mengeluh tentang hujan yang enggan mampir. Sehingga air mandi menjadi payau, keruh kecoklatan di daerahnya. Ah, berapa banyak air mineral yang bisa di dewakan di tempat begini, sementara air kran di rumah sering lupa kita tutup?

Saya menelusuri tempat itu satu-persatu, mencari selai srikaya cap ayam yang dikemas dalam gelas rumahan. Restoran di sebelahnya bertuliskan masakan Jepang dan kue, padahal menjual dimsum. Pangkas rambut yang bermerek ”Salon” mengapit membuat saya tidak tahan untuk tertawa geli. Benar katamu, orang Tionghoa di sini tidak tahu bahasa Indonesia. Mereka bercakap dalam Bahasa Tio Ciu dan Khek. Lalu memang apa kesalahannya? Saat sebuah suku yang menetap di daerah baru mencoba tetap mempertahankan budayanya. Dua jempol diacungkannya saat saya dengan malu-malu menyatakan tidak bisa bicara Mandarin.

Ciri khas pendatang memang harus terus dihargai. Mereka akan menjadi bagian dari sebuah bangsa yang besar. Rangkul dan hargai, maka warga keturunan menjadi nyaman. Tak kurang dari mereka yang hidup yang sama, mengais rejeki dengan berbagai cara. Saya berbicara mengenai warna darah dan jumlah nyawa yang tidak akan ditemukan perbedaannya.

Sepanjang perjalanan terlihat kuil-kuil kecil berwarna merah, menarik hati untuk mampir. Sayang sekali, hari ini adalah hari pertama saya menginjak tanah kelahiranmu. Tidak sama seperti kamu menghabiskan ratusan kisah di usia remaja dan kanak-kanak. Pesawat lain sudah datang. Saya harus kembali, dalam urut-urutan pekerjaan.

Tapi nanti, saya mau kamu di sini. Berkeliling dengan becak dan kipas untuk mengantisipasi keringat saya yang tidak berhenti mengucur. Jangan lupakan makanan rakyat yang rasanya membuat terbelalak. Yah, sewaktu momen itu datang, berjanjilah kamu kita akan berkejaran bersama bayangan yang hilang di tengah terik matahari. Sambil tertawa bodoh.

Hanya siang di Pontianak, belum lagi sore ketika saya beranjak ke Jakarta hari ini.

@Rosallyn Tanoyo, SepociKopi, 2010

4 Comments »

  • gumilotsy said:

    ah… cantiknyo… :D

  • yulsic said:

    jd ngebayang2in gmn kota Pontianak itu~

  • hjr_ian said:

    jd rindu dg Pontianak..
    Rindu dg alun2 di tepi sungainy..
    Rindu dg pemandangan ironis sungai kapuasny..
    Rindu dg tugu khatulistiwany..
    Rindu dg jagung bakar dan es lidah buayany..
    Rindu dg keanekaragaman budayany..

  • doris fidelya d'rain said:

    ..warna darah dan jumlah nyawa yang tidak akan ditemukan perbedaannya.
    i like tiz statment. ^^ kota pontianak dkt daerah aku, singkawang. singkawang jg pake wib kok :)

Leave your response!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also subscribe to these comments via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.